
"Jauhi Nona kami atau Lo akan merasakan akibatnya!" ancam beberapa pemuda pada Raka. " Dengar itu! Dasar gembel, pengen kaya kok macari anak juragan! Pengen kaya itu kerja!"
Dahi Raka berkerut dalam, menerka maksud ucapan tiga laki-laki berbadan kekar di hadapannya. Tidak ada angin, tidak ada hujan tiba-tiba langkah kakinya dihadang oleh mereka. Yang lebih membuatnya bertanya-tanya adalah, larangan mendekati nona mereka. Jangan lupakan hinaan mereka tadi!
Sejak kecil Raka sudah terbiasa bekerja keras untuk mewujudkan mimpinya. Di bawah didikan sang ibu dan juga ayah angkatnya, dia bisa menjadi anak yang mandiri di usia dia yang terbilang sangat muda. Saat usia empat belas tahun, Raka sudah bisa membuat orang tuanya bangga akan prestasinya.
Raka bisa mewakili kabupatennya dalam lomba bela diri. Selain itu, sewaktu masih duduk kelas empat SD dia juga pernah mendapatkan hadiah senilai dua puluh juta atas hafalan yang dikuasainya. Semua hadiah itu, Raka gunakan untuk membuka usaha kecil-kecilan yang dikelola oleh orang kepercayaan sang ayah angkat.
Jika ditanya dimana ayah angkatnya saat ini, Raka tidak bisa menjawab karena memang sudah tiga tahun sang ayah angkat meninggalkan kota itu untuk mengadu nasib di perantauan. Bahkan saat ibu Raka meninggal, ayah angkat tersebut tidak datang.
Raka tidak tahu maksud ketiga orang yang menghadangnya tadi. Selama ini tidak ada teman perempuan yang dekat dengannya. Hanya satu orang murid Nuswantara yang selalu mengejar dirinya, Clara Andhara.
"Apa mungkin mereka tadi orang suruhan orang tua si Oneng? Rasanya mustahil, dekat dengan dia saja tidak. Selama ini yang ada malah risih, saat Clara selalu saja menempel bak lintah," batin Raka.
Sepanjang perjalanan pulang menuju rumahnya, pikiran Raka sibuk berkelana menebak siapa yang harus dia jauhi. Jangan sampai dia salah orang nantinya.
Sementara itu, Shofie dipanggil oleh Kepala Sekolah dan pemilik yayasan. Terkait dengan perkataannya tentang ketiga murid kesayangan di SMA Nuswantara.
"Kamu pikir kamu siapa? Berani sekali menghakimi penerus yayasan di sini. Kamu itu tidak lebih hanya seorang pekerja yang mencari nafkah di yayasan ini. Seharusnya kamu cukup tahu diri untuk tidak mengusik kehidupan pribadi pemilik yayasan maupun penerusnya."
"Mereka itulah yang menggaji kamu, sehingga kamu bisa makan. Kalau tidak bekerja di sini, kemana lagi kamu akan bekerja? Sudah bagus kamu diterima kerja di sini, malah kebanyakan tingkah!" Pak Edward selaku Kepala Sekolah di SMA Nuswantara memarahi Shofie, bahkan juga merendahkan satu-satunya anak perempuan pemilik Wijaya Mall.
"Apa anda memiliki dendam pribadi dengan anak saya? Sampai hati anda mengatakan bahwa anak tersebut hanya terlihat baik di penampilan saja." Kini giliran pemilik yayasan yang angkat bicara.
__ADS_1
Shofie diam saja bukan karena menerima begitu saja penghinaan yang ditujukan pada dirinya. Toh, dia mengeluarkan pendapatnya pun dinilai salah. Diam lebih baik dari pada masalah merembet kemana-mana.
"Sebelumnya saya ingin bertanya pada Bapak Pemilik Yayasan, apa yang seharusnya guru lakukan saat murid-muridnya berlaku kurang ajar kepada guru tersebut? Mohon petunjuknya demi tegaknya keadilan," ucap Shofie dengan tenang.
Rahman Bagaskara terkesiap mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh guru baru itu. Dia tidak menyangka jika guru yang sedang disidangnya mengajukan pertanyaan yang isinya menjebak. Dia tahu, sangat tahu kemana arah pertanyaan itu.
