
“Serius buat aku??”
Malik hanya mengangguk mendengar pertanyaan
Indira.
“Iiihh, Malik jawab yang serius dong..”
“Iya buat kamu. Jadwalnya bulan depan. Katanya
pengen liat salju di Korea. Tuh”
Indira segera berdiri dan memeluk Malik dengan
erat. Menggoyang- goyangkan tubuhnya penuh semangat. Betapa bahagia hatinya
mendapat selembar kertas berwarna pink itu. Berkali-kali Indira tertawa tanpa
suara membuat penghuni lain di ruangan itu keheranan.
“Aku pergi sendiri??”
“enggak. Bertiga, sama Akbar juga” Indira kembali
menghambur ke pelukan Malik. Dengan nyaman ia menggelungkan lengannya ke
pinggang Malik yang terduduk di sofa. Mengusapkan wajahnya di dada bidang
Malik. Sedangkan Malik hanya bisa mengusap pelan kepala Indira.
Para
karyawan sedikit terkejut melihat adegan itu. Kali ini tingkah para atasannya
sungguh berbeda dengan yang biasa mereka temui. Bahkan kedua orang itu tidak
malu untuk bermesraan didepan orang lain. Meskipun mereka tau bahwa Malik dan
Indira hanya bersahabat, tapi mereka berdoa agar sesegera mungkin dua sejoli ini
menjadi pasangan resmi.
Indira mengajak karyawannya untuk bermain
tebak-tebakan, sebelum akhirnya pergi ke bioskop di siang hari. Begitu bahagia
raut wajah Indira setelah menyadari bahwa karyawan yang setiap hari ada
didekatnya ternyata bisa semenyenangkan ini. Apakah selama ini dia sudah
menjadi bos yang menyebalkan bagi bawahannya? Indira mulai memikirkan ulang
sifatnya selama ini.
Ruangan yang biasanya bersih dan rapi, kini
menjadi sedikit berantakan karena pesta kecil ini. Kericuhan benar-benar sedang
terjadi di dalam ruangan. Entah sudah berapa ratus foto yang mereka ambil.
Suara tawa di sana-sini. Teriakan karena hukuman permainan sering terdengar.
Hampir tidak ada batasan antara bos dan karyawan disana. Yang ada hanya
kebahagiaan dan canda tawa.
“Pak...” Para karyawan yang berjumlah 7 orang itu
langsung berdiri tegap saat menyadari ada seorang pria tua yang berdiri di
ambang pintu. Mereka menundukkan pandangan masing-masing. Berharap pria itu
tidak kecewa dengan sikap mereka beberapa saat yang lalu.
Indira yang tidak menyadari ada orang lain tetap
tertawa terbahak-bahak dengan Malik. Tangannya memukul-mukul bahu Malik yang
pernah terluka.
“Jangan disebelah situ. Bahunya masih sering
sakit” Suara tegas pria itu bergema di seluruh ruangan. Indira yang mengenali
suara itu bergegas berdiri dan memeluk hangat tubuhnya.
__ADS_1
“Papiiiii. Udah tadi pi?? Neng bahagia banget
deh. Liat.. ini semua mereka yang nyiapin loh pi. Jelas pemimpinnya si Malik.
terus pi, papi tau ga neng dapet hadiah apa dari Malik? Dapet tiket liburan ke
Korea selama seminggu piiiii. Asik banget gak siihhh. Pokoknya neng seneng hari
ini”
Indira mulai berceloteh dan menuntun Pak Adi
untuk bergabung bersama Malik yang ada di sofa. Pak Adi tersenyum sembari
menepuk-nepuk kepala Indira.
Para karyawan kembali dikejutkan dengan sikap
Indira kepada bos besar mereka. Sedekat itukah mereka?? Ternyata gosip yang
selama ini beredar di kalangan para karyawan mengenai kedekatan keluarga ini
memang benar. Bahkan Indira bisa bersikap sesantai itu kepada bosnya. Mereka
berniat undur diri dari ruangan itu, karena sedikit kurang nyaman dengan
kehadiran bos besar. Tapi segera dilarang oleh Pak Adi. Karena tujuannya ke
kantor hanya sekedar mampir untuk menyapa Indira yang sedang berulang tahun.
“Selamat ulang tahun ya neng. Mau kado apa dari
papi??”
“Neng Cuma mau papi sehat-sehat aja terus.”
Indira menggelengkan kepalanya pelan.
Karena sedikit bingung dengan kado apa yang ingin
diberikan, Pak Adi memberikan kartu unlimitednya untuk membeli barang yang
Indira inginkan sekaligus membayar semua kegiatan yang akan dilakukan Indira
Usai memberikan kartunya, Pak Adi segera mencium
kening Indira dan berpamitan.
