Host Infection

Host Infection
Bab 36 Bekerja keras


__ADS_3

...***...


Dihari yang sama, Rael sedang disibukkan dengan mengobrak-abrik seluruh ruangan bengkelnya.


Bima yang mendengar suara ribut tersebut, kemudian masuk kedalam karena pintunya tidak tertutup.


" Hei Rael, kau sedang apa disana?"


Rael yang mendengar suara Bima tersebut kaget, karena Bima berbicara saat Rael sedang tidak fokus memerhatikan sekitar.


" Kau bikin kaget aja, kenapa kau tidak mengetuk pintunya terlebih dahulu?" Tanya Rael.


" Yah habisnya, pintunya tidak kamu kunci sih." Jawab Bima.


" ... Itu kesalahanku juga sih." Ujar Rael.


" Memangnya apa yang sedang kau cari saat ini?" Tanya Bima.


" Aku sedang mencari-cari barang yang sekiranya dapat digunakan untuk alatku nanti."


" Alat, memang untuk apa itu, bahkan kau sampai membawa sekarung semen dan beberapa ember berukuran sedang."


" Kalau soal detailnya itu masih rahasia, tapi yang pasti alat ini akan berguna nantinya."


" Hmm... Apa ada yang bisa aku bantu?"


" Bisakah tolong ambilkan rantai sepeda yang ada diatas meja disana."


Beberapa jam telah mereka habiskan dengan hanya merakit alat yang Rael sebutkan tadi, setelah bekerja keras akhirnya alat tersebut sudah terlihat.


" Hmm... Meskipun alat tersebut sudah hampir selesai, tapi aku masih belum kepikiran apa kegunaan alat ini." Ujar Bima.


" Hei sudahlah jangan banyak omong, bantu aku siapkan adonan semennya dan nanti masukkan semua adonan itu kedalam ember yang disana."


" ... Semen yang sebanyak ember berukuran sedang, dan kerangka sepeda yang sudah dimodifikasi, akhirnya aku tau alat apa yang sedang kau buat ini!"

__ADS_1


" Emang apa yang kau pikirkan itu?" Tanya Rael.


" Jawabannya adalah... Mesin asah!"


" Wow... Kau bisa menebaknya ternyata."


" Begitulah, tapi apa tidak merepotkan jika memakai sepeda, jika seperti ini kau setidaknya membutuhkan orang tambahan dalam menjalankan mesin asah itu?"


" Itu cukup merepotkan, tapi ini masih mending daripada memakai mesin motor, karena listrik dan bensin adalah hal yang terbatas untuk saat ini."


" ... Benar juga." Ucap Bima.


" Untuk sekarang kita tinggal menunggu semen ini mengeras, jadi kau datang kesini lagi saat semen ini sudah mengeras." Ujar Rael.


Beberapa waktu pun telah berlalu, semen yang ada didalam ember tersebut telah mengeras, sekarang Bima dan Rael sedang kesulitan untuk melepaskan semen yang mengering itu dari dalam ember.


Setelah kerja keras yang sangat panjang tersebut, akhirnya semen yang mengeras itu dapat dilepaskan dari ember, dengan cara memotong ember itu hingga terlepas.


Semen yang mengeras itu kemudian mereka pasang ke bagian ban sepeda, dan mesin asah tersebut telah selesai dirakit.


" Karena kau masih ada disini, sebaiknya kita mencoba alat asah tersebut."


" Apakah kita akan mencobanya menggunakan pisau?"


" Ya, tapi pisau yang akan kita gunakan bukanlah pisau sembarangan, tapi kita akan mengunakan pisau yang kita buat sendiri."


" Apa kau akan mengunakan bahan itu sekarang?" Tanya Bima.


Rael pun menjawabnya dengan hanya menganggukkan kepalanya, dan pekerjaan pun dimulai.


Disisi lain Santika menerima laporan bahwa kemarin telah terlihat seseorang yang telah mendekati benteng, namun mereka tidak mengetahui pasti indentitas orang tersebut.


" Apakah ada laporan lain tentang hal mencurigakan yang mereka lakukan?" Tanya Santika kepada pak Sudiarto.


" Ada salah satu penjaga yang melihat seseorang dari luar benteng sedang menembakkan sebuah anak panah mengarah kedalam benteng, tapi saat kami mengeceknya anak panah yang sepertinya menancap di sebuah pohon telah hilang diambil seseorang." Jawab pak Sudiarto.

__ADS_1


" Sepertinya mereka sedang berkomunikasi dengan seseorang didalam benteng ini." Ujar Santika.


" Masuk akal juga." Ucap pak Sudiarto.


" Apakah kau bisa mengecek di sekeliling tempat itu?" Tanya Santika.


" Kami sudah mengeceknya beberapa kali namun tidak juga membuahkan hasil, akan sulit jika kita mencarinya tanpa kamera CCTV."


" Hah... Semakin banyak hal yang mempersulit hidup."


Sementara itu ditempat bengkel Rael, mereka berdua telah mengabiskan berjam-jam dalam membuat suatu peralatan.


Semua hal yang dapat mereka buat saat ini adalah sebuah pisau, ujung tombak, dan juga sebuah pisau belati.


Setelah semua benda tersebut selesai ditempa, Bima mulai mengayunkan pedal sepeda yang menggerakkan batu semen dan kemudian Rael pakai untuk mengasah semua benda tersebut.


Waktu pun terus berlalu, tanpa mereka berdua sadari waktu sore hari pun telah tiba, setelah semua kerja keras itu membuat perut mereka keroncongan karena tidak makan sedari pagi.


Karena waktu telah menunjukkan dibukanya kantin, Bima pun mengajak Rael untuk ikut makan bersama yang lainnya.


Mendengar ajakan tersebut membuat Rael sedikit bimbang, melihatnya yang tidak nyaman, Bima pun mengatakan sebuah nasihat.


" Jika kau terus-menerus disini, maka orang-orang tidak bisa untuk mengatakan maaf kepadamu, jadi ayo kita ke kantin bersama-sama, dan tenang saja aku akan terus berada disisi mu."


Mendengar Bima mengatakan kalimat tersebut, membuat Rael mau tidak mau harus menuruti perkataannya.


Dengan langkah yang berat, tanpa Rael sadari sudah berada di kantin, orang-orang pun mulai melihat kearah Rael dan mulai mendekatinya.


Karena hal tersebut membuat Rael merasa tersudutkan, namun Bima pun sontak menghentikan orang-orang untuk mendekat.


Setelah Bima menceritakan bahwa Rael tidak nyaman dengan perilaku orang-orang saat ini, membuat masyarakat yang lainnya meminta maaf kepada Rael atas sikap orang-orang kepadanya.


Rael hanya bisa berdiri mematung dan menganggukkan kepalanya, setelah momen tersebut orang-orang mulai memperlakukan Rael dengan normal.


Akan tetapi hal tersebut hanya bisa bertahan sebentar saat orang itu tiba di tempat perlindungan.

__ADS_1


>Bersambung...


__ADS_2