
Jesica menatap monitor komputernya dengan
seksama. Meskipun gairah bekerjanya sedang berkeliaran entah kemana, dia
memaksa agar tetap fokus dengan tugasnya. Dia tidak ingin membuat Akbar semakin
marah karena lalai dengan pekerjaannya. Pekerjaan sempurna saja masih
disalahkan, apalagi kalau ada kesalahan.
Melihat pintu ruangan Akbar terbuka, Jessica
segera berdiri dan bersiap untuk menyapa tamu agung.
“Mbak, terimakasih atas kerja kerasnya ya.
Maafkan perlakuan Akbar jika sering berbicara kasar. Saya harap, mbak tetap
betah membantunya.” Jessica sedikit terkejut ketika Bu Mega memegang lembut
pipinya. Apa yang sedang terjadi, kenapa Bu Mega meminta maaf kepadanya.
Secepat kilat Jessica membuyarkan lamunannya dan
tersenyum secerah mungkin.
“Sudah tugas saya Bu. Bisa bekerja di perusahaan
ini adalah keberkahan bagi saya”
Para tamu agung sudah berjalan memasuki lift.
Sesaat sebelum lift terbuka, Jessica melihat Indira yang berbalik badan dan
berbicara dengannya.
“Je, tolong jaga calon suami saya di dalam ya”
DEG...
Tidak hanya Jessica, para karyawan lain yang ada
di ruangan itu pun terkejut mendengar perkataan Indira.
Sepeninggal tamu agung, Jessica berjalan lunglai
ke mejanya. Hatinya kembali teriris mendengar kenyataan bahwa Akbar adalah
calon suami Indira.
Belum juga duduk, Jessica sudah dikerubungi oleh
karyawan lain yang ingin bergosip
“Teh, tadi itu siapa?”
“Serius Bu Indira calon istrinya Pak Akbar??”
“Teh, coba cari tau dong”
Para karyawan wanita itu mulai berceloteh,
sedangkan para pria mengiyakan pertanyaan-pertanyaan temannya. Membuat pikiran
Jessica semakin keruh.
“Itu bukan urusan kita, sudah kalian kembali
kerja aja.” Jessica memutuskan untuk menghindari bergosip dengan karyawan yang
lain.
Jessica benar-benar tidak bisa memusatkan
pikirannya. Kekecewaan masih tergambar jelas di wajahnya. Sebenarnya dari jauh
hari, Jessica sudah bisa memprediksi hal ini. Tapi tetap saja, rasa sedih dan
kecewa masih menghampirinya.
“masuk ke ruangan saya”
Jessica segera berdiri ketika mendengar suara
Akbar bergema melalui wireless intercom dihadapannya. Sedikit merapikan rambut
panjangnya sebelum mengetuk pintu dan memasuki ruangan bosnya.
__ADS_1
Ia melihat Bosnya mengayunkan tangannya, meminta
Jessica untuk duduk di dekatnya. Pria itu mulai berbicara tanpa memandang wajah
lawan bicaranya.
“Bantu saya cari apartemen, cari disini saja. Pakai ponsel kamu”
“Baik Pak, apartemen seperti apa yang diinginkan??” Dengan sigap, Jessica mulai
menggunakan situs pencarian di ponsel pintarnya.
“Saya ingin ukurannya yang tidak terlalu luas, cukup dua kamar tidur, harus memiliki
dapur, ruang keluarga dan ruang makan yang luas, emm saya juga ingin di dalam
kamar ada ruang ganti, untuk ruang belajar saya kira tidak perlu. Dan satu
lagi, harus ada balkon dan taman”
Jessica menjatuhkan tangan keatas pangkuannya. Bosnya memang sedikit tidak waras. Di
awal kalimat berkata tidak ingin apartemen yang terlalu luas, tetapi dia ingin
ada banyak ruangan yang berukuran luas. Dan lagi, dimana ada apartemen yang
menyediakan taman pribadi di setiap unitnya.
Kalau saja yang dihadapannya saat ini bukanlah Akbar, mungkin Jessica sudah menjambak
rambut pria itu.
Otak Jessica benar-benar lumpuh. Bagaimana mungkin dia bisa menemukan apartemen
semacam itu di Kota Bandung.
“Aaahhhh..”
Tanpa sadar Jessica mendesah seakan ingin melepaskan beban di pundaknya.
“Apa yang kamu pikirkan?? Apa kamu sedang terangsang??”
Mata Jessica terbelalak ketika mendengar perkataan bosnya. Ini adalah kali pertama
Ia mendengar Akbar berbicara tanpa sensor kepadanya.
“Ha?? Emm. Tidak pak, saya hanya mengantuk”
seperti keinginan bosnya. Bagi Jessica memeriksa dan merevisi 100 resep lebih
baik dibandingkan harus mencari apartemen sultan di Kota Bandung.
Keduanya cukup sibuk dengan ponsel masing-masing. Jessica bergantian memeriksa ponselnya
dan menulis di buku catatan kecilnya. Dia mencari apartemen dengan ciri-ciri
yang hampir sama dengan maksud bosnya.
