Her Wedding Dress

Her Wedding Dress
CH 37- ulang tahun Indira 2


__ADS_3

“Serius buat aku??”


Malik hanya mengangguk mendengar pertanyaan


Indira.


“Iiihh, Malik jawab yang serius dong..”


“Iya buat kamu. Jadwalnya bulan depan. Katanya


pengen liat salju di Korea. Tuh”


Indira segera berdiri dan memeluk Malik dengan


erat. Menggoyang- goyangkan tubuhnya penuh semangat. Betapa bahagia hatinya


mendapat selembar kertas berwarna pink itu. Berkali-kali Indira tertawa tanpa


suara membuat penghuni lain di ruangan itu keheranan.


“Aku pergi sendiri??”


“enggak. Bertiga, sama Akbar juga” Indira kembali


menghambur ke pelukan Malik. Dengan nyaman ia menggelungkan lengannya ke


pinggang Malik yang terduduk di sofa. Mengusapkan wajahnya di dada bidang


Malik. Sedangkan Malik hanya bisa mengusap pelan kepala Indira.


 Para


karyawan sedikit terkejut melihat adegan itu. Kali ini tingkah para atasannya


sungguh berbeda dengan yang biasa mereka temui. Bahkan kedua orang itu tidak


malu untuk bermesraan didepan orang lain. Meskipun mereka tau bahwa Malik dan


Indira hanya bersahabat, tapi mereka berdoa agar sesegera mungkin dua sejoli ini


menjadi pasangan resmi.


Indira mengajak karyawannya untuk bermain


tebak-tebakan, sebelum akhirnya pergi ke bioskop di siang hari. Begitu bahagia


raut wajah Indira setelah menyadari bahwa karyawan yang setiap hari ada


didekatnya ternyata bisa semenyenangkan ini. Apakah selama ini dia sudah


menjadi bos yang menyebalkan bagi bawahannya? Indira mulai memikirkan ulang


sifatnya selama ini.


Ruangan yang biasanya bersih dan rapi, kini


menjadi sedikit berantakan karena pesta kecil ini. Kericuhan benar-benar sedang


terjadi di dalam ruangan. Entah sudah berapa ratus foto yang mereka ambil.


Suara tawa di sana-sini. Teriakan karena hukuman permainan sering terdengar.


Hampir tidak ada batasan antara bos dan karyawan disana. Yang ada hanya


kebahagiaan dan canda tawa.


“Pak...” Para karyawan yang berjumlah 7 orang itu


langsung berdiri tegap saat menyadari ada seorang pria tua yang berdiri di


ambang pintu. Mereka menundukkan pandangan masing-masing. Berharap pria itu


tidak kecewa dengan sikap mereka beberapa saat yang lalu.


Indira yang tidak menyadari ada orang lain tetap


tertawa terbahak-bahak dengan Malik. Tangannya memukul-mukul bahu Malik yang


pernah terluka.


“Jangan disebelah situ. Bahunya masih sering


sakit” Suara tegas pria itu bergema di seluruh ruangan. Indira yang mengenali


suara itu bergegas berdiri dan memeluk hangat tubuhnya.

__ADS_1


“Papiiiii. Udah tadi pi?? Neng bahagia banget


deh. Liat.. ini semua mereka yang nyiapin loh pi. Jelas pemimpinnya si Malik.


terus pi, papi tau ga neng dapet hadiah apa dari Malik? Dapet tiket liburan ke


Korea selama seminggu piiiii. Asik banget gak siihhh. Pokoknya neng seneng hari


ini”


Indira mulai berceloteh dan menuntun Pak Adi


untuk bergabung bersama Malik yang ada di sofa. Pak Adi tersenyum sembari


menepuk-nepuk kepala Indira.


Para karyawan kembali dikejutkan dengan sikap


Indira kepada bos besar mereka. Sedekat itukah mereka?? Ternyata gosip yang


selama ini beredar di kalangan para karyawan mengenai kedekatan keluarga ini


memang benar. Bahkan Indira bisa bersikap sesantai itu kepada bosnya. Mereka


berniat undur diri dari ruangan itu, karena sedikit kurang nyaman dengan


kehadiran bos besar. Tapi segera dilarang oleh Pak Adi. Karena tujuannya ke


kantor hanya sekedar mampir untuk menyapa Indira yang sedang berulang tahun.


“Selamat ulang tahun ya neng. Mau kado apa dari


papi??”


“Neng Cuma mau papi sehat-sehat aja terus.”


Indira menggelengkan kepalanya pelan.


Karena sedikit bingung dengan kado apa yang ingin


diberikan, Pak Adi memberikan kartu unlimitednya untuk membeli barang yang


Indira inginkan sekaligus membayar semua kegiatan yang akan dilakukan Indira


Usai memberikan kartunya, Pak Adi segera mencium


kening Indira dan berpamitan.


