
...***...
Hari pun telah berganti, Rael masih saja memiliki mood yang tidak karuan, saat Bima mengunjunginya Rael selalu saja emosi setiap waktu.
" Hei Rael, sebenarnya ada apa sih dengan mu?" Tanya Bima.
" Ini bukan urusanmu."
" Aku mungkin tidak bisa membantumu sepenuhnya, tapi setidaknya ceritakan kepadaku atau teman-teman yang lain."
" ... Aku masih belum ingin mengatakannya, jadi maafkan aku jika merepotkan."
" Tak apa, kau bisa menceritakannya pelan-pelan, untuk sekarang ayo kita sarapan di kantin."
Rael dan Bima pun berjalan bersama menuju ke arah kantin, disana pula sudah ada pak Sudiarto dan Aria yang telah menunggu mereka berdua sedari tadi.
Namun saat Rael memasuki kantin, dirinya melihat Arfa dan kelompoknya sedang makan didalam, yang membuat Rael merasa tidak nyaman.
Bima yang melihat Rael lantas merangkul pundaknya dan membawanya ketempat Aria makan, dengan sebisa mungkin mengalihkan Rael dari Arfa.
Setelah duduk dan makan bersama-sama, Bima dan yang lainnya masih terduduk di kursi sembari berbincang-bincang.
" Aria, bagaimana dengan tugasmu saat ini?" Tanya Bima.
" Yah seperti biasanya, namun akhir-akhir ini sumber makanan terus bertambah semenjak gedung yang kalian jelajahi sebelumnya, apalagi sekarang kelompok Arfa telah memberikan banyak sekali makanan kesini."
" Memang makanan seperti apa yang mereka bawa?" Tanya pak Sudiarto.
" Hmm... Seperti rempah-rempah dan beberapa potong daging yang masih segar."
__ADS_1
" Daging jenis apa yang mereka bawa?" Tanya Rael.
" Katanya sih daging sapi yang masih muda."
" Apakah bahan yang mereka semua bawa sudah diolah?" Tanya Rael kembali.
" Belum, karena masih banyak daging lama yang harus segera diolah sebelum membusuk." Jawab Aria.
" Jadi begitu, Bima sekarang kau akan ngapain?" Tanya Rael.
" Seharunya sekarang aku dan pak Sudiarto akan segera pergi dari benteng Orion, dan menjelajah ke gedung-gedung baru."
" Kalau begitu bisakah aku meminta tolong kepada mu untuk mengumpulkan uang koin yang sejenis sebanyak-banyaknya?" Bujuk Rael.
" Boleh saja, tapi memangnya itu akan kau apakan?" Tanya Bima.
" Rahasia."
Dengan tekad dan keberanian yang sangat besar, Bima, Pramono, dan pak Sudiarto memulai perjalanannya mencari tempat baru yang belum tersentuh oleh manusia.
Tanpa disadari, salah seorang pesuruh dari kelompok Arfa melihat Bima serta kelompoknya pergi dari benteng Orion ini, dan orang itu pun lantas melaporkannya kepada Arfa.
Dengan informasi yang telah orang itu berikan, Arfa pun memulai sebuah rencana untuk mengeluarkan Rael dari benteng Orion tersebut.
Setelah kepergian Bima, Rael berjalan menuju arah tempat gudang bahan makanan berada, dan disana pula dirinya bertemu kembali dengan Aria.
" Oh, ada yang bisa aku bantu Rael?" Tanya Aria.
" Bisakah kau memberi tahuku dimana bahan makanan yang Arfa bawa disimpan?" Tanya balik Rael.
__ADS_1
" Bahan-bahan tersebut disimpan dalam lemari es disana, bolehkah aku tau untuk apa kau menanyakannya?"
" Aku mencarinya karena ada sesuatu yang sangat mencurigakan, bolehkah aku makan sedikit daging yang dibawa oleh Arfa?"
" Boleh saja jika sedikit, tapi daging itu masih mentah."
" Tak apa aku akan memakannya walaupun mentah."
Dengan curiga dan sedikit keraguan, Rael memakan daging mentah tersebut dan mengunyahnya dengan perlahan.
Setelah dirinya menelan daging tersebut, Rael menjadi yakin atas kecurigaannya tersebut, setelahnya ia pergi dari tempat penyimpanan tersebut dan melarang Aria untuk memakai daging tersebut menjadi sebuah makanan.
Dengan tergesa-gesa Rael berlari menuju tempat sampah dan lantas mengobrak-abrik semua yang ada dalam kantung keresek, setelah mencarinya dengan susah payah akhirnya dirinya menemukan secarik kertas, tertulis sebuah perintah yang harus dilakukan oleh Citra dalam kertas tersebut.
Rael pun kembali ketempat Aria berada dan lantas mengambil daging yang ia makan sebelumnya.
Disisi lain Bima dan yang lainnya berhasil menemukan sebuah tempat yang belum terjamah oleh manusia, karena sumber makanan didalam toko sembako tersebut masih aman.
Karena menurut mereka keadaan masih terasa aman, mereka bertiga pun lantas masuk kedalam bersama-sama.
Saat Bima mengecek di seluruh ruangan, ia melihat ada sebuah bercak darah dari arah pintu belakang menuju ke lantai dua.
Bukan hanya itu saja saat Bima naik kelantai atas, dirinya melihat seseorang dengan penuh luka dan tangan kirinya yang terputus dengan sangat rapih.
Melihat ada orang yang terluka, Bima pun segera memanggil Pramono dan pak Sudiarto untuk segera naik kelantai atas.
Sesampainya disana, Bima dan yang lainnya segera memberikan pertolongan pertama untuk orang tersebut, namun nampaknya kondisi orang itu sudah ada diujung tanduk lantaran dirinya sudah kehabisan darah.
Dengan kondisi yang masih lemas tersebut, Bima menanyakan kepada orang tersebut apa yang sebenarnya terjadi.
__ADS_1
Karena sudah sekarat, orang tersebut tidak bisa menceritakannya dengan lancar, namun orang tersebut menyebutkan sebuah nama seseorang, dan nama orang yang ia sebut adalah Arfa.
>Bersambung...