
Raka hampir saja terjatuh dari motor, kakinya yang menopang dengan kuat membuat suami Shofie itu tetap berada di atas motor. Dia langsung menarik gas dengan posisi masih menunduk, untuk menghindari pukulan dari orang-orang yang menghadangnya.
Kalah jumlah membuat laju motor tertahan karena beberapa dari mereka menghalangi jalan dengan motor. Raka terpaksa kembali bersikap waspada dan memasang kuda-kuda siap untuk menangkis atau melakukan perlawanan.
"Turun Lo!" teriak Zayn sang pemimpin.
Raka turun dari motornya karena kabur pun percuma pasti mereka akan dengan mudah menangkapnya. Jumlah mereka ada sepuluh orang, kabur tertangkap, dilawan tidak mungkin sanggup. Benar-benar dilema bagi Raka.
Zayn dan para anteknya selalu mencari perkara dengannya tanpa dia tahu apa alasan mereka selalu mengusik dia. Sejak mereka masuk SMA Nuswantara, Zayn selalu menghina dia. Lama-lama bukan lagi hinaan dan cacian tetapi lebih dari itu.
Zayn selalu mengajak Raka berantem untuk menunjukkan power-nya sebagai anak pemilik yayasan. Awalnya Raka tidak terlalu peduli dengan tantangan Zayn dan kawan-kawan, tetapi semakin ke sini mereka semakin nekat.
"Lo harus membayar semua yang telah Lo perbuat ke abang gue. Abang gue saat ini dipenjara gara-gara Lo. Asal Lo tahu, gara-gara itu perusahaan bokap gue harus tutup karena ditinggalkan para investor."
"Gara-gara Lo, sekolah yang kamu banggakan terancam dicabut izinnya. Gara-gara Lo juga, SMA Nuswantara kehilangan murid-murid yang berkompeten. Lo harus bayar semua itu ke gue!" teriak Zayn membeberkan semua kesalahan yang menurutnya, dilakukan Raka dengan sengaja ingin menghancurkan keluarga Bagaskara.
"Sekarang Lo harus mati di tangan gue!" Zayn berteriak sambil menendang perut Raka, tetapi bisa ditepis oleh Raka dengan mudah.
Zayn mulai menyerang Raka dengan membabi buta, Raka pun membela dirinya dengan menangkis dan memberikan pukulan-pukulan yang mematikan lawan. Keduanya terlibat baku hantam one by one. Anak buah Zayn belum berani maju karena sebelum tiba di tempat itu, pemuda itu memberikan ultimatum pada para anak buahnya untuk diam menjadi penonton, kecuali sang majikan sudah terkapar tak berdaya.
Sayangnya, Zayn berbuat curang. Saat dia mulai kalah, semua anak buahnya dititahkan untuk membantunya menyerang Raka. Mereka mulai mengeroyok Raka sampai babak belur dan wajah gantengnya pun tak tampak menyeramkan karena bekas pukulan mereka. Setelah Raka lemas dan tak sadarkan diri, mereka meninggalkan Raka begitu saja.
__ADS_1
"Mampooss, Lo!" ucap Zayn seraya menendang perut Raka yang sudah tak berdaya, lalu mengajak para anak buahnya meninggalkan tempat itu
Tak lama setelah Zayn dan teman-temannya pergi, ada salah seorang kurir yang bekerja di kafe Restu lewat dan menolongnya. Awalnya pemuda itu tidak mengenali Raka, tetapi begitu melihat motornya baru sadar. Dia mengecek handphone di saku celana sang bos, lalu menghubungi ambulans dan atasannya di kafe Restu.
Beberapa menit kemudian, Fathur datang bersama karyawan lain. Mereka mengantarkan Raka ke rumah sakit dengan mengikuti laju ambulans dari belakang.
Sore harinya, di Jogja Shofie dan si kembar mendapat kabar jika pesawat yang ditumpangi sang ibu mengalami kecelakaan. Pesawat yang ditumpangi terjatuh di laut usai transit di Singapura satu jam yang lalu waktu setempat.
Sampai saat ini, belum ada kabar berita yang membawa ketenangan hati Shofie dan kedua kakaknya. Tak ada berita yang jelas dan pasti, hanya kabar simpang siur dari pihak-pihak tertentu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.
Shofie sudah dua kali jatuh pingsan mendengar kabar yang tidak jelas itu. Setelah tersadar dia mendapat kabar lagi, jika sang suami dalam keadaan kritis di rumah sakit. Shofie menjerit histeris dan kembali pingsan.
Nathan dan Nicho bingung menghadapi sang adik yang pingsan terus menerus. Akhirnya, Shofie dibawa ke pulang. Sebelumnya, Nathan menghubungi maskapai yang digunakan oleh Ary, sang ibu. Dia ingin pihak maskapai segera menghubungi dirinya jika kabar terbaru tentang ibunya didapat.
"Mana Raka, Bang?" tanya Shofie begitu tersadar.
"Kamu sabar, ya! Kamu makan dulu, habis Maghrib kami antar ke sana."
"Bagaimana aku bisa menelan makanan sedangkan Mommy dan suamiku tidak dalam keadaan baik-baik saja!" ucap Shofie lirih dengan air mata yang tidak berhenti mengalir di pipi putihnya.
"Kamu harus makan! Untuk menjaga suami kamu di rumah sakit itu butuh tenaga. Kalau kamu tidak mau makan, tidak ada tenaga untuk menjaga dan merawat dia!"
__ADS_1
Shofie terdiam memikirkan kata-kata sang kakak. Saat Nathan sibuk membujuk sang adik, Nicho sibuk menghubungi sang ayah yang sudah lama tidak ada kabar. Nicho sengaja mengubungi sang ayah hanya sekedar ingin tahu tanggapannya.
Tanggapan sang ayah ternyata di luar perkiraan Nicho. Mereka pikir sang ayah tidak lagi peduli dengan istri dan anak-anaknya. Ternyata sang ayah tak kalah histerisnya dengan sang adik, bahkan langsung pingsan sebelum menjawab kabar itu. Untung ada asisten rumah tangga yang tidak jauh darinya.
Nicho pun meminta sopir ayahnya untuk mengantar ke klinik 'Sehat' milik sang ibu. Hal ini untuk memudahkan segala urusan jika berkumpul jadi satu, tanpa Nicho tahu adik iparnya dalam keadaan kritis di Semarang.
"Nic, daddy bagaimana?" tanya Nathan usai membujuk sang adik.
"Daddy syok keknya, kata art di sana daddy pingsan tapi nggak lama. Sekarang dalam perjalanan menuju ke sini," jawab Nicho cemas, mencemaskan semuanya.
"Habis shalat Maghrib kita siap-siap ke Semarang. Ada yang mencelakai Raka, dia sama ini sedang kritis," ungkap Nathan yang membuat badan Nicho terhuyung karena kaget.
"Astaghfirullah, kenapa begitu berat cobaan dariMu, ya Allah."
*
*
*
Promo novel
__ADS_1