Her Wedding Dress

Her Wedding Dress
CH19- Ada apa dengan Anggi??


__ADS_3

Sudah 2 bulan Indira dan Malik menjadi siswa di


SMA ini. Hari-hari mereka berdua terbilang cukup menyenangkan. Karena wajah


rupawan dan sifat mereka yang supel membuat dengan mudahnya mereka bergaul


dengan siswa yang lain.


Tidak hanya dengan siswa satu angkatan, Malik dan


Indira juga berteman dengan kakak tingkat, yang notabene adalah teman sekelas


Akbar.


Sudah menjadi rahasia umum, bahwa Akbar si ketua


OSIS ini menjadi vokalis band yang terkenal di kalangan SMA yang lain. Beberapa


kali band yang dikepalai oleh Akbar berhasil memenangkan juara 1 pada festival


band indie di kota Bandung. Hal ini membuat Akbar semakin digemari oleh banyak


wanita.


Tidak hanya Akbar, Malik juga cukup terkenal


karena prestasi. Selain karena kecerdasannya, Malik adalah salah satu anggota


inti tim basket di sekolahnya. Semakin hari tubuh Malik menjadi semakin


atletis. Banyak gadis yang menawarkan diri  ingin berkencan dengannya. Atau setidaknya hanya sekedar makan siang bersama di kantin. Tapi tidak ada satupun tawaran yang ia terima. Malik lebih memilih


makan siang bersama Indira dan Akbar atau teman-teman basketnya.


Sedangkan Indira adalah salah satu siswa


terpandai disana. Dia lebih memilih fokus di nilai pelajarannya dibandingkan


harus mengikuti ekstrakulikuler yang menurutnya hanya membuang-buang waktu.


Indira sudah cukup repot dengan kejaran para gadis yang ingin dekat dengan


Malik dan Akbar. Apalagi kalau harus mengikuti kegiatan ekskul disekolahnya.


Ahh membayangkan saja rasanya sudah tidak sanggup.


Di kelas memang Indira lebih banyak bergaul


dengan para wanita. Tapi ketika istirahat atau jam pulang, gadis ini akan


menempel pada Malik atau Akbar. Bahkan sering kali, kalau Malik sedang latihan


basket, Indira akan ikut Akbar untuk berkencan di kantin sekolahnya.


Hal ini membuat Anggi semakin membencinya.


Kehadiran Indira di jadwal kencannya hanya akan membuat Akbar menjadi lebih


fokus kepada Indira. Akbar akan lebih sering memperhatikan gadis itu. Semakin


hari, semakin banyak kelakuan Akbar yang membuatnya cemburu.


Setelah memutar otaknya, Anggi memutuskan untuk


mencarikan Indira pacar. Tentu saja, dia tidak akan mengenalkan Indira pada


siswa di sekolahnya. Anggi sudah bertekat untuk menghancurkan hidup Indira.


Atau setidaknya membuat Indira tau resiko apa yang harus diterima ketika


berhadapan dengan dirinya.


Siang itu Indira sedang duduk di pinggir lapangan,


menunggu Malik yang sedang berlatih basket. Sementara Akbar, entah ada dimana


laki-laki menyebalkan itu. Matanya melihat kesana kemari, dia ingin sekali


segera menyeret Malik dan keluar dari sekolah ini. Tapi apalah daya, Indira


terlalu malas untuk berjalan dibawah terik matahari.


Ketika sedang asik dengan pikirannya, seseorang

__ADS_1


duduk disebelah Indira. Dia seakan tidak peduli ada siapa di sampingnya.


Matanya tetap menerawang ke langit. Lamunan Indira berakhir ketika gadis


disebelahnya mulai bersuara.


“ndi..”


Dengan malas Indira menoleh


“oh teh. Sendirian aja. Akbar mana??” Ternyata


gadis yang berbicara disampingnya adalah kekasih Akbar. Indira sedikit bingung


dengan sikap Anggi. Ini adalah kali pertama Anggi berbicara dengan senyuman


kepadanya.


“Akbar masih latihan. Emmm, ndi. Kamu gapunya


pacar?”


“gaada teh. Ga dibolehin sama Malik sama Akbar”


“kenapa?”


“takut aku disakitin katanya” jawab Indira


santai. Bibir Anggi memang sedang tersenyum, tapi dalam hatinya.. dia


benar-benar mengutuki Indira. Seberharga apa dirinya hingga Akbar melarangnya


untuk berhubungan dengan lelaki lain. Tekad Anggi menjadi semakin bulat


“Itu tandanya mereka sayang sama kamu. Emmm, kamu


mau ga teteh kenalin sama saudara teteh?? Dia baru masuk ke Universitas X loh.


Ganteng, terus baik hati juga. Kalau kamu mau, ini aku ada fotonya” Dengan


lembut Anggi memberikan penawaran kepada Indira.


