Host Infection

Host Infection
Bab 24 Kepercayaan


__ADS_3

...***...


Disebuah tempat yang cukup terpencil di dalam pelosok hutan, ada sebuah tempat yang sangat mencurigakan. Disekitar tempat itu, telah dijaga oleh beberapa orang yang cukup terlatih dengan dilengkapi senjata api lengkap dengan sistem pertahanan yang ketat.


Disalah satu pintu, ada seseorang yang mendekat dengan sebuah jas dan topi fedora berwarna coklat kehitaman, pria itu pun menunjukkan wajahnya ke salah satu penjaga disana.


" Maaf atas ketidaknyamanannya pak ketua." Ucap salah satu penjaga yang disana.


Pria itu pun melanjutkan perjalanannya dengan berjalan kaki dan dibantu oleh seorang penjaga untuk membawa barang-barangnya, ia pun lantas menuju sebuah ruangan yang dijaga oleh dua orang berbadan besar dengan tampang yang menyeramkan.


" Apakah dia sudah mengerjakan pekerjaannya dengan baik?"


" Ya ketua, sekarang dia sedang menunggu anda tuan."


" Baguslah kalau begitu."


Pria itu pun memasuki ruangan tersebut dan menyapa seseorang di dalamnya dengan tangan kanannya ia lambaikan.


" Yo... Lama tidak berjumpa, Klana."


" Akhirnya kau datang juga Jaka, apakah kau sudah menemukan hal yang menarik di tengah kota sana?"


" Hmm... Ada sebuah subjek disana yang membuatku tertarik."


" Sebuah subjek?"


" Ya, dia sedikit berbeda dari subjek yang lainnya, meskipun tubuhnya sudah terinfeksi, secara mengejutkan ia berhasil mengembalikan kesadarannya."


" Tunggu... Itu mustahil, bagaimana itu bisa terjadi?"


" Entahlah, aku pun tak tau penyebab pastinya karena apa, dan untungnya aku sempat mengambil sedikit darahnya untuk ku teliti."


" Dan ingin kau apakan dengan darah itu?"


" Hmm... Mungkin aku bisa lebih menyempurnakan serum ku, dan mungkin aku pun bisa membuat vaksin yang bisa mengembalikan monster menjadi manusia."


" Apa kau yakin dengan perkataan mu itu?"


" Yah... Untuk vaksin sih kemungkinannya cuma 0,001% untuk mengembalikannya menjadi semula."


Klana yang mendengar perkataan Jaka, mulai mengerutkan dahinya dan mengepalkan tangannya.

__ADS_1


" Wow... Tenanglah Klana, tidak baik seorang perempuan untuk terus marah-marah nanti kau bisa cepat tua loh."


" Hentikanlah basa-basi mu, apakah kau tidak bisa kembali memimpin Distopia yang kau bangun ini?"


" Bisa saja sih, tapi aku lagi ada urusan yang mendesak, oia apakah orang-orang yang bisa kupakai sudah ada?"


" Sudah, pakailah mereka semua semau mu."


Cerita pun kembali beralih ke Rael dan teman-temannya.


Matahari pagi pun mulai nampak di atas langit biru yang cerah itu, Bima yang melihat matahari telah terbit dengan segera bangun dari tempat tidurnya yang sedikit keras.


" Agh... Kasur ini cukup keras, tapi setidaknya kita bisa bangun di tempat yang sedikit aman, ngomong-ngomong dimana Rael?"


Rael yang sudah bangun lebih awal, sedang duduk merenungkan sesuatu sambil melihat ke arah tumpukan badan pesawat yang ia ambil sebelumnya.


" Kau sedang apa disana Rael?" Tanya Bima.


" Aku sedang bingung semua benda ini mau ku jadikan apa."


" Yah... Sepertinya aku tidak bisa membantumu karena aku bukanlah ahlinya."


" Ya setidaknya berikan aku ide kek."


