
...***...
Debu dan asap menutupi seluruh tubuh Klana yang tertindih oleh barang-barang yang berjatuhan.
" Akhirnya aku menemukanmu Bima!"
" Seharunya aku yang mengatakan itu, apa kau tidak apa-apa?"
" Tidak, seharusnya kau melihat tanganmu yang terluka itu, nih pembalut."
" ... Rael, kenapa kau memberiku pembalut?"
" Sudah... Gunakan itu untuk menutupi lukamu, aku tidak bisa menemukan perban disekitar sini, jadi pakailah itu untuk menghentikan pendarahannya."
" Tapi kan..."
" Sudah sudah, dulu waktu perang dunia pembalut digunakan untuk menutup luka para tentara perang, jadi jangan aneh jika aku memaksamu menggunakannya untuk menutupi luka."
Meskipun mereka berdua membahas hal yang tidak ada hubungannya, tapi selayaknya teman mereka berdua lega dapat bertemu kembali dengan selamat.
" Em... Tapi sepertinya kau akan dapat masalah yang besar."
" Apa itu?"
Tanya Rael dengan wajah yang tanpa dosa.
Klana yang terlempar itupun bangkit dari tumpukan barang dengan debu disekelilingnya.
" Sialan..."
Kesal Klana sembari menatap Rael dengan sangat tajam.
" Tak kusangka setelah aku berubah, kau melemparkan sebuah barbel untuk menyerang ku!?"
" Hei Bima, siapa wanita itu?"
Herannya karena wujud Klana yang dilihat Rael sebelumnya sangat berbeda dibanding sebelumnya.
" Hah, jadi kau tidak mengingatku yah Rael!"
Klana yang telah habis kesabarannya itu menyerang Rael dengan tangan kirinya yang berukuran cukup besar.
__ADS_1
Rael dan Bima menghindar dengan berlawanan arah, kemudian Rael tiba-tiba saja berlari dan melemparkan sebuah botol kaca kearah Klana.
" Bima pergilah dari sini, aku akan menjadi umpan dan kau segeralah pergi menemui kakakku!"
" Tapi bagaimana dengan dirimu?!"
" Aku bisa mengatasinya, kau harus segera menemuinya dan siapkan rencana dari film yang kita tonton waktu itu!"
Bima yang memahami situasinya pun dengan terpaksa pergi meninggalkan Rael sendirian bersama Klana.
" Jadi kau mengorbankan dirimu agar temanmu itu bisa pergi yah."
" Ya... Begitulah."
" Apa kau tahu, meskipun kau merasa telah melakukan hal yang terpuji tapi jika kau mati disini aku penasaran dengan apa yang akan temanmu itu pikirkan."
" Aku tidak tahu apa yang kau pikirkan, tapi aku yakin bahwa Bima tidak akan melakukan hal-hal yang ada didalam kepalamu itu."
" Benarkah, tapi kita tidak tahu jika tidak mencobanya!"
Klana berlari dengan gesit, dan menyerang Rael dengan kecepatan dan kekuatan yang luar biasa.
Tembok beton yang mengenai pukulan Klana itu pun rusak dan menciptakan sebuah lengkungan yang retak.
" Sial, jika aku tidak menghindarinya, aku dapat dipastikan mati saat ini juga."
" Wow... Refleks mu lumayan juga, apakah ini karena sel monster yang ada di tubuhmu?"
" Tidak juga, dari dulu refleks ku ini dapat diandalkan."
Karena sudah lama tidak berolahraga, Rael melakukan sebuah pemanasan kecil agar otot-ototnya tidak kaku saat bertarung.
" Apa kau tahu Rael, dirimu yang seorang monster itu dapat menyebabkan bencana pada orang sekitar, dan bukan hanya orang-orang tapi temanmu itu dapat terkena imbasnya."
" ... Apa yang kau maksud?"
" Meskipun kau berfikir jika kekuatanmu itu dapat berguna bagi orang-orang, tapi yang sebenarnya terjadi adalah kebalikannya."
" Jadi urusannya dengan mu itu apa?"
" Itu karena, aku akan membantumu untuk mati saat ini juga!"
__ADS_1
Tangan kirinya berubah menjadi sangat besar, dan menghantam tanah yang dipijak Rael menjadi hancur.
Dengan susah payah Rael terus-terusan menghindari semua serangannya yang sangat mematikan itu.
Setiap tanah yang dipijak oleh Rael hancur karena hantaman yang keras dari tangan kiri Klana.
Disaat yang bersamaan, Bima bertemu dengan Aria ditengah jalan.
" Hei Bima, apa kau telah bertemu dengan Rael?"
" Ya, aku bertemu dengannya, tapi kita harus segera menemui Santika agar dapat membantu Rael dalam pertarungan!"
" Pertarungan apa yang Rael lalui?"
" Sial itu aku ceritakan saat diperjalanan, untuk sekarang kita harus bertemu Santika!"
Rael pun merasakan kelelahan akibat menghindari serangan Klana yang terus-menerus menyerangnya.
Dengan sebilah pedang pendeknya, Rael menyiapkan kuda-kuda dan bersiap-siap untuk menyerang sekaligus bertahan.
Namun Klana pun secara tiba-tiba melemparkan sebuah benda tajam dari tangan kirinya, dan Rael pun menangkis setiap serangannya dengan pedang pendeknya itu.
Karena benda tersebut sangat keras dan cepat, membuat pedang yang dipegang oleh Rael patah karena hantaman yang sangat keras.
Pandangan Rael pun sempat teralihkan sehingga memberikan Klana kesempatan untuk menyerang Rael dengan tangan kanannya.
Pukulannya pun berhasil ditahan oleh Rael dengan kedua tangannya, namun tanpa ia pikirkan Klana menendang kearah selangkangannya dan membuat Rael merasakan sakit yang amat sangat.
Sembari menahan rasa sakitnya itu, Rael menangkap kaki Klana dan melemparkannya dengan bantuan kekuatan monster.
Rael pun memanfaatkan kesempatan itu untuk segera pergi dan bersembunyi dari pandangan Klana.
Namun, seluruh jalan keluar telah tertutup oleh puing-puing bangunan dan barang-barang yang menghalangi.
Dengan melewati celah kecil dibawah meja, Rael dengan terburu-buru merangkak melewatinya.
Akan tetapi Klana yang mengetahui posisi Rael pun segera menariknya kembali.
Rael yang ditarik dengan paksa itu pun mengambil sebuah pipa dan memukulkannya kearah kepala Klana hingga membuat pipa besi itu bengkok.
> Bersambung...
__ADS_1