Her Wedding Dress

Her Wedding Dress
CH48- Lembaran Baru


__ADS_3

“Ma...” Malik sedikit berteriak terkejut ketika


melihat Bu Mega sedang berdiri di hadapannya. Air mata yang menggenang terlihat


cukup jelas. Seketika Ia duduk dengan tegap sembari tangannya menggoyang tubuh


Indira.


“Ma.. Malik  ga ngapa-ngapain kok sama Indira. Mama jangan salah paham. Tadi malem


Indi ketiduran dibawah, terus aku gendong kesini. Pas aku mau pergi, Indi


ngigau ketakutan. Jadi Malik nemenin disini. Sumpah Ma, kita ga ngapa-ngapain


kok”


Dengan wajah pucat Malik berusaha menjelaskan.


Malik tahu betul bagaimana perasaan Bu Mega saat ini. Melihat putri semata


wayangnya sedang tidur di ranjang bersama seorang pria yang bukan suaminya


dengan posisi seperti itu. Meskipun pria itu adalah Malik, tapi tetap saja, ini


bukanlah suatu hal yang baik. Apa lagi yang harus dikatakan agar Mama


mempercayainya. Malik berbicara dalam hati.


“Emhh. Loh ada apa ini kok rame-rame?? Lah. Mama


ngapain nangis disitu? Kenapa??” Indira yang baru saja tersadar dari alam mimpi


ikut berbicara sembari  duduk dan mengucek matanya.


Malik semakin terkejut ketika melihat Mamanya


semakin berurai air mata dan memeluknya.


“Ma.. Mama kenapa?? Kalau Malik salah, Malik


minta maaf ya Ma”


“Mama Cuma terharu aja liat kalian berdua tidur


kaya tadi. Dulu waktu kalian kecil, sering banget tidur kaya gitu. Sekarang


kalian udah sebesar ini. Kenapa waktu cepat sekali berjalan.” Malik tersenyum


lembut menikmati belaian Mamanya.


“Tau ah. Kalian berdua ini ngomongin apa coba.


Masak dulu ah, buat bekalnya Akbar” Indira pun meninggalkan Malik dan Bu Mega


di kamar.


Malik kembali memeluk Bu Mega dengan erat.


**


Indira yang biasanya berlama-lama di kamar mandi,


saat ini berusaha mandi secepat mungkin. Ia sudah bertekad untuk melupakan


semua perkataan Malik yang didengar semalam. Ia harus memulai lembaran baru


dengan Akbar. Sudah cukup dirinya dan Malik yang terluka. Jangan sampai Akbar dan


para orang tua merasakan hal yang sama.


Indira memutuskan untuk membuat menu kesukaan


Akbar. Tanpa membutuhkan waktu yang lama, bekal yang disiapkan untuk Akbar pun


sudah siap. Tidak hanya menu utama saja, Indira juga menambahkan beberapa


potong buah dan sekotak susu.


Ia juga menyiapkan menu yang sama untuk sarapan


paginya. Menatanya dengan cantik di meja makan.


Indira melambaikan tangan ketika melihat Malik,


Mama dan Papanya  datang.

__ADS_1


“Yuk makan dulu, aku udah siapin ini.” Tawar Indira


dengan senyuman khasnya.


“Neng kamu lupa ya?? Malik kan sekarang cuma


makan bubur” Sahut Bu Mega


Raut wajah kecewa sedikit tergambar di paras


cantik Indira. Bagaimana mungkin dia bisa melupakan hal penting seperti itu.


Tidak ingin larut dalam kekecewaan, Indira sigap


mengganti makanan Malik dengan bubur yang sudah disiapkan oleh Mamanya. Acara


makan pagi pun dihiasi dengan kebahagiaan para anggota keluarga.


**


Setelan kemeja berwarna putih dan rok nude sangat


serasi dengan riasan wajah Indira hari ini. Indira benar-benar pandai membuat


penampillannya terlihat elegan. Ia berjalan dengan membawa kotak bekal ke


ruangan Akbar.


Para karyawan di divisi Akbarpun segera berdiri


dan menundukkan kepalanya ketika melihat kedatangan Indira. Biasanya, akan ada


Jessica yang siaga di samping pintu ruangan Akbar. Karena meja itu kosong,


Indira memutuskan untuk langsung masuk ke ruangan, toh saat ini dia adalah


tunangannya.


