
"Mang, kita ke pasar dulu ya. Ada yang mau dibeli," ucap Shofie pada Parjo, sopir barunya.
"Siap, Non. Rembes, kemana saja Non mau diantar Parjo mah delapan enam," jawab Parjo sambil tersenyum.
"Ya, udah. Yuk, jalan!" perintah Shofie.
Setelah sampai pasar, Shofie mendatangi beberapa kios. Namun, barang yang dicari belum juga didapatkan. Hal ini mengundang tanya sang sopir.
"Non cari apaan? Sedari tadi Parjo perhatikan keluar masuk kios nggak bawa barang belanjaan," tanya Parjo setelah nona majikannya kembali ke mobil.
"Ini lho, Mang!" jawab Shofie seraya menyerahkan barang pada sopirnya.
"Kita ke grosir yang di ujung jalan aja, Non. Siapa tahu ada barangnya di sana," ucap Parjo setelah melihat barang yang diberikan oleh majikannya.
"Mamang tahu tempatnya?"
"Tahu, Non. Saya 'kan asli sini, jadi sedikit banyak tahu toko mana yang lengkap dan tidak," jelas Parjo.
"Oo, kirain Mamang dari Jogja juga. Soalnya mobil ini 'kan di rumah Daddy," ujar Shofie.
"Saat panggilan wawancara, saya disuruh ke Jogja. Selesai wawancara langsung diterima dan disuruh ke alamat Nona bareng Sumini," ungkap Parjo dengan jujur.
"Mang Parjo sudah berkeluarga?" tanya Shofie hati-hati.
"Pernah, Non. Tapi kandas!" sahut Parjo tersenyum tipis seolah-olah mentertawakan nasib sendiri.
"Maaf, Mang," ucap Shofie merasa tidak enak mengorek luka lama sopirnya.
Mobil pun berhenti di sebuah ruko empat pintu yang dijadikan satu. Sebuah supermarket berbentuk swalayan dengan beberapa karyawan yang berdiri di setiap lorong, mereka ditugaskan untuk membantu pengunjung yang kesulitan.
"Supermarket ini, Mang, namanya. Bukan grosir," ujar Shofie begitu masuk dengan diikuti oleh Parjo.
"Memang seperti supermaket pada umumnya, Non, tapi beda sama toko yang lain. Pembelian partai besar harganya lain sama yang eceran. Kalau tidak percaya, Non tanya saja sama pelayan toko itu," sahut Parjo. "Di sini isinya juga lengkap, Non."
Shofie mengangguk dan berjalan mendekati pelayan toko itu. Dia menunjukkan barang yang hendak dibelinya. Sang pelayan toko langsung mengantar ke tempat penyimpanan barang-barang sejenis dengan yang ditunjukkan tadi.
"Ini, Kak. Banyak varian dan kemasan yang berbeda. Kakak bisa memilih sendiri sesuai kebutuhan," tunjuk pelayan toko.
__ADS_1
Shofie pun iseng menanyakan apa yang tadi diucapkan oleh sopirnya.
"Ini harganya kenapa beda?"
"Oh, itu kemasan besar dan ini kemasan kecil. Jadi, harganya juga berbeda. Untuk kemasan besar sekali ada potongan harga," jelas sang pelayan toko.
Shofie mengangguk tanda mengerti, lalu mengambil dua bungkus kemasan besar. Setelah itu, dia membawa barang itu ke kasir. Ternyata antriannya sangat panjang.
"Non," panggil Parjo yang sedang berdiri di antrian.
Shofie pun mendatangi Parjo dan menyerahkan barang belanjaannya serta sejumlah uang untuk membayar. Setelah itu, Shofie memutuskan keluar, menunggu di mobil.
Brugh ....
Shofie menabrak seseorang karena menyimpan dompetnya ke dalam tas sambil berjalan. Sehingga tidak melihat jalan di depannya.
"Ma-maaf ... Raka?"
"Miss? Ada yang sakit?"
Shofie menjawab dengan gelengan kepala karena memang tidak ada yang sakit. Dia malah terlihat mengkhawatirkan keadaan pemuda yang ditabraknya.
"Aku nggak apa-apa, Miss. Miss sedang apa di sini? Belanja?"
Raka heran melihat guru bahasa Inggrisnya keluar dari toko tidak membawa barang belanjaan. Dia pun celingukan mencari orang yang mungkin membawakan belanjaan sang guru tersayang.
