
Malik yang sedari tadi terpaku pada layar
televisi, mengubah pandangannya begitu mendengar perkataan Indira. Ia sedikit
kebingungan dengan tingkah Indira malam ini.
Bagaimana mungkin dia mengucapkan hal-hal tidak
masuk akal kepadanya.
Malik merangkum wajah Indira dengan kedua
tangannya. Berusaha menghapus bulir air mata yang mengalir di pipinya.
Perasaannya campur aduk ketika melihat wanita yang Ia cintai menangis.
Malik sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk
melupakan perasaannya pada Indira. Tetapi tetap saja, Dia masih belum bisa sepenuhnya
mengikhlaskan Indira.
“Hei Kamu kenapa?? Ngapain ngomong gitu? Lagi ada
masalah??” Tanya Malik sedikit cemas
“Hiks.. Maaf. Maafin akuuuuu..”
“Iya tapi maaf kenapa? Kamu ga salah apa-apa.
Cerita dulu, jangan nangis gini”
“Huuuuu... Maaliiikkk...” Melihat tangis Indira
yang semakin pecah, tidak ada hal lain yang bisa dilakukan selain memeluknya.
Malik merengkuh tubuh kecil Indira dan memeluknya
dengan erat. Meskipun tidak mengetahui apa yang sedang dihadapi oleh Indira, setidaknya
pelukan darinya pasti akan sedikit meringankan beban wanita itu.
“Ma.. Maliik.. Aku.. Aku.. Sayang sama kamuuuuu..
Huuuuuu..” Suara lirih Indira terdengar dibalik dada Malik.
“Shhh. Iyaa. Cup cup.. Aku juga sayang sama
kamu.” Malik mengusap pelan kepala Indira yang berada dalam pelukannya.
“Ak.. Aku takut. Jangan tinggalin aku...” Ucap
Indira sembari mengencangkan lengannya di pinggang Malik
“Iya. Aku ga akan ninggalin kamu. Udah shhh.
Jangan nangis lagi ya..”
Cukup lama Malik mempertahankan posisinya dengan
Indira. Berusaha untuk menenangkan hati Indira dengan kehangatan pelukannya.
Seandainya saja Indira belum menjadi tunangan
Akbar, pasti Malik sudah mencium Indira saat ini. Air mata yang keluar akan
segera diganti dengan kebahagiaan. Menyesal juga percuma. Semua sudah
terlambat.
Malik melepaskan tangannya ketika sudah tidak
mendengar suara tangis Indira lagi. Perlahan Malik menarik kepala Indira yang
sedari tadi terbenam di dadanya.
Senyumnya merekah ketika melihat wanita yang tadi
tersedu-sedu kini tidur begitu nyaman. Dengan satu gerakan, Malik menggendong
Indira menuju kamarnya. Menaiki tangga dengan sangat hati-hati. Ia tidak ingin
membangunkan Indira maupun Mama dan Papanya yang lebih dulu tidur.
Malik membuka pintu perlahan dan mendorongnya
menggunakan kaki. Meletakkan tubuh Indira diatas ranjang dengan perlahan. Dan
menutupi seluruh tubuh wanita itu dengan selimut.
Ia duduk di samping Indira yang sedang terlelap
__ADS_1
dan mulai memandang wajahnya dengan seksama. Menghembuskan napasnya yang berat
seakan ingin melepaskan semua beban yang ada di pundaknya. Tanpa disadari,
tangan Malik mulai menyusuri wajah Indira.
Jemarinya terus berpindah, dari kening, alis,
mata, hidung, pipi, dan terakhir adalah bibir Indira. Kembali Malik menarik
napas panjang. Kini tangan itu beralih ke kepala Indira. Mengusap perlahan
penuh kasih sayang.
“Ndi.. Jangan nangis lagi ya. Apapun masalah
kamu, jangan biarkan air mata itu turun. Aku bisa melupakan perasaan cinta
padamu yang sudah kusimpan belasan tahun ini, tetapi aku tidak akan bisa
melupakan kesedihan dan air matamu. Tahukah Kamu betapa hancur hatiku saat
melihatmu menangis seperti tadi ?? Apapun keputusan Kamu, dengan siapapun Kamu
menikah nanti, Aku akan selalu mendukungmu. Aku akan selalu menyayangimu
seperti saat ini..”
Malik berbicara lirih. Air matanya menggenang di
pelupuk mata. Campuran emosi antara kekecewaan dan kesedihan yang teramat
dalam. Perasaan pribadinya tak lagi penting. Saat ini, bagi Malik kebahagiaan
Indira adalah yang utama.
Ia menundukkan kepalanya, mengarahkan wajahnya ke
wajah Indira. Mendaratkan bibirnya di kening Indira. Malik memejamkan matanya
dan menikmati saat-saat dimana Ia masih bisa menjaga Indira.
