Her Wedding Dress

Her Wedding Dress
CH4- Akbar


__ADS_3

“Lik, ayo cepetan. Kamu anak cowok lambat banget ih” dengan segera


Indira menarik tangan Malik agar berjalan lebih cepat. Setelah bel pulang sekolah


berbunyi Indira antusias mengajak Malik untuk menjemput Akbar kerumahnya.


“hemm”


“kamu ham hem ham hem aja. Ayo cepetan, nanti Akbar nungguin. Aku


juga keburu laper, katanya Ibuk mau masak soto.” Indira berhenti sejenak sembari


memegang perutnya dan membayangkan kenikmatan soto buatan Bu Sri.


Indira kembali menarik Malik supaya berjalan lebih cepat. Mereka


berjalan melewati gang kelinci supaya terhindar dari keramaian jalan raya.


Setelah memasuki kawasan perumahan, Indira semakin semangat untuk segera


mengajak Akbar ke rumah Malik dan menikmati kehangatan soto Bu Sri.


“Lik, bel nya tinggi, aku ga nyampe nih. Gimana dong manggilnya”


Indira melompat-lompat mencoba untuk menggapai tombol bel rumah milik keluarga Pak


Adi Soejono (Papi Akbar)


“teriak aja. Kan suara kamu kaya toa” jawab Malik dengan santai


sambil menalikan sepatunya


“oh iya bener juga kamu. Permisiiiiiii. Akbaaaaarrr. Maaiiin


yuuuuukkkkk Mbok Lastriiii, Akbarnya adaaaaaa.” Indira mulai melantangkan


suaranya


“lik, kira-kira kedengeran ga ya? Emm coba lagi aja deh


permiiiii........” Teriakan Indira terhenti karena sudah melihat Akbar membuka


pintu rumahnya. Akbar segera berlari menghampiri Indira dan Malik sambil


melambaikan tangannya.


“Mboooookkkk, Akbar pergi main dulu yaaaaaa. Mau kerumah


Maliiikkkk” Ternyata Akbar memiliki kesamaan dengan Indira yang suka berteriak.


“Buruan yuk bar, udah laper nihh. “ Indira mulai menarik tangan


Akbar agar berjalan dengan cepat. Sedangkan Malik hanya mengikuti dari


belakang.


Mereka bertiga berjalan bersama sambil main tebak-tebakan. Ketika


Akbar dan Indira sibuk bermain, Malik hanya tersenyum mendengarkan pembicaraan


mereka sambil sesekali menjawab tebakan konyol dari Indira.


Sesampainya dirumah, seperti biasa Bu Lastri sedang mengemas


beberapa kue basah yang akan dibagikan ke tetangga.

__ADS_1


“Ibuuuuukk, kita pulaaaanggggg” Teriak Indira begitu masuk ke


dalam rumah. Malik dan Indira langsung mendekat dan mencium punggung tangan Bu


Lastri. Sedangkan Akbar hanya diam mematung melihat temannya melakukan itu.


Selama ini, Akbar jarang mencium tangan kedua orang tuanya. Bukan karena tidak


diajari, tapi karena Ia jarang bertemu dengan orang tuanya. Setiap hari sebelum


dia bangun, papinya sudah pergi ke pabrik roti dan kembali setelah Akbar tidur.


Akbar hanya bertemu ketika hari Minggu. Sedangkan Maminya dulu, terlalu sibuk dengan


teman-teman sosialitanya.


Melihat Akbar terdiam membuat Bu Sri berdiri dan memegang pundak


Akbar.


“Akbar ya?? Saya Bu Sri, Ibunya Malik” senyuman hangat dari bibir


bu Sri membuat Akbar merasa nyaman dan langsung mencium tangan Bu Sri.


“Saya Akbar Bu Sri”


“Panggil Ibuk saja. Indira juga panggil saya begitu” Bu Sri mulai


mengelus kepala Akbar. Semenjak mendengar sedikit kisah hidupnya dari Indira,


Bu Sri prihatin dengan Akbar. Dan bertekad untuk menyayangi Akbar sama seperti


Malik dan Indira


ya??”


