
...***...
Di pagi hari yang cerah seperti biasanya, orang-orang yang berada di benteng memulai aktivitasnya seperti biasa, walau masih saja mereka memandang Rael dengan tatapan seolah-olah sedang menatap seekor monster.
Akibat kejadian sebelumnya, Rael semakin takut terhadap dirinya sendiri yang semakin lama mulai memudar sikap manusiawinya.
Sampai-sampai dirinya engan melihat kearah cermin, seolah-olah ia melihat dirinya sudah bukan manusia lagi.
Karena terlalu memikirkan semuanya sendiri, tanpa Rael sadari dirinya sudah berada di tempat para pemburu berkumpul.
Pramono yang melihatnya sontak menghampiri Rael yang sedang melamun kan sesuatu, dan mengajaknya untuk minum secangkir teh disebuah pondok.
" Apa yang terjadi pada dirimu, sedari tadi aku melihatmu kau selalu saja melamun, memangnya apa yang kau pikirkan itu sampai-sampai terhanyut dalam pikiranmu sendiri?"
" Aku... Selalu bertanya-tanya untuk apa aku diberikan kekuatan monster ini dalam tubuhku, aku tau aku lemah, kenapa dari banyaknya orang satu-satunya yang harus terpilih adalah aku, bahkan orang-orang yang tidak ada hubungannya akan ikut terlibat oleh masalahku."
" Apa yang kau maksud Rael, kau mungkin merasa spesial atas kekuatanmu itu, tapi ingatlah ini, kau tidak bisa selalu membawa seluruh masalah ada pada pundak mu, kau bisa beristirahat lah untuk sesaat-"
" Aku tau itu, aku paham bahwa aku tidak bisa menanggung semuanya sendirian, tapi kekuatan ini seperti kutukan yang akan selalu membawa petaka pada sekitar, aku tidak mau jika orang-orang terlibat masalah gara-gara diriku."
" ... Kau benar, mungkin itu adalah kutukan, jika kau adalah orang yang terpilih, pasti pilihan itu memiliki tujuan tertentu yang tidak bisa manusia pikirkan arah tujuannya, tapi aku yakin suatu saat nanti kekuatanmu itu akan sangat membantu bagi dunia ini."
Mendengar semua perkataan yang diucapkan Pramono membuat Rael semakin termenung atas dirinya sendiri, ia memikirkan apakah dirinya memang memiliki peranan penting atas nasib dunia.
Semakin ia memikirkannya semakin rumit pula pertanyaan yang dipikirkan oleh Rael, ia tidak yakin bisa memberikan harapan kepada dunia.
__ADS_1
Semua pemikirannya itu lantas memudar saat Bima meneriakkan namanya, seketika itu pula Rael memiliki sebuah tujuan untuk dirinya, tujuan untuk membuat orang-orang yang berharga baginya tersenyum seperti saat dunia masih normal.
" Oi Rael, kemarilah aku dan Aria menemukan seekor kucing yang sangat lucu!"
Mendengar Bima sedang meneriaki Rael, Pramono yang sedang berada disisinya menepuk pundak Rael dan menyuruhnya untuk pergi bersama Bima.
Rael yang melihatnya lantas menganggukkan kepalanya dan berterima kasih karena telah menjadi tempat untuk melepaskan semua unek-uneknya.
Pramono hanya bisa bilang bahwa apa yang Rael lakukan itu tidak salah, malah Pramono menyuruh Rael untuk berbicara dengan jujur pada orang yang ia percayai.
Rael pun paham dengan apa yang diucapkan oleh Pramono, setelah itu Rael segera berlari menghampiri Bima dan ikut pergi bersamanya untuk melihat seekor kucing.
" Itu dia kucingnya!" Ucap Bima.
Kucing itu memiliki tiga warna pada bulunya, dan yang membuatnya unik adalah bulu diwajahnya memiliki warna yang setengah-setengah, jika melihat kucing itu dari samping maka akan terlihat seperti memiliki dua warna saja.
" Aria, apakah kucing itu baik-baik saja?" Tanya Rael.
" Dilihat dari luarnya sih dia terlihat baik-baik saja, tapi dari tadi dia tidak mau makan sedikitpun dan terus berngeong kepadaku" Jawab Aria.
" Apakah dia selalu melihat kearah sesuatu?" Tanya Bima.
" Dia selalu melihat kearah semak-semak yang ada diluar."
" Baiklah sepertinya kita harus mengeceknya."
__ADS_1
Rael dan Bima pun pergi keluar benteng dan mengecek apa yang ada dibalik semak-semak itu.
Mereka berdua pun dikagetkan karena semak-semak itu bergerak tiba-tiba, dan saat Rael melihatnya ternyata ada seekor kucing yang kakinya terluka.
Rael pun segera mengambil kucing itu, tapi tiba-tiba saja kucing tersebut mencakar tangan Rael yang membuatnya langsung berdarah.
" Rael apa kau tidak apa-apa?"
" Tidak apa-apa, kau tau kan kalau aku memiliki sistem regenerasi yang cepat?"
" Walaupun kau mempunyai kekuatan itu tapi kau juga harus mementingkan tubuhmu itu, bisa saja dirimu terkena infeksi pada lukamu karena bakteri."
Dengan susah payah akhirnya Rael dapat membawa kucing itu kedalam benteng, dan segera dibawa oleh Aria ketempat orang yang paham dalam mengobati seekor hewan.
Saat sedang diobati kucing itu selalu saja memberontak hingga membuat orang-orang terluka karena cakarnya yang tajam, dan setelah beberapa lama kemudian akhirnya kucing itu berhasil diobati.
Kucing itu sekarang sedang disimpan dalam sebuah kandang bersama kucing tiga warna sebelumnya dan makan dengan sangat lahap.
" Hmm... Karena sulit untuk memanggil kucing itu jika tidak punya nama, bagaimana jika kita beri nama saja kucing-kucing itu." Ujar Bima.
" Ide bagus, tapi nama apa yang cocok untuk kucing-kucing itu." Ucap Aria.
" Bagaimana jika Callie untuk kucing yang tiga warna dan Lucy untuk yang satunya lagi." Ujar Rael.
" Ide yang bagus, namanya juga cocok." Ucap Bima.
__ADS_1
Begitulah bertambahnya jumlah orang yang masuk dalam keluarga Orion.
>Bersambung...