
...***...
Monster dengan jumlah yang tak terhitung mulai mengepung seluruh benteng Orion, karena sumber daya manusia yang terbatas membuat tempat tersebut mulai terancam hancur.
Rael yang berada di posisinya mempersiapkan semua tenaganya untuk melawan semua monster yang menyerang, ia mulai mengaktifkan kekuatannya dan menghajar para monster itu satu persatu.
" Akan ku bunuh kalian semua!"
" Sekarang kalian semua mundur! Untuk penembak jarak jauh siapkan peluru asli dan bantulah Rael!" Tegas Santika.
Sementara Rael tengah menghabisi puluhan monster, Bima dan Aria sedang mengevakuasi warga ketempat yang aman.
" Bagi yang terluka harap hubungi tim medis!"
" Bima, sepertinya disebelah sana ada keributan!" Ujar Aria.
Terjadi sebuah keributan di pintu masuk bunker, ditempat itu ada seorang wanita yang berteriak sambil menangis tersedu-sedu.
" Anakku, dimana anakku!?"
" Tenanglah bu, kita pasti akan menemukan anakmu secepatnya."
" Tidak, aku ingin keluar dan mencarinya sendiri!"
" Maaf bu, tapi kami tidak bisa membiarkan anda keluar, sangat berbahaya jika anda keluar sekarang."
Para pihak yang berwajib mulai menenangkan ibu tersebut, dan berusaha untuk tetap menahannya didalam bunker.
" Biarkan aku yang mencarinya." Ujar Bima.
" Tapi sangat berbahaya jika kau pergi dari sini."
" Tidak apa-apa aku yang akan menemani Bima." Ucap Aria.
" Aku tidak bisa membiarkanmu ikut bersamaku."
" Aku tetap ingin pergi bersamamu, aku tidak ingin kau menghilang seperti Rael."
Bima terpaksa pergi bersama Aria, mereka berdua mencari-cari anak ibu itu bersama-sama.
Ditempat lain, anak kecil yang dicari-cari oleh Bima sedang mengambil bola yang menggelinding keluar benteng.
" Ah... Bolaku ada dimana?"
__ADS_1
" Hei nak, apa kau mencari bola ini?"
" Ah! iya, itu bolaku!"
Setelah beberapa menit mencari, Bima dan Aria memutuskan untuk mencari anak kecil itu diluar benteng.
" Bima, aku melihat seorang anak kecil barusan."
" Dimana?"
" Di arah sana!"
Mereka menghampiri tempat yang ditunjuk oleh Aria, namun saat sampai disana mereka melihat anak kecil itu sedang berbincang-bincang bersama dengan seorang pria.
" Siapa kau?" Tanya Bima.
" Hei nak, disana kau rupanya, dari tadi ibumu mencari mu dimana-mana, bisa-bisa ibumu marah nanti." Ujar Aria.
" Ah, terimakasih paman, aku permisi dulu ibuku sedang mencari ku."
" Sama-sama, sebelumnya ada yang ingin aku katakan, sebaiknya kamu tidak keluar rumah saat ada goncangan ya?"
" Iya paman!"
Anak itu pun pergi menghampiri ibunya yang tengah histeris didalam bunker.
" Ah... Sepertinya ini pertama kali kita bertemu, perkenalkan namaku Jaka."
Mereka semakin waspada saat Jaka mengenalkan dirinya dengan sangat santai.
Diwaktu yang bersamaan, Rael telah menghabisi puluhan monster dengan tangan kosong, namun energi yang ia miliki sekarang sudah sangat terbatas.
Sekarang kesadaran Rael mulai tidak karuan karena terlalu lama bertarung dengan mode monsternya, bencana yang tak terduga pun mulai menghampiri diwaktu yang tidak tepat.
Disaat semua pasukan tengah kehabisan peluru, gelombang selanjutnya pun tiba dalam waktu beberapa detik saja.
Para pasukan tidak punya waktu lebih untuk menyiapkan kembali peluru yang ada di gudang, tsunami monster mulai terjadi dari dalam hutan yang gelap.
" Semuanya, siapkan alat peledak!" Teriak Santika.
Puluhan granat pun dilemparkan ke lapangan monster yang tak terhitung jumlahnya, Rael bersusah payah berlari agar selamat dari ledakan tersebut.
Diwaktu yang bersamaan, Bima dan Aria masih berbincang dengan Jaka diluar benteng Orion.
__ADS_1
" Apa tujuan dirimu kemari?" Ujar Bima.
" Sudah jelaskan, aku ada urusan dengan kalian dan Rael."
" Ada urusan apa kau dengan kami?"
" Hah... Apa kau tahu, Rael adalah salah satu manusia yang mengalami revolusi! Dengan sedikit sentuhan, semua tujuan yang ingin ku capai akan terlaksana."
" Apa yang kau maksud..."
" Sel Theramycetes akan berevolusi tergantung jumlah hormon yang dimiliki oleh inangnya, dan salah satu agar hormon tersebut meningkat adalah dengan memicu hormon kortisol."
" Hormon kortisol... Itu berarti..."
" Ya... Oleh karena itulah aku membutuhkan dirimu agar hormon kortisolnya meningkatkan!"
Beralih di medan perang, Rael tengah beristirahat karena terus-terusan berlari dan menghindar dari ledakan granat.
" Apa kau tidak apa-apa?!" Tanya Santika.
" Hah... Apakah kau tidak bisa memberi aba-aba terlebih dahulu?!"
" Maaf, kami terpaksa melakukannya."
Tanpa mereka ketahui, bencana yang sangat amat besar baru saja tiba.
Ditengah-tengah hutan yang gelap, terdapat sebuah ledakan yang membuat pohon-pohon disekitar bergoyang.
" Ketua, disekitar barat daya... Ada sesuatu yang akan datang!" Ujar seorang pengintai.
" Sial! Semua segera bersiap-siap untuk bertempur!"
Guncangan yang sangat keras mulai terdengar mendekat secara perlahan, tanah disekitar mulai bergetar akibat hantaman sesuatu yang besar.
Ketika seluruh orang mulai waspada, tiba-tiba saja suasana menjadi hening, dan guncangan yang barusan terdengar menjadi hening tanpa ada suara sedikitpun.
Bagaikan keheningan sebelum badai, tiba-tiba saja ada sebatang pohon yang terlempar dari arah dalam hutan.
" Sial apa yang terjadi sebenarnya?!"
Monster besar pun datang bersama seseorang yang menungganginya.
" Yo... Lama tidak berjumpa Rael!"
__ADS_1
" Jadi kau masih hidup yah... Dhafi!"
>Bersambung...