
Laki-laki itu berjalan mendekat, sementara Shofie sendiri melangkah mundur. Sampai akhirnya, tubuh Shofie membentur dinding di belakangnya. Wanita cantik itu sudah memasang kuda-kuda bersiap melakukan perlawanan, jika laki-laki di depannya nekat.
"Bos Raka! Non Shofie 'kan selalu pakai jam canggih. Apa jam itu tidak ada gpsnya?" tanya Romi yang bertindak sebagai waitres dan kurir di kafe Restu.
"Astagfirullah, aku lupa kalau dia tidak pernah lepas dari jam kado ulang tahunnya yang ke dua puluh," pekik Raka begitu teringat dengan jam mahal sang istri, pemberian kakek angkatnya yang di Medan. (Hayo, siapa yang ingat nama lengkap sang kakek ? Setelah jawab silakan follow akun ig saya, ayi4688gmail. Seperti biasa , cepat dan tepat yang mendapat hadiah dari othor gabutš¤)
Raka bergegas membuka handphone sang istri yang selalu terhubung dengan jam tangan itu.
"Dapat!" teriak Raka senang.
Pemuda itu mengajak beberapa karyawannya yang pandai bela diri. Dia sengaja tidak melaporkan pada polisi demi keselamatan sang istri. Raka juga sengaja membawa beberapa anak buah untuk berjaga-jaga jika lawannya berjumlah banyak.
Mereka berangkat mengendarai mobil yang biasa dipakai untuk belanja. Handphone Shofie masih terhubung dengan gps jam tangan Shofie. Jadi, tidak butuh waktu lama untuk mereka sampai di tempat tujuan.
Raka sengaja memarkirkan mobilnya agak jauh dari rumah berlantai dua itu. Rumah itu sangat besar juga mewah. Untuk bisa masuk ke dalam rumah itu, mereka harus melewati pintu pagar yang menjulang tinggi.
Rumah itu berpagar besi keliling bangunan. Di dekat pintu pagar juga terdapat pos penjaga. Tampak beberapa preman sedang berjaga di dekat pos itu.
"Bos, di kafe masih ada beberapa menu tidak?" bisik Romi bertanya.
"Tunggu, aku tanya mereka. Siapa tahu cabang satu masih ada sisa beberapa menu. Untuk apa?"
"Untuk para penjaga itu, makanannya dikasih obat tidur atau pencahar saja agar kita bisa masuk dengan gampang," jelas Romi tersenyum licik.
"Bisa juga ide kamu! Semoga saja masih ada beberapa menu lagi."
Raka langsung menghubungi Maya yang saat ini sudah menjabat sebagai manajer. Dia memerintahkan Maya sesuai petunjuk Romi. Dua puluh box nasi dengan obat tidur dan pencahar.
Raka dan beberapa anak buahnya masih mengintai rumah itu. Merasa terlalu lama menunggu, akhirnya Raka berjalan mengendap-endap mengelilingi pagar itu. Mencari pintu selain pintu besar di depan.
Setelah cukup jauh berjalan, Raka menemukan sebuah pintu kecil yang sepertinya jarang dipakai. Terlihat dari banyaknya rumput di sekitar pintu.
__ADS_1
Raka mencoba membuka pintu itu, ternyata tidak digembok hanya gerendel pintu yang dikaitkan. Gerendel itu sudah dipenuhi karat sehingga susah untuk dibuka.
"Siyal! Ini harus disiram pakai asam nitrat atau hcl biar gampang dibuka." gumam Raka seraya melepaskan tangannya dari gerendel pintu.
Raka pun menghubungi Maya lagi agar membawakan asam nitrat sebanyak mungkin. Dia juga menghubungi agar mengantarkan asam nitrat ke posisinya sekarang.
Satu jam kemudian, permintaan Raka datang. Mereka memberikan asam nitrat pada Romi terlebih dahulu baru kemudian mengantarkan box nasi pada para preman itu.
Raka duduk di dekat pintu pagar itu dengan pikiran berkecamuk. Takut istrinya dicelakai oleh para preman itu. Setelah asam nitrat bereaksi, Raka segera menarik gerendel pintu itu pelan sampai terbuka.
