
"Apakah tak ada kata maaf untukku?" tanya Alex dengan perasaan hancur. Lelaki itu tidak pernah membayangkan istrinya akan melayangkan gugatan cerai di pengadilan agama.
Raka dan Shofie hanya bisa diam membisu melihat interaksi ibu dan ayah di depan matanya. Keduanya merasa harap-harap cemas akan ada adu mulut atau adu jotos, mengingat sang ibu sangat mahir bela diri walau di usia tak lagi muda.
Ary tampak berjalan menuju meja kerja yang tidak jauh dari meja televisi di ruang keluarga. Wanita paruh baya itu mengambil selembar kertas HVS yang masih baru. Dia membawa kertas itu dengan sangat hati-hati ke hadapan Alex.
"Lihat kertas ini. Saat ini kertas ini ibarat awal pernikahan kita, lalu datang mama dengan seorang perempuan untuk menjadi menantunya. Ingat? Padahal waktu itu kamu sudah beristrikan aku, bahkan aku baru saja melahirkan anak laki-laki kembar." Ary menghentikan ucapannya, tetapi tangannya meremas sudut kertas itu.
Selanjutnya Ary terus berkata sambil meremas setiap sudut itu. Setiap perkataan merupakan luka yang dia dapatkan selama menikah dengan Alex. Terakhir dia menggulung kertas itu dalam genggamannya lalu meremas kuat kertas itu sambil berkata.
"Kamu berbagi peluh dengan wanita yang tidak memiliki ikatan pernikahan denganmu. Kamu lakukan itu di hadapan anakmu sendiri! Sekarang seperti inilah keadaan pernikahan kita!" Ary menunjukkan kertas dalam genggamannya.
"Tidak! Ini tidak hanya kondisi pernikahan itu tapi juga hatiku. Lalu pertanyaannya, bisakah kertas ini seperti semula? Putih bersih mulus tanpa adanya bekas."
Alex meneteskan air matanya setiap kali Ary menunjukkan kesalahan-kesalahan yang pernah diperbuatnya. Menyesal. Itulah yang dia rasakan saat ini.
"Kamu sudah dewasa dan berakal. Seharusnya kamu tahu, apa yang dilakukan oleh ibumu itu dosa. Tidak hanya di keyakinanku saja, dalam keyakinan agamamu pun menyatakan itu dosa. Tapi kenapa tetap kamu lakukan?"
Ary berjalan menuju jendela yang tidak jauh dari tempatnya berdiri.
"Semua agama tidak mengajarkan kita untuk menyakiti pasangan hidup kita. Aku tidak mempermasalahkan jika kamu ingin kembali pada keyakinanmu. Tapi kamu sudah terang-terangan mengkhianati pernikahan ini. Apa aku harus diam sampai maut menjemput?" teriak Ary bertanya apa yang harus dia lakukan.
Alex bersimpuh di kaki Ary, lalu memeluk kaki jenjang itu dengan air mata berderai.
"Maafkan aku. Maaf...."
__ADS_1
Alex tetap memohon maaf dengan menangis sambil memeluk kaki Ary, sedangkan wanita itu hanya diam tak bergeming sama sekali. Tidak peduli dengan Alex yang terus meraung dan menangis memohon maaf.
Melihat bagaimana ibunya menceritakan satu persatu kesakitan yang dia dapatkan selama menikah dengan sang ayah, serta bagaimana tangis sang ayah yang mengiba. Shofie mendekati keduanya, lalu memeluk sang ibu dengan air mata mengalir deras di pipinya.
"Mommy hebat! Mommy kuat! Mommy pasti bisa melewati ini semua. Allah tidak akan tidur melihat hambanya tersakiti begitu lama," ucap Shofie di sela isak tangisnya.
Raka langsung mendekati istrinya yang menangis memeluk ibunya. Dia tidak ingin melihat sang istri bersedih karena takut berpengaruh pada anaknya yang ada dalam kandungan.
"Sayang, jangan menangis lagi! Kasihan dedek bayinya pasti ikut sedih. Kita berdoa saja yang terbaik untuk mommy dan daddy," ucap Raka penuh kelembutan.
