
"Pak Bos? Maksudnya apaan?" tanya Shofie heran.
"Pak RT!"
"Raka."
Shofie bingung mendengar jawaban serentak dari orang-orang yang berbeda. Netranya menatap Pak RT dan Raka bergantian. Tidak ada yang bergeming dari tempat masing-masing.
Pak RT dan Fathur membuang muka seolah-olah tidak tahu jawaban atas pertanyaan itu, sedangkan Raka mengusap tengkuknya lalu menggaruk kepala yang tidak gatal.
"Ada yang bisa jelaskan ini?" tanya Shofie sekali lagi, matanya menatap keempat orang itu secara bergantian.
"Kamu? Bisa jelaskan kata-kata kamu tadi, siapa yang kamu panggil Pak Bos?" Kini Shofie melangkahkan kakinya mendekati Maya.
"Maaf, layanan pesan antarnya bagaimana? Makanan itu harus segera dikirim tetapi tidak ada orang yang mengantar?" ucap Maya mengabaikan pertanyaan Shofie.
"Begitu banyaknya orang kenapa tidak ada satu pun yang mau mengantarkan?" tanya Raka mulai diselimuti amarah.
__ADS_1
"Bukan tidak mau mengantar, tetapi tidak ada lagi kendaraan yang dipakai untuk mengantar. Lima motor kita sudah mulai mengantar di beberapa tempat, sampai sekarang belum ada yang kembali. Sementara pesanan dari konsumen sangat banyak. Jika kita terlambat mengantar, bisa dipastikan konsumen akan pindah ke kafe atau restoran lain," jelas Maya secara lugas.
"Fathur kamu antarkan makanan yang sudah dikemas ke alamat masing-masing. Kamu juga Anto, bantu Fathur mengantar makanan itu. Pakai motorku dan pinjam motor Pak RT!" perintah Raka, cepat menemukan solusinya.
Raka menatap ke wajah Maya, setelah memberikan perintah untuk kedua sahabatnya.
"Lain kali gunakan akal kamu! Percuma saja saya gaji kamu tinggi, jika masalah kecil saja tidak bisa kamu atasi. Malu sama gelar! Di sini cuma kamu yang sarjana," pesan Raka, lalu menarik pelan tangan Shofie ke ruangannya.
Raka mengunci pintu setelah istrinya ikut masuk ke ruangan itu.
"Ini usaha aku, Yang. Aku mau ngebuktiin ke daddy, kalau aku bisa membuka bisnis sendiri tanpa bantuan modal dari orang tua atau keluarga. Pak RT dan teman-teman nguliku aku mintai bantuan buat ngejalanin bisnis ini. Jangan marah karena aku baru memberi tahu kamu!" ujar Raka dengan jujur.
"Sorry, kemarin itu aku lagi sibuk ujian. Habis itu, ada kegiatan studi tour. Mau kasih tahu belum sempat," ucap Raka sambil meraih tangan Shofie dan menggenggamnya.
"Aku beneran lupa. Begitu teringat langsung bawa kamu ke sini tadi," imbuh Raka tampak kejujuran di matanya.
"Ok, aku maafin. Jangan diulangi lagi! Aku dan kamu sekarang sudah menjadi kita, menjadi satu. Jadi, kalau ada apa-apa kita jalani bersama. Kita tanggung bersama."
__ADS_1
Sementara itu, Alex sudah mendapatkan informasi jika semasa kuliah, Shofie meminta pacar. Alex juga sudah mengantongi nama mantan pacar sang anak.
Bagaikan mendapat angin segar, wajah Alex berbinar saat mengetahui siapa dan dimana laki-laki yang pernah menyakiti perasaan sang anak. Alex memutuskan untuk menghubungi pemilik yayasan dimana sang anak mengajar, setelah membaca profil Dito.
Alex membuat janji pertemuan dengan Rohman Bagaskara besok malam. Dia sengaja mengajak bertemu besok karena harus mempersiapkan segala sesuatunya untuk besok.
Malam yang ditunggu pun tiba. Alex pergi ke Semarang tanpa memberi tahu anak istrinya. Dia juga tidak singgah ke rumah sewa yang kini telah dibeli karena melihat sang anak yang merasa aman dan nyaman tinggal di rumah itu.
"Selamat malam, Pak. Saya orang tua Shafeeyah, guru di SMA Nuswantara," ucap Alex memperkenalkan diri.
Wajah pemilik yayasan Nuswantara itu pun berbinar. Akhirnya dia bisa bertemu dengan seorang pengusaha yang terkenal. Apalagi pengusaha itu juga memiliki yayasan pendidikan sama seperti miliknya.
"Malam, Pak Alex. Maaf saya terlambat karena tadi ada sedikitpun urusan," sahut Rohman sambil menyalami tangan Alex.
*
*
__ADS_1
*
Maaf baru bisa up dan cuma sedikit 🙏