Her Wedding Dress

Her Wedding Dress
CH24- RENCANA ANGGI


__ADS_3

Anggi memoles wajahnya senatural dan secantik mungkin. Hari ini menjadi salah satu hari


yang sangat ia nantikan. Karena setelah hampir satu tahun menjadi kekasih


Akbar, hari ini adalah kali pertama Akbar mengajaknya ke istana mewah sekaligus


mengenalkan kepada Papinya.


Anggi tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Dia akan berusaha sebaik mungkin


untuk mengambil hati Papi Akbar. Anggi berharap bisa diangkat menjadi menantu keluarga


pengusaha roti nomor satu  di Indonesia.


Membayangkan saja sudah membuat Anggi tersenyum seperti orang gila.


Tepat pukul 06.38 Akbar sudah ada di depan rumah Anggi. Dengan riangnya Anggi berlari


dan segera masuk ke dalam mobil. Hanya dengan waktu 30 menit mereka sudah


sampai di kediaman Akbar.


Anggi tidak berhenti membuka mulutnya. Dia benar-benar takjub melihat rumah


kekasihnya. Pagarnya tinggi menjulang. Mungkin ukuran taman dan garasinya akan


sama dengan ukuran rumahnya. Sekaya inikah keluarga kekasihnya. Benar-benar


rejeki nomplok untuk Anggi.


Baru saja masuk kedalam rumah, dia sudah disambut oleh Pak Adi. Menjadi sebuah


kehormatan bagi Anggi karena diperlakukan bagai tamu agung.


Saat ini, Anggi sedang dijamu oleh Pak Adi.


Mereka hanya duduk berdua di ruang tamu sambil minum teh. Jantung Anggi mulai


berdegub mendengar pertanyaan demi pertanyaan dari papi kekasihnya itu.


Meskipun tergolong sangat ramah, tapi tata bahasa Pak Adi yang sangat berkelas


membuatnya merasa sedikit tidak nyaman. Dia berharap agar Akbar segera keluar


dari toilet dan menemaninya di kursi panas itu.


Pak Adi bertanya tentang keseharian Anggi selama


ini, keluarganya, termasuk hubungannya dengan Akbar. Anggi merasa sangat


berbunga karena ternyata Papi Akbar memberikan restu untuk mereka berdua,


asalkan tidak menggangu aktivitas di sekolahnya.


Menjadi menantu keluarga ini sungguh menjadi


impian besar bagi Anggi. Keluarga kaya raya, rumah mewah, perusahaan, dan yang


paling penting. Di rumah ini tidak ada Ibu Mertua yang akan mengomel sepanjang


hari seperti di drama pada umumnya.


Bayangan-bayangan indah mulai muncul di kepala


Anggi. Namun tiba-tiba...


“pagiiii papiiiikuuuu sayang”


JEDAAARRRR


Mata Anggi terbelalak melihat gadis yang sedang


berteriak senang itu. Sedang apa Indira disini. Dirumah ini, dirumah


kekasihnya. Bahkan memanggil orang tua Akbar dengan nyaman seperti itu? Santai


sekali dia berlarian di rumah ini. Dan apa itu?? Kostum apa yang dia gunakan??


Kenapa Anggi merasa familiar dengan kaos yang ada di tubuh Indira. Benar saja.


Itu adalah kaos pemberian dari dirinya. Sial.. Kenapa gadis itu malah memakai


baju milik Akbar. Sungguh menyebalkan. Anggi mengumpat dalam hati


“ehh teteh. Udah tadi? “

__ADS_1


“euh emm, engga Ndi. Barusan dateng, hehe” Anggi


mencoba untuk menutupi perasaanya yang sedang berkobar dengan senyum manis di


bibirnya


“udah makan teh?? Yuk ikut sarapan, kayanya mbok


masak enak deh. Oh iya, teteh disini sampe lama kan?? Kita berenang yuk. Males


banget berenang sama Akbar. kalo ada teteh pasti seru deh.”


“ha?? Emm. Iyaa ndi terserah kamu aja, aku


ngikut”


“neng kenal sama pacar Akbar?”


“kenal dong pi. Teh Anggi juga yang comblangin


neng sama Fajar. Jadi dia berjasa banget buat neng pi. Hehe”


“Oh gitu. Syukur kalau kalian sudah kenal. Eh neng, semalem kamu tidur dimana? Kok papi cari di tempat biasa ga ada?”