“Papi pulang dulu ya. Malik, jagain dia. Kalian
berdua jangan pulang malem-malem”
Setelah mencium punggung tangannya, Indira dan
Malik mengantar Pak Adi keluar dari ruangan. Pegawai Indira segera membereskan
sisa-sisa kericuhan yang mereka buat. Membersihkan seluruh ruangan, dan hanya
menyisakan photoboot sebagai kenang-kenangan.
Mereka mulai bersiap untuk pergi ke bioskop
sesuai janji bosnya. Indira memanggil dua orang supir untuk mengantar
karyawannya. Sedangkan dia tetap pergi menggunakan motor sport malik.
Mereka pergi ke bioskop di salah satu mall yang
letaknya tidak terlalu jauh dari kantor. Indira segera mencetak tiket yang
sudah ia beli secara online sebelumnya. Dia juga memesan beberapa macam camilan
dan minuman soda.
Benar saja, sesuai dugaannya. Karena ini adalah
hari kerja dan siang hari, bioskop akan lebih sepi dari biasanya. Dia memesan
satu deret tempat duduk dibagian atas. Indira masuk kedalam bioskop bersama
dengan gerombolan karyawannya. Meninggalkan Malik yang tampak mulai bosan.
Indira duduk dibagian tengah dan mengosongkan
bangku sebelahnya untuk Malik. Indira terlalu larut dengan perbincangannya
__ADS_1
sehingga benar-benar melupakan pria disampingnya. Indira baru menyadari bahwa
kekompakan antar anggota tim akan membuat hasil kerja menjadi lebih baik. Dia
sedikit menyesal karena terlambat memulai hubungan baik dengan karyawannya. Dia
terlalu larut dalam pekerjaannya hingga tidak terlalu memperhatikan bawahannya.
Indira menghentikan tawanya ketika menyadari pria
yang ada disampingnya sudah tertidur dengan lelap. Bisa dimaklumi, karena Malik
adalah satu-satunya pria diantara mereka semua. Untung saja Indira memesan film
horor, kalau tidak mungkin Malik akan tertidur sepanjang film.
“Malik, aku sakit” Indira mendekatkan bibirnya ke
telinga Malik dan mulai berbisik. Membuat pria yang sudah terbuai di alam mimpi
terbangun dan sedikit kebingungan. Malik bergegas memeriksa wajah, tangan dan
kaki Indira.
“Apa? Kenapa? Yang mana yang sakit??”
“Prank. Hahahaha. Lagian, kamu diajak nonton
malah tidur. Bentar lagi filmnya main” Setelah puas tertawa, Indira membuka telapak
tangannya dihadapan wajah Malik. Seketika Malik tersenyum, meraih dan
menggenggam tangan itu. Indira mulai menyandarkan kepalanya di bahu Malik
dengan nyaman.
Mereka berdua tidak menyadari bahwa kelakuan
mereka sedang menjadi pusat perhatian orang disekelilingnya. Para karyawan
Indira tidak mau melewatkan kesempatan langka melihat bosnya sedang bermanja.
Bahkan ada seorang karyawan jahil yang sengaja mengabadikan momen itu.
Begitu sadar jika ia sedang diperhatikan, Indira
tersenyum dan mulai memberikan penjelasan.
“Jangan kaget ya. Aku, Malik, sama Akbar pasti
bakalan kaya gini kalau lagi nonton film horor. Hehe. Udah kalian semua selamat
menikmati filmnya ya”
Suasana menjadi sunyi ketika film dimulai.
Terdengar teriakan ketika wajah si hantu terpampang di layar. Indira?? Jangan
ditanya. Sudah pasti dia menyembunyikan wajahnya dibalik ketiak Malik. Mungkin
dia juga tidak terlalu memahami apa maksud dari film itu. Dia hanya sibuk
berteriak dan bersembunyi.
Mereka tidak segera pulang setelah menonton
bioskop. Indira mengajak yang lain untuk ke ronde berikutnya. Beruntung ada
tempat karaoke yang sudah buka. Dia memesan ruangan berukuran besar dan
beberapa camilan. 3 jam dirasa cukup untuk memuaskan hasrat mereka.
Para wanita itu bernyanyi bergantian,
menggoyangkan badannya, berteriak dengan gembira. Sementara Malik hanya duduk
menikmati kebahagiaan Indira sembari bermain-main dengan ponselnya.
Sebelum benar-benar mengakhiri acara hari ini,
Indira membawa mereka ke salah satu restoran korea favoritnya. Dia memesan
aneka macam makanan yang seharusnya bisa dimakan untuk 15 orang. Untuk pertama
kalinya, dia benar-benar memanjakan para karyawannya.
__ADS_1