Host Infection

Host Infection
Bab 67 Garda depan


__ADS_3

...***...


Sehari setelah surat ancaman dari Dhafi tiba, seluruh pasukan Orion berada dalam keadaan siap siaga.


Pasukan telah menjaga benteng selama dua puluh empat jam, sementara itu para warga membangun sebuah bunker untuk melindungi para lansia, wanita dan anak-anak.


Karena keadaan yang tegang, seluruh warga dihimbau untuk tidak pergi keluar dari benteng sepenting apapun.


" Sekarang tempat ini terasa seperti benteng militer saja."


" Sebagai pemimpin koloni ini, aku harus melakukan segala cara agar orang-orang dapat melihat kembali hari esok, ngomong-ngomong apa adik kecilku ini sudah siap melawan Dhafi?"


" Hah... Entahlah, aku merasakan sesuatu hal yang buruk akan terjadi saat Dhafi menyerang, karena itulah aku masih sedikit takut jika keputusanku salah."


" Tenang saja, itu normal kok."


" Tetap saja, jika aku gagal apa yang harus kulakukan selanjutnya, bagaimana jika orang-orang menyalahkan ku jika diriku tidak dapat menyelamatkan anggota keluarganya?"


" Hei, jangan kau memikirkan hal tersebut, lakukanlah sesuai apa yang kau inginkan, janganlah kau pedulikan bagaimana orang-orang melihatmu, yang pasti buktikanlah kalau kau tidak seperti apa yang mereka bayangkan."


" ... Sepertinya benar apa yang kakak katakan."


" Baguslah, jika kau luang bisakah dirimu membantu Bima dan yang lainnya membawa barang-barang ke bunker?"


" Ya, akan kulakukan."


" Berhati-hatilah Rael."


Bunker yang mereka bangun bersama-sama kini sudah hampir selesai, yang kurang hanyalah persediaan makanan dan alat-alat pertolongan pertama.


Secara bergantian Bima dan Aria membawa beberapa kardus yang berisi makanan dan disimpan didalam rak, tak lama setelahnya Rael datang dan ikut membantu Bima membawakan barang-barang tersebut.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian, disebuah menara pengintai terdapat seseorang yang tengah mengawasi area sekitar menggunakan teropong.


" Hei sobat, sekarang waktunya berganti shift."


" Tunggu sebentar, aku melihat sesuatu yang aneh."


" Sesuatu yang aneh? Coba kulihat."


Mereka melihat pohon-pohon yang ada di hutan sendang bergoyang bahkan saat itu tidak ada angin kencang yang dapat menggoyangkannya, melihat yang aneh tersebut mereka berdua melaporkannya kepada Santika dan membunyikan sirine tanda bahaya.


" Ayo semuanya, segera masuk kedalam bunker!"


Seluruh orang panik dan berlarian menuju bunker dengan berdesak-desakan, salah satu orang mengarahkan para warga untuk teratur, mereka memprioritaskan para lansia dan anak-anak untuk masuk terlebih dahulu.


Namun disaat para warga tengah berdesak-desakkan, seorang anak kecil secara tidak sengaja menjatuhkan bolanya karena tersenggol seseorang.


Bola itu menggelinding cukup jauh dari anak itu berada, seorang ibu yang bersamanya sempat lengah dan melepaskan genggaman tangannya dari anak itu.


" Segera bersiap diposisi masing-masing, kita sebentar lagi akan berhadapan dengan bahaya yang sangat amat besar melebihi apa yang pernah kalian rasakan, sekarang kalian bersiaplah menjadi pahlawan!" Tegas Santika.


" Ya kami siap!" Sentak seluruh prajurit.


Pohon-pohon yang didalam hutan tersebut mulai tenang, semua orang yang telah bersiap-siap merasakan badai yang akan datang setelah keheningan tersebut.


Ketika seluruh orang dalam kondisi tegang, didalam hutan yang gelap terdengar suara langkah kaki beramai-ramai berlari menuju kearah benteng.


" Semuanya, bersiap!" Tegas Santika.


Suara itu semakin mendekat dengan sangat cepat, tanah mulai bergetar akibat jumlah monster yang berlari jauh lebih banyak dari apa yang mereka bayangkan.


" Semuanya... Serang!!"

__ADS_1


Seluruh prajurit mengerahkan segala usaha untuk membasmi dan mempertahankan benteng yang sudah seperti rumah bagi mereka, dengan bantuan tim Air Softgun membuat persentase bertambah seiring berjalannya pertempuran.


Namun setelah beberapa waktu pertempuran berjalan, peluruh warna yang disiapkan sudah mulai menipis dan akhirnya habis karena jumlah monster yang sangat banyak.


" Kapten, kami sudah kehabisan peluru sekarang!"


" Sial, ini melebihi ekspektasi kita, sekarang kita tidak punya pilihan lain, segera panggil Rael untuk membantu garda depan, dan perintahkan salah satu orang untuk mengambil kembali peluru yang ada di gudang!"


" Siap Kapten!"


Rael pun tiba ditempat yang Santika bicarakan, Rael memahami apa yang terjadi diluar benteng sehingga terpaksa meminta bantuan dirinya untuk bertempur.


Didalam ruangan tersebut Rael mempersiapkan segala peralatan yang ia buat sendiri dari jauh-jauh hari, peralatan tersebut ialah sebilah pedang kecil, dan sepatu dengan bilah pisau rahasia.


Gerbang kecil mulai terbuka, Rael menarik nafasnya agar dapat menenangkan dirinya dari rasa takut.


Setelah gerbang sepenuhnya terbuka, tanpa banyak bicara ia berlari dengan tangan kanannya yang berubah bentuk seperti monster.


Dengan masuknya Rael kedalam medang perang, ia mampu memukul mundur pihak lawan dan menghabisi sebagian besar monster yang terus berdatangan tanpa henti.


Sementara itu di suatu tempat yang tidak dikenal, Dhafi dan Jaka tengah mengamati situasi dari arah kejauhan.


" Wah... Aku tidak percaya kau mempunyai anjing buas sebanyak ini, bagaimana kau mengumpulkan mereka?" Ucap Dhafi.


" Butuh waktu lama untuk mengumpulkan mereka semua, dengan begini tujuanku akan selangkah lebih maju menuju kesuksesan yang akan ku capai!"


" Heh, dasar orang gila."


Sekarang situasi warga Orion tengah tidak karuan, dengan monster yang banyak ini bisakah Rael memusnahkan mereka.


>Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2