
“Ma...” Malik sedikit berteriak terkejut ketika
melihat Bu Mega sedang berdiri di hadapannya. Air mata yang menggenang terlihat
cukup jelas. Seketika Ia duduk dengan tegap sembari tangannya menggoyang tubuh
Indira.
“Ma.. Malik ga ngapa-ngapain kok sama Indira. Mama jangan salah paham. Tadi malem
Indi ketiduran dibawah, terus aku gendong kesini. Pas aku mau pergi, Indi
ngigau ketakutan. Jadi Malik nemenin disini. Sumpah Ma, kita ga ngapa-ngapain
kok”
Dengan wajah pucat Malik berusaha menjelaskan.
Malik tahu betul bagaimana perasaan Bu Mega saat ini. Melihat putri semata
wayangnya sedang tidur di ranjang bersama seorang pria yang bukan suaminya
dengan posisi seperti itu. Meskipun pria itu adalah Malik, tapi tetap saja, ini
bukanlah suatu hal yang baik. Apa lagi yang harus dikatakan agar Mama
mempercayainya. Malik berbicara dalam hati.
“Emhh. Loh ada apa ini kok rame-rame?? Lah. Mama
ngapain nangis disitu? Kenapa??” Indira yang baru saja tersadar dari alam mimpi
ikut berbicara sembari duduk dan mengucek matanya.
Malik semakin terkejut ketika melihat Mamanya
semakin berurai air mata dan memeluknya.
“Ma.. Mama kenapa?? Kalau Malik salah, Malik
minta maaf ya Ma”
“Mama Cuma terharu aja liat kalian berdua tidur
kaya tadi. Dulu waktu kalian kecil, sering banget tidur kaya gitu. Sekarang
kalian udah sebesar ini. Kenapa waktu cepat sekali berjalan.” Malik tersenyum
lembut menikmati belaian Mamanya.
“Tau ah. Kalian berdua ini ngomongin apa coba.
Masak dulu ah, buat bekalnya Akbar” Indira pun meninggalkan Malik dan Bu Mega
di kamar.
Malik kembali memeluk Bu Mega dengan erat.
**
Indira yang biasanya berlama-lama di kamar mandi,
saat ini berusaha mandi secepat mungkin. Ia sudah bertekad untuk melupakan
semua perkataan Malik yang didengar semalam. Ia harus memulai lembaran baru
dengan Akbar. Sudah cukup dirinya dan Malik yang terluka. Jangan sampai Akbar dan
para orang tua merasakan hal yang sama.
Indira memutuskan untuk membuat menu kesukaan
Akbar. Tanpa membutuhkan waktu yang lama, bekal yang disiapkan untuk Akbar pun
sudah siap. Tidak hanya menu utama saja, Indira juga menambahkan beberapa
potong buah dan sekotak susu.
Ia juga menyiapkan menu yang sama untuk sarapan
paginya. Menatanya dengan cantik di meja makan.
Indira melambaikan tangan ketika melihat Malik,
Mama dan Papanya datang.
__ADS_1
“Yuk makan dulu, aku udah siapin ini.” Tawar Indira
dengan senyuman khasnya.
“Neng kamu lupa ya?? Malik kan sekarang cuma
makan bubur” Sahut Bu Mega
Raut wajah kecewa sedikit tergambar di paras
cantik Indira. Bagaimana mungkin dia bisa melupakan hal penting seperti itu.
Tidak ingin larut dalam kekecewaan, Indira sigap
mengganti makanan Malik dengan bubur yang sudah disiapkan oleh Mamanya. Acara
makan pagi pun dihiasi dengan kebahagiaan para anggota keluarga.
**
Setelan kemeja berwarna putih dan rok nude sangat
serasi dengan riasan wajah Indira hari ini. Indira benar-benar pandai membuat
penampillannya terlihat elegan. Ia berjalan dengan membawa kotak bekal ke
ruangan Akbar.
Para karyawan di divisi Akbarpun segera berdiri
dan menundukkan kepalanya ketika melihat kedatangan Indira. Biasanya, akan ada
Jessica yang siaga di samping pintu ruangan Akbar. Karena meja itu kosong,
Indira memutuskan untuk langsung masuk ke ruangan, toh saat ini dia adalah
tunangannya.
Tok Tok
Sedikit terkejut ketika membuka pintu ruangan
Akbar. Dia melihat Jessica yang sedang duduk di kursi CEO sedangkan Akbar
berdiri disampingnya. Bukan kareana keberadaannya, tetapi lebih kepada pakaian
Indira tahu betul kemeja yang sedang dikenakan
oleh Jessica. Itu adalah milik Akbar. Kemeja berwarna navy yang seharusnya pas
ditubuh Akbar, kini menggantung kebesaran di badan Jessica. Indira memejamkan
matanya sesaat, membuang pikiran negatif yang bersarang di otaknya.