"Ehm, iya. Ada yang harus saya beli untuk acara besok," jawab Shofie tersenyum canggung dan salah tingkah mendapat tatapan intens dari muridnya.
Melihat tatapan mata yang teduh dan memuja, membuat wajah Shofie tanpa terasa sudah merona. Jangan tanyakan lagi bagaimana jantungnya yang seakan melompat keluar dari tempatnya!
"Miss, jangan seperti itu! Membuat saya semakin jatuh cinta pada Miss Shofie," ucap Raka tiba-tiba karena tidak tahan melihat Shofie bak ABG sedang jatuh cinta.
"Hah!"
Shofie tersadar saat muridnya itu sudah menghilang dari hadapannya.
"Non, ada lagi yang dicari?" tanya Parjo yang sudah di belakang majikannya sedari tadi.
__ADS_1
"Aa, tidak! Kita langsung pulang saja," sahut Shofie langsung berjalan menuju mobil di tempat parkir.
Saat menutup pintu, tak sengaja Shofie melihat keberadaan Raka yang menyusun barang di mobil pick up. Merasa ada yang mengawasi, Raka pun celingukan. Tak lama kemudian tatapan keduanya bertemu dan terpaku.
Raka tersenyum lalu memberi kode mendekatkan jarinya ke telinga, mengucap kata "telepon" tanpa suara.
Pipi Shofie langsung memerah bak kepiting rebus. Shofie menutup kaca jendela lalu memegang dadanya yang terasa jedag jedug.
Ponsel Shofie terasa bergetar di saku bajunya. Gadis itu pun langsung melihat untuk mengetahui siapa yang menghubungi dirinya. Senyumnya merekah kala membaca nama orang yang meneleponnya.
"Miss, nanti malam jam tujuh ketemu di kafe blue garden." Raka langsung memutus sambungan usai mengatakan tentang pertemuan itu.
Shofie mengangguk tanpa bersuara, sengaja menjaga agar tidak diketahui oleh sopirnya. Shofie merasa harus berhati-hati dalam bertindak, agar apa yang dilakukannya tidak diketahui oleh sang ayah.
Sore hari, Raka sudah bersiap-siap untuk menemui pujaan hatinya. Dia membuat kejutan untuk sang pujaan hati agar terpikat dengannya.
Raka mempertaruhkan semua uang tabungannya untuk malam ini. Hal ini dikarenakan, pemuda itu baru pertama kali jatuh cinta. Tak ingin terlambat bertindak dan didahului laki-laki lain, dia nekat akan menjalankan aksi malam ini.
Tidak peduli apapun jawaban yang keluar dari bibir tipis wanita yang membuatnya tergila-gila. Bagi Raka, yang penting sudah berusaha hasilnya lihat saja nanti. Dari pada mati penasaran ingin mengetahui isi hati wanita yang menjadi pujaan hati.
Tidak jauh berbeda dengan si laki-laki, bahkan Shofie tampak kebingungan memilih pakaian yang akan digunakan untuk acara nanti. Penampilannya malam ini, Shofie berencana tampil secara totalitas. Yang menjadi pikiran saat ini adalah bagaimana caranya agar kedua orang bayaran sang ayah tidak mengetahuinya.
Bakda Maghrib, Raka sudah meninggalkan rumahnya. Berbeda dengan Raka, Shofie terlihat sedang mencari cara agar kedua orang itu tertidur pulas.
Shofie sengaja memakai jasa Ojol tanpa sepengetahuan Parjo dan Sumini. Gadis itu sengaja meminta jemputan di depan rumah tetangga yang letakkan tak jauh daru rumahnya.
Raka duduk gelisah menunggu kedatangan Shofie. Dia takut wanita muda itu tidak bisa hadir, sehingga usahanya sia-sia belaka.
Tepat jam tujuh malam, Shofie sampai di meja atas reservasi Raka.
"Hai, sorry... beneran. Tadi aku ada urusan mendadak jadi terlambat," ucap Shofie merasa tidak enak hati.
"It's ok. Miss tenang saja. Mau makan atau apa, hmm?" sahut Raka penuh perhatian.
"Bisa katakan dulu, nggak? Apa yang ingin kamu ucapkan?" todong Shofie dengan tidak sabar.
"Ehemm ... sebelumnya saya mohon kejadian malam ini tidak mempengaruhi Miss Shofie." Raka menjeda sebentar omongannya.
__ADS_1
"Miss Shafiyah Kusuma Wijaya, will you marry me?"