Host Infection

Host Infection
Bab 21 Kornea merah


__ADS_3

...***...


Rael dan yang lainnya berhasil untuk mengalahkan monster anjing itu, sekarang mereka semua sedang berada di dalam mobil dan berjalan menuju desa Ciptaharja.


Beberapa saat kemudian di tempat pangkalan militer sebelumnya, monster anjing yang Rael lawan sebelumnya mulai meregenerasi dirinya sendiri.


" Wah... Tak kusangka subjek dengan kode nama B-0018 berhasil kalah oleh seorang remaja berumur 17 tahun."


" Yah... Berkat dia, aku bisa memperbaiki kekurangan pada setiap subjek ku."


Berpindah ke sudut pandang Rael, karena matahari sudah mulai terbenam mereka memutuskan untuk bermalam terlebih dahulu di salah satu gedung.


" Hei Rael pakailah ini, bajumu yang sebelumnya sudah robek-robek."


" Oh, makasih Bima."


" ... Meskipun ini terdengar tidak sopan, tapi apa kau benar-benar bisa mengendalikan dirimu, dan apa kau tidak merasa ingin memakan manusia?" Tanya pak Sudiarto.


" ... Aku tau apa yang bapak pikirkan, untuk sekarang aku bisa menjadi diriku pada umunya, meski benar bahwa sekarang aku memiliki nafsu makan yang banyak tapi itu bukan berarti aku harus memakan daging manusia."


" Hah... Begitu yah, sepertinya kita harus lebih rajin untuk mencari makanan."


" Terus... Kenapa kau memakai pakaian montir itu?" Tanya pak Sudiarto.


" Entahlah, aku merasa keren saja."


Matahari fajar telah tiba, Bima, pak Sudiarto, dan Aria sedang membereskan kembali barang-barang yang harus dibawa, sedangkan Rael sedang membasuh wajahnya dengan air.


" Eh tunggu apa ini, kenapa mata ku seperti ini?"


" Sial bagaimana ini, aku tidak bisa mengontrol mata kananku, dan aku merasa ada sesuatu pada penglihatan ku."


Rael yang setengah panik, mendobrak pintunya dan berlari kecil ke tempat Bima berada.


" Eh Rael, ada apa dengan mata mu?"

__ADS_1


Melihat warna matanya yang berwarna merah, pak Sudiarto bergegas menahan Bima untuk tidak mendekati Rael.


Setelah melihat Bima dan pak Sudiarto, tiba-tiba Rael menutup mata kirinya dan mengangguk seperti mengerti akan sesuatu.


Tanpa mengatakan apa-apa, Rael segera pergi ke luar dan berdiri di tengah jalan dengan menutup matanya dan bernafas secara perlahan.


Baiklah Rael, ayo kita praktekkan hal yang sudah kau lakukan saat melawan monster anjing sebelumnya. Suara batinnya.


Tarik nafas mu dengan perlahan dan rasakan kembali perasaan yang kau rasakan pada saat itu, pikirkan sesuatu yang bisa membuat mu marah sampai kau bisa merasakan sesuatu yang kuat menghampiri tubuh mu.


Saat kekuatan itu berhasil ditangkap oleh tubuhmu, salurkan kekuatan itu ke salah satu anggota tubuhmu agar aman dari hasutan hasrat ku.


Karena aku selalu memakai tangan kanan, maka aku menyalurkannya kesana, dan kemudian aku harus mengunakan imajinasi ku untuk menentukan bentuk apa yang aku inginkan.


Sesuatu yang kuat, bisa dipakai untuk bertahan dan menyerang, sesuatu yang keras namun dan tidak menghambat pergerakan.


Baiklah sepertinya ini sudah sempurna.


Bima yang melihatnya pun tercengang dengan apa yang telah dilakukan oleh Rael, setelah Rael mengubah bentuk tangan kanannya kemudian ia memanggil salah satu monster dengan siulannya.


Meskipun Bima sudah berteriak, Rael tak beranjak dari tempat ia berdiri.


Rael pun seketika menutup mata kirinya dan mempersiapkan posisi untuk menyerang, monster tersebut semakin mendekati Rael dan ingin menyerangnya dengan tangannya.


Rael yang sudah berancang-ancang kemudian mengarahkan tangan kanannya untuk menusuk dada monster itu, seketika Rael berhasil menembusnya dan ia pun memegang sesuatu yang berdetak dengan tentakel kecil yang bergerak-gerak.


Saat ia sudah memegangnya, Rael pun meremas benda itu, seketika monster tersebut tumbang dan berubah warna seperti yang dialami para monster saat ia mati.


" Wow... Itu sangat mengejutkan, sepertinya mata kanannya bisa melihat inti monster itu." Ucap pak Sudiarto.


" Aku setuju dengan ucapan mu pak." Ujar Aria.


Setelah mengalahkannya, Rael segera kembali ke arah yang lain berasal dengan tangan kanan yang dilumuri oleh darah.


" Agh... Ini sangat menjijikan."

__ADS_1


" Wow... Bagaimana kau bisa melakukan itu Rael?!" Tanya Bima.


" Yah ini sesuatu yang rumit, tapi berkat itu aku memiliki ide untuk bisa membunuh para monster." Ujar Rael.


Setelahnya Rael memerintahkan yang lain untuk mencarikannya kamera, kaca mata VR, dan sekotak alat perkakas.


Setelah semua barang terkumpul, Rael masuk ke salah satu ruangan dengan membawa seluruh barangnya dan satu buah buku tentang alat elektronik.


Sudah berjam-jam Rael tidak keluar dari ruangan tersebut, sesekali terdengar suara ledakan dan listrik di ruangan itu beberapa kali mati akibat korsleting listrik.


Dan akhirnya, setelah beberapa jam berlalu Rael keluar juga dari ruangan itu dan membawa sebuah barang yang terlihat seperti dirakit ulang.


" Eh tunggu, jadi kau menggabungkan kacamata VR dan kamera?" Tanya Bima.


" Aku tidak hanya menggabungkannya dengan asal, tapi aku sedikit mengubah kameranya menjadi infrared dan kemudian menggabungkannya ke VR agar bisa dipakai dengan benar."


" Tapi kenapa kau mengubahnya menjadi infrared?" Tanya pak Sudiarto.


" Itu karena setiap core monster memiliki suhu yang panas dibanding dengan suhu tubuhnya, dan alat ini fungsinya sama seperti mata kanan ku."


" Oh... Jadi mata kananmu bisa melihat suhu tubuh, tapi sepertinya matamu hanya bisa melihatnya saat berubah warna menjadi merah yah." Ucap Bima


" Seperti itulah cara kerjanya." Ujar Rael.


" Oh ia aku hampir lupa, nih gelang mu yang kau jatuhkan pada waktu itu."


" Wow... Aku tercengang bahwa kau bisa menjaga gelang ini."


" Hmm... Kalau dipikir-pikir aku selalu melihatmu memakai gelang itu, apa ada cerita dibaliknya?" Tanya Aria.


" Ada tapi itu rahasia."


Setelah perbincangan itu Rael dan teman-temannya memulai kembali perjalanan ke desa Ciptaharja dengan menaiki mobil militer yang mereka ambil.


>Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2