
...***...
Akibat serangan dahsyat yang Rael terima, membuat dirinya tak sanggup berdiri dan hanya bisa tergeletak di tanah dengan tangan kiri yang patah.
" Nah... Rael, sekarang kau tahu kalau dirimu itu tidak berguna hah!?"
" Sialan kau...!"
" Hahaha hebat juga kau, sempat-sempatnya mengumpat kepadaku disaat teman-teman mu akan mati."
" Apa yang kau maksud itu~."
" Hah... Kau tidak merasakannya? Apa kau pikir kita menyerang ketempat ini hanya karena ingin menyingkirkan Orion? Apa kau tidak penasaran kemana teman-temanmu itu berada saat ini?"
" Sialan kau... Jangan-jangan!?"
" Hahaha... Akhirnya kau menyadarinya yah? Jika kau tidak segera pergi mungkin teman-teman mu akan segera menjadi mayat saat ini."
Mendengar pernyataan barusan, Rael semakin memberontak dan berusaha melepaskan kepalanya dari cengkraman Dhafi.
Dengan emosi yang semakin meningkat, kekuatan yang Rael gunakan semakin kuat, bahkan melebihi kekuatan yang sering ia pakai.
" Akhirnya kau menjadi seperti ku Rael!"
Wujud Rael sekarang mulai berubah bukan hanya tangan kanannya saja, bahkan wajahnya pun ikut berubah meski cuma sisi sebelah kanan.
Santika yang melihatnya khawatir akan kondisi Rael saat ini, ia takut kekuatannya tersebut dapat mempengaruhi tubuh dan mentalnya keluar dari sisi kemanusiaan.
Namun Santika tidak bisa berbuat banyak, ia tidak dapat membantu Rael karena Orion masih membutuhkan seorang pemimpin yang dapat berjuang bersama bawahannya.
__ADS_1
Kekacauan semakin bertambah, dan entah mengapa Santika merasa kekacauan tersebut akan semakin kacau. Pramono dan pak Sudiarto menyarankan Santika untuk segera mengevakuasi penduduk pergi dari wilayah Orion.
" Tunggu, apa kalian melihat Bima dan Aria?" Tanya Santika.
" Aku terakhir melihat mereka tengah membantu warga untuk berlindung, dan untuk setelahnya aku tidak melihatnya." Jawab Pramono.
" Kalau tidak salah, aku melihat mereka pergi kearah luar dinding." Jawab Sudiarto.
" Sialan! Jadi ini tujuan mereka menyerang Orion!? Untuk sekarang kita mesti membawa warga pergi dari sini, kita tidak tahu ancaman apa yang akan menghampiri kita."
Mendengar perintah dari Santika, mereka segera membawa para penduduk untuk pergi menggunakan kereta kuda dan beberapa mobil pengangkut barang.
" Hahaha ini semakin menarik, teruslah menghiburku Rael!"
Mereka berdua masing-masing melancarkan serangan dengan sepenuh tenaga, bahkan orang-orang yang melihatnya mengganggap pertempuran tersebut sudah bukan lagi perkelahian antar manusia.
Rael hanya bisa menahan seluruh serangan yang dilontarkan Dhafi, ia tidak memiliki kesempatan untuk menyerang karena Dhafi terus-menerus menghajarnya tanpa celah sedikitpun.
Kepulan asap keluar dari mulut Rael, sembari menahan rasa sakit dirinya berusaha untuk bangun dengan kaki yang gemetar.
" Ha... Kau masih belum menyerah yah."
Dhafi menginjakkan kakinya ke kepala Rael yang tengah tergeletak di atas tanah, mendapatkan perilaku tersebut membuat Rael kesal dan semakin berusaha untuk berdiri dan menghajar wajah Dhafi.
" Lihatlah betapa menyedihkannya dirimu, kau bahkan tidak bisa mengalahkan ku, aku jadi penasaran bagaimana nasib kedua temanmu itu?" Ledek Dhafi sembari menginjak-injak kakinya ke wajah Rael.
" Diam... Kau keparat!!"
Disaat yang bersamaan, di dalam hutan yang rindang Bima dan Aria diserang oleh Jaka sesaat setelah mereka berbincang-bincang sebelumnya.
__ADS_1
Pada saat itu, Jaka menyerang Bima dengan cakar tajam yang tiba-tiba muncul dari kedua tangannya mirip seperti apa yang Rael lakukan saat menggunakan kekuatan monsternya.
" Hah, ternyata ini keren juga, tak kusangka dia akan sekreatif ini dalam menggunakan kekuatannya tanpa mengorbankan sisi kemanusiaannya."
Bima dan Aria tahu jika mereka meladeni Jaka bertarung, mereka hanya akan mendapatkan kematian bahkan setelah dia melihat mereka berdua.
Agar bisa selamat, Bima dan Aria berpencar dan bersembunyi menunggu celah mereka untuk kabur.
" Lagi-lagi petak umpet, apa kalian tidak bosan memainkan permainan yang sama terus-menerus?"
Bima menyiapkan pistolnya sembari bersembunyi dibalik sebuah batu besar, namun suara yang dihasilkan ketika memasukkan peluru terdengar cukup jelas oleh Jaka.
" Disana kau rupanya!?"
Jaka membelah batu besar itu hanya dengan satu serangan, namun karena hal tersebut membuat pandangannya tertutup oleh serpihan-serpihan batu yang melayang kearah matanya.
Bukan hanya itu saja, Bima memanfaatkan momentum tersebut untuk menyalakan bom asap yang kemudian menghalangi penglihatannya sepenuhnya.
Bima pun segera menjauh dari tempat itu sembari memasang kamera infrared yang selalu ia bawa, sementara Aria mundur bersembunyi diatas pohon dan siap membidik menggunakan panah beserta anak panahnya.
" Sial... Aku tidak dapat melihat Core nya berada!"
" Tunggu apa? Apa dia manusia yang terinfeksi seperti Rael?" Tanya Aria.
" Kalian sepenuhnya salah, aku yang sekarang bukanlah manusia dan bahkan tubuhku bukan milikku."
Jaka pun keluar dari kumpulan asap itu, Bima pun melihat wujud Jaka yang sudah mulai berubah.
Wajahnya terdapat dua mata tambahan yang tiba-tiba terbuka tepat dibawah kelopak matanya, kedua tangganya pun berubah dengan cakarnya yang besar sekaligus tajam.
__ADS_1
>Bersambung...