“Sayang...” Suara Akbar menggema. Indira tersenyum ketika melihat Akbar
menghampiri dan memeluknya.
“Maaf ya, tadinya begitu sampai kantor aku mau ke
tempat kamu. Tapi ternyata kerjaan aku banyak, jadi belum sempet” Jelas Akbar
sembari menuntun Indira untuk duduk di sofa.
“Wah, ini bekal buat aku ya? Sayang, aku lagi
ngidam bibimbap nihh (Sejenis nasi campur khas Korea).” Belum selesai ucapannya mata Akbar seketika terbelalak
ketika membuka bekal yang sudah disiapkan Indira ternyata berisi makanan yang
sedang diidamkan.
“Ya ampun. Kita kayanya emang jodoh deh. Aku lagi
pengen makan ini, eh Kamu masakin. Makasih ya..”
Indira tidak menggubris ocehan Akbar
disampingnya. Matanya masih terpaku pada kemeja yang sedang dipakai oleh
Jessica. Dan apa yang sedang dilakukan oleh Jessica sehingga tidak mengindahkan
kehadirannya.
“Tugas saya sudah selesai. Saya mohon diri dulu.”
__ADS_1
Wanita itu tersenyum lembut pada Indira. Tak berselang lama, Jessica kembali
kedalam ruangan menyuguhkan minuman dan makanan ringan untuk Indira.
Sementara pandangan Indira tak lepas dari kemeja
yang dikenakan oleh Jessica.
“Sayang, kamu kok dari tadi diem aja?? Suapin
dong.” Pinta Akbar manja sembari menggoyang bahu Indira
“Yang dia pakai baju siapa??”
“Jessica maksudnya?? Itukan baju aku. Masa kamu
lupa?? Kemarin kita dadakan ke Lembangnya. Jadi dia gabawa baju. Yaudah, aku
kasih aja baju itu. Kenapa? Aaaahh. Kamu cemburu yaa???” Akbar menggoyangkan
telunjuknya di dagu Indira.
“Emm. Sedikit. Ya siapa sih cewe yang ga cemburu
liat tunangannya abis nginep bareng cewe lain. Eh paginya si cewe pake baju
tunangannya. “ Jawab Indira sedikit merajuk
“Hahahaha. Gausah mikir yang aneh-aneh. Lagian
kan di Lembang juga ada bibi sama mamang. Aku hanya milikmu” Ucap Akbar dengan memasang wajah imutnya.
Setelah mendapat penjelasan yang cukup masuk akal
dari Akbar, Indira perlahan mulai melupakan rasa kesalnya. Ia mulai menjalankan
tugasnya sebagai tunangan yang baik.
Sembari menyuapi Akbar, Ia mendengarkan setiap
keluh kesahnya. Memperhatikan dengan seksama setiap kata demi kata yang keluar
dari bibir tunangannya.
“Emm, Bar. Boleh tanya sesuatu??”
“Ya?”
“Kamu kok tiba-tiba ngelamar aku??”
Akbar sedikit terkejut dengan serangan pertanyaan
Indira yang tiba-tiba. Otaknya berputar dengan cepat mencari jawaban.
“Umur kita udah mateng Ndi. Kita juga udah saling
ngerti satu sama lain. Aku Cuma gamau kamu disakiti sama orang lain. Aku gamau
kejadian beberapa tahun yang lalu terulang lagi. Aku pengen bisa ngejagain kamu
terus. Dan Aku rasa, waktu ulang tahun Kamu kemarin adalah saat yang tepat buat
ngelamar Kamu.”
Indira menatap wajah Akbar dalam. Sesaat Ia
terdiam mencerna setiap perkataan yang didengar. Perlahan otaknya kembali
bekerja. Ternyata keputusannya untuk menerima Akbar sudah benar. Alasan yang
diberikan Akbar sudah cukup untuk membuka hati dan menyerahkan dirinya pada
Akbar.
Indira meraih pinggang Akbar dan memeluknya erat.
“Terimakasih.. Terimakasih sudah memikirkan masa
depanku”
Mendenngar perkataan Indira, Akbarpun membalas
pelukan Indira dengan hangat. Mendekatkan bibirnya ke telinga Indira dan
berbisik.
__ADS_1
“Aku akan menikahimu..”