
Anggi memoles wajahnya senatural dan secantik mungkin. Hari ini menjadi salah satu hari
yang sangat ia nantikan. Karena setelah hampir satu tahun menjadi kekasih
Akbar, hari ini adalah kali pertama Akbar mengajaknya ke istana mewah sekaligus
mengenalkan kepada Papinya.
Anggi tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Dia akan berusaha sebaik mungkin
untuk mengambil hati Papi Akbar. Anggi berharap bisa diangkat menjadi menantu keluarga
pengusaha roti nomor satu di Indonesia.
Membayangkan saja sudah membuat Anggi tersenyum seperti orang gila.
Tepat pukul 06.38 Akbar sudah ada di depan rumah Anggi. Dengan riangnya Anggi berlari
dan segera masuk ke dalam mobil. Hanya dengan waktu 30 menit mereka sudah
sampai di kediaman Akbar.
Anggi tidak berhenti membuka mulutnya. Dia benar-benar takjub melihat rumah
kekasihnya. Pagarnya tinggi menjulang. Mungkin ukuran taman dan garasinya akan
sama dengan ukuran rumahnya. Sekaya inikah keluarga kekasihnya. Benar-benar
rejeki nomplok untuk Anggi.
Baru saja masuk kedalam rumah, dia sudah disambut oleh Pak Adi. Menjadi sebuah
kehormatan bagi Anggi karena diperlakukan bagai tamu agung.
Saat ini, Anggi sedang dijamu oleh Pak Adi.
Mereka hanya duduk berdua di ruang tamu sambil minum teh. Jantung Anggi mulai
berdegub mendengar pertanyaan demi pertanyaan dari papi kekasihnya itu.
Meskipun tergolong sangat ramah, tapi tata bahasa Pak Adi yang sangat berkelas
membuatnya merasa sedikit tidak nyaman. Dia berharap agar Akbar segera keluar
dari toilet dan menemaninya di kursi panas itu.
Pak Adi bertanya tentang keseharian Anggi selama
ini, keluarganya, termasuk hubungannya dengan Akbar. Anggi merasa sangat
berbunga karena ternyata Papi Akbar memberikan restu untuk mereka berdua,
asalkan tidak menggangu aktivitas di sekolahnya.
Menjadi menantu keluarga ini sungguh menjadi
impian besar bagi Anggi. Keluarga kaya raya, rumah mewah, perusahaan, dan yang
paling penting. Di rumah ini tidak ada Ibu Mertua yang akan mengomel sepanjang
hari seperti di drama pada umumnya.
Bayangan-bayangan indah mulai muncul di kepala
Anggi. Namun tiba-tiba...
“pagiiii papiiiikuuuu sayang”
JEDAAARRRR
Mata Anggi terbelalak melihat gadis yang sedang
berteriak senang itu. Sedang apa Indira disini. Dirumah ini, dirumah
kekasihnya. Bahkan memanggil orang tua Akbar dengan nyaman seperti itu? Santai
sekali dia berlarian di rumah ini. Dan apa itu?? Kostum apa yang dia gunakan??
Kenapa Anggi merasa familiar dengan kaos yang ada di tubuh Indira. Benar saja.
Itu adalah kaos pemberian dari dirinya. Sial.. Kenapa gadis itu malah memakai
baju milik Akbar. Sungguh menyebalkan. Anggi mengumpat dalam hati
“ehh teteh. Udah tadi? “
__ADS_1
“euh emm, engga Ndi. Barusan dateng, hehe” Anggi
mencoba untuk menutupi perasaanya yang sedang berkobar dengan senyum manis di
bibirnya
“udah makan teh?? Yuk ikut sarapan, kayanya mbok
masak enak deh. Oh iya, teteh disini sampe lama kan?? Kita berenang yuk. Males
banget berenang sama Akbar. kalo ada teteh pasti seru deh.”
“ha?? Emm. Iyaa ndi terserah kamu aja, aku
ngikut”
“neng kenal sama pacar Akbar?”
“kenal dong pi. Teh Anggi juga yang comblangin
neng sama Fajar. Jadi dia berjasa banget buat neng pi. Hehe”
“Oh gitu. Syukur kalau kalian sudah kenal. Eh neng, semalem kamu tidur dimana? Kok papi cari di tempat biasa ga ada?”
