I Love You, Ibu Guru

I Love You, Ibu Guru
Part 26


__ADS_3

Dua insan yang sedang kasmaran itu bangun kesiangan, setelah kecapaian mendaki puncak nirwana bersama.


Shofie menggeliat karena badannya terasa pegal semua. Dia terbangun saat merasakan ada sesuatu yang menimpa di atas perut. Perlahan mata lentik itu terbuka, menyesuaikan dengan cahaya yang masuk ke dalam kamar ukuran empat kali empat itu.


"Arghhhh!" jerit Shofie kala menyadari bahwa tanpa ada sehelai benang pun yang menutupi tubuhnya. Semakin terkejut lagi saat melihat keadaan Raka bak bayi yang baru saja lahirkan.


Raka pun duduk bersandar pada headboard ranjang karena masih mengantuk tetapi sang istri sudah berisik.


"Ada apa? Kenapa teriak kuat sekali?" tanya Raka sesekali menguap.


"Auw!" Shofie kembali menjerit saat bergerak, merasakan inti tubuhnya sangat perih dan bengkak.


Melihat wanita yang dicintainya kesakitan, Raka langsung melompat turun dan mencari celana. Raka buru-buru memakai celana dan mendekati sang istri.


"Apa yang kita lakukan tadi malam, Raka?" tanya Shofie dengan tatapan kosong.


"Apa yang kita lakukan tadi malam bukan sebuah dosa, tetapi berpahala. Kita sudah sah menjadi suami istri, wajar saja jika melakukan hal 'itu'," jawab Raka dengan tenang.


"Apa kamu ingin mengulang kembali apa yang kita lakukan tadi malam ? Kamu sangat luar biasa," lanjut Raka dengan bisikan di belakang telinga sehingga membuat Shofie meremang.


Raka memeluk tubuh polos sang istri, membuat kulit mereka saling bertemu dan bergesekan. Raka mulai mengendus leher dan tubuh bagian belakang Shofie.


"Aku ingin lagi. Kamu seperti narkoba yang membuatku candu akan tubuhmu." Raka menyentuh tubuh sang istri menggunakan tangan dan bibirnya.


"A-aku mau ke kamar mandi dulu," tolak Shofie secara halus karena inti tubuhnya masih terasa sakit pasca pembobolan gawang tadi malam.


Shofie merasa kesal pada dirinya sendiri, mulutnya menolak tetapi tubuhnya mendamba setiap sentuhan Raka. Akhirnya, kejadian tadi malam pun terulang lagi.


"Hah... hah...," napas Raka masih memburu usai kembali mencetak gol yang ke sekian kalinya. Tenaga anak muda itu sungguh luar biasa, membuat sang istri kewalahan mengimbanginya.

__ADS_1


"Terima kasih, Sayang. Kamu masih saja sempit, padahal sudah berulang kali aku masuki," ucap Raka setelah napasnya teratur.


Wajah Shofie merona seketika saat mendengar gombalan dari suaminya.


"Bukan punyaku yang sempit, tetapi punyamu yang over size deh keknya," sahut Shofie malu-malu.


Wajar saja keduanya beranggapan seperti itu, mereka sama-sama melakukan 'itu' untuk pertama kali. Tak ada pengalaman sebelumnya sehingga tak ada pembanding sebagai ukuran.


Siang hari, pasangan muda itu meniggalkan penginapan. Raka membawa Shofie kembali ke rumah. Namun, Sofie menolaknya karena dia belum siap untuk bertemu kedua orang tuanya.


Raka membawa ke deretan ruko yang tempatnya sangat strategis, tetapi asri. Ruko itu memiliki halaman luas sebagai lahan parkir. Tidak hanya itu saja, banyaknya pohon rindang tumbuh di halaman ruko itu.


Shofie terpesona melihat bangunan ruko yang dilengkapi dengan halaman luas nan rindang. Baru kali ini dia melihat tempat seperti ini. Sungguh suatu daya tarik tersendiri untuk para pengunjung.


Shofie membaca rangkaian huruf yang tertera pada dinding ruko itu, 'Kafe Restu'. Raka menarik tangan Shofie dan membawa masuk. Sambil berjalan, mata Shofie tidak lepas dari setiap tulisan yang dilihatnya.


Saat di pintu masuk, Shofie menghentikan langkahnya. Dia membaca pengumuman yang ditempel di pintu kaca. Lowongan pekerjaan di kafe itu sebagai waiters, menarik perhatiannya.


