Her Wedding Dress

Her Wedding Dress
CH42-Sayang


__ADS_3

Jessica memperhatikan Akbar yang sedang sibuk dengan teleponnya. Tanpa disadari, dia


menguping pembicaraan antara bos nya dan si penerima telepon. Matanya sedikit


terbelalak ketika dia mendengar kata “sayang”. Dia mulai memutar


otaknya,siapakah wanita yang disebut-sebut sebagai “sayang”. Sejak kapan bos


idolanya itu memiliki kekasih.


Tapi tunggu. Kenapa bosnya menyebut nama Malik. Sepengetahuan Jessica, wanita yang


berhubungan dengan kedua lelaki itu hanyalah Indira. Apa mungkin saat ini


bosnya sedang menjalin hubungan dengan Indira? Tapi selama 1,5


Jessica menjadi sekretaris Akbar, ini adalah kali pertama Ia mendengar Akbar


mengucapkan kata itu.


“Hei. Kamu mau kerja apa mau ngelamun??” Suara berat Akbar membuyarkan lamunannya.


“Apa Bar?? Eh, Mas. Emm maksud saya Pak. Maaf pak.” Jessica sedikit tergagap karena


Akbar menanyainya dengan wajah yang cukup serius. Beruntung Akbar hanya


tersenyum mendengar ucapan bodohnya itu.


Jessica mulai menjelaskan agenda-agenda yang akan dijalani oleh bosnya hari ini. Dia


juga menyerahkan beberapa dokumen yang harus diperiksa. Karena ada beberapa


pekerjaan yang harus dikerjakan bersama, Jessica mendapat ijin dari Akbar untuk


berlama-lama di ruangannya.


Mereka duduk di sofa berdampingan. Berdiskusi dan saling bertukar pikiran. Akbar


tampak serius dengan berkas-berkas di hadapannya. Lain lagi dengan Jessica,


matanya memang seperti melihat lembaran itu, tapi pikirannya masih terpaku


dengan kata “sayang” yang tadi terucap dari bibir Akbar.


Yang mengganggu pikirannya kali ini bukanlah siapa yang menjadi kekasih bosnya. Tetapi lebih kepada


khayalan jika Akbar memanggilnya dengan sebutan indah seperti tadi. Ia membayangkan


jika dirinya menjadi kekasih Akbar, mungkin cita-citanya yang lain sudah tidak


berguna lagi.


“Kamu ini niat kerja ga sih. Kenapa dari tadi senyum-senyum sendiri??” Bentak Akbar


Jessica tersenyum kecut sembari meminta maaf dan kembali memfokuskan pikiran pada setumpuk


pekerjaan dihadapannya. Kecekatannya pun semakin meningkat ketika fokusnya


terpusat pada pekerjaan. Tidak membutuhkan waktu lama bagi Jessica untuk


menyelesaikan semuanya. Ia segera merapikan berkas-berkas yang masih berserakan


dan bersiap pergi meninggalkan ruangan Akbar..


“emm, tunggu” Suara itu kembali mengejutkan Jessica dan membuat langkahnya terhenti


sebelum mencapai pintu. Jessica menarik napasnya dalam-dalam sebelum


membalikkan badannya dan tersenyum secantik mungkin.


“Gajadi deh.. Udah kamu kerja sana, jangan ngelamun aja” Akbar menggoyangkan tangannya


untuk mengusir Jessica.


Untuk ukuran pegawai normal, atasan seperti inilah yang akan selalu dihindari. Bos

__ADS_1


yang selalu membentak, bersikap dingin ketika bersama dirinya, mood swing,


aneh, dan ingin menang sendiri. Tetapi bagi Jessica ini adalah pesona Akbar


yang bisa membuatnya semakin jatuh cinta. Entah makhluk bodoh mana yang sudah


merasukinya hingga tergila-gila pada atasan seperti Akbar.


Jessica meletakkan kepalanya diatas meja kerja. Dia kembali mengingat betapa hangat


suara Akbar saat memanggil kekasihnya. Ia mulai berpikir, jika dulu dia tidak


terlahir sebagai yatim piatu, dan memiliki keluarga kaya. Apakah mungkin saat


ini dia bisa bersanding dengan Akbar.


Yah tetapi mungkin


inilah takdir hidupnya. Menjadi gadis desa yang merantau ke Kota Bandung untuk


mencari sesuap nasi. Kesepian sudah menjadi makanannya sehari-hari. Hidupnya


hanya dipenuhi dengan pekerjaan dan menjadi “bucin” seorang Akbar.


Jessica memutar jemarinya diatas meja. Kepalanya masih menempel di permukaan meja.


Semangatnya untuk bekerja sedang menurun. Sama sekali tidak ada gairah untuk


membereskan pekerjaannya.


Wanita itu segera mengangkat kepalanya ketika mendengar ada seseorang yang mengetuk


printer di hadapannya. Sedikit terkejut ketika melihat ada 3 orang penting di


hadapannya.


