
Sudah 2 bulan Indira dan Malik menjadi siswa di
SMA ini. Hari-hari mereka berdua terbilang cukup menyenangkan. Karena wajah
rupawan dan sifat mereka yang supel membuat dengan mudahnya mereka bergaul
dengan siswa yang lain.
Tidak hanya dengan siswa satu angkatan, Malik dan
Indira juga berteman dengan kakak tingkat, yang notabene adalah teman sekelas
Akbar.
Sudah menjadi rahasia umum, bahwa Akbar si ketua
OSIS ini menjadi vokalis band yang terkenal di kalangan SMA yang lain. Beberapa
kali band yang dikepalai oleh Akbar berhasil memenangkan juara 1 pada festival
band indie di kota Bandung. Hal ini membuat Akbar semakin digemari oleh banyak
wanita.
Tidak hanya Akbar, Malik juga cukup terkenal
karena prestasi. Selain karena kecerdasannya, Malik adalah salah satu anggota
inti tim basket di sekolahnya. Semakin hari tubuh Malik menjadi semakin
atletis. Banyak gadis yang menawarkan diri ingin berkencan dengannya. Atau setidaknya hanya sekedar makan siang bersama di kantin. Tapi tidak ada satupun tawaran yang ia terima. Malik lebih memilih
makan siang bersama Indira dan Akbar atau teman-teman basketnya.
Sedangkan Indira adalah salah satu siswa
terpandai disana. Dia lebih memilih fokus di nilai pelajarannya dibandingkan
harus mengikuti ekstrakulikuler yang menurutnya hanya membuang-buang waktu.
Indira sudah cukup repot dengan kejaran para gadis yang ingin dekat dengan
Malik dan Akbar. Apalagi kalau harus mengikuti kegiatan ekskul disekolahnya.
Ahh membayangkan saja rasanya sudah tidak sanggup.
Di kelas memang Indira lebih banyak bergaul
dengan para wanita. Tapi ketika istirahat atau jam pulang, gadis ini akan
menempel pada Malik atau Akbar. Bahkan sering kali, kalau Malik sedang latihan
basket, Indira akan ikut Akbar untuk berkencan di kantin sekolahnya.
Hal ini membuat Anggi semakin membencinya.
Kehadiran Indira di jadwal kencannya hanya akan membuat Akbar menjadi lebih
fokus kepada Indira. Akbar akan lebih sering memperhatikan gadis itu. Semakin
hari, semakin banyak kelakuan Akbar yang membuatnya cemburu.
Setelah memutar otaknya, Anggi memutuskan untuk
mencarikan Indira pacar. Tentu saja, dia tidak akan mengenalkan Indira pada
siswa di sekolahnya. Anggi sudah bertekat untuk menghancurkan hidup Indira.
Atau setidaknya membuat Indira tau resiko apa yang harus diterima ketika
berhadapan dengan dirinya.
Siang itu Indira sedang duduk di pinggir lapangan,
menunggu Malik yang sedang berlatih basket. Sementara Akbar, entah ada dimana
laki-laki menyebalkan itu. Matanya melihat kesana kemari, dia ingin sekali
segera menyeret Malik dan keluar dari sekolah ini. Tapi apalah daya, Indira
terlalu malas untuk berjalan dibawah terik matahari.
Ketika sedang asik dengan pikirannya, seseorang
__ADS_1
duduk disebelah Indira. Dia seakan tidak peduli ada siapa di sampingnya.
Matanya tetap menerawang ke langit. Lamunan Indira berakhir ketika gadis
disebelahnya mulai bersuara.
“ndi..”
Dengan malas Indira menoleh
“oh teh. Sendirian aja. Akbar mana??” Ternyata
gadis yang berbicara disampingnya adalah kekasih Akbar. Indira sedikit bingung
dengan sikap Anggi. Ini adalah kali pertama Anggi berbicara dengan senyuman
kepadanya.
“Akbar masih latihan. Emmm, ndi. Kamu gapunya
pacar?”
“gaada teh. Ga dibolehin sama Malik sama Akbar”
“kenapa?”
“takut aku disakitin katanya” jawab Indira
santai. Bibir Anggi memang sedang tersenyum, tapi dalam hatinya.. dia
benar-benar mengutuki Indira. Seberharga apa dirinya hingga Akbar melarangnya
untuk berhubungan dengan lelaki lain. Tekad Anggi menjadi semakin bulat
“Itu tandanya mereka sayang sama kamu. Emmm, kamu
mau ga teteh kenalin sama saudara teteh?? Dia baru masuk ke Universitas X loh.
Ganteng, terus baik hati juga. Kalau kamu mau, ini aku ada fotonya” Dengan
lembut Anggi memberikan penawaran kepada Indira.
