Her Wedding Dress

Her Wedding Dress
CH47- Inikah Perasaanmu??


__ADS_3

 Malik yang sedari tadi terpaku pada layar


televisi, mengubah pandangannya begitu mendengar perkataan Indira. Ia sedikit


kebingungan dengan tingkah Indira malam ini.


Bagaimana mungkin dia mengucapkan hal-hal tidak


masuk akal kepadanya.


Malik merangkum wajah Indira dengan kedua


tangannya. Berusaha menghapus bulir air mata yang mengalir di pipinya.


Perasaannya campur aduk ketika melihat wanita yang Ia cintai menangis.


Malik sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk


melupakan perasaannya pada Indira. Tetapi tetap saja, Dia masih belum bisa sepenuhnya


mengikhlaskan Indira.


“Hei Kamu kenapa?? Ngapain ngomong gitu? Lagi ada


masalah??” Tanya Malik sedikit cemas


“Hiks.. Maaf. Maafin akuuuuu..”


“Iya tapi maaf kenapa? Kamu ga salah apa-apa.


Cerita dulu, jangan nangis gini”


“Huuuuu... Maaliiikkk...” Melihat tangis Indira


yang semakin pecah, tidak ada hal lain yang bisa dilakukan selain memeluknya.


Malik merengkuh tubuh kecil Indira dan memeluknya


dengan erat. Meskipun tidak mengetahui apa yang sedang dihadapi oleh Indira, setidaknya


pelukan darinya pasti akan sedikit meringankan beban wanita itu.


“Ma.. Maliik.. Aku.. Aku.. Sayang sama kamuuuuu..


Huuuuuu..” Suara lirih Indira terdengar dibalik dada Malik.


“Shhh. Iyaa. Cup cup.. Aku juga sayang sama


kamu.” Malik mengusap pelan kepala Indira yang berada dalam pelukannya.


“Ak.. Aku takut. Jangan tinggalin aku...” Ucap


Indira sembari mengencangkan lengannya di pinggang Malik


“Iya. Aku ga akan ninggalin kamu. Udah shhh.


Jangan nangis lagi ya..”


Cukup lama Malik mempertahankan posisinya dengan


Indira. Berusaha untuk menenangkan hati Indira dengan kehangatan pelukannya.


Seandainya saja Indira belum menjadi tunangan


Akbar, pasti Malik sudah mencium Indira saat ini. Air mata yang keluar akan


segera diganti dengan kebahagiaan. Menyesal juga percuma. Semua sudah


terlambat.


Malik melepaskan tangannya ketika sudah tidak


mendengar suara tangis Indira lagi. Perlahan Malik menarik kepala Indira yang


sedari tadi terbenam di dadanya.


Senyumnya merekah ketika melihat wanita yang tadi


tersedu-sedu kini tidur begitu nyaman. Dengan satu gerakan, Malik menggendong


Indira menuju kamarnya. Menaiki tangga dengan sangat hati-hati. Ia tidak ingin


membangunkan Indira maupun Mama dan Papanya yang lebih dulu tidur.


Malik membuka pintu perlahan dan mendorongnya


menggunakan kaki. Meletakkan tubuh Indira diatas ranjang dengan perlahan. Dan


menutupi seluruh tubuh wanita itu dengan selimut.


Ia duduk di samping Indira yang sedang terlelap

__ADS_1


dan mulai memandang wajahnya dengan seksama. Menghembuskan napasnya yang berat


seakan ingin melepaskan semua beban yang ada di pundaknya. Tanpa disadari,


tangan Malik mulai menyusuri wajah Indira.


Jemarinya terus berpindah, dari kening, alis,


mata, hidung, pipi, dan terakhir adalah bibir Indira. Kembali Malik menarik


napas panjang. Kini tangan itu beralih ke kepala Indira. Mengusap perlahan


penuh kasih sayang.


“Ndi.. Jangan nangis lagi ya. Apapun masalah


kamu, jangan biarkan air mata itu turun. Aku bisa melupakan perasaan cinta


padamu yang sudah kusimpan belasan tahun ini, tetapi aku tidak akan bisa


melupakan kesedihan dan air matamu. Tahukah Kamu betapa hancur hatiku saat


melihatmu menangis seperti tadi ?? Apapun keputusan Kamu, dengan siapapun Kamu


menikah nanti, Aku akan selalu mendukungmu. Aku akan selalu menyayangimu


seperti saat ini..”


Malik berbicara lirih. Air matanya menggenang di


pelupuk mata. Campuran emosi antara kekecewaan dan kesedihan yang teramat


dalam. Perasaan pribadinya tak lagi penting. Saat ini, bagi Malik kebahagiaan


Indira adalah yang utama.


Ia menundukkan kepalanya, mengarahkan wajahnya ke


wajah Indira. Mendaratkan bibirnya di kening Indira. Malik memejamkan matanya


dan menikmati saat-saat dimana Ia masih bisa menjaga Indira.


