
Shofie sangat bahagia mendengar kabar bahwa ibunya akan pulang besok siang. Berhubung sang suami masih menjalani ujian akhir, dia pulang ke Jogja bersama sopir yang dikirim oleh Nathan. Rencananya, selesai ujian Raka akan langsung menyusul karena besok adalah hari terakhir ujian.
"Ka, besok harus langsung nyusul ke Jogja begitu selesai ujian. Aku nggak mau tahu!" pinta Shofie sebelum berangkat.
"Yank, bisa nggak sih kamu manggil aku yang mesra gitu? Masak sama suami manggil nama aja, nggak sopan tahu!" protes Raka karena lagi-lagi sang istri memanggilnya hanya nama saja.
"Daddy aja nggak protes dipanggil nama saja sama mommy. Kenapa kamu protes?"
"Aku bukan daddy dan tak akan sama. Jadi, jangan disamakan!"
"Dimana bedanya, Raka?" tanya Shofie dengan nada sedikit tinggi.
"Tetap saja beda, Yank. Dari segi apapun kami berbeda, bahkan dari definisi cinta pun berbeda. Dia cinta pertama kamu dan aku cinta terakhir kamu. Mengerti 'kan maksudku?"
"Tetap saja sama menurut aku. Kalian sama, sama-sama laki-laki yang aku cintai," kekeuh Shofie.
"Beda, Sayang. Daddy adalah ayahmu, mahram karena ada hubungan darah. Sedangkan kita menjadi mahram karena ikatan pernikahan."
"Ya, udah. Mau dipanggil apa?" Akhirnya Shofie memilih untuk mengalah dari pada berdebat terus dengan suami berondongnya.
"Apa aja, yang penting jangan nama atau adik," jawab Raka cepat dengan wajah berseri.
"Mas, sayang, abang, hubby? Atau zaujan?" Shofie memberi berbagai pilihan pada Raka.
__ADS_1
"Sayang aja kali, ya? Biar sama gitu, kelihatan kompak kalau panggilannya sama.'
Shofie dan Raka pun akhirnya sepakat untuk sama-sama memanggil sayang mulai saat itu.
Shofie berangkat ke Jogja setelah sang suami berangkat sekolah. Sebelumnya, dia membereskan rumah itu terlebih dahulu karena sampai sekarang Raka tidak mau memakai pembantu.
Saat pulang sekolah, adik kelas Raka yang centil itu sudah duduk manis di atas motornya di parkiran. Gadis itu sengaja menunggu kepulangan sang kakak kelas agar bisa ngobrol. Raka berdecak kesal melihat hal itu.
"Hai, Kak! Bagaimana ujiannya tadi, lancar?" sapa Andin sambil mendekati Raka bak seorang kekasih.
Tanpa menjawab sapaan itu, Raka berjalan mendekati motornya lalu menghidupkan mesin motor itu. Tanpa diduga, Andin langsung duduk manis di belakangnya. Hal ini membuat Raka langsung mematikan mesin motor dan langsung turun.
"Turun atau gue panggil anak-anak buat nyeret Lo turun dari motor gue!" perintah Raka tanpa mau menyentuh sang adik kelas, tangannya menunjuk ke arah samping menandakan dia ingin gadis itu menjauhi dirinya.
"Yaah, pelit! Padahal cuma pengen nebeng aja nggak boleh," gerutu Andin sambil berjalan menjauh dari Raka.
Tanpa menyahut gerutuan Andin, Raka langsung naik ke motornya dan menghidupkan mesin.
"Banyak tuh yang kosong boncengannya, Lo tinggal pilih yang mana," celetuk Raka sebelum melajukan motornya dengan kecepatan sedang.
Andin menghentakkan kakinya ke tanah karena kesal. Bibirnya semakin maju setelah sang pujaan hati berlalu pergi begitu saja tanpa ada basa-basi mencarikan tumpangan untuknya.
Raka tidak langsung pulang ke rumah, dia memilih pergi ke kafe Restu, kafe pertamanya. Laki-laki itu tidak ingin di rumah sendiri, dia butuh hiburan agar tidak stress menghadapi ujian akhir. Selain itu, agar tidak merasa kesepian di rumah sendirian.
__ADS_1
Kedatangannya disambut bahagia oleh para karyawan di kafe itu. Apalagi sudah lama sang bos tidak datang ke sana. Pak RT sudah tidak bisa membantu Raka lagi mengurus kafe karena ingin fokus pada usahanya sendiri.
Raka tampak puas setelah berkeliling melihat lokasi kafe yang semakin bersih, padahal pengunjung semakin banyak. Para karyawannya bisa diandalkan. Semua itu juga tidak lepas dari kerja keras Anto dan Fathur, sahabat rasa saudara Raka.
Selepas Maghrib, Raka meninggalkan kafe itu setelah semua dirasa baik. Dia sengaja pulang sehabis Maghrib agar nanti waktu belajarnya lebih lama.
Keesokan paginya, seperti biasa Shofie aman membangunkan sang suami agar tidak kesiangan. Raka pun dengan patuh mengikuti setiap apa yang dikatakan oleh istrinya, tanpa bantahan sama sekali.
Ujian kali ini hanya sampai jam sepuluh saja. Raka langsung pulang karena sudah ada janji dengan sang istri dan keluarganya. Namun, sepertinya nasib baik tidak berpihak padanya.
Dalam perjalanan pulang dari sekolah, dia dihadang oleh segerombolan anak SMA Nuswantara. Raka terpaksa berhenti untuk menghindari tabrakan. Sayangnya dia salah, begitu berhenti salah satu dari mereka langsung mengayunkan balok kayu ke arah punggungnya.
Raka tidak bisa mengelak karena kejadian itu begitu tiba-tiba. Badannya tersungkur ke depan hingga tertunduk.
*
*
*
Mampir yuk ke sini!
__ADS_1