"Daddy jahat, Raka. Kamu jangan jahat seperti daddy. Kamu harus janji!" jerit Shofie seraya gantian memeluk sang suami dengan erat.
Jeritan Shofie yang sangat kuat itu sampai terdengar di kamar Pak Chandra sehingga beliau pun penasaran dengan apa yang terjadi di ruang keluarga. Beliau meminta diantar keluar dari kamarnya. Dengan berjalan tertatih dan dibantu oleh Anggita serta istrinya Pak Chandra mendekati keluarga bekas menantunya itu.
Shofie mengajak Raka duduk di depan sang kakek. Kemudian, dia menceritakan apa yang dia ketahui baru saja. Semuanya dia ceritakan tanpa mengurangi atau menambah sehingga kebenarannya terjamin.
Usai mendengar cerita dari cucu perempuan kesayangannya, tiba-tiba Pak Chandra memegang dadanya yang sesak.
"A-apa betul itu, Ary?" tanya Pak Chandra terbata karena dadanya begitu sesak.
Ary bergegas mendekati mantan mertua yang sudah dianggapnya sebagai ayah sendiri. Wanita itu bersimpuh di kaki Pak Chandra memohon maaf karena telah mengecewakan laki-laki lansia itu.
"Anggita ambil stetoskop!" teriak Ary sembari menyandarkan tubuh Pak Chandra pada sandaran sofa, lalu membuka kancing bajunya.
Ary mulai memeriksa mantan mertuanya itu dengan teliti. Setelah selesai memeriksa, dia menyarankan agar Pak Chandra dibawa ke rumah sakit saja.
__ADS_1
"Aku tidak apa-apa. Sekarang selesaikan masalah kalian, aku ingin istirahat di kamar," ucap Pak Chandra lirih yang masih bisa terdengar jelas oleh mereka.
Pak Chandra pun dibawa masuk ke kamar dengan digotong oleh Raka dibantu oleh pekerja di rumah itu.
"Ary, apakah tidak ada lagi maaf untukku?" tanya Alex begitu ruangan itu sepi karena mereka mengantarkan Pak Chandra ke kamarnya.
"Maaf? Aku sudah memaafkan kamu jauh sebelum kamu meminta maaf padaku. Ibarat kertas yang tadi aku tunjukkan padamu, seperti itulah kondisiku saat ini. Memaafkan bisa tetapi bekas itu tidak pernah bisa hilang," jawab Ary dengan gamblang.
"Aku tidak ingin kita pisah. Aku ingin menua bersamamu, bersama anak-anak kita. Aku janji aku tidak akan menyakiti kamu lagi...."
"Aku sudah menopause, lebih baik kamu cari wanita yang bisa melayani kamu setiap saat kamu butuh," potong Ary cepat.
"Aku tidak butuh itu. Aku sudah stroke. Aku hanya ingin kita menua bersama, bahagia sampai maut memisahkan kita," sahut Alex cepat karena dia tahu ke arah mana wanita yang masih dianggap istrinya itu berbicara.
"Kalian harus menikah lagi jika ingin bersama. Aku tidak izinkan kalian bersama tanpa ikatan!" ucap Shofie menimpali ketika mendengar ucapan sang ayah.
"Menikah jika berkeyakinan beda tetap sama Shof. Jadi, lebih baik jalan sendiri-sendiri." Ary tetap pada keputusannya.
"Aku akan ikut keyakinanmu agar kita bisa menikah dan tetap bersama."
"Aku tidak ingin kamu merasa berdosa karena kembali meninggalkan keyakinanmu. Keyakinan bukanlah mainan yang bisa diambil lalu ditinggalkan bila bosan. Sejak dulu aku tidak pernah memintamu untuk mengikuti keyakinanku," ujar Ary dengan dingin, dia benar-benar kesal dengan sikap Alex yang selalu seperti itu sejak dulu.
Alex berjanji bahwa ini terakhir kali dia masuk keyakinan baru dan meninggalkan keyakinan lama. Dia benar-benar tidak ingin berpisah dengan wanita yang telah menemaninya dalam suka dan duka selam puluhan tahun.
"Kak Ary! Papa, Kak!" panggil Anggita panik dari dalam kamar sang ayah.
__ADS_1