
Waktu sudah menunjukkan pukul 12.30. Sudah
saatnya para siswa ini beristirahat. Setelah istirahat tinggal satu agenda tersisa.
Memang tidak ada perploncoan kali ini. Tapi sifat senior mereka yang terlihat
sok, membuat mereka ingin segera mengakhiri masa orientasi siswa yang hanya dua
hari ini.
Saat berjalan dengan anggota OSIS yang lain,
lengan Akbar tertahan oleh tangan kekasihnya. Anggi menatapnya sedikit tajam.
Membuat Akbar memisahkan diri dari gerombolan dan berjalan ke taman sekolah
mengikuti Anggi.
“Dia siapa?” tanya Anggi sinis
“Yang mana?”
“Anak baru tadi pagi. Kenapa kamu kelihatan akrab
sama dia? Saudara kamu? Ohh. Jangan-jangan kamu selingkuh ya??”
Akbar tersenyum dan mengusap pelan kepala Anggi.
“selingkuh apa. Mereka berdua itu sahabatku mulai kecil. Haha. Aduhh ada yang
lagi cemburu nihh. Udah ah, sekarang kamu pergi ke kantin dulu. Nanti aku
nyusul, sekalian ngenalin kamu sama Indira dan Malik”
Setelah memberi penjelasan kepada Anggi, Akbar
langsung berlalu meninggalkan kekasihnya yang masih merajuk itu. Dia berjalan
melewati koridor yang mengarah ke lapangan. Dia melihat kedua sahabatnya sudah
mulai akrab dengan teman-teman barunya. Bergerombol di satu sisi lapangan,
tertawa bersama entah apa yang sedang mereka bicarakan.
Akbar segera berlari menghampiri kerumunan itu.
Dengan sigap tangannya memeluk Indira dari belakang. Dengan senyuman khasnya,
Akbar menggoyang-goyang kan tubuh Indira. Dia tidak perduli berapa banyak
pasang mata yang saat ini sedang memperhatikan dia. Yang ada di pikirannya saat
ini adalah bagaimana caranya membuat Indira tidak marah lagi karena kejadian
pagi tadi.
“Haiii cantiikk. Makan yuukkkk”
Tidak membutuhkan waktu lama, Indira langsung merentangkan tangannya keatas
menjambak rambut Akbar. Berusaha untuk melepaskan lilitan tangan Akbar dari
tubuhnya. Karena merasa kesusahan, Indira mulai berteriak meminta pertolongan.
“Malik bantuin aku. Dasar cowok nyebelin. Ga bisa
nepatin janji. Seneng banget liat aku malu ya” Indira semakin mengencangkan
cengkraman dirambut Akbar. Sedikit meringis kesakitan, tapi Akbar tetap tidak
mau melepaskan pelukannya.
Tidak hanya teman-teman baru Indira yang melihat.
Anggota OSIS lain yang sedang berkumpul di tengah lapangan juga sedang
memperhatikan adegan itu. Ketua OSIS yang selama ini terkenal tampan, tegas dan
berwibawa berubah 180o ketika berhadapan dengan Indira. Bahkan dia
dengan santainya memeluk Indira. Dia juga tidak marah ketika Indira menjambak
rambutnya. Beribu pertanyaan muncul di kepala setiap orang yang melihatnya.
“kalian itu ngapain?? Ga malu diliatin banyak
__ADS_1
orang. Lagian kamu juga bar, udah tau kalo ngambek Indi jadi kaya apa.” Malik
berusaha membantu Akbar melepas cengkraman tangan Indira. Refleks Akbarpun
melepas pelukannya.
Akbar tersenyum sambil menggaruk tengkuknya yang
tidak gatal.
“hehe, maaf yaa Indiku sayang. Yuk makan yuk. Aa
Akbar tampan yang traktir yaa. Kamu boleh pesen makan sepuasnya” Akbar
menjentikkan jarinya ke dagu Indira yang langsung ditepis oleh gadis itu.
Indira tidak bisa menolak ajakan makan siang,
karena saat ini para cacing diperutnya sudah mulai berdemo minta diberi asupan.
Setelah berpamitan dengan teman-teman barunya Indira langsung memeluk lengan
Malik dan menariknya agar berjalan meninggalkan Akbar.
Merasa tidak terima, Akbar langsung berlari dan
merangkul pundak Indira. Mungkin bagi Malik, Indira dan Akbar hal seperti ini
sudah biasa terjadi diantara mereka. Tapi bagi siswa lain, ini adalah
pemandangan indah sekaligus membingungkan. Apa sebenarnya hubungan yang
terjalin diantara mereka.
Sepanjang koridor, mereka bertiga menjadi pusat perhatian
dari setiap nyawa yang ada disana.
Sesampainya di kantin, Akbar melambaikan
tangannya pada Anggi yang sudah menunggunya di bagian tengah kantin.