“Papi pulang dulu ya. Malik, jagain dia. Kalian


berdua jangan pulang malem-malem”


Setelah mencium punggung tangannya, Indira dan


Malik mengantar Pak Adi keluar dari ruangan. Pegawai Indira segera membereskan


sisa-sisa kericuhan yang mereka buat. Membersihkan seluruh ruangan, dan hanya


menyisakan photoboot sebagai kenang-kenangan.


Mereka mulai bersiap untuk pergi ke bioskop


sesuai janji bosnya. Indira memanggil dua orang supir untuk mengantar


karyawannya. Sedangkan dia tetap pergi menggunakan motor sport malik.


Mereka pergi ke bioskop di salah satu mall yang


letaknya tidak terlalu jauh dari kantor. Indira segera mencetak tiket yang


sudah ia beli secara online sebelumnya. Dia juga memesan beberapa macam camilan


dan minuman soda.


Benar saja, sesuai dugaannya. Karena ini adalah


hari kerja dan siang hari, bioskop akan lebih sepi dari biasanya. Dia memesan


satu deret tempat duduk dibagian atas. Indira masuk kedalam bioskop bersama


dengan gerombolan karyawannya. Meninggalkan Malik yang tampak mulai bosan.


Indira duduk dibagian tengah dan mengosongkan


bangku sebelahnya untuk Malik. Indira terlalu larut dengan perbincangannya

__ADS_1


sehingga benar-benar melupakan pria disampingnya. Indira baru menyadari bahwa


kekompakan antar anggota tim akan membuat hasil kerja menjadi lebih baik. Dia


sedikit menyesal karena terlambat memulai hubungan baik dengan karyawannya. Dia


terlalu larut dalam pekerjaannya hingga tidak terlalu memperhatikan bawahannya.


Indira menghentikan tawanya ketika menyadari pria


yang ada disampingnya sudah tertidur dengan lelap. Bisa dimaklumi, karena Malik


adalah satu-satunya pria diantara mereka semua. Untung saja Indira memesan film


horor, kalau tidak mungkin Malik akan tertidur sepanjang film.


“Malik, aku sakit” Indira mendekatkan bibirnya ke


telinga Malik dan mulai berbisik. Membuat pria yang sudah terbuai di alam mimpi


terbangun dan sedikit kebingungan. Malik bergegas memeriksa wajah, tangan dan


kaki Indira.


“Apa? Kenapa? Yang mana yang sakit??”


“Prank. Hahahaha. Lagian, kamu diajak nonton


malah tidur. Bentar lagi filmnya main” Setelah puas tertawa, Indira membuka telapak


tangannya dihadapan wajah Malik. Seketika Malik tersenyum, meraih dan


menggenggam tangan itu. Indira mulai menyandarkan kepalanya di bahu Malik


dengan nyaman.


Mereka berdua tidak menyadari bahwa kelakuan


mereka sedang menjadi pusat perhatian orang disekelilingnya. Para karyawan


Indira tidak mau melewatkan kesempatan langka melihat bosnya sedang bermanja.


Bahkan ada seorang karyawan jahil yang sengaja mengabadikan momen itu.


Begitu sadar jika ia sedang diperhatikan, Indira


tersenyum dan mulai memberikan penjelasan.


“Jangan kaget ya. Aku, Malik, sama Akbar pasti


bakalan kaya gini kalau lagi nonton film horor. Hehe. Udah kalian semua selamat


menikmati filmnya ya”


Suasana menjadi sunyi ketika film dimulai.


Terdengar teriakan ketika wajah si hantu terpampang di layar. Indira?? Jangan


ditanya. Sudah pasti dia menyembunyikan wajahnya dibalik ketiak Malik. Mungkin


dia juga tidak terlalu memahami apa maksud dari film itu. Dia hanya sibuk


berteriak dan bersembunyi.


Mereka tidak segera pulang setelah menonton


bioskop. Indira mengajak yang lain untuk ke ronde berikutnya. Beruntung ada


tempat karaoke yang sudah buka. Dia memesan ruangan berukuran besar dan


beberapa camilan. 3 jam dirasa cukup untuk memuaskan hasrat mereka.


Para wanita itu bernyanyi bergantian,


menggoyangkan badannya, berteriak dengan gembira. Sementara Malik hanya duduk


menikmati kebahagiaan Indira sembari bermain-main dengan ponselnya.


Sebelum benar-benar mengakhiri acara hari ini,


Indira membawa mereka ke salah satu restoran korea favoritnya. Dia memesan


aneka macam makanan yang seharusnya bisa dimakan untuk 15 orang. Untuk pertama


kalinya, dia benar-benar memanjakan para karyawannya.

__ADS_1


__ADS_2