I Love You, Ibu Guru

I Love You, Ibu Guru
Part 55


__ADS_3

Sudah satu minggu Ary tinggal bersama keluarga mantan suaminya. Kesehatan Pak Chandra terus menurun, padahal Ary sudah tinggal bersamanya. Walaupun begitu, senyum bahagia tidak pernah pudar dari wajahnya.


Melihat kebahagiaan Pak Chandra, Brandon pamit ke Surabaya untuk mengurus bisnisnya di sana. Laki-laki yang pernah mengelola Rend Comp itu memiliki usaha sendiri yang sukses. Perusahaan yang berkantor pusat di Melbourne itu, kini telah memiliki beberapa anak perusahaan di beberapa negara. (Cerita perjuangan cinta Anggita dan Brandon dapat di baca di karya author dengan judul "Cinta Sendiri")


Anggita dan Ary sama-sama merawat Pak Chandra. Walaupun seorang dokter anak, Anggita bisa mengurus sang ayah dengan sabar dan telaten. Dua dokter itu mengurus sang ayah dengan penuh kesabaran.


"Gibrand apa kabarnya, Git?" tanya Ary saat keduanya sedang menyiapkan makan siang.


"Lagi sibuk nyusun skripsi kak, makanya belum bisa pulang jenguk ompungnya," jawab Gita apa adanya.


"Cepat juga dia, umur dua puluh sudah nyusun skripsi. Salut aku kalau ada anak yang cepet selesai pendidikannya," puji Ary pada keponakannya.


"Si Radit juga lagi persiapan buat ujian. Dua minggu sekali sekolahnya adain try out. Sebenarnya kasihan aku tinggalin dia sendirian di Surabaya. Mau bagaimana lagi? Papa sakit, Mama juga sudah ringkih," cerita Anggita pada sang kakak.


"Ngurus orang tua itu tidak selama kita mengurus anak. Akan ada waktunya kita fokus pada anak lagi. Bukankah kamu sudah lama mengurus mereka, saat ini waktunya kita berbakti pada orang tua," ujar Ary menasehati.


Anak Brandon dan Gita semuanya laki-laki, padahal Gita ingin sekali memiliki anak perempuan. Namun, sepertinya dia harus puas dengan tiga anak laki-laki. Anak bungsunya saat ini masih berusia enam tahun dan tidak terpisahkan dengan sang ibu.

__ADS_1


Kabar sakitnya Pak Chandra sampai juga di telinga Shofie dan Alex. Saat ini Shofie sedang berusaha membujuk sang suami agar diijinkan pergi menjenguk sang kakek.


"Mana ada maskapai yang mengijinkan wanita hamil besar ke kamu gini jadi penumpangnya. Mereka tidak mau ambil resiko penumpangnya mengalami komplikasi dan melahirkan prematur karena tekanan udara yang ada dalam pesawat, berbeda dengan kita saat menginjak bumi," ucap Raka memberi pengertian pada sang istri.


"Ada! Pasti ada. Kalau nggak dicoba dulu mana tahu kalau perempuan hamil tua tidak boleh terbang," kekeuh Shofie pada keinginannya.


Rasa sayangnya pada sang kakek membuatnya bersikeras untuk segera menemui laki-laki lansia yang menyayangi dia dengan tulus tanpa syarat.


Raka akhirnya mengalah, dia menghubungi salah satu outlet maskapai penerbangan untuk memesan tiket. Ternyata maskapai itu mengizinkan Shofie terbang dengan syarat harus berdasarkan persetujuan dokter secara tertulis.


Alex pun tidak mau ditinggal, apalagi dia juga sudah bisa berjalan walaupun menggunakan tongkat. Ayah Shofie itu bersikeras menjenguk orang tua yang sudah menganggapnya seperti anak sendiri, padahal mereka tidak saling mengenal dekat.


"Daddy belum sehat betul, takutnya nanti Daddy kenapa-kenapa di jalan," jawab Raka, tidak ingin mertuanya ikut serta.


"Bilang saja kamu tidak ingin direpotkan oleh tua bangka ini! Aku memang selalu merepotkan kamu, makanya kamu mau ninggal aku di Jogja." Bukan salah Alex yang sudah terlanjur nyaman tinggal bersama menantu laki-lakinya itu.


Raka begitu sayang dan hormat padanya. Tak sekalipun laki-laki yang menjadi menantunya itu menyinggung perasaan, walaupun dia menjadi beban bagi sang menantu.

__ADS_1


Malu. Itu yang dia rasakan karena laki-laki yang ditolaknya dulu sekarang malah mengurusnya dengan penuh kasih dan hormat. Walau kadang sifat tengil sang menantu membuatnya menggelengkan kepala.


Setelah beberapa terlibat adu pendapat, akhirnya Raka memilih menghubungi kedua kakak iparnya. Dia ingin meminta pendapat mereka karena pemuda itu tidak dapat memutuskan sendiri. Takut terjadi sesuatu pada sang mertua, dia yang disalahkan.


Nathan dan Nicholas datang ke rumah Raka setelah ditelepon adik iparnya itu. Sebenarnya mereka melarang, tetapi mereka sangat yakin sang ayah yang keras kepala itu pasti memaksa.


Kedatangan si kembar disambut bahagia oleh Raka dan Shofie. Berbeda dengan Alex, sang ayah. Laki-laki paruh baya itu memasang wajah masam pada anak-anaknya. Dia tidak suka keinginannya untuk bertemu Pak Chandra dilarang.


"Apa salahnya aku ikut menjenguk beliau? Aku sakit, beliau langsung datang menjengukku. Padahal, aku ini bukan siapa-siapanya. Aku telah menyakiti anak kesayangannya tapi dia masih begitu menyayangiku, huhuhu!" Alex menangis tergugu setelah mengeluarkan isi hatinya.


"A-aku hanya ingin meminta maaf pada beliau sebelum terlambat. Aku telah membuatnya kecewa," ucapnya lagi di sela isak tangisnya.


"Daddy, jangan menangi! Nanti tensi darah Daddy naik lagi, nggak bisa deh pergi jenguk ompung Chandra," celetuk Nathan kesal.


"Huh, sudah tua saja, pinter acting. Apalagi masih muda, pantes saja mommy termakan rayuannya." gerutu Nathan dalam hati.


Rasa simpati Nathan pada sang ayah sudah menipis setelah kepergian ibunya yang tidak kembali lagi. Dalam hati kecilnya, dia menyalahkan sang ayah. Seandainya sang ayah tidak berbuat sesuatu yang membuat dia kecewa, mungkin akan lain ceritanya.

__ADS_1


Shofie pun menjalani serangkaian pemeriksaan untuk dapat mengantongi surat keterangan yang diminta oleh pihak maskapai. Setelah mendapatkan surat itu, tidak serta merta bisa langsung masuk ke ruang tunggu. Shofie kembali menjalani pemeriksaan oleh dokter yang bertugas di bandara.


Walaupun harus menjalani berbagai pemeriksaan, tidak membuat Shofie mengurungkan niatnya menjenguk sang kakek. Semangatnya semakin tinggi untuk bertemu dengan keluarga angkat sang mommy.


__ADS_2