“Bapak ada??” Tanya seorang wanita modis yang sudah tidak muda lagi.


“Ada Bu, Pak. Silahkan duduk dulu, saya akan mengabari Bapak didalam” Jawab Jessica


tergesa-gesa memasuki ruangan Akbar hingga lupa untuk mengetuk pintu.


“Kamu itu kebiasaan. Berapa kali saya mengingatkan kamu, kalau mau masuk ketuk dulu”


Akbar kembali berbicara menggunakan nada yang sedikit menyebalkan


“Iya Pak, maaf. Ada tamu”


“Jessica, saya kan sudah bilang. Hari ini saya tidak mau menerima tamu, kerjaan saya


banyak. Kamu ini susah sekali dikasih tau”


“Maaf pak. Tapi yang datang Bu Indira, Bu Mega dan Pak Malik.” Jawab Jessica sedikit


menurunkan pandangannya.


“Kamu ini kenapa sih. Kenapa malah disuruh nunggu diluar, harusnya langsung masuk


aja” Akbar berlari menuju pintu dan menemui para tamu yang dimaksud.


Sedangkan Jessica masih terpaku di tempatnya semula. Berpikir dengan keras, sebenarnya sebenci apakah Akbar padanya. Hingga apapun yang dia lakukan selalu salah dimata Akbar. Bahkan Akbar juga sering mengkritik cara berjalannya yang terlalu cepat. Meskipun


sebenarnya alasan Jessica berjalan cepat adalah untuk mengimbangi langkah


bosnya.


Wajahnya kembali dirubah dalam mode senyum ketika melihat bosnya dan para tamu agung


memasuki ruangan.


Menundukkan kepalanya penuh hormat. Jessica mendekati sofa dan mohon ijin untuk keluar


ruangan. Secepat kilat dia menyiapkan minuman dan beberapa hidangan kecil untuk


tamu di dalam. Dia sangat menyadari betapa buruk mood bosnya hari ini. Jessica

__ADS_1


tidak ingin membuat kesalahan lagi hari ini.


Jessica membungkukkan badannya dan menata hidangan itu dihadapan para petinggi. Setelah


selesai, dia berdiri dan bersiap untuk kembali ke mejanya. Kali ini Jessica


menurunkan kecepatan jalannya agar bisa menguping pembicaraan mereka. Dia hanya


ingin memastikan apakah benar panggilan “sayang” itu ditujukan untuk Indira


Tapi sayangnya, Jessica tidak mendapatkan


informasi apa-apa. Mereka hanya sibuk berbicara mengenai rumah sakit. Gadis itu


kembali ke meja kerjanya, menatap kosong pintu yang terbentang di hadapannya.


**


Indira berjalan sedikit cepat dan menuruni


tangga. Memastikan perkataan Akbar yang baru ia dengar. Benar saja, ia melihat


Malik sedang tertidur diatas pangkuan mamanya. Secepat kilat dia berlari dan


menghampiri Malik. Tangannya menyentuh kening dan leher Malik bergantian. Ia


sedikit panik ketika mengetahui suhu tubuh Malik yang sedikit tinggi.


Matanya berkaca-kaca ketika mendengar penjelasan


dari mamanya, kalau kondisi Malik memburuk karena rasa sakit yang muncul di


bekas operasinya. Ia kembali merasa bersalah ketika mengingat bahwa penyebab


kecelakaan itu adalah dirinya.


Indira segera menghapus air mata yang belum


sempat terjatuh ketika melihat Malik membuka matanya dan mencoba untuk duduk.


“Kenapa ga kerja?? Kata Akbar kamu sakit” Suara


lirih Malik terdengar


“Enggak. Cuma lagi bad mood aja” Indira menjawab


asal. Ia berjalan mengambil selembar roti yang ada di hadapan mamanya.


“Ndi, kamu menghindar dari Akbar??”


Sebuah pertanyaan yang berhasil membuat Indira


tersedak, dan hampir memuntahkan makanan di dalam mulutnya. Dengan cepat Indira


meminum air dan memukul-mukul dadanya. Setelah cukup lama terbatuk batuk, dia


mulai menatap mata Malik sendu.


“Semenjak dilamar kemarin, kamu kaya menghindar


dari Akbar. Kan kamu juga yang nerima lamarannya, berarti kamu juga harus siap


dengan kenyataannya. Sekarang kamu tunangannya Akbar, bukan Cuma sahabat.


Harusnya kamu lebih sayang dan perhatian sama Akbar, bukan malah jaga jarak


kaya gini”


Perkataan itu membuatnya sedikit berpikir. Apa


yang dikatakan Malik memang benar. Seharusnya dia tidak bersikap seperti tadi


ketika Akbar menemuinya. Karena merasa bersalah, Indira mengambil ponselnya dan


menelepon Akbar.

__ADS_1


__ADS_2