Host Infection

Host Infection
Bab 27 Menguping


__ADS_3

...***...


Di tempat perlindungan berada, seluruh kelompok mulai mengumpulkan seluruh jarahannya di satu tempat, yang kemudian akan mereka bagikan ke seluruh orang di dalam benteng.


Berbagai macam barang telah mereka semua kumpulkan, mulai dari makanan, alat perkakas, juga terdapat ranting dan rumput kering untuk mereka gunakan sebagai bahan bakar memasak.


Rael yang tangannya diperban pun mulai ditanyai oleh beberapa orang dengan rasa cemas di wajahnya, karena beberapa orang ada yang takut jikalau para monster menginfeksi dengan melalui gigitan.


Dhafi pun menenangkan orang-orang dengan cara memberitahu bahwa monster tidak akan menginfeksi melewati gigitan, dan setelah para warga sudah mulai tenang, ia secara insiatif menawarkan bantuan untuk mengobati tangannya Rael yang terluka itu.


Mendengar tawaran Dhafi itu, Rael pun menolaknya mentah-mentah hingga membuat Dhafi merasa tambah curiga dengan tingkah laku Rael yang sedari tadi menyembunyikan lukanya itu.


Tak berselang lama, Santika yang secara kebetulan menyuruh Rael untuk pergi ke ruangannya dan mengobati tangannya itu.


Dhafi pun mencoba untuk menawarkan bantuannya dengan berbicara langsung kepada Santika, namun ia pun menolaknya dengan alasan bahwa disana sudah ada Bima dan pak Sudiarto yang akan membantu Rael dalam mengobati tangannya.


Mendengar tanggapan Santika, membuat Dhafi semakin curiga dan penasaran dengan sesuatu yang dirahasiakan oleh orang-orang itu, karena hal tersebut mulai terjadi saat sehari setelah para rombongan Rael tiba ke benteng perlindungan ini.


" Cih, bisa-bisanya dia bertingkah manja, mentang-mentang kakaknya seorang ketua di tempat ini, dia pikir bisa bertingkah semena-mena itu disini." Ujar salah seorang di tengah jalan.


Dhafi yang sedang memikirkan sesuatu di kejutkan dengan seseorang yang mengagetkannya di belakang.


Dan orang tersebut adalah seorang wanita yang bernama Putri, ia merupakan pacarnya Dhafi saat masih belajar di kampus.


" Ah! Mengagetkan saja Putri!"


" Habisnya aku melihatmu di kejauhan sedang melamun, apa kau memikirkan sesuatu?"


" Tidak itu bukan apa-apa."


" Masa ih, jangan-jangan ada suatu hal yang kau sembunyikan yah?!"


" Tidak, kau salah paham Putri, ah coba lihat ini, aku akan memberimu hadiah kecil!"


" Eh apa itu?!"


" Nah lihat ini, snack yang selalu ingin kau beli!"


" Wah, itu kan snack yang selalu kehabisan stok itu kan, bagaimana caramu mendapatkannya?!"


" Itu rahasia, tapi kau harus janji ya, lain kali kau harus lebih mempercayai ku."

__ADS_1


" Iya aku janji, berikan snack itu cepat!"


Rael yang sudah sampai di kamarnya mulai membuka perban tangannya yang terluka barusan, saat ia membukanya ternyata luka cakaran dari monster barusan telah menutup dan meregenerasi kembali dengan cepat.


Tak lama kemudian suara ketukan pun terdengar yang membuat Rael terkejut dan segera menutup tangannya kembali dengan perban.


" Ini aku kakakmu, bolehkah aku masuk?"


" Ternyata kakak yah, masuk saja pintunya gak dikunci kok teh."


Santika pun masuk dan melihat Rael yang sedang melihat tangannya yang meregenerasi kembali lukanya.


" Wow... Ternyata benar apa yang dikatakan pak Sudiarto, bahwa kau bisa meregenerasi kembali tubuhmu seperti monster pada umumnya."


" Jadi kakak mau bilang aku ini monster begitu?"