Malik dan Indira langsung duduk dihadapan Anggi,
sedangkan akbar memesankan 4 porsi gado-gado untuk mereka. Tidak ada percakapan
Baru saja Akbar meraih kursi disamping Anggi
untuk duduk. Si gadis yang sedang merajuk itu mulai bertanya dengan sedikit
nada mengancam
“Kamu pesenin aku apa?? Ga lupa kan minumku? Awas
kalo salah lagi”
“Tidak tuan putri. Hamba memesan gado-gado dan es
jeruk es nya sedikit khusus untuk tuan putri. Hamba tidak akan salah lagi,
hamba takut kalau nanti tuan putri pilek lagi, tissue mahal soalnya”
Anggi semakin kesal melihat perlakuan kekasihnya
pada Indira. Sekalipun Akbar tidak pernah memperlakukan dirinya seperti itu.
Jangankan memanjakannya, memegang tangannya pun tidak pernah. Tapi kenapa
dengan santainya tadi pagi kekasihnya memeluk pinggang gadis ini. Bahkan
sekarangpun ucapan Akbar terdengar sangat manis.
“haha, bar. Jijik tau dengernya. Bukannya baikan,
malah makin ngambek si Indi” ejek Malik.
“hehe, habisnya pake ngambek. Oh iya lupa, kenalin.
Wanita cantik ini adalah Anggi, kekasihku tercinta. Anggi, ini Malik dan
Indirakusayang. Mereka berdua ini sahabatku mulai kecil.” Akbar sengaja
menekankan nama Indira, ingin melihat masih marah kah gadis itu.
“Dasar lebay. Hai teh, aku Indira” Wajah Indira
__ADS_1
langsung berubah manis ketika menyapa Anggi. Indira berharap, dia bisa berteman
baik dengannya. Tapi sepertinya harapan itu akan hilang dengan segera. Terlihat
sorot mata Anggi yang begitu tidak menyukai Indira. Bahkan sapaan Indira hanya
dijawab dengan senyuman sinis Anggi.
Ketika makanan datang, mereka berempat langsung
menikmati hidangan yang disajikan. Sesekali Anggi terlihat berusaha menyuapi
Akbar, sengaja memamerkan kepada Indira
bahwa dia adalah kekasih Akbar. Tapi sayangnya, Indira tidak begitu peduli
dengan apa yang sedang mereka berdua lakukan. Yang menjadi fokusnya adalah
makan, dan segera pergi dari tempat itu.
“Mama sama papa kapan pulang??” Tanya Akbar
sambil menerima suapan wortel dari Anggi
“harusnya sih besok sore. Malik, nanti kamu tidur
dirumah ya.” Pinta Indira yang langsung dijawab anggukan kepala Malik. Indira
tidak bisa membayangkan bagaimana kalau besok harus kesiangan lagi gara-gara
tidak ada yang membangunkan tidurnya.
“Kok Cuma Malik?? Kenapa ga ngajakin aku juga.
Kamu ga adil ihh” Akbar protes karena merasa tidak dianggap oleh Indira. Dia
tidak menyadari kalau perkataannya membuat gadis disebelahnya merasa cemburu.
“Kalau kamu ikut tidur dirumah, terus papi
gimana?? Udah biar Malik aja”
“kamu mah ga adil ndi. Ohh gini aja. Gimana kalau
kamu yang nginep dirumah?? Sekalian kita nonton, kita udah lama deh kayanya ga
bobo bareng. Nanti kita anter kamu ambil baju dulu”
“yaudah terserah. Gausah pulang dulu. Mbok Lastri
nyimpen BH sama celana dalem aku kok. Kalo baju, ntar pake punya Malik aja kaya
biasanya. Biar ga bolak balik, aku cape mau bobo siang dulu” Dengan santainya
Indira membahas hal yang sedikit pribadi dengan para pria didekatnya. Karena
sudah terbiasa, Malik dan Akbarpun tidak menganggap perkataan Indira sebagai
suatu hal yang sensitif.
“ndi, nanti malem kamu masak ya. Aku lagi pengen
kwetiau pedes buatan kamu” Malik mulai bersuara
“haha ide bagus lik. Emm sama bikin nasi campur
korea juga ya ndi” Akbar menimpali.
“okay, kalau gitu pulang sekolah mampir
supermarket aja. Belanja. Tapi cepet ya, asli aku cape banget ini”
Malik, Indira dan Akbar terlalu menikmati
percakapan dan makanannya, hingga lupa bahwa ada satu orang lagi yang saat ini
duduk bersama mereka. Anggi.
Gadis itu mengunyah makanannya dengan kasar. Ia
merasa tidak dianggap. Dikucilkan. Sedekat apa sebenarnya mereka. Bahkan
pembicaraan mereka seintim itu. Hal ini membuat Anggi semakin tidak menyukai mereka.
Hatinya terbakar dipenuhi oleh cemburu. Cemburu pada gadis sok manis bernama
__ADS_1
Indira.