Langsung saja Indira mengangguk dengan semangat.
tampan. sosoknya gagah, Kulitnya tidak terlalu putih, hidungnya mancung, bibirnya
tipis, dan senyumnya yang manis membuat Indira berdebar-debar.
“Namanya Fajar. Kamu mau? Kalau mau, besok
weekend kamu ikut teteh ke mall. Aku kenalin sama...”
Belum selesai pembicaraan Anggi, Akbar yang baru
datang langsung memotong
“sama siapa? Jangan ajarin Indi aneh-aneh nggi”
“apa sih bar. Teh anggi itu Cuma gamau liat aku
jomblo. Dia mau ngenalin aku sama saudaranya.” Indira langsung berdiri dan
membela Anggi.
“sama kaya Akbar. Aku juga ga setuju” Malik
datang dengan mengalungkan handuk dilehernya. Keringat yang menetes di pelipis
wajahnya membuat hati setiap wanita yang melihatnya menjadi berdebar.
“kalian apaan sih egois banget. Enak banget
kalian bisa pacaran, tapi aku ga dibolehin. cihhh”
“tapi aku juga ga pacaran loh ndi” sahut Malik
“peduli amat. Aku gamau tau, pokoknya aku tetep
mau kenalan sama saudaranya teh Anggi.”
Entah apa yang dikatakan oleh Anggi hingga
membuat sifat keras kepala Indira mulai muncul. Malik dan Akbar memang sengaja
__ADS_1
tidak mengizinkan Indira berpacaran, karena tidak ingin melihat hal yang
tidak-tidak terjadi pada gadis mungil itu
Karena rengekan Indira, dengan berat hati Malik
dan Akbar mengijinkan Indira untuk berkenalan dengan lelaki itu. Dengan syarat,
Akbar akan ikut di hari pertama pertemuan mereka.
Sebenarnya Malik juga ingin ikut, tapi karena
besok adalah weekend, Malik harus bekerja di pabrik milik papinya..
Setelah berbincang
sebentar, Akbar pamit untuk mengantar Anggi pulang. Sedangkan Malik dan Indira
akan pulang setelah makan di kantin.
“kamu ngapain mau comblangin Indira segala?”
“aku Cuma gamau lihat dia kesepian bar. Kaya
tadi. Kamu ga ada, Malik ga ada. Kan kasihan dia”
Didalam mobil selama perjalanan ke rumah Anggi, Akbar bertanya dengan
nada sedikit mengintrogasi. Kebohongan-kebohongan kecil mulai di luncurkan oleh
Anggi. Tidak mungkin Anggi bicara kepada Akbar bahwa tujuannya mengenalkan
Indira pada Fajar adalah untuk menjauhkan Indira darinya.
Sebenarnya Fajar bukanlah saudara Anggi. Dia
hanyalah teman nongkrong Anggi. Teman yang selama ini menemani Anggi ketika dia
ingin merokok atau bermain PS. Fajar bukanlah pria baik seperti yang diucapkan
Anggi pada indira. Begitupun Anggi. Dia bukanlah gadis manis, dan penurut seperti yang Akbar kenal. Di luar jam sekolahnya, Anggi lebih senang berkumpul dengan para berandal di kampungnya. Merokok dan minum minuman keras seperti menjadi kebiasaan Anggi.
“yaudah terserah. Tapi kalau ada apa-apa sama
Indi, kamu harus tanggung jawab”
Mendengar alasan Anggi, akhirnya Akbar mengalah
dan berusaha untuk mempercayai kekasihnya. Meskipun dengan sedikit ancaman.
*********
“kamu yakin mau dikenalin sama cowok itu ndi??”
Sambil meneguk jus jeruk Malik bertanya pada Indira yang langsung dijawab
dengan anggukan kepala gadis itu.
“kamu jaga diri. Sebelum jam 7 udah harus pulang,
kalau dipegang-pegang jangan mau. kalo mau ketemu pake baju panjang aja. gausah dandan.”
“Malik, aku Cuma mau kenalan. Bukan mau perang.”
Malik tersenyum dan menganggukan kepalanya.
Memang menjaga Indira adalah tujuan utama Malik melarang gadis itu untuk
pacaran. Tapi ada sebuah alasan yang sebenarnya lebih masuk akal bila
diungkapkan. Cemburu.. ya, Malik cemburu setiap kali melihat Indira berdekatan
dengan lelaki lain.
Tapi Malik sadar diri, dia tidak berhak untuk
cemburu, karena statusnya saat ini hanyalah sebagai sahabat Indira. Tidak
lebih. Dia memang masih belum berencana untuk menyatakan perasaannya pada
Indira dalam waktu dekat ini. Tapi nanti, setelah dia lulus akademi kepolisian,
Malik akan segera melamar Indira. Semoga saja sampai saat itu Indira masih
__ADS_1
sendiri.