Her Wedding Dress

Her Wedding Dress
CH44- Apartemen


__ADS_3

Jesica menatap monitor komputernya dengan


seksama. Meskipun gairah bekerjanya sedang berkeliaran entah kemana, dia


memaksa agar tetap fokus dengan tugasnya. Dia tidak ingin membuat Akbar semakin


marah karena lalai dengan pekerjaannya. Pekerjaan sempurna saja masih


disalahkan, apalagi kalau ada kesalahan.


Melihat pintu ruangan Akbar terbuka, Jessica


segera berdiri dan bersiap untuk menyapa tamu agung.


“Mbak, terimakasih atas kerja kerasnya ya.


Maafkan perlakuan Akbar jika sering berbicara kasar. Saya harap, mbak tetap


betah membantunya.” Jessica sedikit terkejut ketika Bu Mega memegang lembut


pipinya. Apa yang sedang terjadi, kenapa Bu Mega meminta maaf kepadanya.


Secepat kilat Jessica membuyarkan lamunannya dan


tersenyum secerah mungkin.


“Sudah tugas saya Bu. Bisa bekerja di perusahaan


ini adalah keberkahan bagi saya”


Para tamu agung sudah berjalan memasuki lift.


Sesaat sebelum lift terbuka, Jessica melihat Indira yang berbalik badan dan


berbicara dengannya.


“Je, tolong jaga calon suami saya di dalam ya”


DEG...


Tidak hanya Jessica, para karyawan lain yang ada


di ruangan itu pun terkejut mendengar perkataan Indira.


Sepeninggal tamu agung, Jessica berjalan lunglai


ke mejanya. Hatinya kembali teriris mendengar kenyataan bahwa Akbar adalah


calon suami Indira.


Belum juga duduk, Jessica sudah dikerubungi oleh


karyawan lain yang ingin bergosip


“Teh, tadi itu siapa?”


“Serius Bu Indira calon istrinya Pak Akbar??”


“Teh, coba cari tau dong”


Para karyawan wanita itu mulai berceloteh,


sedangkan para pria mengiyakan pertanyaan-pertanyaan temannya. Membuat pikiran


Jessica semakin keruh.


“Itu bukan urusan kita, sudah kalian kembali


kerja aja.” Jessica memutuskan untuk menghindari bergosip dengan karyawan yang


lain.


Jessica benar-benar tidak bisa memusatkan


pikirannya. Kekecewaan masih tergambar jelas di wajahnya. Sebenarnya dari jauh


hari, Jessica sudah bisa memprediksi hal ini. Tapi tetap saja, rasa sedih dan


kecewa masih menghampirinya.


“masuk ke ruangan saya”


Jessica segera berdiri ketika mendengar suara


Akbar bergema melalui wireless intercom dihadapannya. Sedikit merapikan rambut


panjangnya sebelum mengetuk pintu dan memasuki ruangan bosnya.

__ADS_1


Ia melihat Bosnya mengayunkan tangannya, meminta


Jessica untuk duduk di dekatnya. Pria itu mulai berbicara tanpa memandang wajah


lawan bicaranya.


“Bantu saya cari apartemen, cari disini saja. Pakai ponsel kamu”


“Baik Pak, apartemen seperti apa yang diinginkan??” Dengan sigap, Jessica mulai


menggunakan situs pencarian di ponsel pintarnya.


“Saya ingin ukurannya yang tidak terlalu luas, cukup dua kamar tidur, harus memiliki


dapur, ruang keluarga dan ruang makan yang luas, emm saya juga ingin di dalam


kamar ada ruang ganti, untuk ruang belajar saya kira tidak perlu. Dan satu


lagi, harus ada balkon dan taman”


Jessica menjatuhkan tangan keatas pangkuannya. Bosnya memang sedikit tidak waras. Di


awal kalimat berkata tidak ingin apartemen yang terlalu luas, tetapi dia ingin


ada banyak ruangan yang berukuran luas. Dan lagi, dimana ada apartemen yang


menyediakan taman pribadi di setiap unitnya.


Kalau saja yang dihadapannya saat ini bukanlah Akbar, mungkin Jessica sudah menjambak


rambut pria itu.


Otak Jessica benar-benar lumpuh. Bagaimana mungkin dia bisa menemukan apartemen


semacam itu di Kota Bandung.


“Aaahhhh..”


Tanpa sadar Jessica mendesah seakan ingin melepaskan beban di pundaknya.


“Apa yang kamu pikirkan?? Apa kamu sedang terangsang??”


Mata Jessica terbelalak ketika mendengar perkataan bosnya. Ini adalah kali pertama


Ia mendengar Akbar berbicara tanpa sensor kepadanya.


“Ha?? Emm. Tidak pak, saya hanya mengantuk”


seperti keinginan bosnya. Bagi Jessica memeriksa dan merevisi 100 resep lebih


baik dibandingkan harus mencari apartemen sultan di Kota Bandung.


Keduanya cukup sibuk dengan ponsel masing-masing. Jessica bergantian memeriksa ponselnya


dan menulis di buku catatan kecilnya. Dia mencari apartemen dengan ciri-ciri


yang hampir sama dengan maksud bosnya.