"Ekhem ... sebagai guru yang baik, seharusnya anda bertanya terlebih dahulu pada anak tersebut motifnya apa. Jika memang dia bermaksud melecehkan harus ditindak tegas. Siapa pun itu sama saja, tidak ada pembeda di antara murid di Nuswantara ini," cicit Rahman Bagaskara selaku pemilik yayasan, pandangan matanya tertuju pada profil keluarga Kusuma Wijaya.
Yayasan pendidikan yang dimilikinya masih jauh di bawah yayasan pendidikan milik keluarga Kusuma. Betapa terkejutnya dia saat mencari profil Shafiyah Kusuma Wijaya, ahli waris yayasan pendidikan Kusuma. Walaupun anak Alexander Kusuma Wijaya ada empat, tetapi Shafiyah lah yang ditunjuk sebagai ahli waris yayasan pendidikan Kusuma.
"Sebagai seorang pendidik itu harus berlaku adil, agar para penerus bangsa nantinya bisa menjadi pemimpin yang adil. Jika ingin berlaku adil saja dihalangi, bagaimana nanti nasib para penerus bangsa?"
Rahman Bagaskara hanya bisa menelan ludah dengan kasar. Kata-kata yang terlontar dari penerus Kusuma memang tak diragukan lagi. Rahman Bagaskara merasa heran sekaligus was-was dengan pilihan Shofie mengajar di tempatnya.
"Pak Edward bisa tinggalkan kami sebentar?" ucap Rahman pada Kepala Sekolah itu.
Pak Edward pun dengan patuh meninggalkan pemilik yayasan dengan guru baru itu. Dia tidak hanya meninggalkan ruangan itu, tetapi meninggalkan lingkungan sekolah karena jam kerja sudah habis.
Raka berhati-hati jika berbicara dengan temannya yang lawan jenis di lingkungan sekolah. Bukan karena takut akan ancaman itu, tetapi karena tidak ingin ada keributan. Selagi bisa menghindar dari masalah, kenapa memancing masalah.
"Kak Raka sombong banget perasaan sejak dekat sama guru baru itu," ucap Clara di depan Raka saat mereka bertemu di kantin.
"Iya, dong! Siapa sih yang nggak mau dekat sama guru? Apalagi gurunya cewek, masih muda cantik lagi. Jadi, jaga jarak deh sama anak perempuan," sahut teman Clara yang juga mengidolakan Raka.
__ADS_1
Raka diam saja, tidak mau menanggapi suara sumbang para adik kelasnya. Jika ditanggapi malah akan semakin menimbulkan masalah baru. Padahal dia menghindari siswa perempuan bukan karena guru cantik itu, melainkan karena ancaman tempo hari.
"Do'i diam saja, Cing! Berarti rumor kalau dia tidak mau dekat sama ngobrol sama kita-kita karena menjaga perasaan bu guru, itu benar adanya," ujar salah seorang siswa.
Raka yang sudah tidak tahan lagi, akhirnya buka suara.
"Gue sejak dulu juga nggak begitu dekat dengan kalian. Kalian menyapa gue jawab. Bukan berarti kalian berhak menentukan jalan hidup gue! Gue ke Miss Shofie sama kek ke guru lain. Jadi, jangan membuat statment sendiri-sendiri yang merugikan orang lain!"
Sebenarnya gosip kedekatan Raka dengan guru bahasa Inggris itu, dikarenakan ungkapan perasaan Raka pada Shofie saat pulang sekolah beberapa hari yang lalu.
"Miss, bisa minta waktunya sebentar? Ada yang mau saya tanyakan," tanya Raka saat pulang sekolah. Dia sengaja menunggu Shofie di depan ruang guru, untuk menyampaikan isi hatinya.
"Masalah pelajaran? Memang kamu masih ada yang belum paham? Kenapa tidak bertanya di kelas saja tadi?" tanya Shofie bertubi-tubi.
"Kalau Miss nggak ada waktu lain kali saja. Permisi," sahut Raka, sedikit menundukkan kepala dan badannya.
"Eh, tunggu! Kita bicara di taman saja. Bagaimana?"
"Boleh."
Akhirnya, keduanya duduk di taman tak jauh dari ruang guru.
"Apa yang ingin kamu tanyakan?"
__ADS_1
"Arti I love you, Bu Guru, apa Miss?"