" Bukan itu maksudku, apa kau tidak apa-apa dengan keadaanmu yang sekarang itu, meskipun semua luka yang kau alami bisa sembuh dengan sendirinya tapi rasa sakitnya masih terasa kan?"


" Meskipun aku tidak menginginkan kemampuan ini, tapi aku terpaksa harus menerimanya karena apa yang sudah terjadi tidak dapat kita ubah kembali."


" Benarkah, tapi banyak orang yang menginginkan untuk terus hidup abadi."


" Untuk orang yang pendiam dan pemalu seperti mu, ternyata kau cukup pintar dalam berbicara."


" Hanya karena orang tersebut diam, bukan berarti dia tidak bisa berbicara, bisa saja dia sedang menunggu saat yang tepat untuk berbicara."


" Ya kau benar juga, jadi apa yang akan kau lakukan sekarang dengan luka mu itu."


" Mungkin aku akan terus menutupnya dengan perban meskipun lukanya telah sembuh."


" Sepertinya hari sudah semakin gelap, aku pergi dulu untuk menertibkan kantin agar tidak terjadi kerusuhan."


" Ya hati-hati, jangan sampai ada orang yang menyentuh tubuhmu."


Setelah Santika keluar dari ruangannya, Rael kemudian menghabiskan waktunya dengan menggambar sembari memakan sebuah roti isi yang telah ia siapkan sebelumnya.


Saat Rael sedang fokus dalam menggambar, ia mendengar sebuah suara tepat di arah luar dinding, yang suara itu dapat Rael dengarkan di sisi ruangan paling belakang.


Karena Rael penasaran, ia pun segera menyiapkan gelas kaca yang kosong dan menempelkannya di telinga dan tembok.


Rael pun mendengar suatu pembicaraan antar dua orang, yang satu suara laki-laki dan satunya lagi suara perempuan.

__ADS_1


" Hei, bagaimana kabarmu?" Ucap suara perempuan itu.


" Seperti biasanya, apa kau sudah memastikan agar tidak ada orang yang mengikuti mu kemari?"


" Aku sudah memastikannya, dan semuanya aman."


" Baguslah kalau begitu."


Rael yang memiliki sebuah firasat, mulai merekam pembicaraan itu dengan sebuah ponsel jadul.


" Bagaimana dengan hubungan kita kedepannya, aku tidak mau bersembunyi seperti ini terus." Ujar suara perempuan itu.


" Sabarlah sebentar, aku belum bisa menentukan momen yang pas untuk menyingkirkannya."


" Aku sudah memberi tau mu yah, bahwa aku tipe orang yang tidak suka menunggu."


" Tunggulah sebentar lagi, aku memiliki sebuah rencana."


" Sebuah rencana?"


" Iya, aku bisa memanfaatkan para pendatang baru itu untuk mengadu domba orang-orang agar aku bisa menyingkirkannya dengan aman."


" Maksudmu kelompok dengan tiga laki-laki dan satu perempuan itu?"


" Iya, sepertinya kelompok mereka itu telah menyembunyikan sesuatu dengan sang ketua koloni ini, jika aku berhasil mengetahui rahasianya aku bisa mengunakannya sebagai kartu as ku."


" Sepertinya kau memiliki sebuah rencana yang menarik, mau kau lakukan kapan rencana tersebut?"


" Tiga hari ke depan, kami para pemburu akan menjarah kembali, dan salah satu tempat kan akan aku masuki adalah sebuah mall terbesar di daerah ini."


" Mall yang itu?"


" Ya, dalam mall itu banyak sekali monster, aku bisa menyerahkannya kepada para monster dan menyalahkan si pendatang baru itu."


" Ternyata rencana mu itu cukup hebat yah."


" Begitulah."


Setelah mendengar pembicaraan itu, Rael segera menghentikan rekamannya dan mundur secara pelan-pelan menuju kasurnya, Rael yang sedang tiduran di kasur itu pun memikirkan apa yang harus ia lakukan dalam tiga hari itu.


> Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2