
...***...
Hutan yang rindang dengan langit biru cerah menghiasi seluruh angkasa, air mengalir dengan deras dan jernih terlihat di suatu tempat yang cukup terpencil.
" Hah... Sial, jika saja aku tidak mengikuti dirimu aku pasti tidak akan seperti ini."
Ucap Ranu yang tengah menelusuri hutan bersama Citra.
" Ha...! Kau kira semua ini adalah salahku? Itu semua karena dirimu, percuma saja mempunyai otot tapi tidak dengan otakmu!"
" Apa kau bilang, apa kau sudah berani untuk menghinaku sekarang?!"
" Sial, jika saja orang-orang itu tidak ada disana, semua ini salah Rael dan kakaknya!"
" Sudah hentikan bacotan mu yang tidak berguna itu, jika kita tidak segera menemukan makanan maka kita akan mati secepatnya!"
" Hah... Kau kan laki-laki, seharusnya dirimu bisa memburu makanan untuk dirimu yang seorang perempuan."
" Dasar ****** ini, kemari kau brengsek!"
Mereka berdua pun kemudian bertengkar dengan hebat, dan membuat keduanya basah kuyup akibat bertengkar di sungai yang jernih itu.
Namun beberapa saat pun telah berlalu, mereka berdua dengan cepat berbaikan dan memanggang ikan masing-masing.
"... Hei Ranu, saat kita masih ditempat itu, aku mendengar beberapa rumor bahwa tempat Distopia menggunakan daging manusia sebagai bahan makanan."
" ... Apa sih tiba-tiba bahas itu ketika lagi makan."
" Jika rumor itu benar maka kita ini cukup beruntung tidak menjadi seorang kanibal."
" ... Benar juga yang kau katakan itu, tapi sekarang kita harus mencari tempat tinggal karena sebentar lagi hari mulai gelap."
__ADS_1
Ranu dan Citra pun kembali melanjutkan perjalanannya menyusuri sungai berharap mereka dapat menemukan sebuah desa dengan bahan makanan yang layak.
Cerita kembali kepada Rael dan teman-temannya yang tengah membahas monster-monster ciptaan Jaka, mulai dari adanya jenis baru hingga serum yang dapat membuat pemakainya mendapatkan kekuatan setara dengan para monster.
Bukan hanya itu saja, mereka berdiskusi bagaimana cara masyarakat untuk menerima Rael apa adanya, karena masih banyak orang yang ragu dengan kekuatan yang dimiliki oleh Rael.
Meski begitu masih banyak orang-orang yang menerima Rael sebagai anggota Orion, karena mereka semua dapat mengetahui berbagai kelemahan monster jika Rael tinggal ditempat itu, dan dengan beberapa data yang Jaka peroleh dinyatakan bahwa sel Theramycetes dapat dibekukan dan menonaktifkannya sementara.
Namun hal tersebut akan sulit untuk direalisasikan karena teknologi dan pengetahuan yang kurang memadai, orang-orang yang cukup memahami ilmu tersebut mengatakan bahwa waktu yang dibutuhkan untuk merealisasikannya bisa sampai belasan tahun ataupun puluhan.
Orang-orang tersebut pun mengatakan bahwa sel-sel yang berada dalam tubuh Rael belum agresif dan tertahan untuk mendominasi sel-sel otak.
Karena alasan tersebut Rael melakukan pemeriksaan darah untuk memahami penyebab yang terjadi padanya, setelah beberapa waktu hasilnya pun selesai.
Dalam hasilnya dinyatakan bahwa Rael memiliki kelainan yang membuatnya kekurangan hormon testosteron sehingga membuatnya sulit untuk pubertas.
Dilihat dari sel otaknya ditemukan bahwa sel yang memproduksi hormon telah cacat sejak lahir sehingga membuat tubuh Rael tidak dapat memproduksi hormon secara normal dan hal tersebut membuat indra penciumannya ikut rusak.
Rael yang mendengarnya hanya bisa terdiam atas kondisi tubuhnya yang tidak ia ketahui selama ini, Santika pun kemudian menepuk pundaknya dan mengelus kepala Rael untuk menenangkannya.
Rapat pun telah selesai dan seluruh orang bubar untuk menjalani kembali aktivitasnya masing-masing.
Sementara itu Rael meminta kepada kakaknya untuk mendorongnya kembali ke ruangannya, didalam perjalanan tatapan seluruh orang mulai berubah dan menjadi lebih baik daripada sebelumnya.
" Nah kita sudah sampai, jika kau membutuhkan bantuan teriak lah yang kencang."
" Kau tahu kan bahwa diriku tidak bisa berteriak dengan kencang?"
" Aku tahu, sekarang apa yang akan kau lakukan?"
" Aku masih ada hal yang harus dilakukan, jadi bisakah kakak keluar dulu?"
__ADS_1
Santika menuruti permintaan Rael tersebut, dan segera kembali keruang kerjanya.
Didalam sana, Rael nampak sedang membuat sesuatu dari bahan logam dan PVC, suara bor dan gerinda terdengar di seluruh ruangan tersebut.
Rael mengerjakannya sampai waktu makan malam pun telah tiba, ia pun pergi ke kantin dengan membawa sebuah kotak berukuran kecil.
" Oh Rael kau sudah sampai!"
Teriak Bima sambil melambaikan tangannya.
Rael pun menghampiri Bima dan duduk disampingnya bersama dengan yang lainnya.
" Pertarungan mu melawan Sulastri itu sangat keren kau tahu, bahkan kau sampai melakukan salto dan menendang Sulastri tepat menghancurkan Core nya."
Ucap Pramono dengan nada kagum.
" Benarkah? Sayang sekali aku tidak dapat melihatnya secara langsung..."
" Ngomong-ngomong, apa tanganmu tidak apa-apa?"
Tanya Rael dengan melirik kearah jari Bima.
" Ah ini, pendarahannya sudah berhenti kok, jika aku meminum obat maka rasa sakitnya akan berkurang."
" Jadi begitu, ini aku memberimu sebuah hadiah."
" Tunggu Rael, ini kan... Jari palsu? Apa kau yang membuatnya?"
" Ya itu untukmu, kau bisa menggunakannya saat lukanya sudah tertutup."
Hari itu pun diakhiri makan bersama dengan suasana yang meriah dari hari-hari biasa, hari pun ditutup dengan malam yang disinari sinar rembulan.
__ADS_1
>Bersambung...