
...***...
Api yang menjalar menutupi seluruh tubuh mereka berdua, meskipun merasa kesakitan namun Rael terpaksa menahan monster itu untuk menghancurkan core nya yang berada ditempat yang sulit dijangkau.
" Sialan...! Mati kau brengsek!"
Krak!!
Dengan sedikit usaha core yang sulit diraih itu akhirnya hancur dan membuat monster itu mati seketika, namun api yang membakar seluruh tubuh Rael sangat sulit untuk dipadamkan.
Agh!!
Rael berteriak dengan sangat keras, ia merasakan rasa sakit melebihi apa yang biasa Rael rasakan, meskipun dirinya telah berguling sebanyak apapun api yang menyala tidak bisa dipadamkan dengan mudah.
Bima segera mengambil alat pemadam kebakaran dan menyemprotkannya ke seluruh tubuh Rael, sistem pemadam otomatis ikut aktif akibat api yang Rael nyalakan.
Dengan menahan rasa sakit yang luar biasa tersebut akhirnya mereda dengan air yang membasahi tubuh Rael yang hangus terbakar, seluruh tubuhnya mengeluarkan asap yang sangat banyak dan dengan perlahan seluruh luka bakarnya mulai meregenerasi kembali.
" Rael apa kau tidak apa-apa?"
" Agh... Carilah sesuatu untuk menutupi tubuhku!"
" Ah iya baik!"
Bima yang telah mengambil selembar kain itu ia gunakan untuk menutup tubuh Rael kerena baju yang ia pakai sudah hangus terbakar.
" Walaupun aku sudah sering melihatmu meregenerasi luka, tapi tetap saja ini mengagumkan."
" Yah... Terimakasih atas pujiannya, tapi jika kau menjadi diriku, aku pasti akan memilih untuk mati ketimbang merasakan rasa sakit ini."
" Hah, kau benar juga."
__ADS_1
Beberapa saat kemudian mereka berdua bertemu kembali dengan Aria dan pak Sudiarto.
" Apa kau tidak apa-apa Rael?" Tanya Aria.
" Tidak apa-apa, sebaiknya kita pergi ke toko baju, tidak baik membiarkan dirimu kedinginan karena telanjang." Ucap pak Sudiarto.
Setelah Rael memakai pakaian kembali, mereka semua mengadakan rapat dadakan disaat itu juga.
" Baiklah... Sekarang yang jadi tugas kita ialah mendapatkan kartu biru, dan sepertinya itu ikut terbakar saat itu." Ujar pak Sudiarto.
" ... Sepertinya itu kita tidak perlu risau, aku mendapatkan kartunya saat menahan monster itu."
" Eh!? Bagaimana kau mendapatkan nya?!" Heran Bima.
" Yah... Aku hanya mengambilnya saat itu?."
" Baiklah sekarang kita langsung saja ambil kunci berwarna merah itu dan kita jarah semua obat yang tersimpan didalamnya."
Ketika yang lain tengah menjarah seluruh obat, Rael berkeliling melihat-lihat seluruh ruangan tersebut.
Ketika dirinya tengah berkeliling, ia melihat kamera CCTV yang ada pada ruangan itu menyala.
" Sial!"
" Hei Rael kenapa kau mengumpat?" Tanya Bima.
" Kita harus segera ketempat security sekarang juga!"
" Memangnya apa yang terjadi?" Tanya Aria.
" Lihatnya kamera CCTV itu!"
__ADS_1
" Sial Rael benar, sekarang kita diawasi, ayo kita pergi ketempat security sekarang!" Teriak pak Sudiarto.
Mereka semua bergegas menghampiri tempat security berada, dan setelah beberapa menit kemudian mereka sampai ditempat itu.
Didalam sana ternyata tidak ada siapapun selain mereka semua, dan hanya ada sebuah surat yang bertuliskan " Untuk keluargaku".
Ketika mereka membukanya, ternyata surat tersebut berasal dari seseorang yang mereka kenal.
" Halo kalian semua, apa kau masih mengingat namaku? Aku Dhafi orang yang telah kalian usir beberapa waktu yang lalu. Aku tahu kalian menganggap ku sudah mati, namun sayangnya mimpi buruk masih berlanjut, sekarang aku harap kalian mempersiapkan diri."
" Hah... Aku tidak percaya dia masih tetap hidup, bagaimana caranya bertahan?" Tanya Aria.
" Mungkin saja... Dia bersekongkol dengan Jaka dan berniat menghabisi kita semua." Jawab Rael.
" Jika itu benar apa mungkin dia akan bernasib sama dengan Klana?" Tanya Bima.
" Entahlah, bisa saja serum yang dia buat akan lebih sempurna daripada yang Klana pakai."
" Itu mungkin saja." Ujar pak Sudiarto.
Setelah berunding sejak mereka kembali ke markas untuk merundingkannya kembali dengan Santika.
Mereka menceritakan semua yang telah terjadi, dan saat itu juga Rael dimarahi habis-habisan oleh Santika dan menceramahi selama berjam-jam.
Santika membuat pencegahan dengan memperkuat sistem pertahanan, dan juga Santika telah menyiapkan beberapa senjata airsoft gun dengan peluru berwarna.
Ia menggunakannya untuk memberikan tanda dimana posisi core yang tepat di setiap monster, Santika menggunakan ide tersebut karena alat kamera infrared sangat terbatas jadi hanya bisa digunakan oleh sebagian orang saja.
Meskipun mereka tidak tahu kapan ancaman yang diberikan oleh Dhafi muncul, namun markas Orion telah mempersiapkan pertahanan dari jauh-jauh hari.
>Bersambung...
__ADS_1