Langsung saja Indira mengangguk dengan semangat.


tampan. sosoknya gagah,  Kulitnya tidak terlalu putih, hidungnya mancung, bibirnya


tipis, dan senyumnya yang manis membuat Indira berdebar-debar.


“Namanya Fajar. Kamu mau? Kalau mau, besok


weekend kamu ikut teteh ke mall. Aku kenalin sama...”


Belum selesai pembicaraan Anggi, Akbar yang baru


datang langsung memotong


“sama siapa? Jangan ajarin Indi aneh-aneh nggi”


“apa sih bar. Teh anggi itu Cuma gamau liat aku


jomblo. Dia mau ngenalin aku sama saudaranya.” Indira langsung berdiri dan


membela Anggi.


“sama kaya Akbar. Aku juga ga setuju” Malik


datang dengan mengalungkan handuk dilehernya. Keringat yang menetes di pelipis


wajahnya membuat hati setiap wanita yang melihatnya menjadi berdebar.


“kalian apaan sih egois banget. Enak banget


kalian bisa pacaran, tapi aku ga dibolehin. cihhh”


“tapi aku juga ga pacaran loh ndi” sahut Malik


“peduli amat. Aku gamau tau, pokoknya aku tetep


mau kenalan sama saudaranya teh Anggi.”


Entah apa yang dikatakan oleh Anggi hingga


membuat sifat keras kepala Indira mulai muncul. Malik dan Akbar memang sengaja

__ADS_1


tidak mengizinkan Indira berpacaran, karena tidak ingin melihat hal yang


tidak-tidak terjadi pada gadis mungil itu


Karena rengekan Indira, dengan berat hati Malik


dan Akbar mengijinkan Indira untuk berkenalan dengan lelaki itu. Dengan syarat,


Akbar akan ikut di hari pertama pertemuan mereka.


Sebenarnya Malik juga ingin ikut, tapi karena


besok adalah weekend, Malik harus bekerja di pabrik milik papinya..


Setelah berbincang


sebentar, Akbar pamit untuk mengantar Anggi pulang. Sedangkan Malik dan Indira


akan pulang setelah makan di kantin.


“kamu ngapain mau comblangin Indira segala?”


“aku Cuma gamau lihat dia kesepian bar. Kaya


tadi. Kamu ga ada, Malik ga ada. Kan kasihan dia”


Didalam mobil selama perjalanan ke  rumah Anggi, Akbar  bertanya dengan


nada sedikit mengintrogasi. Kebohongan-kebohongan kecil mulai di luncurkan oleh


Anggi. Tidak mungkin Anggi bicara kepada Akbar bahwa tujuannya mengenalkan


Indira pada Fajar adalah untuk menjauhkan Indira darinya.


Sebenarnya Fajar bukanlah saudara Anggi. Dia


hanyalah teman nongkrong Anggi. Teman yang selama ini menemani Anggi ketika dia


ingin merokok atau bermain PS. Fajar bukanlah pria baik seperti yang diucapkan


Anggi pada indira. Begitupun Anggi. Dia bukanlah gadis manis, dan penurut seperti yang Akbar kenal. Di luar jam sekolahnya, Anggi lebih senang berkumpul dengan para berandal di kampungnya. Merokok dan minum minuman keras seperti menjadi kebiasaan Anggi.


“yaudah terserah. Tapi kalau ada apa-apa sama


Indi, kamu harus tanggung jawab”


Mendengar alasan Anggi, akhirnya Akbar mengalah


dan berusaha untuk mempercayai kekasihnya. Meskipun dengan sedikit ancaman.


*********


“kamu yakin mau dikenalin sama cowok itu ndi??”


Sambil meneguk jus jeruk Malik bertanya pada Indira yang langsung dijawab


dengan anggukan kepala gadis itu.


“kamu jaga diri. Sebelum jam 7 udah harus pulang,


kalau dipegang-pegang jangan mau. kalo mau ketemu pake baju panjang aja. gausah dandan.”


“Malik, aku Cuma mau kenalan. Bukan mau perang.”


Malik tersenyum dan menganggukan kepalanya.


Memang menjaga Indira adalah tujuan utama Malik melarang gadis itu untuk


pacaran. Tapi ada sebuah alasan yang sebenarnya lebih masuk akal bila


diungkapkan. Cemburu.. ya, Malik cemburu setiap kali melihat Indira berdekatan


dengan lelaki lain.


Tapi Malik sadar diri, dia tidak berhak untuk


cemburu, karena statusnya saat ini hanyalah sebagai sahabat Indira. Tidak


lebih. Dia memang masih belum berencana untuk menyatakan perasaannya pada


Indira dalam waktu dekat ini. Tapi nanti, setelah dia lulus akademi kepolisian,


Malik akan segera melamar Indira. Semoga saja sampai saat itu Indira masih

__ADS_1


sendiri.


__ADS_2