I Love You, Ibu Guru

I Love You, Ibu Guru
Part 23


__ADS_3

"Kalian berani-beraninya menikahkan Shofie tanpa sepengetahuan aku! Kalian anggap aku ini apa, hah?" teriak Alex penuh amarah.


"Kamu sebagai orang tua seharusnya bisa mencegah pernikahan itu! Tapi kamu malah mendukung mereka. Kamu anggap aku ini apa?" Kemarahan Alex semakin menjadi, dia terus menunjuk-nunjuk pada Ary. Menyalahkan sang istri yang telah memberikan restu pada Shofie dan Raka.


Ary hanya menunduk merasa bersalah telah melawan sang suami. Itu semua dia lakukan karena tidak ingin anaknya terjerumus dalam kubangan dosa. Membiarkan anak berpacaran sama saja menyiapkan kayu bakar di neraka.


Jika anak perempuan melakukan dosa, maka ayah dan saudara laki-lakinya akan terseret ke neraka. Oleh karena itu, Ary lebih baik menikahkan Shofie dari pada suami dan semua anak-anaknya masuk neraka.


"Maaf," ucap Ary lirih. Dia yang dulu begitu diagung-agungkan oleh Alex, tidak sekali pun dia dibentak sang suami. Kini, setiap kali pulang dari Singapura perangainya menjadi kasar.


"Apa maafmu bisa mengembalikan keadaan seperti semula?" balas Alex penuh cibiran.


"Daddy, Mommy sudah berusaha berulang kali menghubungi Daddy. Kami juga menghubungi Daddy, tapi daddy tidak mengangkat panggilan kami. Walau pun selelap apa pun kami, kami pasti mendengar panggil- ...."


"Kamu menyalahkan daddy, hah?" bentak Alex tidak mau disalahkan.


"Bukan menyalahkan, hanya merasa heran. Apa saking capainya Daddy bekerja, sehingga tidurnya lelap sekali seperti orang pingsan," ujar Nicho dengan tutur kata yang lembut.


Nicho mewarisi semua yang Ary miliki, lemah lembut dalam bertutur kata, mudah iba pada orang lain, tetapi sangat manja pada orang tua. Sungguh benar-benar anak dambaan setiap keluarga.


"Sama saja itu dengan mencurigai daddy," ujar Alex kesal.


Ary angkat bicara ketika suasana sudah mulai tenang.

__ADS_1


"Tidak perlu marah-marah, semua yang sudah terjadi kita jalani saja. Ikuti kemana air mengalir," saran Ary seraya berdiri meninggalkan ruang keluarga.


Badan Ary terasa lelah karena baru saja tiba dari Semarang. Dia buru-buru pulang setelah mendapat telepon dari sang suami yang pulang hari ini. Jika tahu akan menghadapi amarah suaminya, dia pasti memilih tinggal bersama anak bungsunya.


Sepeninggal Ary, Alex langsung menghubungi orang suruhannya untuk memisahkan Shofie dengan Raka. Dia tetap tidak mau memiliki menantu orang miskin. Baginya, laki-laki miskin tidak bisa membahagiakan anak perempuan satu-satunya itu.


Di Semarang, Raka sedang menanti namanya dipanggil oleh wali kelas. Saat ini sedang acara pembagian rapot. Mayoritas orang tua murid yang mengambil laporan nilai siswa. Namun, hanya Raka yang tidak membawa orang tuanya karena sudah meninggal.


Dengan jantung berdebar-debar, Raka duduk menunggu di antara para wali murid dan teman-temannya. Raka takut nilainya turun dan beasiswa pun terlepas. Siapa pun pasti takut beasiswa dicabut, apalagi anak yatim piatu seperti Raka.


Semua nama teman sekelas Raka sudah dipanggil semua, tetapi mereka belum ada yang diizinkan untuk pulang. Begitu juga dengan para orang tua/wali murid. Tinggal nama Raka satu-satunya murid yang belum dipanggil.


"Di antara kalian siapa yang mendapat peringkat satu sampai tiga, silakan berdiri di depan!" ucap Wali Kelas 12 IPA 2.