Sementara itu, Romi dan teman-temannya sudah bersiap siaga untuk masuk ke rumah itu. Mereka menunggu para preman itu lengah baru bergerak. Tak menunggu lama, para preman itu satu persatu mulai tumbang, ada juga yang berlari ke dalam.
Romi masuk melalui pintu depan, sedang dua lainnya melalui pintu samping yang terhubung dengan garasi. Raka sendiri sudah masuk melalui pintu belakang.
Dari dalam sebuah kamar terdengar suara keributan, seperti orang yang sedang baku hantam. Raka lekas mendekati kamar itu. Namun, dia ketahuan oleh salah satu preman yang baru saja keluar dari kamar mandi.
Raka dan salah satu preman itu terlibat baku hantam sebentar karena tiba-tiba sang preman berlari ke arah kamar mandi. Tak jauh berbeda dengan Raka, Romi pun terlibat baku hantam dengan preman yang mengkonsumsi sayur pencahar. Bedanya, preman yang dihadapi Romi tidak bisa menahan hajatnya.
Di kamar dimana Shofie disekap juga terjadi baku hantam. Jangan lupakan siapa wanita yang melahirkan Shofie! Dialah yang mengajari Shofie bela diri sampai mendapat sabuk hitam.
Tidak hanya latihan bela diri, Shofie juga ikut berlatih taekwondo mengikuti jejak si kembar, sang kakak. Walau masih belajar dan memaki sabuk merah, jangan ragukan kegesitan Shofie dalam bergerak.
Pelayan wanita berusia paruh baya itu, saat ini sedang ketakutan di dalam kamar, ketika melihat kekacauan di dalam rumah mewah itu. Dia mulai mengemasi baju-bajunya dan bersiap meninggalkan rumah sang majikan.
Shofie tampak murka, dia terus menyerang Ditto tanpa ampun. Sungguh strategi yang buruk karena menguras tenaga.
Keadaan lelah dan lapar, membuat Shofie kehabisan tenaga dan lemas. Melihat hal itu, Ditto menggunakan kesempatan untuk memeluk sang pujaan hati.
"Lepas!" teriak Shofie lantang dan tubuh meronta.
Teriakan Shofie terdengar oleh Raka dan Romi. Setelah melumpuhkan beberapa preman, Raka langsung berlari ke arah suara yang tidak jauh darinya. Romi ikut berlari di belakang Raka.
__ADS_1
Pintu kamar sengaja dikunci oleh Ditto agar Shofie tidak bisa kabur. Raka dan Romi mendobrak pintu itu sampai terbuka. Napas keduanya memburu karena lelah.
"Tolong, siapapun itu. Tolong aku!" ucap Shofie lemah.
Betapa terkejutnya Raka saat melihat sang istri dalam pelukan laki-laki dalam keadaan wajah pucat dan rambut berantakan.
"Lepasin istri gue!' teriak Raka penuh amarah.
"Lepas? Hahaha, apa yang sudah kugenggam tak akan kulepas! Kalau kau bisa, ambil dia dari tanganku!' ejek Ditto.
"Raka, tolong aku!" pinta Shofie setelah tahu siapa yang masuk ke kamar itu tadi.
"Kamu tenang saja, aku pasti menolongmu. Sekarang kamu diam dan tenang biar tenagamu bisa pulih lagi," jawab Raka dengan suara lembut.
Shofie pun diam dan memejamkan matanya sambil menghirup oksigen sebanyak mungkin. Setelah itu melepaskan karbondioksida secara perlahan.
Ditto meletakkan Shofie karena merasa gerakannya terganggu. Raka menyerang Ditto terlebih dahulu. Sedangkan, Romi mengawasi untuk mencari celah untuk mengambil sang nona.
Tendangan Raka beberapa kali mengenai Ditto, dia juga sempat merasakan pukulan dari Ditto di pelipisnya. Kedua orang itu sama-sama kuat sehingga tidak mudah dikalahkan. Saat ini, Romi sudah berhasil menarik Shofie keluar dari kamar.
Melihat sang pujaan hati berhasil diambil pihak lawan, Ditto langsung mengejar Romi.
"Bugh!"
*
*
*
Sambil menunggu up, mampir yuk ke karya temanku!
__ADS_1