
"Jangan ikut campur dan pergilah dari sini!" ucap salah satu dari mereka.
Su Li Xia mengeluarkan ponselnya, dia lalu menghubungi polisi. Melihat apa yang di lakukan Su Li Xia, laki-laki berpakaian hitam itu langsung menyerangnya. Mereka berusaha menangkap Su Li Xia dan mengambil ponsel dari tangannya.
Su Li Xia menghindar, dia mengambil sebuah kayu yang memang di siapkan untuk melawan pencuri dari belakang pintu. Su Li Xia memukul satu persatu, hingga ke 4 laki-laki itu babak belur.
Ke empat laki-laki itu menunduk dan bersujud, mengakui kekalahan mereka di depan seorang wanita. Su Li Xia berdiri di depan ke 4 pria itu, dia berpikir jika mereka pastinya bukan orang suruhan Chen Han Nie. Dia mulai menginterogasi dengan beberapa pertanyaan.
"Siapa yang menyuruh kalian untuk menggeledah rumah ini?"
Ke empat laki-laki itu saling menatap, tapi mereka tetap menutup mulut. Karena tidak ada jawaban, Su Li Xia memukul laki-laki yang berada di dekatnya.
"Aku tanya sekali lagi, siapa Tuan kalian?"
"Nyonya Fu. Nyonya Fu adalah majikan kami." jawab pria itu sambil merintih kesakitan.
"Apa tugas kalian?" tanya Su Li Xia lagi.
"Nyonya Fu meminta kami untuk mencari sebuah kalung."
"Kalung apa?" tanya Su Li Xia penasaran.
"Kalung yang memiliki sembilan butir giok darah di liontinnya."
"Kenapa dia mencari kalung itu?"
"Itu...!" Pria itu menoleh ke belakang, seakan meminta izin kepada rekannya untuk menjawab hal yang ditanyakan.
"Hahhh...!" salah satu dari mereka menghela napas panjang, dia kemudian berdiri lalu memberi hormat kepada Su Li Xia.
"Nona Su, sebenarnya ..."
Mereka mulai menceritakan semuanya. Su Li Xia hanya mendengar penjelasan mereka. Setelah puas mendengar jawaban dari ke 4 pria itu, Su Li Xia mengusir mereka semua.
Su Li Xia mengambil kunci mobil, dia berjalan keluar dan menuju ke area parkiran. Su Li Xia mengendarai mobil Ling menuju ke rumah sakit. Sesampainya di sana, dia berjalan cepat ke kamar adik tirinya.
Su Li Xia membuka pintu kamar, dia melihat Lu Xuan Cheng sedang membasuh tangan adik tirinya itu dengan sebuah handuk basah.
__ADS_1
"Aku tidak menyangka si wajah es ini bisa bersikap baik dan lembut." pikir Su Li Xia.
Su Li Xia masuk ke dalam, dia lalu duduk di depan Lu Xuan Cheng. Laki-laki itu mengangkat wajahnya, dia menatap Su Li Xia yang terlihat lelah.
"Kau sudah makan?" tanya Lu Xuan Cheng.
Su Li Xia hanya makan sedikit roti saat di kantor tadi, itu pun di belikan oleh Cindy. Dia belum menyentuh makanan berat sejak kemarin malam. Melihat wanita itu diam saja, Lu Xuan Cheng sudah memperkirakan jawabannya.
"Tunggulah di sini, aku akan membeli makanan di bawah." ucap Lu Xuan Cheng.
Laki-laki itu berdiri, dia berjalan keluar lalu menutup kembali pintu kamar.
Su Li Xia menatap wajah adiknya, wajahnya tampak lebih cerah dari pada pagi tadi.
"Su Li Xia, jika ada kemungkinan kau kembali ke tubuhmu, aku harap kau akan membesarkan bayi ini. Tolong berikan cinta dan kasih sayang kepadanya." Su Li Xia meletakkan tangannya di atas perut adik tirinya.
"Rasanya aneh karena aku memanggil nama ku sendiri. Kenapa Ibu harus memberi nama yang sama kepadamu?" ucapnya lagi.
