
...***...
Sebelumnya, Bima dan Aria berusaha bersembunyi sebisa mereka untuk menghindari setiap serangan yang dilontarkan oleh Jaka.
Karena Jaka telah mengeluarkan kekuatannya, membuat Bima dan Aria kewalahan untuk melawan Jaka.
Kekuatannya tersebut sangat mematikan, sehingga membuat Bima dan Aria tidak bisa mendekati Jaka secara semena-mena.
Bukan hanya serangan cakarnya, bahkan dia memiliki sebuah tentakel di kedua tangannya yang ia gunakan untuk serangan jarak jauh.
" Tenang saja, meskipun ini terlihat menjijikan, tapi tentakel ini tidak beracun."
Semakin mereka menjauh, semakin mendekat pula Jaka mendekati mereka berdua. Dengan topografi hutan yang asing, membuat mereka berdua kesulitan untuk berlari bahkan untuk berjalan sekalipun.
Sebisa mungkin mereka berjalan dengan hati-hati untuk menghindari adanya kaki yang terkilir, meskipun begitu Jaka tetap mengejar mereka dengan sangat santai.
Beberapa pepohonan telah ia hancurkan, bahkan Jaka sampai bisa membuat sebuah longsor yang dapat mempersulit Bima dan Aria untuk kabur.
Jaka menghancurkan lahan di pinggir jurang untuk membuat longsor, Bima dan Aria kemudian bersembunyi dibalik pepohonan untuk berlindung dari tanah longsor tersebut.
Namun naasnya, pohon yang dipakai Aria untuk berlindung tidak dapat menahan terjangan longsor tersebut, dan kemudian ia terbawa hanyut dengan tersisa kepalanya saja.
" Aria!!"
Bima pun segera bergegas untuk menolong Aria yang berada di bawah jurang, Bima segera menyusul Aria sembari berpegangan pada tanaman merambat.
Namun Bima lupa bahwa dirinya tengah dikejar oleh Jaka, ketika ia tengah menuruni jurang tersebut tanpa disangka Jaka telah tiba ditempatnya dan segera memotong tanaman merambat itu.
__ADS_1
Alhasil, Bima pun kehilangan keseimbangannya dan terjatuh dengan cara berguling menuju bawah jurang.
" Lihatlah, betapa baiknya aku, dengan begitu kau akan cepat menuju kebawah sana."
" Sialan kau!!" Kesal Bima.
Meskipun dirinya mengalami luka-luka, Bima memaksakan dirinya untuk segera mengeluarkan Aria dari tumpukan tanah yang menguburnya.
Karena luka memar pada lengannya membuat ia kesulitan untuk menggali, bahkan sampai membuat jari tangannya rusak, ia tetap menggali sampai bisa membebaskan Aria.
Walaupun Jaka dapat langsung turun dan menyerang mereka berdua, tetapi ia lebih memilih jalan memutar untuk menghampiri Bima.
Beberapa saat kemudian, Aria dapat terbebas dari timbunan tanah longsor tersebut, namun karena longsor yang sebelumnya membuat kaki kirinya patah dan memar dimana-mana.
Karena kondisinya tersebut membuat Aria tidak dapat berdiri maupun berjalan, sehingga Bima terpaksa menggendongnya dan segera pergi dari tempat itu.
Kondisi Bima pun semakin tidak membaik, Aria yang menyadarinya memaksa Bima untuk meninggalkan dirinya sendiri didalam hutan.
Bima terus menolak ide tersebut, dan terus memaksakan dirinya membawa Aria untuk keluar dari hutan tersebut.
" Aha, disana kau rupanya, aku mencari mu dari tadi loh, padahal aku sudah menyusulmu di bawah jurang itu."
Karena panik, Bima tidak sempat melihat jalan dengan benar sehingga dirinya tersandung akar pohon dan terjatuh bersama dengan Aria.
" Janganlah kau mempersulit pekerjaanku, jika kau diam mungkin saja kalian berdua tidak akan menderita seperti ini, aku kemari hanya ingin membunuh kalian, jadi siapa yang ingin ku bunuh duluan?"
Tangan kanannya seketika berubah menjadi sebilah pedang yang sangat tajam dan panjang, saking panjangnya ia menyeret bilah pedang tersebut ketanah.
__ADS_1
" Hmm... Bagaimana jika wanita terlebih dahulu?" Tanya Jaka.
Sebuah tentakel dengan ujung yang runcing telah siap mengarah ke kepala Aria, ia sangat ketakutan hingga keringat mengucur dari wajahnya.
Sementara itu ditempat lain, Rael berusaha untuk bangun kembali sembari memegang kaki Dhafi dengan sangat erat.
Dengan seluruh kekuatannya, ia membanting Dhafi berulang kali kepermukaan tanah. Namun hal tersebut berhasil diatasi oleh Dhafi, yang membuat Rael terlempar oleh tendangannya.
Akibatnya Rael harus mengalami patah tulang pada bahu kanannya, ia terlempar jauh sampai mendarat di gudang kosong.
Dhafi pun menunggu Rael untuk bangun kembali, namun setelah beberapa lama ia merasa bosan menunggunya untuk bangun.
Oleh karena itu, Dhafi mulai mengincar para penduduk untuk memancing Rael keluar.
" Sepertinya ini akan sedikit seru, aku penasaran apa kau akan semakin dibenci oleh mereka saat orang ini mati ditangan ku."
Dhafi mengangkat seorang anak dengan cara mencekiknya hingga tidak menapakkan kakinya dipermukaan tanah, orang tuanya yang melihatnya hanya bisa menangis dan berusaha untuk memohon kepada Dhafi untuk menyelamatkannya.
Berkali-kali ibu dari anak tersebut memohon kepadanya, hanya saja Dhafi memberi tanggapan kalau anak ini mati maka ia harus menyalahkan Rael atas meninggalnya anak tersebut.
Ibu tersebut semakin histeris, dan mencoba untuk menyelamatkan anaknya seorang diri, namun beberapa orang menahan itu tersebut untuk tidak mendekati Dhafi.
Anak kecil tersebut semakin tidak bisa bernafas akibat cekikan yang dilakukan Dhafi, tanpa disangka-sangka Rael langsung memotong tangan Dhafi dan memukulnya hingga terlempar keluar benteng.
Anak yang berhasil ia selamatnya kemudian berlari menuju ibunya dan menangis sejadi-jadinya, dengan tubuh yang dipenuhi oleh asap Rael semakin marah atas apa yang Dhafi lakukan dan semakin ingin membunuhnya.
>Bersambung...
__ADS_1