Host Infection

Host Infection
Bab 42 Pendatang baru


__ADS_3

...***...


Setelah beberapa jam dari perjalanan pulang, Rael yang tengah lemah itu melihat ada sebuah keramaian didekat pintu gerbang Orion.


" Ada apa ini?" Heran Rael.


" Aku pun tidak tau, tapi sepertinya aku melihat sekelompok orang yang belum pernah kulihat sebelumnya." Jawab Bima.


Kereta kuda pun telah tiba didepan gerbang, karena penasaran Rael dan teman-temannya pun masuk kedalam kerumunan itu.


Setelah berdesak-desakan, akhirnya Rael dapat melihat orang-orang baru itu dengan jelas.


Saat Rael sedang melihat setiap orang baru tersebut, ada seseorang yang memanggil namanya dari arah kelompok baru tersebut.


Rael pun sontak menengok kearah suara yang memanggilnya itu, setelah melihatnya ia pun membuka lebar pupil matanya karena kaget orang itu bisa ada disini.


" Yo, lama tidak berjumpa Rael Ginanjar Prawitaharja."


" Kau... Arfa Abercio, bagaimana kau bisa kemari?" Tanya Rael sambil mengerutkan dahinya.


" Wah wah, begini kah caramu menyapa teman lama, bukannya kita itu sangat dekat sewaktu SMP?"


" Ada urusan apa kau disini?"


" Hmm... Tidak terlalu penting sih, cuma saja kami ini sedang melaksanakan sesuatu yang


SE... PE... SI... AL." Jawab Arfa sembari membisikkannya ke telinga Rael.


Setelah berbincang-bincang dengan Rael, Arfa pun kemudian mengobrol dengan para penduduk yang lainnya secara lembut dan bersahabat.

__ADS_1


Ternyata Arfa mendekati para penduduk agar dirinya dan teman sekelompok nya bisa tinggal didalam benteng perlindungan tersebut.


Rael yang masih berada ditempat itu nampak sedang diam mematung dengan ekspresi wajah tidak mengenakkan, Bima yang melihat tingkah laku Rael tersebut lantas menanyakan keadaannya secara langsung.


Rael pun menjawab pertanyaannya itu dengan mengalihkannya bahwa dirinya sedang mabuk darat akibat menaiki kereta kuda, setelah menjawabnya Rael lantas pergi kearah tempat Santika berada.


Dengan sedikit merasa kesal Rael membuka ruang kerja Santika dengan sedikit kasar, setelah itu Rael menghampiri Santika dan menanyakan perihal Arfa.


" Kak, kenapa orang itu bisa ada disini?"


" Siapa yang kau maksud?"


" Arfa, apa tujuan dia kesini?"


" Ternyata begitu, dia dan kelompoknya berkeinginan untuk masuk kedalam sini."


" Terus, apa kakak menolaknya?"


Mendengar pernyataannya itu, Rael pun merasa kesal hingga membuatnya menendang sebuah sofa didalam ruangan itu.


" Kenapa kau kesal begitu, apa kau memiliki kenangan buruk dengannya?"


" Tidak apa-apa, aku hanya merasa emosi setelah mabuk darat, aku pergi dulu karena ada urusan yang belum selesai."


" Hah... Kuharap kau bisa sedikit membuka hatimu, semoga saja kau bisa lebih sedikit terbuka kepada kami." Ucap Santika dengan dirinya sendiri.


Rael yang kesal itu kemudian kembali menuju ke ruangannya dan mengunci dirinya sendiri didalam kamar.


Disisi lain, Ranu dan Citra menemui seseorang disebuah tempat, mereka berdua kemudian bertanya kepada orang itu soal rencana yang diberikan kepada Citra.

__ADS_1


Setelah berbincang-bincang, orang itu pun menuntunnya kepada Arfa disebuah gudang tak terpakai diujung perbatasan benteng.


Citra dan Ranu pun masuk kedalam dan berbincang-bincang dengan singkat, kemudian mereka berdua memberikan sebuah mikro SD yang berisikan video rekaman Rael saat menjelajah beberapa saat yang lalu.


" Wow... Ternyata kerja kalian cukup bagus juga, dan bagaimana menurut kalian tentang isi video ini?" Tanya Arfa.


" Kalau itu... Sepertinya kamu harus melihatnya sendiri, kerena meskipun kami berdua menjelaskannya kalian tidak akan percaya dengan apa yang kami katakan."


" Jadi begitu... Tolong ambilkan aku sebuah kemera atau gawai yang bisa menampilkan video." Perintah Arfa kepada salah seorang bawahannya.


Setelah orang itu mengambil sebuah gawai untuk menonton video yang ada dalam mikro SD tersebut, Arfa pun membuka file tersebut dan menontonnya dengan seksama.


Arfa yang melihatnya tersebut terkejut atas semua kejadian yang ada dalam video itu, setelah ia selesai menonton videonya, Arfa pun tersenyum dengan mata yang masih terkejut.


Jadi perkataan yang dia katakan kepadaku itu ternyata benar, keabadian yang sempurna tanpa harus mengorbankan wujud mu menjadi monster sudah mulai terwujud, sekarang aku sudah mempercayaimu Jaka. Batin Arfa dengan wajah yang puas.


" Kerja bagus Citra dan Ranu, aku yakin pimpinan akan memberimu tempat yang layak di Distopia."


" Benarkah, jadi janji yang orang itu katakan benar?" Tanya Ranu.


" Itu benar, karena orang itu tidak akan pernah berbohong." Jawab Arfa.


Setelah perbincangan tersebut, Citra dan Ranu pamit pergi dari tempat itu.


" Apa ini tidak apa-apa orang seperti mereka masuk kedalam Distopia?" Tanya salah seorang kepada Arfa.


" Tidak apa-apa, aku yakin Jaka telah memikirkan kegunaan orang-orang itu sejak lama."


Arfa pun kembali tersenyum licik yang dapat membuat orang-orang disana merasa tidak nyaman dengan senyumannya itu.

__ADS_1


>Bersambung...


__ADS_2