
"Kamu jadi kerja di SMA itu?" tanya Alex pada anak perempuan satu-satunya.
"Iya, Dad. Dekat dengan kafe cabang dua, tidak begitu repot nantinya," jawab Shofie.
Alex menghela napasnya kasar, ada perasaan kecewa yang membuatnya sesak. Ternyata anak perempuan satu-satunya itu sangat mirip dengan sang istri perangainya.
"Apa tidak sebaiknya kamu mengajar di sekolah milik kakek? Sekolah itu juga bagus, lebih bagus malah. Lebih baik memajukan sekolah milik keluarga dari pada sekolah lain," nasehat Alex dengan wajah sendu yang tampak terlihat jelas.
"Maaf, Dad. Shofie mengecewakan Daddy lagi. Saat ini Shofie sudah memiliki suami, jadi di manapun suami berada di sana Shofie sebagai seorang istri harusnya berada," jawab Shofie dengan tegas.
Sungguh, sebenarnya dia tidak ingin melawan sang ayah. Akan tetapi, keadaanlah yang membuat dia harus kembali mengecewakan ayahnya. Dia tidak mungkin tinggal terpisah dengan sang suami.
"Sayang, setelah lulus nanti aku 'kan melanjutkan kuliah di Jogja. Jadi, kamu bisa mengajar di SMA kakek," ucap Raka menengahi.
Shofie yang mendengar ucapan Raka tampak bibirnya terangkat sedikit.
"Kamu belum tahu dimana letak sekolah itu, Raka. Kalau kamu tahu pasti tidak akan setuju." batin wanita yang bernama lengkap Shafeeyah itu.
"Lihatlah, suami kamu saja setuju kamu mengajar di Karya Teladan. Kalian nanti bisa tinggal di rumah peninggalan kakek sama Dad...."
__ADS_1
"Shofie tidak mau tinggal di rumah itu! Kami akan tinggal di Jogja, rumah yang selama ini kita tempati," potong Shofie cepat.
Wanita yang wajahnya merupakan fotokopi sang ayah itu, masih mengingat dengan jelas saat ibunya diusir oleh neneknya. Itulah kenapa dia tidak mau lagi menginjakkan kakinya di sana lagi. Kejadian itu meninggalkan luka yang menganga karena sampai saat kakek dan nenek meninggal tidak ada permintaan maaf dari nenek dan ayahnya.
Alex bagaikan tertimpa godam, sudut hatinya terasa nyeri mengingat dia tidak bisa melindungi anak dan istrinya saat itu. Tak terasa air mata menetes dari pelupuk mata laki-laki yang sudah memilki uban itu.
"Shofie tidak mau ke rumah itu lagi. Walaupun mommy sudah tiada, atau bahkan sudah melupakan kejadian saat itu. Shofie masih mengingat dengan jelas. Itulah kenapa Shofie tidak pernah mau mengajar di sekolah milik kakek."
Mata Shofie mulai berkaca-kaca, dadanya sakit mengingat kenangan sang ibu yang tidak bisa diterima sepenuhnya oleh keluarga sang ayah. Hanya Kakek Kusuma dan Anton yang mau menerima kehadiran Ary beserta anak-anak.
"Kakek, maafkan Shofie yang tidak bisa membahagiakan kakek. Maaf, kek. Shofie tidak bisa melupakan semua itu," ucap Shofie lirih, air matanya mengalir
Melihat sang anak kesakitan mengingat masa lalu, dada Alex terasa sesak dan nyeri. Tidak heran jika istri dan anak-anaknya sulit untuk memaafkan dia. Begitu hebat sakit yang mereka rasakan di masa lalu sehingga tidak akan pernah mereka bisa melupakan kejadian itu.
Alex tiba-tiba jatuh pingsan setelah memegangi dadanya yang terasa sakit. Raka langsung melepaskan sang istri, panik. Susah untuk bangun untuk menolong sang mertua, Raka berteriak kuat memanggil siapa saja untuk meminta pertolongan.
Kebetulan si Parjo datang mengantarkan mobil. Dengan sigap, Parjo dan Sumini membantu Shofie mengangkat sang majikan. Raka berjalan pelan mengikuti mereka.
"Ayo, cepetan! Kenapa malah bengong?" bentak Shofie panik.
__ADS_1
"Aah, iya! Baik, Non," jawab Parjo tergeragap, lalu dia menghidupkan mesin mobil dan melaju dengan kecepatan tinggi.
Jalan Raka yang masih tertatih membuatnya kesulitan untuk mengejar sang istri saat sudah sampai di rumah sakit. Dia masih berjalan menggunakan bantuan kruk sehingga tidak bisa berlari mengejar brankar ke ruang UGD.
Alex langsung ditangani oleh dokter jaga, sedangkan Shofie dan Raka menunggu di depan ruangan. Raka berinisiatif menghubungi kedua kakak iparnya karena Shofie sepertinya syok melihat sang ayah tiba-tiba pingsan.
Satu jam kemudian, dokter yang memeriksa Alex keluar. Dia menjelaskan keadaan pasien yang saat ini mengalami stroke ringan akibat serangan jantung.
"Tidak! Dokter pasti bohong. Daddyku sehat!"
*
*
*
Mampir yuk ke karya temanku!
__ADS_1