Host Infection

Host Infection
Bab 37 Keras kepala


__ADS_3

...***...


Di hari yang cerah, diruang pribadi Santika terjadi sebuah keributan antara Rael dan kakak perempuannya.


" Kakak... Tolong izinkan aku untuk keluar dari tempat ini!" Tegas Rael.


" Aku menolaknya." Balas Santika.


" Kenapa kau melarang ku, sebelumnya kau masih memperbolehkan ku untuk keluar kan!?"


" Karena kejadian saat itu, aku menyadari bahwa keadaan semakin berbahaya untuk membiarkanmu keluar lagi, apa kau tidak ingat dirimu hampir mati tenggelam saat melawan The Terror sebelumnya?"


" Aku tau itu kak, tapi kejadian itu sudah dua minggu lamanya, dan sebagai pengrajin aku sudah kehabisan sumber daya, apalagi listrik yang merupakan sumber daya terpenting bagi manusia!"


" Aku tau bahwa bakat mu itu sangat luar biasa, dalam kurun waktu seminggu kurang saja kau sudah membuat kincir air, dan membuat jalur air dengan alat itu."


" Nah kan kakak juga mengakuinya, kalau begitu tolong izinkan aku untuk keluar!"


" Tidak bisa, aku akan mengizinkanmu keluar saat dirimu sudah menguasai kekuatanmu."


" Tapi bagaimana dengan Bima dan yang lainnya, terkadang mereka semua keluar untuk sesekali, tapi kau tidak melarangnya saat itu?!"


" Itu karena mereka keluar untuk pelatihan, dan juga mereka pergi tidak terlalu jauh dari sini, tidak seperti kamu yang sekalinya meminta izin langsung ke kota sebelah."


" Itu karena ditempat ini sedikit sekali barang yang dapat berguna, apalagi toko-toko disini tidak banyak seperti di kota sebelah!"


Selagi mereka berdua sedang sibuk berdebat, tiba-tiba saja ada sebuah bunyi ketukan pintu.


" Umm... Permisi ini aku Sudiarto, aku kemari untuk menyerahkan laporan tentang jumlah makanan saat ini."

__ADS_1


" Masuklah" Balas Santika.


Pak Sudiarto pun menyerahkan semua laporan tersebut, tanpa sengaja ia mendengar perdebatan antar Rael dan Santika sebelumnya.


" ... Oh ya, Bima pernah memberitahuku kalau kau tidak memiliki indra penciuman kan?" Tanya pak Sudiarto kepada Rael.


" ... Iya, memangnya ada apa?"


" Kebetulan disalah satu tempat didekat perbatasan kota, ada sebuah gedung yang tidak bisa kita masuki, dan juga kita tidak bisa mengirim anjing pelacak untuk masuk kesana karena bau busuknya yang sangat menyengat, jadi maukah kau ikut bersama kami untuk ketempat itu?"


" Benarkah?!"


" Iya, tapi kita juga butuh izin dari Santika."


Mendengar perkataan pak Sudiarto, Rael pun lantas memohon kepada Santika dengan muka memelas.


Akhirnya dengan terpaksa Santika mengizinkan Rael untuk ikut bersama pak Sudiarto dengan syarat ia harus terus didampingi oleh Bima dan yang lainnya.


Santika pun tidak lupa memperingatkan Rael untuk segera pulang jika keadaan tambah berbahaya, Santika juga mengancam Rael jika dirinya terluka maka ia akan dihukum habis-habisan.


Setelah persetujuan tersebut selesai, pak Sudiarto menyuruh Rael untuk mempersiapkan peralatannya, dan menunggu di gerbang keluar bagian barat.


Saat Rael ingin keluar dari ruangan Santika, ia berbalik menghadap Santika dan menyarankan sesuatu.


" Oiya kak, menurutku benteng perlindungan itu terlalu panjang dan sulit untuk diingat, maka aku menyarankan bagaimana kalau tempat ini diberi nama Orion?"


" Hmm... Sepertinya bagus juga, baiklah aku akan mendiskusikannya dengan yang lainnya terlebih dahulu."


Beberapa menit kemudian, Rael, Bima, pak Sudiarto, dan Aria pun telah berkumpul di gerbang barat.

__ADS_1


Setelah semua orang berkumpul, mereka pun bergegas naik ke kereta kuda yang telah tersedia didekat gerbang.


Beberapa meter pun telah mereka lewati, tapi Rael nampaknya sudah merasa tidak nyaman, dan wajahnya pun nampak murung.


" Hei Rael apa kau tidak apa-apa?" Tanya pak Sudiarto.


" Ah ambil ini Rael, Bima bilang kalau kau mudah mabuk darat, jadi aku sudah menyiapkan kantung muntah dari tempat perlindungan." Ujar Aria.


Tanpa banyak omong, Rael segera mengambil kantung tersebut, dan membalikkan badannya agar orang-orang disana tidak ikut muntah melihat Rael.


Waktu pun terus berlalu, dan sekarang rombongan pak Sudiarto pun telah sampai ketempat tujuan.


Rael dengan kondisi yang memperhatikan segera turun dari kereta kuda sampai-sampai ia berguling-guling di tanah.


" Agh, aku cinta tanah!" Ucap Rael.


Ditempat tersebut sudah banyak orang yang mendirikan sebuah tenda, dan disana telah tersedia semua peralatan yang sangat berguna, seperti alat masak, pasokan peluru, bom asap, dan baterai cadangan untuk kamera infrared.


Karena kondisi Rael yang lemas, ia pun segera dibawa kedalam tenda yang kemudian istirahat disana.


Sementara yang lainnya sedang berdiskusi tentang rencana yang akan mereka pakai kedepannya, karena penjelajahannya terus berhenti akibat baunya yang sangat menyengat, bahkan orang yang hanya mendekati pintu pun sampai mual karena baunya.


" Apakah disekitar sini tidak ada yang menemukan topeng gas?" Tanya Bima.


" Kami sudah mencarinya kemana-mana dan tidak dapat menemukannya sama sekali." Jawab salah seorang ditempat itu.


Karena tak punya pilihan lain, pak Sudiarto pun memutuskan melanjutkan penjelajahan saat Rael sudah baikan


>Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2