Tok Tok


Sedikit terkejut ketika membuka pintu ruangan


Akbar. Dia melihat Jessica yang sedang duduk di kursi CEO sedangkan Akbar


berdiri disampingnya. Bukan kareana keberadaannya, tetapi lebih kepada pakaian


Indira tahu betul kemeja yang sedang dikenakan


oleh Jessica. Itu adalah milik Akbar. Kemeja berwarna navy yang seharusnya pas


ditubuh Akbar, kini menggantung kebesaran di badan Jessica. Indira memejamkan


matanya sesaat, membuang pikiran negatif yang bersarang di otaknya.


“Sayang...” Suara Akbar menggema. Indira tersenyum ketika melihat Akbar


menghampiri dan memeluknya.


“Maaf ya, tadinya begitu sampai kantor aku mau ke


tempat kamu. Tapi ternyata kerjaan aku banyak, jadi belum sempet” Jelas Akbar


sembari menuntun Indira untuk duduk di sofa.


“Wah, ini bekal buat aku ya? Sayang, aku lagi


ngidam bibimbap nihh (Sejenis nasi campur khas Korea).” Belum selesai ucapannya mata Akbar seketika terbelalak


ketika membuka bekal yang sudah disiapkan Indira ternyata berisi makanan yang


sedang diidamkan.


“Ya ampun. Kita kayanya emang jodoh deh. Aku lagi


pengen makan ini, eh Kamu masakin. Makasih ya..”


Indira tidak menggubris ocehan Akbar


disampingnya. Matanya masih terpaku pada kemeja yang sedang dipakai oleh


Jessica. Dan apa yang sedang dilakukan oleh Jessica sehingga tidak mengindahkan


kehadirannya.


“Tugas saya sudah selesai. Saya mohon diri dulu.”

__ADS_1


Wanita itu tersenyum lembut pada Indira. Tak berselang lama, Jessica kembali


kedalam ruangan menyuguhkan minuman dan makanan ringan untuk Indira.


Sementara pandangan Indira tak lepas dari kemeja


yang dikenakan oleh Jessica.


“Sayang, kamu kok dari tadi diem aja?? Suapin


dong.” Pinta Akbar manja sembari menggoyang bahu Indira


“Yang dia pakai baju siapa??”


“Jessica maksudnya?? Itukan baju aku. Masa kamu


lupa?? Kemarin kita dadakan ke Lembangnya. Jadi dia gabawa baju. Yaudah, aku


kasih aja baju itu. Kenapa? Aaaahh. Kamu cemburu yaa???” Akbar menggoyangkan


telunjuknya di dagu Indira.


“Emm. Sedikit. Ya siapa sih cewe yang ga cemburu


liat tunangannya abis nginep bareng cewe lain. Eh paginya si cewe pake baju


tunangannya. “ Jawab Indira sedikit merajuk


“Hahahaha. Gausah mikir yang aneh-aneh. Lagian


kan di Lembang juga ada bibi sama mamang. Aku hanya milikmu” Ucap Akbar dengan memasang wajah imutnya.


Setelah mendapat penjelasan yang cukup masuk akal


dari Akbar, Indira perlahan mulai melupakan rasa kesalnya. Ia mulai menjalankan


tugasnya sebagai tunangan yang baik.


Sembari menyuapi Akbar, Ia mendengarkan setiap


keluh kesahnya. Memperhatikan dengan seksama setiap kata demi kata yang keluar


dari bibir tunangannya.


“Emm, Bar. Boleh tanya sesuatu??”


“Ya?”


“Kamu kok tiba-tiba ngelamar aku??”


Akbar sedikit terkejut dengan serangan pertanyaan


Indira yang tiba-tiba. Otaknya berputar dengan cepat mencari jawaban.


“Umur kita udah mateng Ndi. Kita juga udah saling


ngerti satu sama lain. Aku Cuma gamau kamu disakiti sama orang lain. Aku gamau


kejadian beberapa tahun yang lalu terulang lagi. Aku pengen bisa ngejagain kamu


terus. Dan Aku rasa, waktu ulang tahun Kamu kemarin adalah saat yang tepat buat


ngelamar Kamu.”


Indira menatap wajah Akbar dalam. Sesaat Ia


terdiam mencerna setiap perkataan yang didengar. Perlahan otaknya kembali


bekerja. Ternyata keputusannya untuk menerima Akbar sudah benar. Alasan yang


diberikan Akbar sudah cukup untuk membuka hati dan menyerahkan dirinya pada


Akbar.


Indira meraih pinggang Akbar dan memeluknya erat.


“Terimakasih.. Terimakasih sudah memikirkan masa


depanku”


Mendenngar perkataan Indira, Akbarpun membalas


pelukan Indira dengan hangat. Mendekatkan bibirnya ke telinga Indira dan


berbisik.

__ADS_1


“Aku akan menikahimu..”


__ADS_2