Dua siswa berdiri di atas undakan tangga yang biasa untuk pijakan ketika menulis di papan tulis.


Tiba-tiba di papan tulis terpampang dengan jelas laporan nilai siswa atas nama Raka Pradipta. Nilai yang begitu sempurna. Suara riuh rendah tepuk tangan dan pujian menggema di kelas 12 IPA 2 itu, sehingga mengundang perhatian Shofie yang kebetulan melintas di depan kelas itu.


"Selamat untuk ananda Raka Pradipta atas prestasi yang telah diraih, pertahankan prestasimu!" pesan sang Wali Kelas.


Mata Shofie berkaca-kaca karena rasa haru dan bangga sekaligus. Padahal saat ujian berlangsung, Raka sedang menghadapi masalah. Namun, pemuda itu bisa dengan mudah mengerjakan semua soal.


Shofie melanjutkan langkahnya untuk pulang karena tidak ada lagi yang dikerjakan. Selain itu, kedua orang tuanya juga sudah menantinya di rumah. Sebelum keluar dari lingkungan sekolah, Shofie mengirimkan pesan pada Raka agar datang ke rumahnya.

__ADS_1


Semua siswa dan wali murid sudah boleh pulang. Tinggal Raka dan sang wali kelas di kelasnya saat ini. Raka menyimpan rapotnya ke dalam tas, lalu merogoh saku celananya untuk melihat dan membaca pesan yang masuk.


Pemuda itu bergegas lari keluar kelas, setelah memastikan tidak ada lagi barang yang tertinggal. Pikirannya tidak tenang karena akan bertemu dengan sang mertua. Banyak sekali pertanyaan yang timbul dalam benaknya saat ini.


"Ahh, semoga ketakutanku tidak terjadi dan semuanya berjalan baik-baik saja."


Raka mengendarai motornya seperti orang habis melihat se*an. Hanya butuh waktu tujuh menit, Raka tiba di depan rumah kontrakan Shofie. Pemuda itu langsung melepas helm dan membuka jaket usai melepas standar samping motornya.


Dengan memberanikan diri, Raka mengetuk pintu yang tidak tertutup sepenuhnya. Terdengar suara laki-laki penuh amarah dari dalam rumah, membuat nyali Raka menciut seketika. Namun dia tetap melanjutkan langkah untuk menjemput sang istri.


"Baru pulang?" tanya Shofie sembari membuka pintu lebar-lebar. Raka mengangguk sambil tersenyum.


"Selamat ya, kamu hebat banget bisa dapat juara!" puji Shofie, mengulurkan tangan untuk menyalami sang suami.


Keduanya tampak canggung karena jarang berinteraksi dan tidak tinggal satu atap. Walau pun mereka sudah menikah selama empat hari, mereka belum pernah tidur satu kamar. Pengantin baru itu masih dalam proses adaptasi dan juga menunggu restu dari ayah Shofie.


Raka menekan egonya untuk segera menjadikan Shofie sebagai miliknya yang utuh. Hal itu dilakukan tidak ingin membuat Shofie merasa tidak nyaman saat bersamanya.


"Terima kasih, Sayang. Nilai ini aku persembahkan buat istriku tercinta," ucap Raka seraya menyerahkan map yang berisi laporan nilainya.


Shofie mengajak Raka duduk, lalu membuka map itu. Membaca satu persatu setiap kalimat yang tertera dalam lembaran kertas yang dipegangnya. Selama membaca, decak kagum tak berhenti keluar dari bibir gadis cantik itu.


Decak kagum Shofie sampai terdengar ke kamar kedua orang tuanya, sehingga Alex dan Ary penasaran. Kedua orang tua itu memutuskan keluar kamar untuk melihat apa yang dilakukan oleh anak perempuan satu-satunya

__ADS_1


"Kamu! Sudah berapa kali saya katakan? Jauhi anak saya! Kamu dengar itu?" teriak Alex murka kala melihat Raka duduk di sofa yang sama dengan anak kesayangannya.


"Daddy, apa-apaan sih? Dia kesini mau ketemu sama Daddy dan Mommy. Kenapa diusir?"


__ADS_2