
...***...
Keesokan hari yang dingin pun tiba, matahari yang baru saja terbit menyinari wajah Rael yang masih tertidur itu, karena cahaya yang menyilaukan membuat Rael terpaksa terbangun dari mimpinya.
Ia pun lantas membersihkan wajahnya dengan air mengalir dari wastafel yang baru saja dipasang, setelahnya ia menatap dirinya sendiri dari balik cermin dan memikirkan kembali perkataan orang-orang semalam.
" Hah... Apa yang harus aku lakukan, mengurusi masalah yang dibuat oleh orang seperti mereka bisa lebih merepotkan jika terus dibiarkan seperti ini."
Beberapa saat kemudian pun terdengar suara ketukan pintu sebanyak tiga kali dengan tempo yang cepat.
" Hei Rael ini aku Santika, aku tau kau sudah bangun sekarang jadi bisakah aku masuk?"
" Silahkan, pintunya tidak dikunci kok"
Dengan izin dari Rael, Santika pun masuk ke dalam ruangannya dan duduk di sofa yang berada ditengah ruangan.
" Ada apa kakak kemari?"
" Bisakah kau memperbaiki mainan ini?"
" Memangnya mainan itu milik siapa?"
" Ini punya seorang anak salah satu penjaga gerbang, dia bilang anaknya selalu menangis karena mainan ini rusak."
" Memang ada yang spesial dari mainan ini?"
" Mainan itu merupakan sebuah hadiah yang diberikan oleh ibunya, dan itu adalah satu-satunya barang yang dapat menemaninya saat ia merindukan ibunya itu."
" Begitu yah, aku akan coba memeriksanya dulu."
Saat Rael sedang sibuk memeriksa mainan itu, Santika terus-terusan menatap Rael dengan tatapan yang khawatir.
" Apa kau sedang menyembunyikan sesuatu Rael?"
" Apa maksudmu, aku tak paham dengan apa yang kau bicarakan itu."
" Hei, aku selalu bersamamu saat kau masih dalam rahim ibu, jadi aku tau gerak-gerik mu saat sedang berbohong."
__ADS_1
" Jadi begitu, maaf aku belum bisa membicarakannya sekarang."
" Tak apa, tapi saat kau sedang kesulitan jangan lupa untuk meminta bantuan ku."
" Baiklah..."
" Ngomong-ngomong apa yang sebenarnya terjadi saat tubuhmu diambil alih waktu itu?"
" Hmm... Gimana bilangnya yah, mungkin seperti surga yang berada didalam mimpi buruk, setidaknya seperti itu."
" Jadi saat kau diambil alih, maka kau bisa mewujudkan hal-hal yang sangat kau inginkan yah."
" Begitulah yang dibilang orang itu."
" Orang itu?"
" Didalam sana kau bisa bertemu dengan seseorang yang bisa berubah menjadi apa saja agar bisa menggoda mu dan menggunakan tubuhmu saat kau sudah terlena dengan ilusi yang diperlihatkan oleh orang itu."
" Perwujudan dari hasrat yah~."
" Wow... Tak kusangka tanganmu itu masih belum tumpul yah."
" Ya, bahkan orang-orang sampai menyebutku seorang Kurcaci."
" Kurcaci yah, sepertinya itu cocok untukmu, ngomong-ngomong mau kau apakan besi-besi itu?"
" Rencananya aku akan menggunakannya untuk membuat senjata, tapi aku tidak memiliki sebuah pengetahuan dalam menempa."
" Sepertinya perjalananmu masih panjang yah."
Setelah obrolan yang singkat itu selesai, Santika pun pamit pergi dan menyerahkan mainan itu kepada pemiliknya.
Disiang hari lebih tepatnya di kantin, Rael dan teman-temannya sedang makan bersama di salah satu meja.
" Hei Rael bagaimana pekerjaanmu sebagai pemburu?" Tanya Bima.
" Begitulah, bahkan bencana monster ini sudah sampai ke pedalaman."
__ADS_1
" Bagaimana denganmu Aria?" Tanya Bima.
" Kami sedang disibukkan dengan permintaan makanan yang ingin terus ditambah, tapi untungnya semenjak alat yang Rael rakit waktu itu membuat bahan makanan menjadi bertambah dan jadi kita tidak perlu lagi soal makanan dalam beberapa bulan ke depan."
" Begitu yah, kalau pak Sudiarto?" Tanya Bima.
" Aku dan tim ku sedang memantau sebuah tempat yang sangat mencurigakan."
" Tempat yang mencurigakan?" Tanya Rael.
" Yah, orang yang berada di timku bilang kalau tempat itu merupakan sebuah markas yang bernama Distopia, dan mereka juga bilang kalau kelompok itu pernah sesekali menculik orang-orang dari kelompok ini dan tak pernah kembali."
" Apakah kalian sudah melakukan perundingan dengan kelompok itu?" Tanya Aria.
" Santika mengatakan kalau dia sudah mengajukan perundingan dengan kelompok itu, tapi mereka selalu menolaknya dan juga mereka tidak menyambut kita dengan hangat." Jawab pak Sudiarto.
Beberapa waktu pun telah berlalu tanpa mereka sadari, mereka semua pun pergi untuk melakukan tugas mereka masing-masing.
Di sebuah gudang Rael sedang melakukan pekerjaannya yaitu memisahkan berbagai jenis makanan sesuai dengan jenisnya, dan tak hanya itu Rael juga sesekali diperintahkan untuk membersihkan sekeliling gudang.
Rael yang selalu disuruh-suruh itu mulai jengkel dengan para pimpinan itu, karena Rael tau kalau mereka menyuruhnya mengerjakan sesuatu itu untuk menjahili Rael karena masih berstatus orang baru.
Namun Rael pun masih bisa menahan emosinya, juga ia pun mengerjakan semua pekerjaan itu dengan cepat dan teliti.
Waktu sore hari pun telah tiba, seluruh anggota pemburu dikumpulkan dalam satu tempat agar mereka mendapatkan bayarannya dengan beberapa makanan ringan untuk mereka makan.
Entah ada hal apa yang terjadi, tapi orang yang membagikan bayarannya itu ialah Santika dengan wajah yang seperti marah akan sesuatu.
Santika pun membagikan makanan kepada setiap orang dengan adil sesuai dengan apa yang mereka kerjaan, namun pimpinan yang selalu menyuruh Rael itu pun diberikan makanan dengan jumlah yang lebih sedikit daripada orang lain, sedangkan Rael mendapatkan jatah yang sedikit lebih banyak dari orang-orang.
" Hei, kenapa jatahku sedikit, sedangkan kau memberikan jatah yang lebih banyak kepada Rael, apa karena dia adalah adikmu jadi kau melebihkannya?" Tanya pimpinan itu.
" Hah, apa kau pikir aku tidak tau atas perilaku mu selama ini, kau selalu saja menyuruh orang lain untuk melakukan pekerjaan mu sedangkan dirimu dengan santainya duduk di bangku itu tanpa melakukan apapun?!" Tegas Santika.
Setelah dibentak oleh Santika, orang itu cuma bisa diam dengan wajah yang sangat marah itu, semua orang pun sudah diberikan jatahnya masing-masing, lantas mereka pun kembali ke ruangannya untuk beristirahat.
> Bersambung...
__ADS_1