
Jessica memperhatikan Akbar yang sedang sibuk dengan teleponnya. Tanpa disadari, dia
menguping pembicaraan antara bos nya dan si penerima telepon. Matanya sedikit
terbelalak ketika dia mendengar kata “sayang”. Dia mulai memutar
otaknya,siapakah wanita yang disebut-sebut sebagai “sayang”. Sejak kapan bos
idolanya itu memiliki kekasih.
Tapi tunggu. Kenapa bosnya menyebut nama Malik. Sepengetahuan Jessica, wanita yang
berhubungan dengan kedua lelaki itu hanyalah Indira. Apa mungkin saat ini
bosnya sedang menjalin hubungan dengan Indira? Tapi selama 1,5
Jessica menjadi sekretaris Akbar, ini adalah kali pertama Ia mendengar Akbar
mengucapkan kata itu.
“Hei. Kamu mau kerja apa mau ngelamun??” Suara berat Akbar membuyarkan lamunannya.
“Apa Bar?? Eh, Mas. Emm maksud saya Pak. Maaf pak.” Jessica sedikit tergagap karena
Akbar menanyainya dengan wajah yang cukup serius. Beruntung Akbar hanya
tersenyum mendengar ucapan bodohnya itu.
Jessica mulai menjelaskan agenda-agenda yang akan dijalani oleh bosnya hari ini. Dia
juga menyerahkan beberapa dokumen yang harus diperiksa. Karena ada beberapa
pekerjaan yang harus dikerjakan bersama, Jessica mendapat ijin dari Akbar untuk
berlama-lama di ruangannya.
Mereka duduk di sofa berdampingan. Berdiskusi dan saling bertukar pikiran. Akbar
tampak serius dengan berkas-berkas di hadapannya. Lain lagi dengan Jessica,
matanya memang seperti melihat lembaran itu, tapi pikirannya masih terpaku
dengan kata “sayang” yang tadi terucap dari bibir Akbar.
Yang mengganggu pikirannya kali ini bukanlah siapa yang menjadi kekasih bosnya. Tetapi lebih kepada
khayalan jika Akbar memanggilnya dengan sebutan indah seperti tadi. Ia membayangkan
jika dirinya menjadi kekasih Akbar, mungkin cita-citanya yang lain sudah tidak
berguna lagi.
“Kamu ini niat kerja ga sih. Kenapa dari tadi senyum-senyum sendiri??” Bentak Akbar
Jessica tersenyum kecut sembari meminta maaf dan kembali memfokuskan pikiran pada setumpuk
pekerjaan dihadapannya. Kecekatannya pun semakin meningkat ketika fokusnya
terpusat pada pekerjaan. Tidak membutuhkan waktu lama bagi Jessica untuk
menyelesaikan semuanya. Ia segera merapikan berkas-berkas yang masih berserakan
dan bersiap pergi meninggalkan ruangan Akbar..
“emm, tunggu” Suara itu kembali mengejutkan Jessica dan membuat langkahnya terhenti
sebelum mencapai pintu. Jessica menarik napasnya dalam-dalam sebelum
membalikkan badannya dan tersenyum secantik mungkin.
“Gajadi deh.. Udah kamu kerja sana, jangan ngelamun aja” Akbar menggoyangkan tangannya
untuk mengusir Jessica.
Untuk ukuran pegawai normal, atasan seperti inilah yang akan selalu dihindari. Bos
__ADS_1
yang selalu membentak, bersikap dingin ketika bersama dirinya, mood swing,
aneh, dan ingin menang sendiri. Tetapi bagi Jessica ini adalah pesona Akbar
yang bisa membuatnya semakin jatuh cinta. Entah makhluk bodoh mana yang sudah
merasukinya hingga tergila-gila pada atasan seperti Akbar.
Jessica meletakkan kepalanya diatas meja kerja. Dia kembali mengingat betapa hangat
suara Akbar saat memanggil kekasihnya. Ia mulai berpikir, jika dulu dia tidak
terlahir sebagai yatim piatu, dan memiliki keluarga kaya. Apakah mungkin saat
ini dia bisa bersanding dengan Akbar.
Yah tetapi mungkin
inilah takdir hidupnya. Menjadi gadis desa yang merantau ke Kota Bandung untuk
mencari sesuap nasi. Kesepian sudah menjadi makanannya sehari-hari. Hidupnya
hanya dipenuhi dengan pekerjaan dan menjadi “bucin” seorang Akbar.
Jessica memutar jemarinya diatas meja. Kepalanya masih menempel di permukaan meja.
Semangatnya untuk bekerja sedang menurun. Sama sekali tidak ada gairah untuk
membereskan pekerjaannya.
Wanita itu segera mengangkat kepalanya ketika mendengar ada seseorang yang mengetuk
printer di hadapannya. Sedikit terkejut ketika melihat ada 3 orang penting di
hadapannya.
