
“Lik, ayo cepetan. Kamu anak cowok lambat banget ih” dengan segera
Indira menarik tangan Malik agar berjalan lebih cepat. Setelah bel pulang sekolah
berbunyi Indira antusias mengajak Malik untuk menjemput Akbar kerumahnya.
“hemm”
“kamu ham hem ham hem aja. Ayo cepetan, nanti Akbar nungguin. Aku
juga keburu laper, katanya Ibuk mau masak soto.” Indira berhenti sejenak sembari
memegang perutnya dan membayangkan kenikmatan soto buatan Bu Sri.
Indira kembali menarik Malik supaya berjalan lebih cepat. Mereka
berjalan melewati gang kelinci supaya terhindar dari keramaian jalan raya.
Setelah memasuki kawasan perumahan, Indira semakin semangat untuk segera
mengajak Akbar ke rumah Malik dan menikmati kehangatan soto Bu Sri.
“Lik, bel nya tinggi, aku ga nyampe nih. Gimana dong manggilnya”
Indira melompat-lompat mencoba untuk menggapai tombol bel rumah milik keluarga Pak
Adi Soejono (Papi Akbar)
“teriak aja. Kan suara kamu kaya toa” jawab Malik dengan santai
sambil menalikan sepatunya
“oh iya bener juga kamu. Permisiiiiiii. Akbaaaaarrr. Maaiiin
yuuuuukkkkk Mbok Lastriiii, Akbarnya adaaaaaa.” Indira mulai melantangkan
suaranya
“lik, kira-kira kedengeran ga ya? Emm coba lagi aja deh
permiiiii........” Teriakan Indira terhenti karena sudah melihat Akbar membuka
pintu rumahnya. Akbar segera berlari menghampiri Indira dan Malik sambil
melambaikan tangannya.
“Mboooookkkk, Akbar pergi main dulu yaaaaaa. Mau kerumah
Maliiikkkk” Ternyata Akbar memiliki kesamaan dengan Indira yang suka berteriak.
“Buruan yuk bar, udah laper nihh. “ Indira mulai menarik tangan
Akbar agar berjalan dengan cepat. Sedangkan Malik hanya mengikuti dari
belakang.
Mereka bertiga berjalan bersama sambil main tebak-tebakan. Ketika
Akbar dan Indira sibuk bermain, Malik hanya tersenyum mendengarkan pembicaraan
mereka sambil sesekali menjawab tebakan konyol dari Indira.
Sesampainya dirumah, seperti biasa Bu Lastri sedang mengemas
beberapa kue basah yang akan dibagikan ke tetangga.
__ADS_1
“Ibuuuuukk, kita pulaaaanggggg” Teriak Indira begitu masuk ke
dalam rumah. Malik dan Indira langsung mendekat dan mencium punggung tangan Bu
Lastri. Sedangkan Akbar hanya diam mematung melihat temannya melakukan itu.
Selama ini, Akbar jarang mencium tangan kedua orang tuanya. Bukan karena tidak
diajari, tapi karena Ia jarang bertemu dengan orang tuanya. Setiap hari sebelum
dia bangun, papinya sudah pergi ke pabrik roti dan kembali setelah Akbar tidur.
Akbar hanya bertemu ketika hari Minggu. Sedangkan Maminya dulu, terlalu sibuk dengan
teman-teman sosialitanya.
Melihat Akbar terdiam membuat Bu Sri berdiri dan memegang pundak
Akbar.
“Akbar ya?? Saya Bu Sri, Ibunya Malik” senyuman hangat dari bibir
bu Sri membuat Akbar merasa nyaman dan langsung mencium tangan Bu Sri.
“Saya Akbar Bu Sri”
“Panggil Ibuk saja. Indira juga panggil saya begitu” Bu Sri mulai
mengelus kepala Akbar. Semenjak mendengar sedikit kisah hidupnya dari Indira,
Bu Sri prihatin dengan Akbar. Dan bertekad untuk menyayangi Akbar sama seperti
Malik dan Indira
ya??”