"Sebentar, mau tanya pekerjaan. Ini kafe baru, biasanya ada lowongan kerja," jawab Raka tidak sepenuhnya bohong. Raka tadi sempat melihat sang istri membaca pengumuman yang ditempel di pintu.


"Kamu mau kerja di sini? Bagaimana sekolahmu kalau kamu kerja di sini?" Shofie melontarkan pertanyaan bertubi-tubi.


"Siapa tahu bisa part time? Lumayan 'kan bisa buat beliin kamu bedak," sahut Raka nyengir sehingga matanya hanya terlihat seperti garis lurus.


"Oh, jadi kamu mau bilang kalau aku nggak cantik, begitu? Makanya kamu nyuruh aku dandan biar cantik. Dasar buaya!"


Raka tergeragap saat sang istri tiba-tiba mencak-mencak keluar tanduknya. Dia pun tersadar jika telah salah bicara sehingga menyinggung perasaan sang istri tercinta.


"Bu-bukan begitu maksud aku, Sayang. Setahuku seorang wanita itu tidak melulu melayani suami. Dia juga butuh me time, salah satunya dengan perawatan di salon. Nah, aku tuh pengen kamu juga seperti itu," jelas Raka agar kemarahan sang istri reda.

__ADS_1


"Nggak usah ngadi-ngadi! Aku nggak pernah perawatan di klinik kecantikan atau pakai bedak. Jadi, tidak usah mikirin bedak atau perawatan nggak penting. Yang penting itu bisa makan sehat dan menjaga kesehatan!" dengkus Shofie, entah kenapa dia tiba-tiba merasa kesal saat Raka menyinggung itu.


Mungkin Shofie merasa dirinya tidak pantas, bersanding dengan Raka yang selisih usianya sekitar empat tahun. Dia merasa insecure atas perbedaan usia mereka. Seandainya Raka lebih tua darinya, mungkin rasa itu tidak akan pernah ada.


"Sayang, semua laki-laki pasti ingin agar istrinya selalu terlihat cantik dan segar, selain terpenuhi semua kebutuhan tentunya. Untuk mendapatkan itu semua tidak gratis. Makanya, aku harus kerja dan kerja untuk mencukupi semua kebutuhan kita."


Raka menghentikan ucapannya kala melihat wajah sang istri yang hujan air mata. Tangannya terulur menghapus lelehan air mata di pipi Shofie.


"Maaf, jika kata-kataku menyinggung perasaan kamu. Aku tidak bermaksud menyinggung atau pun menyakiti kamu. Jangan nangis lagi, aku tidak bisa melihat kamu menangis," ucap Raka meraih tubuh Shofie masuk ke dalam pelukannya.


Shofie langsung memeluk sang suami dengan erat. Tangisnya semakin pecah dalam pelukan hangat sang suami.


"Maaf," bisik Raka sembari mengusap punggung Shofie.


"Raka, Raka, baru berapa hari jadi bini lo, sudah dibikin nangis aja!" Terdengar suara celetukan dari belakang punggung Raka.


Raka pun melepas pelukannya dan menoleh ke arah suara yang sangat dikenalnya.


"Ah, Pak RT! Saya 'kan jadi malu," ujar Raka bersandiwara.


Mana ada malu Raka, yang ada dia bangga bisa mengajak sang istri ke kafenya. Ya, kafe itu usaha baru Raka untuk menunjukkan pada sang mertua , jika dirinya pantas bersanding dengan Shofie.


"Heleh, kek baru kenal lo sejam aja! Urat malu lo itu sudah putus, sejak pertama lo melihat bini lo di pasar!" ejek Pak RT terkekeh dan ditanggapi dengan tawa lepas Raka.


"Baru tahu ya, Bang?" celetuk Fathur yang tiba-tiba sudah berdiri di belakang Pak RT.


Fathur dan Anto saat ini bekerja, membantu Raka di kafe. Raka sengaja mengajak Fathur dan Anto, agar ada yang mengawasi kafe jika Raka dan Pak RT berhalangan hadir.


"Lo ini Thur! Paling bisa saja ngeledek orang!"

__ADS_1


"Pak Bos, list pesanan layanan antar sudah menumpuk. Kapan dikerjain?" tanya Maya yang bertugas sebagai kasir.


"Pak Bos? Maksudnya apaan?"


__ADS_2