I Love You, Ibu Guru

I Love You, Ibu Guru
Part 36


__ADS_3

Shofie terbangun kala senja mulai menyapa, lima jam dia tertidur karena pengaruh bius yang tadi dihirupnya. Matanya mengerjap menyesuaikan dengan cahaya sore yang masuk ke dalam kamar itu. Merasa bingung karena tiba-tiba berada di tempat asing.


"Aku dimana ini?" gumam Shofie penuh tanda tanya.


Tubuh Shofie terasa lemas tak bertenaga sehingga untuk bangkit dari ranjang saja membutuhkan tenaga ekstra. Entah karena efek bius atau belum makan sejak tadi, yang jelas Shofie merasakan badannya sangat lemas.


Akhirnya dengan semangat membara, Shofie bisa bangkit dari ranjang. Dia berjalan menuju kamar mandi untuk mencuci muka serta meminum sedikit air kran. Sengaja memilih minum dari kran langsung karena takut minuman yang di nakas sudah diberi obat atau racun.


Shofie berjalan ke arah jendela, menikmati langit senja. Sudah berusaha mencari jalan keluar dan tak kunjung mendapatkan, akhirnya memutuskan untuk berdiri di dekat jendela. Shofie mencoba merogoh saku celananya, kosong. Tak ada ponsel maupun uang.


Kebiasaan Shofie jika keluar rumah, tanpa membawa ponsel dan uang. Sudah sewajarnya jika tidak ada niat keluar untuk bepergian jauh. Niat awal hanya ingin berjalan beberapa meter saja dari kafe, tenyata nasib buruk menghampiri.


Tak lama kemudian pintu terbuka, tampak seorang wanita paruh baya muncul dari balik pintu. Wanita itu membawa baju ganti untuk Shofie dan juga makanan serta segelas air putih. Tanpa Shofie tahu, kamar itu telah dipasang CCTV untuk melihat aktivitasnya.


" Sebaiknya Nona makan dulu agar ada tenaga. Bukankah Nona belum makan sejak tadi?" ucap wanita itu sambil bertanya.


"Siapa tuan kamu? Katakan padanya, jangan jadi pengecut. Jika dia laki-laki, apa tidak malu menculik seorang perempuan?" tanya Shofie dengan tatapan menantang.


"Maaf, Nona. Saya tidak berani mengatakannya pada Anda. Saya belum siap mati sekarang, lagian anak-anak saya masih kecil," racau wanita paruh baya yang ternyata seorang pelayan.


"Hai, jangan takut! Aku tak akan memaksa kamu untuk mengaku. Aku hanya ingin bertemu dengan tuan kamu," potong Shofie cepat.


"Kalau Nona hanya ingin bertemu dengan tuan, nanti pasti saya sampaikan. Sekarang saya pamit, jangan lupa nasinya dimakan Nona," pamit wanita itu, meninggalkan pesan buat Shofe.

__ADS_1


"Bagaimana aku berani memakannya? Walau cacing-cacing dalam perutku sudah mulai protes, aku harus bertahan untuk tidak memakannya," gumam Shofie seraya mengambil paper back yang berisi baju gantinya.


Shofie meneliti setiap sudut baju itu. Dia tidak ingin ada alat yang menempel di baju itu tanpa sepengetahuan orang yang menculiknya. Setelah dirasa aman, dia masuk ke kamar mandi.


Sementara itu, Raka begitu cemas mencari keberadaan sang istri. Semua teman dan karyawan telah dimintai tolong untuk menemukannya. Pekerjaan di kafe saat ini banyak yang terbelengkalai.


Raka sejak tadi mondar-mandir bak seterika pakaian. Pikirannya benar-benar kalut karena belum ada kabar tentang istrinya.


Rekaman CCTV tadi pagi tidak bisa menjawab pertanyaan mereka, kemana Shofie pergi. Dalam rekaman itu hanya menampilkan Shofie berjalan keluar dari kafe pukul sebelas siang. Berarti sudah lima jam lebih, istri Raka itu menghilang.


"Raka, kemarin atau entah kapan, ada shofie tampak beda?" tanya Maya, dia sengaja bertanya demikian hanya untuk memastikan saja.


"Sepulang dari bertemu Pak Rohman pemilik yayasan Nuswantara, dia mulai aneh. Setiap saat hanya melamun saya. Mungkin kepikiran dengan kata-kata Pak Rohman."


"Kalau dia pergi sendiri begitu saja, tidak mungkin. Pasti ada yang menculiknya. Aku sangat yakin sekali karena Shofie tidak pernah meninggalkan rumah tanpa seizinku," ungkap Raka dengan gamblang.


Semua hanyut pada pikiran dan dugaan masing-masing sehingga mau tidak mau Kafe Restu dan Rasha tutup untuk sementara waktu. Hanya kafe Rasha yang berada di Jogja yang tetap buka karena tidak ingin mengecewakan konsumen.


Shofie keluar dari kamar mandi tidak menyadari ada seseorang duduk di pinggir ranjang. Wanita itu terjengit kaget ketika menyadari keberadaan orang itu.


"Ternyata pengecut itu kamu! Ternyata keputusanku menikah dengan Raka sudah tepat. Memang lebih baik menikahi bocah yang berpikiran dewasa dibanding laki-laki dewasa berpikiran bak balita," cibir Shofie dengan bibir terangkat sebelah.


"Kamu tidak pernah berubah, masih ganas saja. Apakah di ranjang kamu juga seganas ini?" tanya laki-laki itu tersenyum mengejek.

__ADS_1


Shofie meneguk salivanya kasar mendengar ucapan itu. Dia tidak takut dibunuh, tetapi dia takut dinodai oleh laki-laki di depannya. Baginya, lebih baik mati dengan terhormat dari pada hidup penuh noda.


Istri Raka Pradipta itu memutar otak agar bisa terbebas dari laki-laki gila di hadapannya itu. Laki-laki yang begitu terobsesi padanya sejak dulu. Saat ini hanya bisa berdo'a dan berharap sang suami menemukan dirinya.


"Ganas? Apa kamu selalu penasaran dengan semua perempuan? Benar-benar tidak waras!"


"Aku kehilangan kewarasanku karenamu, hanya kamu yang bisa membuat hidupku jungkir balik, Shof. Menikahlah denganku, tinggalkan bocah itu!" ucap laki-laki itu berlutut di depan Shofie.


Shofie melengos dan berjalan menjauh dari laki-laki itu.


"Lebih baik aku mati dari pada menikah dengan orang gila sepertimu!"


Mendengar jawaban Shofie, laki-laki itu mengamuk. Dia membanting semua barang yang ada di meja nakas. Tidak hanya itu saja, bantal, guling, serta selimut tak luput dari amukannya. Ranjang itu sudah tampak berantakan karena ulah laki-laki setengah gila itu.


Shofie tampak ketakutan karena telah memancing amarah laki-laki di depannya. Dia tahu laki-laki itu pasti akan melakukan apapun agar keinginannya terpenuhi.


"Aku bunuh bocah itu atau kamu menikah denganku?"


*


*


*

__ADS_1


Sambil menunggu up, mampir yuk ke karya temanku!



__ADS_2