
...***...
Para monster pun lantas memasuk kedalam benteng melalui lobang yang mereka buat, segera setelah memasuki benteng monster itu pun mulai berlari sembari menyerang orang-orang yang tengah menyelamatkan diri.
Ketiga monster itu berlari mengarah ketempat Rael dan yang lainnya sedang berada, salah satu monster itu langsung meloncat kearah mereka dengan gegabah.
Dengan cepat, monster itu terlempar akibat pukulan yang dilontarkan oleh pak Sudiarto, dua monster lainnya pun ikut menyerang namun hal tersebut segera dihalangi oleh Bima dan Pramono disusul oleh Aria yang terus menembaki anak panahnya dari arah kejauhan.
Santika pun mengarahkan orang-orang yang masih berada disana untuk segera pergi menjauh, dan dirinya pula memerintahkan Rael untuk berlindung bersama dengan orang-orang.
Namun hal tersebut ditolak oleh Rael mentah-mentah, dan bersikeras untuk bertarung bersama Bima dan yang lainnya.
" Aku tidak mau kak, dengan kekuatanku yang sekarang, aku yakin bisa mengalahkan monster itu!"
" Sudah kubilang kau harus berlindung bersama orang-orang!" Tegas Santika.
" Kakak tau sendiri kan, dengan kekuatanku kita bisa mengalahkan mereka dengan mudah, dan degan begitu nyawa yang terselamatkan akan bertambah!"
" Sudah cukup kita kehilangan orang tua kita Rael, aku tidak ingin kehilangan keluarga lagi seperti sebelumnya!"
Dengan perkataan yang telah Santika lontarkan membuat Rael menjadi termenung untuk sesaat, dan jantungnya pun mulai berdetak dengan kencang hingga sebuah ilusi pun tercipta seperti saat dirinya masih didalam Nirwana.
__ADS_1
Ilusi itu memperlihatkan orang-orang yang sedang menatap Rael dengan tatapan tak mengenakkan, bahkan ilusi tersebut seolah-olah sedang menyalahkan Rael atas insiden kecelakaan yang membuat kedua orangtuanya meninggal saat itu juga.
Pada saat hinaan dan makian terlontarkan dari mulut orang-orang tersebut, Santika akan selalu memeluk Rael dan menutup telinganya rapat-rapat.
" Tenanglah Rael, meskipun orang-orang akan mengatakan sesuatu hal yang buruk kepadamu, akan selalu ada diriku di sisimu apapun masalah yang menimpamu saat ini, tak apa Rael kau tidak harus memaksamu untuk tidak menangis, meskipun kau seorang laki-laki dirimu juga berhak untuk menangis semau mu."
" Jadi janganlah kau mengemban masalahmu seorang diri, jangan merasa malu untuk meminta tolong kepada orang lain, janganlah kau merasa dirimu kuat untuk menahannya, karena kami pasti akan berusaha untuk membantumu, meskipun itu hal remeh sekalipun kami akan membantumu apapun masalahnya jadi tolong jangan memaksakan dirimu terlalu jauh Rael."
Semua ucapan yang dikatakan Santika membuat emosi Rael menjadi semakin reda, ilusi yang dilihat oleh Rael pun ikut memudar dan perlahan kembali seperti sedia kala.
Saat Bima dan yang lainnya sedang kesusahan untuk melawan para monster, Rael yang tangannya telah berubah lantas menyerang salah satu monster dan membuatnya terlempar kearah monster yang lainnya.
Namun cakar tersebut hanya bisa mengenai lengan kirinya dan menghancurkan sebuah gelang, serangan tersebut berhasil dicegah oleh Rael dengan menarik paksa monster itu kembali ke posisinya semula.
Saat Rael lengah, monster yang ditangani olehnya berlari kerah gelang yang dipakai oleh Arfa sebelumnya dan lantas menghancurkannya.
Setelah gelang tersebut hancur, monster itu pun segera berlari mengarah salah satu bawahan Arfa yang tengah berlindung bersama dengan orang-orang.
Rael pun mengejarnya dengan sekuat tenaga hingga dirinya mulai kehabisan nafas, saat monster itu ingin menyerang bawahan Arfa tersebut, dirinya pun lantas menggunakan seseorang untuk dijadikan sebuah perisai daging agar dirinya selamat dari serangan monster itu.
Namun hal tersebut berhasil dicegah oleh Rael dan memerintahkan bawahan Arfa itu untuk segera melepaskan gelang yang dia pakai dan membuangnya jauh-jauh dari tempat ini.
__ADS_1
Semua bawahan Arfa pun mengikuti perintah Rael dan membuang gelang itu kearah luar benteng, ketiga monster pun itu berlari kearah gelang tersebut berada.
Arfa yang sedang terluka berusaha untuk pergi dari benteng Orion dengan langkah yang tertatih-tatih.
Saat dirinya berhasil berjalan beberapa meter dari gerbang keluar, monster yang sebelumnya mulai melihat Arfa dengan tatapan yang haus akan darah.
Karena merasa lapar, ketiga monster itu pun segera menyerang Arfa dan menyeretnya masuk kedalam hutan.
Rael pun secara kebetulan melihat Arfa yang tengah diseret oleh monster itu, dan Arfa pun segera meminta pertolongan kepadanya dengan berteriak sekuat tenaga.
Namun tanggapan yang Arfa terima hanyalah ketidak pedulian dengan tatapan merendah tergambarkan di wajah Rael yang tertutup oleh sebuah bayangan.
" Oi... Rael, apa kau melihat Arfa, sedari tadi aku mencarinya dan tidak ketemu." Ujar Bima.
" Entahlah, aku pun belum melihatnya terakhir kali."
" Begitu yah, meskipun Arfa berhasil kabur tapi setidaknya kita bisa mendapatkan informasi dari para bawahannya." Ucap Bima.
Setelah pertarungan telah usai, mereka semua kembali membereskan semua kekacauan yang telah terjadi.
>Bersambung...
__ADS_1