
...***...
Peristiwa yang tidak akan pernah Rael lupakan seumur hidupnya, satu-satunya sahabat yang ia percayai telah berdiri tepat didepan matanya. Sebuah bilah telah menancap ditubuh Bima dengan darah yang menetes terus menerus. Bima mencengkeram bilah tersebut yang membuat kedua lengannya mengeluarkan darah. Ia menahannya agar tetap menancap pada tubuhnya tersebut.
Aria yang berada tepat dibelakangnya syok atas apa yang telah Bima lakukan. Aria ingin sekali menggerakkan tubuhnya, akan tetapi ia terlalu syok sehingga tidak dapat berpikir dengan jernih. Semua emosi yang telah Aria rasakan mulai tak terbendung lagi. Tanpa Ia sadari air mata telah keluar dari matanya, Aria melihat wajah Bima yang tersenyum lega.
" Ah... Sial, kenapa kau keras kepala sekali sih? ... Heh, sepertinya dia datang disaat yang tepat." Jaka kemudian melepaskan bilah tersebut dan mengubahnya menjadi lengan.
Bima yang tengah lemas tersebut ambruk karena tak mampu lagi menopang tubuhnya itu. Aria pun dengan sigap menahan tubuh Bima di pangkuannya. Bima tersenyum kepada Aria dan meminta maaf karena tidak bisa melindunginya. Ia juga menitipkan permintaan maaf kepada Rael karena terus-terusan membuatnya repot.
Aria mengusap kepala Bima dan terus-terusan berteriak kepadanya untuk bertahan. Bima menggelengkan kepalanya dan mengusap air mata Aria yang terus menangis dan berteriak. Bima sekali lagi meminta maaf kepada Aria karena tidak dapat menepati janjinya. Bima berjanji saat sudah di umur dewasa, ia akan menikahi Aria suatu saat nanti dan sekarang Bima tak dapat menepati janjinya tersebut.
" Bagaimana menurutmu Rael!? Sebuah kisah romeo dan juliet yang sangat menyentuh hati, dan sekarang bagaimana kalau kita mulai bersenang-senang?" Jaka terus memprovokasi Rael yang tengah termenung dibawah pohon yang rindang.
__ADS_1
Rael saat ini tidak dapat berpikir jernih seperti biasa. Semua emosi mulai menumpuk seiring berjalannya waktu. Amarah dan dendam mulai menguasai kesadaran Rael hingga membuatnya kembali memasuki Nirwana yang sangat ia benci. Satu-satunya yang Rael pikirkan sekarang ialah membunuh Jaka dengan kedua tangannya.
" Bagaimana Rael, kau sangat ingin membunuh dia kan? Nah... Terimalah kekuatanku dan serahkan tubuhmu itu." Hasrat dari kekuatan itu mulai membisik di kepalanya dan membujuk Rael untuk segera menyerahkan tubuhnya pada orang itu.
Karena telah dibutakan oleh amarah. Rael tanpa ragu menerima tawaran tersebut dan melepaskan sisi manusiawinya begitu saja. Tubuh Rael sekarang mulai berubah dengan beberapa tentakel daging yang keluar dari tubuhnya, ia membuka rahangnya sangat lebar hingga kulit pipinya sobek. Tentakel tersebut mulai menyelimuti seluruh tubuh Rael sehingga terbentuk sebuah armor yang sangat keras, dibelakang punggungnya terdapat sebuah ekor yang tersembunyi dibalik lapisan armor tersebut.
Dari perubahan tersebut, sekarang Rael memiliki proporsi badan yang jauh berbeda dari sebelumnya. Sekarang ia memiliki tinggi badan sekitar 180 cm yang sebelumnya hanya sekitar 160 cm. Bukan hanya itu saja, kedua matanya mulai berubah warna menjadi berwarna hitam dengan kornea berwarna merah. Meskipun begitu, sekarang Rael sudah bukan lagi seorang manusia, melainkan seekor monster yang telah kehilangan akal sehatnya.
" Wah... Gambar mu keren juga, apa kau yang menggambarnya?" Tanya Bima sembari membawa buku gambar Rael yang ia ambil darinya.
" Hei! Kembalikan buku gambar ku!" Tegas Rael sembari meraih buku gambarnya yang telah diambil tersebut.
" Tak kusangka kau dapat menggambar monster sekeren ini? Apakah dia memiliki nama?" Tanya Bima sembari menunjuk kearah gambar tersebut.
__ADS_1
" ... Namanya Scorpio aku mengambil referensinya dari kalajengking karena monster tersebut memiliki ekor dibelakangnya." Jawab Rael dengan raut wajah yang malu.
" Eh... Lalu kenapa monster ini memiliki dua lapis gigi?"
" Itu karena dia tidak mau dirinya memakan manusia, oleh karena itu ia menutup mulut aslinya dengan armor helmnya." Rael semakin semangat saat Bima bertanya tentang hal yang ia sukai itu.
Bima sekarang paham apa yang selalu Rael pikirkan, ia merasa bodoh karena tidak dapat memahami Rael meski Bima selalu berada disisinya. Sekarang ia paham semua perasaan yang selalu ia pendam dalam hatinya, meskipun Rael terlihat seperti acuh tak acuh nyatanya ia sangat peduli terhadap orang-orang disekitarnya. Meskipun Rael selalu menunjukkan sisi buruknya pada orang-orang, namun ia tulus saat melakukan sebuah kebaikan yang bahkan tanpa dia sadari.
Dengan berlinang air mata, Bima berusaha untuk meraih Rael dan menyadarkannya kembali. Namun sekarang ia sudah tidak berdaya, dan Aria yang sedih mencoba menahan Bima dan terus menggenggam tangannya dengan erat.
" Maafkan aku Rael, selama ini aku tidak dapat memahami dirimu yang sebenarnya, Aria tolong lupakan aku dan jalani lah hidupmu tanpa dirimu oke?" Cahaya pada matanya mulai menghilang, dan tak lama kemudian tubuh Bima sekarang telah terbujur kaku di atas pangkuan Aria.
>Bersambung...
__ADS_1