Air mata yang sedari tadi menggenang sudah terjun
bebas membasahi pelipis Indira.
***
Jantungnya berdegub sangat kencang. Ingin rasanya
Indira melompat dan memaksa Malik untuk mengulang perkataannya tadi.
Tidak-tidak.. Ini bukan saatnya untuk membuka mata. Indira masih harus
mendengarkan perkataan Malik selanjutnya.
Dengan mata yang terpejam, Indira mendengar
dengan seksama apa yang diucapkan oleh Malik.
Terasa hangat ketika bibir Malik menyentuh
keningnya. Dan apa ini?? Kenapa pelipilsnya basah? Apa Malik menangis?? Indira
masih tetap menahan rasa penasarannya.
Ya Tuhan, apa ini sebenarnya?? Apa ini mimpi??
Apa yang baru saja Ia dengar adalah kenyataan?? Kenapa Malik selama ini diam
saja. Kenapa Malik tidak menyatakan perasaannya. Lalu apa yang harus Ia
lakukan?
“Akbar adalah lelaki yang baik. Aku yakin, Dia
bisa mencintai Kamu lebih dari Aku. Tolong jangan kecewakan Papa dan Papi ya
Ndi..”
Bisikan Malik kembali bergema di telinganya.
Inikah keputusan Malik?? Apa Dia benar-benar sudah menyerah dengan
perasaannya?? Apa Indira juga harus melakukan hal yang sama?? Entahlah. Ribuan
pertanyaan yang berputar dikepalanya benar-benar membuat otaknya menjadi
lumpuh.
“Jangan pergi...”
__ADS_1
Indira meraih lengan Malik yang sedang berusaha
pergi menjauh. Matanya tetap terpejam, seakan tidak ingin memperlihatkan
kesedihannya.
“Ada hantu, aku takut.” Indira memutuskan untuk
bersandiwara. Saat ini, Indira hanya ingin bersama dengan Malik. Menghabisakan
malam ini sebelum benar-benar melepas perasaannya.
Ia memeluk lengan Malik dengan erat, membuat
Malik kembali terduduk di sampingnya. Sadar bahwa Malik sudah mulai duduk
nyaman disampingnya, Indira melepaskan lengan Malik dan beralih pada
pinggangnya.
**
“Ada hantu, aku takut.”
Malik tersenyum lembut. Matanya menatap tangannya
yang sedang ditahan oleh Indira. Terpaksa Malik duduk kembali disisi Indira.
Melihat Indira yang semakin memeluk lengannya
dengan erat, Malik memutuskan untuk menemani wanita itu malam ini. Malik
memposisikan tubuhnya senyaman mungkin. Ia menyandarkan punggungnya. Menutupi
bagian bawah tubuhnya dengan selimut yang menutupi keseluruhan tubuh Indira.
Campuran wajah terkejut dan bahagia terpancar di
wajah Malik ketika Indira memeluk pinggangnya. Sebenarnya apa yang ada di mimpi
wanita ini hingga memeluknya begitu erat.
Adegan beberapa tahun yang lalu kini kembali
terulang. Gadis kecil yang dulu selalu bertengkar dengannya, kini sudah menjadi
wanita dewasa yang akan segera menikah. Ya, wanita ini akan segera menikah. Bukan
dengannya, tetapi dengan Akbar.
Malik mengusap pelan kepala Indira, berusaha
mengusir semua mimpi buruk yang ada.
**
“Neng, liat Ma....” Langkah kaki Bu Mega terhenti
ketika melihat pemandangan di hadapannya.
Bu Mega sudah berkeliling ke seluruh penjuru
rumah untuk mencari Malik yang menghilang. Kondisi Malik yang belum stabil
membuat pikiran Bu Mega sedikit melantur.
Rasa khawatir semakin besar ketika melihat ponsel
Malik yang tergeletak di lantai. Bayangan Malik pingsan atau terjatuh di kamar
mandi berkeliaran dalam otaknya.
Namun semua pikiran buruk itu hilang seketika
saat melihat Malik sedang berada di kamar Indira yang terbuka. Air mata mulai
membasahi wajahnya, saat melihat Indira yang dengan nyamannya memeluk tubuh
Malik.
Kasihan sekali nasib pria itu. Setelah sekian
lama memendam perasaan, hatinya hancur karena harus mengalah dengan sahabatnya
sendiri. Bahkan saat berusaha menghapus perasaannya pun, Indira tidak
memberikannya ruang untuk bernapas.
Mungkin ini adalah pemandangan yang akan dilihat
sepanjang hari jika Malik melamar putrinya lebih dulu. Tapi mungkin ini adalah
__ADS_1
jalan terbaik yang diberikan Tuhan untuk mereka