Setelah mendapat 5 referensi, Jessica membuka pembicaraan dengan Akbar.


Dia menjelaskan bahwa ada 3 apartemen yang menyediakan dua kamar tidur, dapur dan


ruang keluarga yang cukup luas, dan memiliki balkon.


 Kemudian ada 1 apartemen yang menyediakan dua


kamar tidur dan salah satunya memiliki ruang ganti, dapur dan ruang keluarga


cukup luas tetapi tidak ada balkon dan taman.


Dan


pilihan terakhir adalah sebuah apartemen yang menyediakan dapur dan ruang


keluarga cukup luas, ada balkon di masing-masing sisinya, salah satunya bisa


dijadikan taman. Tetapi hanya ada satu kamar tidur dan dikamar tidur sudah ada


kamar mandi sekaligus ruang ganti.


“pilihan terakhir sepertinya bagus. Dimana tempatnya??”


“Lokasinya di Jalan X pak. Sekitar 40 menit dari sini”


“Okay, ayo berangkat” Akbar berdiri dan memakai jasnya. Wajah ceria terpancar jelas.


“Ha? Kemana pak??”

__ADS_1


“Ke apartemen pilihan terakhir. Saya akan membelinya.”


**


Tidak seperti biasanya, kali ini Akbar menyetir mobilnya sendiri. Jika sedang berdua


dengan Jessica, Akbar lebih memilih duduk di kursi penumpang dan Jessica yang


mengemudikan mobilnya. Tetapi melihat Jessica yang sedang kebingungan mengatur


janji dengan pemilik apartemen, Akbar mengalah dan mengambil alih kursi kemudi.


Setelah memarkirkan mobilnya, Akbar keluar dan melihat sekeliling apartemen. Bangunan


ini ada 14 lantai. Tampak luarnya hampir sama dengan hotel. Suasananya cukup


asri karena ada beberapa pohon rindang disekitarnya.


Puluhan tahun tinggal di Bandung, ini adalah kali pertamanya menginjakkan kaki di


tempat ini. Dia tidak menyadari ada tempat semacam ini di Kota Bandung.


“Dengan Bu Jessica??” Suara seorang  wanita muda


mengejutkan lamunan Akbar. Dia ikut menyimak perkenalan singkat dengan wanita


hamil yang ternyata adalah pemilik apartemen.


Akbar mengira, apartemen yang akan Ia beli adalah bangunan baru yang memang belum


pernah dihuni. Tapi ternyata Ia membeli apartemen lama yang dijual.


Setelah perkenalan singkat, Akbar mengikuti langkah wanita itu menuju apartemen


miliknya. Mengetahui bahwa ini adalah apartemen “bekas” membuat ekspektasinya sedikit


menurun.Dia membayangkan rumahnya akan terlihat berantakan dengan banyak


perabot, dinding yang dipenuhi dengan coretan anak kecil. Huh, dia merasa


sedikit lelah bila harus merombak ulang apartemen itu.


Mulut Akbar ternganga ketika melihat isi apartemen itu. Benar-benar berbanding terbalik


dengan apa yang sudah dia bayangkan.


Apartemen ini bernuansa abu-abu tua dengan perabot berwarna putih, dengan lantai granit


berwarna hitam. Tidak terlalu banyak aksesoris yang tertempel. Dindingnya


bersih tanpa ada noda. Kesan manly benar-benar tercipta.


Setelah berkeliling seisi apartemen, Akbar mengikuti wanita bernama Rahma itu duduk di


balkon sisi kiri. Akbar memperhatikan taman kecil yang ada didepannya. Memang


ukurannya tidak terlalu besar, tetapi taman itu bisa memberikan kesan lain pada


si penghuni rumah.


“Maaf Pak, Bu. Rumah saya sedikit kotor. Maklum hamil tua. Hehe” Wanita itu membawa


beberapa minuman botol untuk menjamu Akbar dan Jessica, kemudian Ia duduk


disamping Jessica dan memegang tangannya lembut.


“Anak ke berapa Bu Rahma??” Tanya Jessica sembari mengusap perut wanita itu


“Anak ke dua bu. Bapak sama Ibu apa sudah memiliki momongan?? Kalian adalah suami


istri yang sangat serasi”


Sebuah pertanyaan yang cukup mengejutkan. Akbar melihat Jessica tergagap mencari


alasan.


“Masih belum bu. Oh ya, Saya sangat menyukai apartemen ini. Saya tidak terlalu terburu-buru


menggunakannya, jadi Ibu masih memiliki waktu untuk berkemas. Saya akan


membayarnya secara cash bu. Ini kartu nama saya, besok pengacara saya akan


menghubungi anda” Karena tidak ingin terlalu lama mendengar pembicaraan si


pemilik rumah yang mulai melantur, Akbar memutuskan untuk menyudahi pertemuan


ini.

__ADS_1


Dia sudah yakin 100% bahwa apartemen ini akan cocok untuk dia tinggali kelak.


Apalagi tanpa perlu merubah banyak hal, rumah ini sudah sesuai dengan gayanya.


__ADS_2