
...***...
Berjam-jam perjalanan telah mereka tempuh, jalan yang awalnya dipenuhi oleh perumahan sekarang menjadi berbeda jauh dari sebelumnya, karena jalan di tempat ini begitu asri dengan udara yang sangat segar.
Mereka mulai memasuki jalan yang masih dari tanah, tentu saja hal tersebut membuat mobil mereka tidak dapat berjalan dengan lancar karena di jalan tersebut dipenuhi oleh lubang dan lumpur di sepanjang jalan.
Setelah mereka melewati jalan tersebut, tanpa disangka ban mobilnya itu kempes akibat melindas sebuah paku.
" Agh sial, kenapa bannya harus kempes di tempat ini sih." Kesal pak Sudiarto.
" Ada apa pak?" Tanya Bima.
" Sepertinya ban mobil ini baru saja melindas paku, untuk sekarang sepertinya kita harus terpaksa berhenti dulu disini."
Pak Sudiarto pun mengambil alat perkakas di bagasi mobilnya untuk menganti ban mobilnya dengan yang baru, Bima dan Aria pun ikut membantunya sedangkan Rael tidak bisa membantunya karena ia mengalami mabuk darat.
Mereka bertiga sangat sibuk membantu pak Sudiarto yang sedang berusaha melepaskan bannya, Bima yang merasa janggal melihat ke arah Rael yang ternyata telah menghilang dari dalam mobil.
Saat pak Sudiarto sedang berusaha untuk memperbaiki ban mobilnya, ia mendengar suara ribut yang berasal dari sisi mobil satunya.
Ternyata Bima, Rael, dan Aria telah menghilang dari tempat itu, dan tanpa ia sadari sudah ada seseorang yang sedang mengendap-endap dari arah belakang.
Orang misterius itu pun mengeluarkan saputangannya dan segera menutup hidung pak Sudiarto yang seketika membuatnya pingsan.
Dengan kepala yang tertutupi oleh karung, Rael pun sudah sadar kembali dengan ditemani cahaya yang remang-remang.
Beberapa orang di ruangan itu nampak sedang mengobrolkan sesuatu tentang Distopia dan seorang pengintai.
" Hei, apa kau yakin kalau mereka semua adalah seorang pengintai yang dikirim oleh Distopia?"
" Entahlah aku pun sedikit ragu, apalagi kebanyakan dari mereka berempat itu seorang remaja."
__ADS_1
" Sepertinya kita harus segera memberi tau ke ketua agar bisa memutuskan pilihan mana yang akan dilaksanakan."
" ... Kau benar juga, baiklah kalau begitu aku akan segera membicarakan ini kepada ketua."
Meskipun Rael sudah sadar dari pingsannya, namun ia tetap berpura-pura tak sadarkan diri dan menunggu sampai semua orang yang didalam ruangan itu pergi.
Meskipun Rael sudah menunggunya cukup lama, orang-orang yang ada di dalam ruangan itu tak kunjung pergi, dan malah sang ketua koloni itu tiba di ruangan tempat Rael ditahan.
" Apa ini orang yang kalian bawa saat ini?"
" Ya, itu benar."
" Dan apa kalian sudah memastikan kalau keempat orang yang kalian tahan itu seorang pengintai?"
" Untuk itu kami semua masih ragu."
" Begitu yah~."
Setelahnya si ketua kelompok itu memegang karung yang dipakai oleh Rael dan langsung segera membukanya, setelah dapat melihat wajahnya dengan jelas mereka berdua nampak memasang wajah kaget.
" ... Rael?"
" ... Teteh?"
Mereka berdua nampak terkejut karena pertemuan yang tak biasa ini, orang-orang yang ada disana pun ikut terkejut karena Rael memangil sang ketua dengan sebutan teteh.
" ... Tunggu dulu ketua, apakah laki-laki itu merupakan adik mu?" Tanya salah seorang yang ada disana.
" Kau benar, dia adalah adik kandungku dan satu-satunya keluarga yang kumiliki."
" ... Wow, tak kusangka kakak perempuan ku sudah menjadi sorang pemimpin grup, bukannya dari dulu kau selalu protes jika dijadikan ketua saat tugas kelompok?"
__ADS_1
" Hah... Ternyata kau itu tidak berubah yah, jadi sekarang bagaimana bisa kau kemari dan bagaimana hubungan kalian dengan ketiga orang yang kita tangkap."
" Aku kemari bersama dengan Bima dan Aria, ah dan juga dengan seorang mantan tentara."
" Jadi begitu, lepaskan mereka dan antar yang lainnya untuk datang ke kantin."
Setelah mereka melepaskan Rael dan teman-temannya, mereka semua diajak berkeliling oleh salah satu orang dalam kelompok itu.
Saat mereka berjalan, nampak seluruh orang menatap mereka dengan wajah yang tidak mengenakkan.
" Hiraukan saja mereka semua, karena aku jamin kalau kalian akan adam di dalam benteng ini."
" Benteng?" Tanya Bima.
" Ya, sepertinya kalian tidak sempat untuk melihatnya, tapi tempat ini telah dikelilingi oleh pagar dan sungai jadi akan sulit diterobos oleh para monster."
Setelah paham seluruh kawasan, mereka semua pun diarahkan untuk mengobrol di kantin.
" ... Apakah tidak ada tempat yang cocok untuk dijadikan ruangan rapat?" Tanya pak Sudiarto.
" Maafkan kami, tapi hanya ini lah tempat yang cocok untuk mengobrol dan berkumpul."
Setelah beberapa menit duduk, akhirnya sang ketua kelompok ini tiba juga.
" Tu-Tunggu, itu kan kak Santika, jadi kakak mu berhasil selamat yah."
Rapat pun dimulai, isi di dalam rapat tersebut adalah bagaimana Rael yang kelompoknya tinggal, dan mereka pun harus menghitung ulang stok makanan yang mereka kumpulkan.
Karena tidak ingin dijadikan sebuah beban, pak Sudiarto pun memberikan informasi tentang kelemahan monster, jenis-jenis monster yang berbahaya dan menunjukkan alat yang dirakit oleh Rael agar bisa menemukan inti dari para monster itu. Rapat pada hari itu pun selesai yang bertepatan dengan waktu makan malam.
> Bersambung...
__ADS_1