
Acara pembukaan kafe cabang Jogja berjalan lancar. Raka dan Shofie hanya tiga hari berada di Jogja. Dia hanya mampir sebentar ke rumah untuk menemui Mommy Ary.
Mommy Ary langsung pulang ke Jogja begitu mendapat kabar kalau anak dan menantunya baik-baik saja. Wanita paruh baya itu ikut senang mendengar kabar, sang menantu telah berhasil membangun usaha dalam waktu satu bulan.
Kini, waktu liburan sekolah telah berakhir. Raka dan Shofie kembali menjalani aktivitas di sekolah. Shofie tetap berangkat ke sekolah diantar Parjo seperti biasa.
"Shof, Shofie, tunggu!" panggil seseorang di belakang Shofie.
Shofie merasa sudah mengenal suara itu pun semakin cepat melangkahkan kakinya. Dia tidak mau lagi berurusan dengan laki-laki itu. Walau pun dia sudah memaafkan, tetapi dia tidak akan pernah bisa melupakan apa yang laki-laki itu lakukan padanya.
"Shofie, tunggu aku mau bicara penting sama kamu!" teriak Ditto akhirnya.
Sudah putus asa rasanya laki-laki itu memohon ampunan dari Shofie. Namun, demi mendapatkan wanita secantik dan secerdas Shofie. Ditto rela mempermalukan diri sendiri.
__ADS_1
Shofie selalu menghindar jika bertemu dengan Ditto, baik di lorong kelas maupun di ruang guru. Jika terjebak di tempat yang sama, Shofie lebih memilih menghindar dengan meninggalkan tempat itu.
Sementara Raka, dia lebih fokus belajar dan usaha barunya. Dia sudah tidak lagi menjadi kuli panggul di pasar, begitu juga dengan temannya, Anto dan Fathur.
Raka ini sudah sedikit tenang ada usahanya yang bisa membuktikan bahwa, dirinya mampu mencukupi semua kebutuhan Shofie. Awalnya Raka tidak yakin kafe yang dirintisnya akan seperti saat ini.
Bermodalkan uang sebesar dua puluh juta hasil tabungannya selama ini. Raka membuka kafe dengan niat menambah lowongan kerja. Membantu teman-temannya yang sangat membutuhkan pekerjaan.
Niat baiknya itu didengar Tuhan dan dikabulkan. Banyak pengamen dan anak-anak jalanan yang dia rekrut bekerja. Raka juga membayar tenaga trainer untuk mengajari semua karyawan kafe.
"Miss, pulang sama aku aja, lebih aman. Nggak takut lagi jika dia tiba-tiba datang di luar perkiraan," ucap Raka menyarankan dan diangguki kepala oleh Shofie.
"Tunggu sebentar! Aku bereskan ini," jawab Shofie seraya memasukkan lembar jawaban soal ke dalam tasnya.
__ADS_1
Shofie lebih memilih membawa tasnya ke kelas ketika ada kegiatan belajar . Sudah berulang kali di mengatakan telah memaafkan Dito. Akan tetapi, setelah dimaafkan Ditto malah meminta balikan lagi. Hal yang tidak bisa Shofie lakukan.
Cukup sekali dia dikecewakan dan disakiti. Tidak akan terulang lagi dalam pelukan laki-laki yang sama. Kini sudah ada laki-laki yang memperlakukan dia bak ratu.
"Sebaiknya kamu resign aja, bantu aku mengurus kafe. Kalau kamu tetap ingin menjadi guru, kamu bisa mengajar anak-anak saat sepi pengunjung juga sepi pesanan," saran Raka, saat ini keduanya telah berada di kafe 'Rasha', kafe milik Raka.
Bibir Shofie mengerucut karena kesal, dia hendak protes tetapi sudah malas bertemu dengan Ditto. Dia sangat suka mengajar dan berinteraksi dengan para muridnya. Oleh karena itu, dia berat meninggalkan dunia pendidikan.
"Kenapa harus resign sih? Nggak bisa gitu aku lanjut mengajar? Toh selama ini aku bisa menghindari dia." Akhirnya, Shofie protes juga mengeluarkan apa yang ada di pikirannya.
"Tidak selamanya kamu bisa menghindari dia, Sayang. Suatu saat nanti pasti kamu akan bertemu dengan dia, berdua saja tanpa ada yang tahu. Dia bisa nekat melakukan hal-hal yang merugikan kamu, tentunya aku juga ikut rugi."
"Kamu itu! Selalu dilihat untung rugi. Dasar otak bisnis!" cibir Shofie kesal.
__ADS_1
"Bukan begitu maksud aku. Kalau nekat menyakiti atau melukai kamu atau lebih sadis lagi, dia mem per ko sa kamu. Bagaimana?"