
...***...
Serangan yang dihalau oleh Rael nampaknya cukup kuat hingga membuatnya terlempar dan menerima luka cakar yang cukup dalam disekitar punggungnya.
Pramono pun lantas memukul monster yang menyerangnya tersebut menggunakan linggis yang ia temukan tergeletak diatas lantai, monster yang menerima serangan itu pun sedikit menjauhinya karena kepalanya sedang berdenging akibat pukulan keras yang dilontarkan oleh Pramono.
Selagi monster itu sedang terdiam, Pramono pun menghampiri Rael untuk memastikan keadaannya baik-baik saja.
Namun Pramono malah mendapatkan sebuah kejutan, karena luka yang sangat besar itu mulai mengeluarkan asap dan tertutup secara perlahan.
Perasaan yang sedang ia rasakan saat ini sedang campur aduk, antara rasa ngeri dan rasa takur bercampur menjadi satu hingga menghasilkan perasaan yang tidak karuan.
Apa-apaan itu, jelas sekali bahwa Rael memiliki regenerasi tubuh yang mirip dengan para monster pada umumnya, namun aku yakin sekali bahwa setiap bertemu dengan Rael tidak ada sikap yang janggal dari dirinya. Suara batin Pramono.
Tak lama kemudian, Rael berhasil bangun dari pingsannya dan berusaha untuk bangun dengan punggungnya yang masih terasa sakit meskipun lukanya berhasil sembuh tampa bekas luka.
" Aku tau apa yang kau pikirkan pemimpin regu, tapi sekarang bukan saatnya untuk kita memikirkan hal-hal yang lain, kita harus segera mengurus monster itu, jika kau masih bertanya-tanya tentang apa yang telah terjadi pada tubuhku kau bisa menanyakannya nanti atau kau bisa menanyakannya langsung pada kakak ku." Ujar Rael.
" ... Kau ada benarnya." Ucap Pramono.
Monster yang sedang mereka lawan sekarang sudah memulihkan kembali kesadarannya dan nampak seperti sedang marah sembari menatap Pramono dengan sangat tajam.
" Hati-hati, sepertinya dia dendam kepadamu." Ujar Rael.
" Ya aku tau, tenang saja jangan terlalu mengkhawatirkan ku."
__ADS_1
Monster tersebut mulai mempersiapkan kuda-kudanya untuk memulai serangan kepada mereka berdua, namun monster itu melihat kearah Rael dan mulai menyimpulkan bahwa Rael adalah orang yang cukup berbahaya.
" Sial sepertinya ia sudah tau bahwa dirimu itu spesial, terimalah ini Rael siapa tau kau membutuhkannya nanti." Ujar Pramono.
" Ini kan... Kamera, kenapa kau memberikan ini kepadaku bagaimana dengan dirimu?"
" Tenang saja, ini kamera video biasa yang sudah dimodifikasi bentuknya mirip dengan kamera infrared, kau bisa memakai alat ini dan merekam semua informasi dari monster itu, aku yakin kau pasti bisa keluar dengan selamat karena kekuatanmu itu." Ucap Pramono.
Rael yang sudah paham dengan situasi yang sedang mereka alami menerima kamera pemberian Pramono itu, ia pun lantas memakainya dan menyalakannya saat itu juga.
Monster yang sedang mereka hadapi itu nampaknya telah selesai mempersiapkan serangannya, tanpa aba-aba satupun monster itu lantas berlari ke arah Rael dan memperlihatkan cakarnya kepadanya.
Rael yang sedikit terkejut lantas merubah tangan kanannya untuk melindungi dirinya dari serangan monster tersebut, namun tanpa disangka-sangka monster itu malah membalik arahkan serangannya ke arah Pramono.
Melihat perubahan yang tiba-tiba itu, Rael pun terpaksa menendang Pramono dengan sangat keras hingga membuatnya tersungkur.
Namun barang yang Rael lemparkan itu hanya bisa mengenainya sedikit, tapi untungnya batu tersebut tergoncang dan membuatnya berbelok meskipun cuma sedikit.
Batu tersebut pun berhasil mengenai kepala Pramono meskipun tidak terlalu membahayakan nyawanya, Pramono pun pingsan seketika di tempat itu.
Melihat Pramono yang sudah tumbang, monster itu pun lantas mengarahkan tergetnya kepada Rael.
" Sial!"
Karena Rael merasa ia tidak akan menang dalam melawan monster itu secara langsung, Rael pun memancing monster itu dan berlari tanpa arah.
__ADS_1
" Agh sial, sial, sial, bagaimana caranya aku membunuh monster itu?!"
Rael pun terus berlari dengan sekuat tenaga dan tanpa ia sadari bahwa Rael sedang berlari mengarah ke lantai dua dari gedung mall ini.
Disisi lain, Dhafi dan Putri sedang berada di tempat aula utama mall yang mengarah langsung ke pintu keluar, namun sayangnya pintu tersebut terhalang oleh bebatuan yang membuatnya sulit untuk dibuka.
" Bagaimana ini Dhafi?" Tanya Putri.
" Sial, kita tidak bisa keluar dari sini, ayo kita cari jalan lain."
Rael yang masih dikejar kejar oleh monster itu berlari sampai terengah-engah, tanpa ia sadari dirinya sudah berada di aula mall lebih tepatnya di lantai dua koridornya.
Monster tersebut berlari dengan sangat kencang dan menerkam Rael hingga membuat mereka berdua berguling dan terjatuh ke aula bawah, disana pun masih ada Dhafi dan Putri yang terdiam karena Rael yang yang datang secara tiba-tiba.
Beruntunnya Rael terjatuh dengan posisi monster itu di bawahnya sehingga membuatnya mendapatkan sedikit luka saat terjatuh barusan.
Monster itu mulai melemah dan secara kebetulan ia melihat Dhafi dan Putri, dia ingin memakan mereka berdua agar bisa memulihkan tenaganya kembali.
Putri yang ketakutan itu memegang tangan Dhafi dengan sangat erat, namun tanpa disangka-sangka Dhafi mendorong Putri untuk menjadikannya umpan agar Dhafi bisa kabur dengan selamat.
Monster itu pun lantas memegang kepala Putri dan membuka mulutnya lebar-lebar, monster tersebut langsung mengigit leher Putri hingga daging dan ototnya ditarik keluar oleh monster itu.
" Dasar pria bajingan." Umpat Rael.
Setelah monster itu sedikit memakan daging Putri, regenerasi tubuhnya pun kembali seperti semula dan ia pun melihat kearah Rael dengan mulut yang sedikit tersenyum.
__ADS_1
> Bersambung...