“hahaha. Kamu laper? Sini. Ayo semuanya cuci tangan dulu. Malik
sama neng ganti baju dulu sana. Baju neng ada di lemari Ibu ya, sudah dicuci”
Mendengar perintah dari Ibunya mereka bertiga langsung pergi ke tempat
tujuannya masing-masing.
Setelah cuci tangan, Akbar langsung duduk di meja makan kecil yang
ada di dapur, menunggu Indira dan Malik yang masih ganti baju. Sedangkan Bu Sri
mulai menyiapkan makan siang untuk bocah-bocah ini.
Setelah berkmpul, Bu Sri mulai menyendokkan kuah ke masing-masing
mangkok yang sudah terisi dengan nasi, bihun, ayam suwir dan pelengkap soto
yang lain. Bu Sri menambahkan ekstra kecap untuk Malik, dan ekstra bihun untuk
Indira.
Akbar tersenyum melihat kasih sayang yang diberikan Bu Sri untuk
Malik dan Indira. Selama ini dia tidak pernah diperhatikan oleh kedua
orangtuanya. Hanya Mbok Sri yang ada untuk Akbar. Tapi karena keceriaan dan
keusilannya selama ini, Akbar berhasil menutupi kesepian yang dia rasakan.
__ADS_1
“Buk, Akbar juga mau ditambah bihunnya kaya Indira dong” Akbar
tersenyum lebar sambil menyerahkan mangkok sotonya. Dengan segera Bu Sri
menambahkan bihun ke mangkok Akbar. Mereka berempat menikmati makan siangnya
dengan bahagia. Sambil sesekali tertawa melihat tingkah konyol Indira dan
Akbar.
Setelah makan siang selesai, mereka duduk di ruang tamu untuk
membantu mengepak kue.
“Buk, kok masih banyak?” Tanya Malik
“Iya, hari ini agak sepi. Tadi Ibu jualan keliling ke kampung
sebelah. Tapi sepi, makanya sisa banyak. Akbar kamu mau?” Bu Sri menyerahkan
nampan berisi beberapa pisang coklat, onde-onde dan risol.
“Mau dong bu. Tadi Akbar mau minta tapi malu. Hehe” Akbar langsung
mengambil risol dari nampan Bu Sri. Sedangkan Indira mengambil semua pisang coklat
yang tersisa tiga biji.
“Indi kamu mau makan semua itu pisang coklat?” Tanya Akbar
keheranan. Indira hanya tersenyum manis mendengar pertanyaan Akbar. Dengan
cekatan, tangannya membagi dua salah satu pisang coklat yang dia pegang. Dia
menyerahkan satu setengah pisang coklat yang ia ambil kepada Malik, dan memakan
satu setengah pisang coklat yang lain.
“Itu kue kesukaan Indira sama Malik bar. Mereka berdua ini
seleranya sama. Suka banget sama terong balado, sama kue pisang coklat, sama
seblak, susu coklat. Tapi kerjaannya beranteeem terus. Jarang banget akurnya.
Yang satu cerewet, yang satu lagi jutek. Kadang Ibuk pusing sendiri kalau Malik
sama Indira lagi bareng” Bu Sri mulai menceritakan kebiasaan Malik dan Indira.
Tidak butuh waktu lama bagi Malik dan Indira untuk menghabiskan
kue kesukaan mereka.
“Buk, Akbar boleh sering main kesini yaa. Akbar suka sama Ibuk
hehe” pinta Akbar dengan mulutnya yang masih penuh oleh risol
“boleh dong, kan Akbar anak ibuk juga. Tiap hari main disini juga
boleh. Tapi kamu harus ijin dulu sama papi ya, biar ga dicariin. “ dengan
lembut bu Sri membelai kepala Akbar.
Bu Sri merasa sedikit lega, karena Malik masih cukup beruntung
memiliki Ibu seperti dirinya.
__ADS_1