“Bapak ada??” Tanya seorang wanita modis yang sudah tidak muda lagi.
“Ada Bu, Pak. Silahkan duduk dulu, saya akan mengabari Bapak didalam” Jawab Jessica
tergesa-gesa memasuki ruangan Akbar hingga lupa untuk mengetuk pintu.
“Kamu itu kebiasaan. Berapa kali saya mengingatkan kamu, kalau mau masuk ketuk dulu”
Akbar kembali berbicara menggunakan nada yang sedikit menyebalkan
“Iya Pak, maaf. Ada tamu”
“Jessica, saya kan sudah bilang. Hari ini saya tidak mau menerima tamu, kerjaan saya
banyak. Kamu ini susah sekali dikasih tau”
“Maaf pak. Tapi yang datang Bu Indira, Bu Mega dan Pak Malik.” Jawab Jessica sedikit
menurunkan pandangannya.
“Kamu ini kenapa sih. Kenapa malah disuruh nunggu diluar, harusnya langsung masuk
aja” Akbar berlari menuju pintu dan menemui para tamu yang dimaksud.
Sedangkan Jessica masih terpaku di tempatnya semula. Berpikir dengan keras, sebenarnya sebenci apakah Akbar padanya. Hingga apapun yang dia lakukan selalu salah dimata Akbar. Bahkan Akbar juga sering mengkritik cara berjalannya yang terlalu cepat. Meskipun
sebenarnya alasan Jessica berjalan cepat adalah untuk mengimbangi langkah
bosnya.
Wajahnya kembali dirubah dalam mode senyum ketika melihat bosnya dan para tamu agung
memasuki ruangan.
Menundukkan kepalanya penuh hormat. Jessica mendekati sofa dan mohon ijin untuk keluar
ruangan. Secepat kilat dia menyiapkan minuman dan beberapa hidangan kecil untuk
tamu di dalam. Dia sangat menyadari betapa buruk mood bosnya hari ini. Jessica
__ADS_1
tidak ingin membuat kesalahan lagi hari ini.
Jessica membungkukkan badannya dan menata hidangan itu dihadapan para petinggi. Setelah
selesai, dia berdiri dan bersiap untuk kembali ke mejanya. Kali ini Jessica
menurunkan kecepatan jalannya agar bisa menguping pembicaraan mereka. Dia hanya
ingin memastikan apakah benar panggilan “sayang” itu ditujukan untuk Indira
Tapi sayangnya, Jessica tidak mendapatkan
informasi apa-apa. Mereka hanya sibuk berbicara mengenai rumah sakit. Gadis itu
kembali ke meja kerjanya, menatap kosong pintu yang terbentang di hadapannya.
**
Indira berjalan sedikit cepat dan menuruni
tangga. Memastikan perkataan Akbar yang baru ia dengar. Benar saja, ia melihat
Malik sedang tertidur diatas pangkuan mamanya. Secepat kilat dia berlari dan
menghampiri Malik. Tangannya menyentuh kening dan leher Malik bergantian. Ia
sedikit panik ketika mengetahui suhu tubuh Malik yang sedikit tinggi.
Matanya berkaca-kaca ketika mendengar penjelasan
dari mamanya, kalau kondisi Malik memburuk karena rasa sakit yang muncul di
bekas operasinya. Ia kembali merasa bersalah ketika mengingat bahwa penyebab
kecelakaan itu adalah dirinya.
Indira segera menghapus air mata yang belum
sempat terjatuh ketika melihat Malik membuka matanya dan mencoba untuk duduk.
“Kenapa ga kerja?? Kata Akbar kamu sakit” Suara
lirih Malik terdengar
“Enggak. Cuma lagi bad mood aja” Indira menjawab
asal. Ia berjalan mengambil selembar roti yang ada di hadapan mamanya.
“Ndi, kamu menghindar dari Akbar??”
Sebuah pertanyaan yang berhasil membuat Indira
tersedak, dan hampir memuntahkan makanan di dalam mulutnya. Dengan cepat Indira
meminum air dan memukul-mukul dadanya. Setelah cukup lama terbatuk batuk, dia
mulai menatap mata Malik sendu.
“Semenjak dilamar kemarin, kamu kaya menghindar
dari Akbar. Kan kamu juga yang nerima lamarannya, berarti kamu juga harus siap
dengan kenyataannya. Sekarang kamu tunangannya Akbar, bukan Cuma sahabat.
Harusnya kamu lebih sayang dan perhatian sama Akbar, bukan malah jaga jarak
kaya gini”
Perkataan itu membuatnya sedikit berpikir. Apa
yang dikatakan Malik memang benar. Seharusnya dia tidak bersikap seperti tadi
ketika Akbar menemuinya. Karena merasa bersalah, Indira mengambil ponselnya dan
menelepon Akbar.
__ADS_1