
...***...
Rael dan teman-temannya kembali melanjutkan perjalanan mereka ke desa Ciptaharja, karena perjalanan yang cukup panjang membuat para remaja yang ada di dalam mobil itu tertidur akibat kelelahan.
Rael yang sedang tertidur di kursi depan, sering kali bergerak dengan wajah yang kusam dan basah akibat keringat.
" Rael... Kenapa kau tidak menolong kami~."
" Semua ini salahmu... Kami tidak akan mati jika kau menjadi anak baik dan tidak egois~."
" Ini semua salah mu Rael... Apa kau tau bagaimana rasanya terbakar hah!"
" Maafkan aku, ayah... Ibu... Aku janji akan menjadi anak baik~."
" Itu sudah terlambat Rael... Kau harus ikut dengan kami kesini, kau harus menanggung semuanya!"
" Aku pasti akan menjadi anak baik... Aku pasti akan menjadi anak baik, kumohon tolong maafkan aku~."
" Aku harus mati, kau harus segera mati Rael!"
Teriak orang tua Rael sembari mencekik lehernya hingga membuatnya tak bisa bernafas, karena cekikan itu membuat Rael terbangun dari mimpinya dengan nafas yang beraturan.
" Hei Rael apa kau tidak apa-apa?" Tanya pak Sudiarto.
" Yah... Aku baik-baik saja."
" Aku tidak tau mimpi seperti apa yang kau lihat, tapi kau harus menenangkan pikiran mu dulu dan pikirkan sesuatu yang menyenangkan."
" Hah... Baiklah, terima kasih."
Perjalanan terus berlanjut, mereka semua sampai di daerah pinggiran kota dengan banyak pepohonan yang berjejer di sekitar jalan.
Tak hanya itu, semua sungai di daerah sana nampak bersih dan jernih dengan udara yang sangat asri.
Beberapa kilo meter telah mereka lalui di sepanjang jalan itu, namun perjalanan mereka harus terhenti karena Rael melihat asap kecil di dekat daerah hutan.
__ADS_1
" Hei pak, tolong kemudikan ke arah asap itu!"
" Tunggu, memangnya disana ada apa?"
" Entahlah, mungkin itu sekelompok manusia atau bisa jadi itu adalah sebuah harta karun!"
" Harta karun?"
" Yah, cepat lah!"
Karena desakan Rael, mau tidak mau pak Sudiarto harus membanting setirnya dan mengubah arah laju mobil, karena perubahan yang mendadak itu, membuat Bima dan Aria terbangun dari tidurnya.
" Eh ada apa ini, apa ada penyerangan?!" Tanya Bima.
" Em... Disini baik-baik saja jadi tak usah khawatir." Jawab Rael.
Setelah perjalanan yang berliku-liku, akhirnya mereka sampai di tempat asap itu berasal dan tak disangka mereka menemukan sebuah bangkai pesawat yang jatuh.
" Sudah kuduga pasti ini akan terjadi." Ucap Rael.
" Begitulah."
Rael yang nampak bersemangat itu segera mengeluarkan alat gergaji besi dan memasangkannya ke aki mobil yang mereka naikin, tak lama kemudian Rael memotong semua bagian logam pesawat itu dengan gergajinya.
Akibat tindakan Rael membuat pak Sudiarto bertanya-tanya dengan perilakunya itu ke Bima, dan Bima cuma menjawabnya dengan singkat.
" Dia sudah maniak dari dulu."
Mendengar pernyataan Bima membuat pak Sudiarto semakin bingung dengan Rael yang gila akan suatu barang, dan pak Sudiarto pun bertanya-tanya sejak kapan Rael membawa gergaji itu di mobil.
Dengan semangatnya Rael memotong semua bagian sayap pesawat itu kecil-kecil agar bisa dibawa oleh mobil itu, namun karena terlalu berat, Rael dengan berat hati harus membuang sebagian logam itu.
" Hei Rael, memang kau ingin apakan besi ini?" Tanya Bima.
" Entahlah aku pun tidak tau untuk apa, tapi kudengar badan pesawat itu terbuat dari Titanium yang merupakan logam dengan berat yang ringan dibanding dengan besi."
__ADS_1
" Begitu yah~."
Setelah Rael selesai dengan pekerjaannya, mereka semua pun melanjutkan perjalanannya.
Sementara itu...
Di sebuah tempat di tepi danau, terlihat sebuah koloni manusia dengan jumlah yang sangat banyak dan seperti sedang melakukan sebuah rapat pertemuan.
" Ketua, sepertinya kelompok Distopia telah mengintai tempat ini dari beberapa hari yang lalu."
" ... Begitu yah, sepertinya mereka berhasil mendengar siaran radio yang kita siarkan waktu itu, dan sekarang mereka sedang apa?"
" Untuk sekarang mereka bertindak secara hati-hati, tapi aku mendengar percakapan beberapa orang di sana."
" Mereka mengatakan kalau sang pimpinan akan segera datang."
" Pimpinan, jadi perempuan itu bukanlah ketua mereka."
" Sepertinya begitu bu."
" Hei aku ini masih berumur 20an jadi jangan panggil aku bu."
" Maaf kami ketua!"
Setelah selesai dengan rapat, seluruh orang dari ruangan itu bubar dan segera mengerjakan pekerjaannya masing-masing.
Setelah semuanya pergi, di dalam ruangan itu hanya ada sang ketua dari koloni tersebut dan ia pun menghela nafasnya dengan panjang.
" Sial, selalu saja ada hal yang terjadi, dari perebutan hak wilayah dan makanan, sekarang malah nambah lagi dengan kasus orang hilang."
" Meskipun tidak ada bukti sama sekali, tapi aku yakin kalau kelompok Distopia yang melakukan semua hal ini."
" Agh... Semoga saja adik ku satu-satunya bisa selamat dan segera keluar dari kota."
Tanpa mereka sadari, semua hal yang telah terjadi selama ini saling terhubung satu sama lain dan satu-satunya hal yang bisa mempertemukannya adalah takdir yang akan segera berkehendak.
__ADS_1
>Bersambung...