“ohh, semalem kita habis nonton film pi. Terus neng


sama Akbar ketiduran di kamar Malik.  pas


bangun kamarnya udah sepi. Kalau Malik sih ga heran, kan emang waktunya kerja. Tapi pas neng


lihat Akbar gaada, kaget banget pi. Tumben-tumbenan, eh ternyata jemput si


teteh cantik. hehe”


Mata Anggi semakin berkobar mendengar perkataan


Indira. Apa lagi ini? Gadis menyebalkan itu menginap di rumah kekasihnya. Tidur


bersama dengan kekasihnya. Tapi reaksi apa itu?? Kenapa papi Akbar hanya tersenyum


mendengar hal seperti itu? Heii. Ini sudah keterlaluan. Anggi sudah diambang


batas kesabarannya. Dia akan benar-benar menjauhkan Indira dari Akbar


bagaimanapun caranya.


mohon diri untuk kembali ke kamarnya.


Setelah mendapat ijin dari Pak Adi, Anggi diajak


Akbar untuk masuk kedalam kamarnya. Begitu berada di ambang pintu, matanya


kembali terbelalak melihat pemandangan yang ada didalam kamar kekasihnya itu.


Dari sekian banyak foto yang dipajang diatas cabinet, tidak ada satupun potret


dirinya. Hanya wajah Akbar, Indira dan Malik yang terpampang  disana.


Foto-foto itu bisa merubah raut wajah Anggi


menjadi semakin menyeramkan. Apalagi melihat latar belakang dari foto itu.


Mall, kebun teh, air terjun, villa, kolam renang, pesta dan yang paling membuat


amarah Anggi memuncak adalah foto ketika mereka bertiga tertidur bersama.


Hari itu mood Anggi benar-benar menjadi semakin


hancur. Bahkan bayangan untuk menjadi menantu keluarga kaya ini seakan tertutup


oleh kemarahannya.


Meskipun sudah diajak berkeliling rumah,


berenang, nonton film bersama, makan siang, itu tetap tidak membuat amarah


Anggi mereda. Yang ada hatinya semakin hancur melihat seisi rumah mewah ini


dipenuhi oleh foto-foto Akbar bersama dengan gadis itu. Sungguh, menjadi hari


yang paling memuakkan bagi Anggi.


**


Rencananya Anggi akan tinggal dirumah itu hingga

__ADS_1


malam hari. Namun rencana tinggallah rencana. Moodnya yang berantakan membuat


ia memilih untuk segera enyah dari tempat itu.


Mentari masih bersinar, tapi Anggi sudah memilih


untuk segera pulang. Disepanjang jalanpun dia hanya diam, tidak terlalu


menjawab pertanyaan yang terlontar dari bibir kekasihnya. Dia juga tidak


mengijinkan Akbar untuk mampir kerumahnya.


Sesampainya dirumah, ia segera melempar tubuhnya


ke atas ranjang. Membuka handphonenya dengan kasar.


“dimana?”


“basecamp”


“kerumah skrg, aku tunggu. Nitip rokok 1”


“berangkat”


Dengan cepat dia mengetikkan pesan dan


mengirimkannya.


Tidak perlu menunggu lama, sang penerima pesan


sudah sampai di rumahnya. Anggi berjalan dengan malas ke ruang tamu dan menemui


laki-laki itu.


“Kenapa? Kesel banget kayanya” Fajar melemparkan


rokok titipan Anggi.


Anggi menyulut dan menyesap rokok itu. (Bukan


untuk dicontoh yaa manteman hehe)


“gimana mau ga kesel. Itu si Indira makin kesini


makin nyebelin. Tadi malem dia nginep disana, terus dia kaya pamer banget ke


aku kalo deket sama papinya Akbar. Yang paling nyebelin itu, dia pake baju yang


aku beliin buat Akbar waktu dia menang festival. Kan nyebelin banget. Pengen


aku jambak aja rasanya”


Dia mulai bercerita kesialannya hari ini.


Rencananya untuk menjauhkan Indira menggunakan Fajar telah gagal. Dia harus


kembali menyusun rencana agar Indira benar-benar hancur dan pergi dari


kehidupan Akbar.


Fajar hanya manggut-manggut sembari menikmati


rokok yang terselip di kedua jarinya. Sesekali tersenyum melihat tingkah gadis


yang terbakar cemburu itu.


“kamu suka sama Indira??”


“enggak. Dia ngerepotin banget. Berisik lagi.


Kamu mau aku putusin dia??”


Anggi tersenyum licik dan menganggukkan


kepalanya. Seperti mendapat ide yang entah datangnya dari mana. Anggi


mendekatkan bibirnya ke telinga Fajar. Membisikkan rencana yang menurut dia


sangat cemerlang.


Dengan suaranya yang berat Fajar terbahak-bahak.


Dia begitu menyukai ide gila yang diberikan oleh Anggi. Fajar tidak mengetahui


bahwa ternyata Anggi, teman nongkrongnya selama ini ternyata benar-benar licik

__ADS_1


dan kejam.


__ADS_2