Tok Tok Tok!
"Maaf Nona, saya ditugaskan untuk memberi obat kepada pasien." ucap perawat itu.
"Obat apa itu?" tanya Su Li Xia yang curiga melihat sikap gugup dari perawat.
"Ini hanya obat untuk menguatkan janin." jawab perawat itu berbohong.
"Benarkah? Kalau begitu aku minta kau mencobanya terlebih dulu. Kau kan juga sedang hamil." sahut Su Li Xia dengan wajah dingin.
Perawat itu ketakutan, tangan dan kakinya gemetaran hingga dia terjatuh ke lantai.
Mendengar suara keributan dari dalam kamar, Lu Xuan Cheng dengan cepat berlari masuk ke dalam. Dia memang sudah berada tak jauh dari kamar ketika mendengar suara perawat yang jatuh terduduk.
"Ada apa ini?" tanya laki-laki itu dengan rasa penasaran.
"Perawat ini mencoba untuk membunuh Su Li Xia."
Lu Xuan Cheng langsung murka, dia berjalan ke arah perawat itu lalu menyambar jarum suntik serta obat di tangannya. Lu Xuan Cheng menatap perawat itu dengan matanya yang terlihat mengerikan.
__ADS_1
"Salahkan dirimu sendiri karena berani menyakiti wanita milik ku!" ucapnya dengan nada
Lu Xuan Cheng menarik cairan itu ke dalam jarum suntik, dia lalu menusuk leher perawat dan menyuntikkan cairan ke dalam tubuhnya.
Su Li Xia tampak terkejut, ngeri sekaligus takut melihat wajah Lu Xuan Cheng yang terlihat sangat berbeda. Di depannya, Lu Xuan Cheng selalu tersenyum meskipun terkadang dia menyebalkan.
Ini pertama kalinya Su Li Xia melihat wajah marah dari laki-laki di depannya. Dia bahkan tidak terlihat ragu ketika menyuntikkan obat yang bisa membunuh orang ke tubuh seorang wanita hamil.
"Apa benar dia Lu Xuan Cheng yang aku kenal? Ternyata, aku tidak tau apa-apa tentang laki-laki ini." benak Su Li Xia.
Perawat itu segera berlari keluar, Lu Xuan Cheng hendak mengejar tapi tangannya langsung di tahan oleh Su Li Xia.
"Biarkan dia pergi!" ucap Su Li Xia.
"Kenapa? Dia hampir membunuh adikmu!" bentak Lu Xuan Cheng.
"Dia hanya orang suruhan, pelaku yang sebenarnya masih ada di sini." ucap Su Li Xia.
Su Li Xia mengalihkan pandangannya ke arah pintu, Lu Xuan Cheng mengikuti arah tatapannya. Dia langsung berlari dan menarik tangan Zhao Li Ching yang bersembunyi di balik pintu.
"Siapa kau?" tanya Lu Xuan Cheng.
"Salah paham, ini cuma salah paham. Aku hanya kebetulan lewat saja." jawab Zhao Li Ching ketakutan.
Su Li Xia tersenyum sinis, dia mendekati wanita itu lalu menamparnya dengan keras.
"Plakkk!"
Mendapat tamparan dari wanita asing, membuat Zhao Li Ching geram. Dia melotot ke arah Su Li Xia, tangannya di angkat hendak menampar kembali wajah Su Li Xia, namun segera di halangi oleh Lu Xuan Cheng.
Lu Xuan Cheng menarik tangan Zhao Li Ching, dia menghempas tubuh wanita itu ke lantai. Zhao Li Ching merintih kesakitan karena kepalanya membentur dinding tembok, darah segar terlihat keluar dari luka di keningnya.
"Aku tanya sekali lagi, kau ini siapa?" Lu Xuan Cheng melihat wanita itu dengan tatapan yang seakan hendak membunuh Su Ching Yi.
"Aku... Aku adik ipar Su Li Xia."
^^^BERSAMBUNG...^^^
__ADS_1