“ohh, semalem kita habis nonton film pi. Terus neng
sama Akbar ketiduran di kamar Malik. pas
bangun kamarnya udah sepi. Kalau Malik sih ga heran, kan emang waktunya kerja. Tapi pas neng
lihat Akbar gaada, kaget banget pi. Tumben-tumbenan, eh ternyata jemput si
teteh cantik. hehe”
Mata Anggi semakin berkobar mendengar perkataan
Indira. Apa lagi ini? Gadis menyebalkan itu menginap di rumah kekasihnya. Tidur
bersama dengan kekasihnya. Tapi reaksi apa itu?? Kenapa papi Akbar hanya tersenyum
mendengar hal seperti itu? Heii. Ini sudah keterlaluan. Anggi sudah diambang
batas kesabarannya. Dia akan benar-benar menjauhkan Indira dari Akbar
bagaimanapun caranya.
mohon diri untuk kembali ke kamarnya.
Setelah mendapat ijin dari Pak Adi, Anggi diajak
Akbar untuk masuk kedalam kamarnya. Begitu berada di ambang pintu, matanya
kembali terbelalak melihat pemandangan yang ada didalam kamar kekasihnya itu.
Dari sekian banyak foto yang dipajang diatas cabinet, tidak ada satupun potret
dirinya. Hanya wajah Akbar, Indira dan Malik yang terpampang disana.
Foto-foto itu bisa merubah raut wajah Anggi
menjadi semakin menyeramkan. Apalagi melihat latar belakang dari foto itu.
Mall, kebun teh, air terjun, villa, kolam renang, pesta dan yang paling membuat
amarah Anggi memuncak adalah foto ketika mereka bertiga tertidur bersama.
Hari itu mood Anggi benar-benar menjadi semakin
hancur. Bahkan bayangan untuk menjadi menantu keluarga kaya ini seakan tertutup
oleh kemarahannya.
Meskipun sudah diajak berkeliling rumah,
berenang, nonton film bersama, makan siang, itu tetap tidak membuat amarah
Anggi mereda. Yang ada hatinya semakin hancur melihat seisi rumah mewah ini
dipenuhi oleh foto-foto Akbar bersama dengan gadis itu. Sungguh, menjadi hari
yang paling memuakkan bagi Anggi.
**
Rencananya Anggi akan tinggal dirumah itu hingga
__ADS_1
malam hari. Namun rencana tinggallah rencana. Moodnya yang berantakan membuat
ia memilih untuk segera enyah dari tempat itu.
Mentari masih bersinar, tapi Anggi sudah memilih
untuk segera pulang. Disepanjang jalanpun dia hanya diam, tidak terlalu
menjawab pertanyaan yang terlontar dari bibir kekasihnya. Dia juga tidak
mengijinkan Akbar untuk mampir kerumahnya.
Sesampainya dirumah, ia segera melempar tubuhnya
ke atas ranjang. Membuka handphonenya dengan kasar.
“dimana?”
“basecamp”
“kerumah skrg, aku tunggu. Nitip rokok 1”
“berangkat”
Dengan cepat dia mengetikkan pesan dan
mengirimkannya.
Tidak perlu menunggu lama, sang penerima pesan
sudah sampai di rumahnya. Anggi berjalan dengan malas ke ruang tamu dan menemui
laki-laki itu.
“Kenapa? Kesel banget kayanya” Fajar melemparkan
rokok titipan Anggi.
Anggi menyulut dan menyesap rokok itu. (Bukan
untuk dicontoh yaa manteman hehe)
“gimana mau ga kesel. Itu si Indira makin kesini
makin nyebelin. Tadi malem dia nginep disana, terus dia kaya pamer banget ke
aku kalo deket sama papinya Akbar. Yang paling nyebelin itu, dia pake baju yang
aku beliin buat Akbar waktu dia menang festival. Kan nyebelin banget. Pengen
aku jambak aja rasanya”
Dia mulai bercerita kesialannya hari ini.
Rencananya untuk menjauhkan Indira menggunakan Fajar telah gagal. Dia harus
kembali menyusun rencana agar Indira benar-benar hancur dan pergi dari
kehidupan Akbar.
Fajar hanya manggut-manggut sembari menikmati
rokok yang terselip di kedua jarinya. Sesekali tersenyum melihat tingkah gadis
yang terbakar cemburu itu.
“kamu suka sama Indira??”
“enggak. Dia ngerepotin banget. Berisik lagi.
Kamu mau aku putusin dia??”
Anggi tersenyum licik dan menganggukkan
kepalanya. Seperti mendapat ide yang entah datangnya dari mana. Anggi
mendekatkan bibirnya ke telinga Fajar. Membisikkan rencana yang menurut dia
sangat cemerlang.
Dengan suaranya yang berat Fajar terbahak-bahak.
Dia begitu menyukai ide gila yang diberikan oleh Anggi. Fajar tidak mengetahui
bahwa ternyata Anggi, teman nongkrongnya selama ini ternyata benar-benar licik
__ADS_1
dan kejam.