
Jam istirahat pertama Raka tetap berada dalam kelas, kakinya tiba-tiba berdenyut nyeri. Tadi dia lumayan jauh berjalan, dari depan gerbang sampai kelasnya di lantai dua.
Sebenarnya sudah ada surat istirahat dari dokter, tetapi Raka tidak suka duduk berdiam diri tanpa melakukan kegiatan apapun. Sudah sejak kecil dia biasa bekerja, tidak enak rasanya duduk berpangku tangan. Dulu bahkan dia tetap bekerja di saat badannya sedang demam tinggi.
Shofie yang kebetulan baru keluar dari kelas 12 IPA 3, melihat Raka sedang duduk membaca buku dalam kelas. Dia langsung mendatangi muridnya yang tampak pucat karena menahan nyeri di kaki.
"Kamu ternyata bandel, ya? Bukankah dokter sudah mengatakan istirahat di rumah? Kenapa kamu masih keluyuran saja? Sok kuat kamu!" cecar Shofie bertubi-tubi menahan kekecewaannya.
"Siapa sih yang keluyuran, Miss? Saya sekolah lho ini. Saya juga anteng di kelas saja sejak tadi," jawab Raka dengan tenang bahkan dia tersenyum manis yang menampakkan lesung pipinya. Sampai-sampai Shofie kehilangan fokusnya karena terpana.
Raka heran karena Guru Cantik-nya tiba-tiba diam tak bersuara. Anak itu pun langsung menggerakkan tangannya di depan wajah Shofie.
"Miss ... Miss me- ...," tanya Raka begitu Shfie tersadar.
"Eh, ma-maaf," sahut Shofie tergeragap.
"Kenapa Miss minta maaf ke saya?" Alis Raka bertaut melihat keanehan guru barunya itu.
"Hah?" Rasanya Shofie ingin menenggelamkan dirinya ke dasar samudera. Dia sangat malu sekali karena bertingkah seperti ABG.
Padahal Shofie sudah pernah jatuh cinta dan pacaran. Kenapa rasanya saat ini dia seperti remaja yang lagi kasmaran? Lebih memalukan lagi, perasaan itu ditujukan pada muridnya.
"Miss Shofie sakit?" tanya Raka karena tiba-tiba melihat wajah wanita di depannya tiba-tiba merah merona.
"Hah? Sakit? Ng-nggak kok, aku nggak apa-apa," sahut Shofie langsung bergegas meninggalkan kelas itu.
__ADS_1
Shofie benar-benar merasa malu, bisa-bisanya wajahnya merona begitu saja. Dia sendiri juga tidak tahu kenapa baper sendiri melihat wajah tampan muridnya.
"Sadar, Shof! Sadar! Dia itu masih kecil, lagian daddy juga tidak suka dengannya," gumam Shofie sangat pelan sambil memukul kecil kepalanya.
"Ehh, aku kenapa sih? Masak aku jatuh cinta pada murid sendiri? Tidak! Ini tidak boleh terjadi!"
Shofie bergumam sepanjang jalan menuju ke ruang guru. Pikirannya benar-benar kacau saat ini. Fokusnya terpecah begitu saja dan keuntungan dia saat ini, jam pelajaran berikutnya tidak ada jadwal dia mengajar.
Di sebuah kafe kecil tidak jauh dari SMA Nuswantara, Alex menemui guru olah raga SMA itu. Guru itu masih muda, berumur sekitar 27 tahun. Mereka berdua sedang membicarakan kerja sama.
"Ingat, tugasmu hanya mengawasi dan memantau kegiatan anakku, selain itu juga melindungi dia. Jangan sekali-sekali kamu jatuh cinta pada anakku! Kelas kita jauh berbeda," jelas Alex pada guru yang biasa disapa Pak Rizal itu.
"Baik, Tuan. Saya mengerti," jawab Rizaldi.
"Baguslah kalau kamu mengerti. Jangan sampai aku dengar kamu jatuh cinta pada putriku dan ingin mempersuntingnya. Sebelum itu terjadi, aku sudah melenyapkan kamu. Ingat dan camkan itu!" ucap Alex sembari meninggalkan kafe itu. Dia juga menyerahkan sejumlah uang untuk Rizal, sebagai uang tanda jadi kerja sama mereka.