Air mata yang sedari tadi menggenang sudah terjun


bebas membasahi pelipis Indira.


***


Jantungnya berdegub sangat kencang. Ingin rasanya


Indira melompat dan memaksa Malik untuk mengulang perkataannya tadi.


Tidak-tidak.. Ini bukan saatnya untuk membuka mata. Indira masih harus


mendengarkan perkataan Malik selanjutnya.


Dengan mata yang terpejam, Indira mendengar


dengan seksama apa yang diucapkan oleh Malik.


Terasa hangat ketika bibir Malik menyentuh


keningnya. Dan apa ini?? Kenapa pelipilsnya basah? Apa Malik menangis?? Indira


masih tetap menahan rasa penasarannya.


Ya Tuhan, apa ini sebenarnya?? Apa ini mimpi??


Apa yang baru saja Ia dengar adalah kenyataan?? Kenapa Malik selama ini diam


saja. Kenapa Malik tidak menyatakan perasaannya. Lalu apa yang harus Ia


lakukan?


“Akbar adalah lelaki yang baik. Aku yakin, Dia


bisa mencintai Kamu lebih dari Aku. Tolong jangan kecewakan Papa dan Papi ya


Ndi..”


Bisikan Malik kembali bergema di telinganya.


Inikah keputusan Malik?? Apa Dia benar-benar sudah menyerah dengan


perasaannya?? Apa Indira juga harus melakukan hal yang sama?? Entahlah. Ribuan


pertanyaan yang berputar dikepalanya benar-benar membuat otaknya menjadi


lumpuh.


“Jangan pergi...”

__ADS_1


Indira meraih lengan Malik yang sedang berusaha


pergi menjauh. Matanya tetap terpejam, seakan tidak ingin memperlihatkan


kesedihannya.


“Ada hantu, aku takut.” Indira memutuskan untuk


bersandiwara. Saat ini, Indira hanya ingin bersama dengan Malik. Menghabisakan


malam ini sebelum benar-benar melepas perasaannya.


Ia memeluk lengan Malik dengan erat, membuat


Malik kembali terduduk di sampingnya. Sadar bahwa Malik sudah mulai duduk


nyaman disampingnya, Indira melepaskan lengan Malik dan beralih pada


pinggangnya.


**


“Ada hantu, aku takut.”


Malik tersenyum lembut. Matanya menatap tangannya


yang sedang ditahan oleh Indira. Terpaksa Malik duduk kembali disisi Indira.


Melihat Indira yang semakin memeluk lengannya


dengan erat, Malik memutuskan untuk menemani wanita itu malam ini. Malik


memposisikan tubuhnya senyaman mungkin. Ia menyandarkan punggungnya. Menutupi


bagian bawah tubuhnya dengan selimut yang menutupi keseluruhan tubuh Indira.


Campuran wajah terkejut dan bahagia terpancar di


wajah Malik ketika Indira memeluk pinggangnya. Sebenarnya apa yang ada di mimpi


wanita ini hingga memeluknya begitu erat.


Adegan beberapa tahun yang lalu kini kembali


terulang. Gadis kecil yang dulu selalu bertengkar dengannya, kini sudah menjadi


wanita dewasa yang akan segera menikah. Ya, wanita ini akan segera menikah. Bukan


dengannya, tetapi dengan Akbar.


Malik mengusap pelan kepala Indira, berusaha


mengusir semua mimpi buruk yang ada.


**


“Neng, liat Ma....” Langkah kaki Bu Mega terhenti


ketika melihat pemandangan di hadapannya.


Bu Mega sudah berkeliling ke seluruh penjuru


rumah untuk mencari Malik yang menghilang. Kondisi Malik yang belum stabil


membuat pikiran Bu Mega sedikit melantur.


Rasa khawatir semakin besar ketika melihat ponsel


Malik yang tergeletak di lantai. Bayangan Malik pingsan atau terjatuh di kamar


mandi berkeliaran dalam otaknya.


Namun semua pikiran buruk itu hilang seketika


saat melihat Malik sedang berada di kamar Indira yang terbuka. Air mata mulai


membasahi wajahnya, saat melihat Indira yang dengan nyamannya memeluk tubuh


Malik.


Kasihan sekali nasib pria itu. Setelah sekian


lama memendam perasaan, hatinya hancur karena harus mengalah dengan sahabatnya


sendiri. Bahkan saat berusaha menghapus perasaannya pun, Indira tidak


memberikannya ruang untuk bernapas.


Mungkin ini adalah pemandangan yang akan dilihat


sepanjang hari jika Malik melamar putrinya lebih dulu. Tapi mungkin ini adalah

__ADS_1


jalan terbaik yang diberikan Tuhan untuk mereka


__ADS_2