Setelah mendapat 5 referensi, Jessica membuka pembicaraan dengan Akbar.
Dia menjelaskan bahwa ada 3 apartemen yang menyediakan dua kamar tidur, dapur dan
ruang keluarga yang cukup luas, dan memiliki balkon.
Kemudian ada 1 apartemen yang menyediakan dua
kamar tidur dan salah satunya memiliki ruang ganti, dapur dan ruang keluarga
cukup luas tetapi tidak ada balkon dan taman.
Dan
pilihan terakhir adalah sebuah apartemen yang menyediakan dapur dan ruang
keluarga cukup luas, ada balkon di masing-masing sisinya, salah satunya bisa
dijadikan taman. Tetapi hanya ada satu kamar tidur dan dikamar tidur sudah ada
kamar mandi sekaligus ruang ganti.
“pilihan terakhir sepertinya bagus. Dimana tempatnya??”
“Lokasinya di Jalan X pak. Sekitar 40 menit dari sini”
“Okay, ayo berangkat” Akbar berdiri dan memakai jasnya. Wajah ceria terpancar jelas.
“Ha? Kemana pak??”
__ADS_1
“Ke apartemen pilihan terakhir. Saya akan membelinya.”
**
Tidak seperti biasanya, kali ini Akbar menyetir mobilnya sendiri. Jika sedang berdua
dengan Jessica, Akbar lebih memilih duduk di kursi penumpang dan Jessica yang
mengemudikan mobilnya. Tetapi melihat Jessica yang sedang kebingungan mengatur
janji dengan pemilik apartemen, Akbar mengalah dan mengambil alih kursi kemudi.
Setelah memarkirkan mobilnya, Akbar keluar dan melihat sekeliling apartemen. Bangunan
ini ada 14 lantai. Tampak luarnya hampir sama dengan hotel. Suasananya cukup
asri karena ada beberapa pohon rindang disekitarnya.
Puluhan tahun tinggal di Bandung, ini adalah kali pertamanya menginjakkan kaki di
tempat ini. Dia tidak menyadari ada tempat semacam ini di Kota Bandung.
“Dengan Bu Jessica??” Suara seorang wanita muda
mengejutkan lamunan Akbar. Dia ikut menyimak perkenalan singkat dengan wanita
hamil yang ternyata adalah pemilik apartemen.
Akbar mengira, apartemen yang akan Ia beli adalah bangunan baru yang memang belum
pernah dihuni. Tapi ternyata Ia membeli apartemen lama yang dijual.
Setelah perkenalan singkat, Akbar mengikuti langkah wanita itu menuju apartemen
miliknya. Mengetahui bahwa ini adalah apartemen “bekas” membuat ekspektasinya sedikit
menurun.Dia membayangkan rumahnya akan terlihat berantakan dengan banyak
perabot, dinding yang dipenuhi dengan coretan anak kecil. Huh, dia merasa
sedikit lelah bila harus merombak ulang apartemen itu.
Mulut Akbar ternganga ketika melihat isi apartemen itu. Benar-benar berbanding terbalik
dengan apa yang sudah dia bayangkan.
Apartemen ini bernuansa abu-abu tua dengan perabot berwarna putih, dengan lantai granit
berwarna hitam. Tidak terlalu banyak aksesoris yang tertempel. Dindingnya
bersih tanpa ada noda. Kesan manly benar-benar tercipta.
Setelah berkeliling seisi apartemen, Akbar mengikuti wanita bernama Rahma itu duduk di
balkon sisi kiri. Akbar memperhatikan taman kecil yang ada didepannya. Memang
ukurannya tidak terlalu besar, tetapi taman itu bisa memberikan kesan lain pada
si penghuni rumah.
“Maaf Pak, Bu. Rumah saya sedikit kotor. Maklum hamil tua. Hehe” Wanita itu membawa
beberapa minuman botol untuk menjamu Akbar dan Jessica, kemudian Ia duduk
disamping Jessica dan memegang tangannya lembut.
“Anak ke berapa Bu Rahma??” Tanya Jessica sembari mengusap perut wanita itu
“Anak ke dua bu. Bapak sama Ibu apa sudah memiliki momongan?? Kalian adalah suami
istri yang sangat serasi”
Sebuah pertanyaan yang cukup mengejutkan. Akbar melihat Jessica tergagap mencari
alasan.
“Masih belum bu. Oh ya, Saya sangat menyukai apartemen ini. Saya tidak terlalu terburu-buru
menggunakannya, jadi Ibu masih memiliki waktu untuk berkemas. Saya akan
membayarnya secara cash bu. Ini kartu nama saya, besok pengacara saya akan
menghubungi anda” Karena tidak ingin terlalu lama mendengar pembicaraan si
pemilik rumah yang mulai melantur, Akbar memutuskan untuk menyudahi pertemuan
ini.
__ADS_1
Dia sudah yakin 100% bahwa apartemen ini akan cocok untuk dia tinggali kelak.
Apalagi tanpa perlu merubah banyak hal, rumah ini sudah sesuai dengan gayanya.