Tugasnya hanya memberikan informasi dan melindungi dari jarak jauh. Sangat mudah dilakukan karena statusnya yang jomblo. Orang tuanya pasti setuju karena ini pekerjaan halal.
Alex sengaja membayar rekan seprofesi Shofie, agar anak dan istrinya itu tidak memusuhi dirinya. Menyewa bodyguard perempuan ternyata tidaklah efektif. Selain anak dan istri memusuhinya, bodyguard itu tidak diberi akses oleh Shofie untuk mendekat. Lebih baik membayar orang yang tidak dicurigai anaknya.
Sampai jam pelajaran berakhir, perasaan Shofie belum juga tenang. Jantung seperti mengajak disko sejak tadi. Apalagi jika dia mengingat senyum Raka yang menampakkan lesung pipinya.
"Haishh ... lama-lama aku bisa kena serangan jantung kalau kek gini terus. Ternyata dekat denganmu membuatku jadi mendadak sakit jantung."
Tak beda jauh dengan guru cantik yang saat ini mondar-mandir di ruang guru. Raka tidak bisa konsentrasi selama pelajaran berlangsung. Pikirannya selalu tertuju pada wajah sang guru yang tadi tiba-tiba memerah seperti tomat masak.
__ADS_1
Raka yang belum pernah merasakan jatuh cinta apalagi pacaran itu, tidak tahu jika dia tengah terkena virus merah jambu. Virus yang membuat seseorang menjadi bucin akut tanpa melihat situasi dan kondisi.
"Ka, sejak tadi gue perhatiin selama pelajaran lo ngelamun terus. Ada apa?" tanya Clara teman sekelas Raka.
"Eh, masak sih? Kelihatan banget ya? Sebenarnya sih tadi itu gue pengen dispensasi gitu. Lo 'kan tahu sendiri gue habis kecelakaan tapi gue maksain buat sekolah. Jadi kek gitulah," jawab Raka tidak sepenuhnya berbohong, kakinya yang cidera berdenyut nyeri sejak pagi.
Saat ini mereka masih mengikuti pelajaran, sehingga percakapan mereka sempat terdengar oleh guru pengajar.
"Kalau masih sakit tidak usah sekolah dulu. Lagian di surat keterangan dokter, seharusnya kamu itu istirahat total selama seminggu. Percuma juga kamu maksa masuk, kalau tidak fokus. Sebaiknya kamu pulang saja! nanti kamu bisa pinjam buku catatan teman-temanmu," ucap guru yang bernama Dhini itu tiba-tiba, membuat Raka dan Clara terkejut.
Bu Dhini adalah guru matematika yang menjadi favorit Raka. Guru setengah baya itu sangat mengenal dekat Raka sejak kelas 10. Kecerdasan Raka yang membuat Bu Dhini suka dengan anak yatim piatu itu.
"Ketua kelas mana?" tanya Bu Dhini dengan suara keras.
Ketua kelas 12 IPA 2 langsung berdiri dan berjalan mendekati guru itu.
"Kamu antarkan Raka ambil surat dispensasi! Urus juga surat keterangan dokter yang tadi dibawa oleh Miss Shofie. Biar Raka istirahat di rumah sesuai surat keterangan itu," perintah Bu Dhini pada sang ketua kelas yang bernama Azriel.
"Yuk, Ka! Pelan-pelan aja, gue tungguin kok," ajak Azriel mendekati Raka.
Berhubung ini jam pelajaran terakhir, Azriel juga membawa serta tasnya, untuk menghemat waktu.
Usai mengurus surat izin, Raka dan Azriel segera meniggalkan sekolah itu. Azriel sengaja membelokkan motornya ke sebuah warung nasi yang masih ada di sekitar pasar. (Letak sekolah dan pasar tidak begitu jauh ya, guys)
"Kenapa lo repot-repot beliin nasi gue sih, Riel? Berasa enak dong gue," ujar Raka begitu Azriel keluar membawa satu kantong penuh makanan.
__ADS_1
"Nggak repot gue! Sudah tidak usah malu-malu, nanti malah malu-maluin lagi," jawab Azriel dengan candaan.
"Kalau boleh tahu, lo lagi deket ya sama guru baru itu?"