" Boleh juga, tapi aku harus belajar dulu bagaimana cara menempa senjata, dan juga aku memiliki tenaga yang kecil untuk mengangkat palu yang besar itu."


" Bagaimana jika kau memakai kekuatan monster mu?"


" Itu bisa aja sih, tapi ada kemungkinan aku lepas kendali jika memakainya terlalu sering."


Saat mereka berdua sedang mengeluarkan semua pendapatnya, tiba-tiba saja Aria mengetuk pintu.


" Bima, Rael, cepatlah kalian berdua keluar, sarapannya sudah siap."


" Ya nanti kami akan kesana!" Seru Bima.


" Ayo Rael kita sarapan, sebelum makanannya menjadi dingin."


Mereka berdua pun segera pergi ke arah kantin tempat makanan dibagikan secara tertib, saat dalam perjalanan terlihat semua orang menatap mereka dengan tajam.


Rael pun tidak nyaman dengan tatapannya itu, lalu Bima yang menyadarinya mulai merangkul pundaknya dan segera membawanya ketempat makanan itu dibagikan.

__ADS_1


" Halo bibi, apakah makanannya masih ada?"


" Oh kalian orang-orang baru itu yah."


" Ya perkenalkan nama saya Bima, dan yang disebelah saya adalah Rael."


" Rael... Ah kalau tidak salah ketua kelompok pernah menyebutkan nama itu sebelumnya."


" Oh itu mungkin karena Rael adalah adiknya kak Santika."


" Eh jadi kau adiknya ketua yah, kau sangat beruntung bisa sampai kemari dengan selamat, oh aku hampir lupa ini makanannya."


" Terimakasih bibi!" Ujar Bima.


Mereka berdua makan dengan sangat lahap hingga tak menyisakan makanan sedikit pun, beberapa saat makanan mereka telah habis, Rael diperintahkan untuk menemui ketua di ruangannya.


Rael yang mendengarnya lantas berdiri dan berjalan ke arah kakaknya memanggil, saat masuk ke ruangan itu ternyata sudah ada pak Sudiarto yang sepertinya sudah membicarakan sesuatu kepadanya.


" Ada apa kau memanggilku?"


" Apakah kalian bisa meninggalkan kami bertiga sendirian saja?" Tanya Santika ke arah para penjaga.


" Aku tadi sempat berbincang tentang bagaimana dirimu di tengah kota, dan apakah benar bahwa itu terjadi pada dirimu?"


Mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh kakaknya itu membuat Rael tidak bisa berbohong karena ia sudah pasti mengetahuinya dari pak Sudiarto.


" Ya itu benar, bahwa aku sudah terinfeksi monster dan menjadi liar, tapi sekarang aku sudah bisa mengendalikannya kok."


" Begitu yah, bisakah aku melihatnya sekarang?"


Rael pun segera merubah tangannya ke bentuk yang keras dengan kuku yang tajam, melihat saat Rael berubah, Santika lantas mengunakan alat yang dirakit oleh Rael dan diarahkan kepadanya untuk melihat apakah Rael memiliki sebuah core pada tubuhnya.


" ... Begitu yah, aku sudah melihat core pada seekor monster menggunakan alat ini, dan saat aku melihatmu ternyata benar kalau kau sudah bisa mengendalikan kekuatanmu, tapi untuk jaga-jaga kau harus merahasiakannya dan jangan terlalu sering menggunakannya."


" Apakah ada seseorang di luar sana?"


" Ya ketua, ada yang bisa aku bantu?"


" Serahkan alat ini ke seseorang yang paham dengan teknologi dan suruh ia untuk memperbanyak nya sebanyak mungkin, dan juga suruh dia untuk menyempurnakan alat ini agar nyaman untuk dipakai."


" Baik ketua."

__ADS_1


Setelah pembicaraan itu, mereka semua segera meninggalkan ruangan tersebut dengan wajah yang sedikit lega.


> Bersambung...


__ADS_2