“hahaha. Kamu laper? Sini. Ayo semuanya cuci tangan dulu. Malik


sama neng ganti baju dulu sana. Baju neng ada di lemari Ibu ya, sudah dicuci”


Mendengar perintah dari Ibunya mereka bertiga langsung pergi ke tempat


tujuannya masing-masing.


Setelah cuci tangan, Akbar langsung duduk di meja makan kecil yang


ada di dapur, menunggu Indira dan Malik yang masih ganti baju. Sedangkan Bu Sri


mulai menyiapkan makan siang untuk bocah-bocah ini.


Setelah berkmpul, Bu Sri mulai menyendokkan kuah ke masing-masing


mangkok yang sudah terisi dengan nasi, bihun, ayam suwir dan pelengkap soto


yang lain. Bu Sri menambahkan ekstra kecap untuk Malik, dan ekstra bihun untuk


Indira.


Akbar tersenyum melihat kasih sayang yang diberikan Bu Sri untuk


Malik dan Indira. Selama ini dia tidak pernah diperhatikan oleh kedua


orangtuanya. Hanya Mbok Sri yang ada untuk Akbar. Tapi karena keceriaan dan


keusilannya selama ini, Akbar berhasil menutupi kesepian yang dia rasakan.

__ADS_1


“Buk, Akbar juga mau ditambah bihunnya kaya Indira dong” Akbar


tersenyum lebar sambil menyerahkan mangkok sotonya. Dengan segera Bu Sri


menambahkan bihun ke mangkok Akbar. Mereka berempat menikmati makan siangnya


dengan bahagia. Sambil sesekali tertawa melihat tingkah konyol Indira dan


Akbar.


Setelah makan siang selesai, mereka duduk di ruang tamu untuk


membantu mengepak kue.


“Buk, kok masih banyak?” Tanya Malik


“Iya, hari ini agak sepi. Tadi Ibu jualan keliling ke kampung


sebelah. Tapi sepi, makanya sisa banyak. Akbar kamu mau?” Bu Sri menyerahkan


nampan berisi beberapa pisang coklat, onde-onde dan risol.


“Mau dong bu. Tadi Akbar mau minta tapi malu. Hehe” Akbar langsung


mengambil risol dari nampan Bu Sri. Sedangkan Indira mengambil semua pisang coklat


yang tersisa tiga biji.


“Indi kamu mau makan semua itu pisang coklat?” Tanya Akbar


keheranan. Indira hanya tersenyum manis mendengar pertanyaan Akbar. Dengan


cekatan, tangannya membagi dua salah satu pisang coklat yang dia pegang. Dia


menyerahkan satu setengah pisang coklat yang ia ambil kepada Malik, dan memakan


satu setengah pisang coklat yang lain.


“Itu kue kesukaan Indira sama Malik bar. Mereka berdua ini


seleranya sama. Suka banget sama terong balado, sama kue pisang coklat, sama


seblak, susu coklat. Tapi kerjaannya beranteeem terus. Jarang banget akurnya.


Yang satu cerewet, yang satu lagi jutek. Kadang Ibuk pusing sendiri kalau Malik


sama Indira lagi bareng” Bu Sri mulai menceritakan kebiasaan Malik dan Indira.


Tidak butuh waktu lama bagi Malik dan Indira untuk menghabiskan


kue kesukaan mereka.


“Buk, Akbar boleh sering main kesini yaa. Akbar suka sama Ibuk


hehe” pinta Akbar dengan mulutnya yang masih penuh oleh risol


“boleh dong, kan Akbar anak ibuk juga. Tiap hari main disini juga


boleh. Tapi kamu harus ijin dulu sama papi ya, biar ga dicariin. “ dengan


lembut bu Sri membelai kepala Akbar.


Bu Sri merasa sedikit lega, karena Malik masih cukup beruntung


memiliki Ibu seperti dirinya.

__ADS_1


__ADS_2