
Pagi-pagi sekali Raka sudah sampai di depan rumah kontrakan Shofie. Dia menggunakan helem dan masker yang menutupi wajahnya, sehingga orang-orang suruhan Alex untuk menjaga putrinya tidak bisa mengenali dia.
Sesuai rencana, Raka dan Shofie akan pergi ke Jogja menggunakan motor Raka. Hal ini dikarenakan agar kepergian mereka tidak diketahui oleh Alex. Jika menggunakan mobil Shofie atau naik kendaraan umum, pasti akan mengundang rasa curiga orang-orang suruhan Alex.
Raka mengendarai motornya dengan kecepatan sedang. Mereka istirahat ketika sudah sampai di kota Magelang. Mereka istirahat di sebuah SPBU sekitar lima belas menit, setelah itu kembali melanjutkan perjalanan.
Kediaman orang tua Shofie ternyata sangat besar dan mewah. Garasinya bak showroom mobil, dari harga murah sampai yang mahal. Ada juga mobil dengan keluaran lama.
Raka memarkirkan motornya di bawah pohon mangga yang tidak jauh dari gazebo samping rumah.
"Ayo, masuk!" ajak Shofie sembari terus berjalan masuk ke rumah melalui pintu samping, Raka mengikut di belakang Shofie.
Kedatangan mereka disambut Ary dengan ramah dan hangat. Sehingga membuat Raka kembali semangat untuk mengenal lebih dekat calon mertua.
"Shof, ini bukannya ...."
"Iya, Mom! Dia yang rumahnya kalian datangi itu," potong Shofie membenarkan.
"Kalian ...."
"Raka ingin mengenal lebih dekat keluarga kita, Mom," sahut Shofie dengan malu-malu.
"Oh iya, Mom. Daddy mana?" imbuh Shofie.
"Daddy ke Surabaya. Salah satu mall kita dalam masalah. Jadi, daddy harus segera ke sana untuk menyelesaikan masalah."
"Ini 'kan weekend, Mom," protes Shofie pura-pura merajuk. "Biasanya juga di rumah aja. Kenapa hari ini tetap keluar kota?"
"Kamu tahu sendiri 'kan? Sejak kakakmu, Kevin memilih menikah dengan artis dan menetap di Singapura, daddy kamu yang kembali mengurus perusahaan. Si kembar lebih memilih menjadi dokter, kamu sendiri memilih menjadi guru. Lalu siapa yang akan mengurus mall?" ungkap Mommy Ary.
"Masih ada Om Anton kalau Mommy lupa. Daddy 'kan bisa minta tolong lagi," sahut Shofie.
Sejak tadi Raka hanya melihat dan menyimak obrolan antara ibu dan anak itu. Dia tidak menyangka jika saudara calon istrinya banyak.
"Ehheem!" Raka terpaksa berdehem agar keberadaannya disadari oleh ibu dan anak itu.
__ADS_1
Shofie langsung terperanjat, dia sempat melupakan keberadaan Raka.
"Maaf ya, kalau sudah ketemu Mommy, aku jadi lupa segalanya."
Raka tersenyum simpul memakluminya.
"Sayang, itu motor siapa di depan?" Tiba-tiba terdengar suara teriakan dari pintu samping.
"Dad!" teriak Shofie saat melihat sang ayah sudah berdiri tidak jauh dari mereka.
"Kata Mommy, Daddy ke Surabaya?" ujar Shofie sambil berlari memeluk sang ayah. Walau semarah apapun pada sang ayah, tetap laki-laki itu cinta pertamanya. Shofie tidak bisa untuk tidak bermanja pada sang ayah.
"Sudah kelar masalah di sana. Tadi subuh Daddy langsung pulang," jawab Alex pada anak perempuan satu-satunya.
Melihat interaksi anak dan ayah yang baik-baik saja, Raka pun bangkit dari duduknya dan mendekati mereka. Raka ingin menyapa dan mendekatkan diri pada calon mertua.
"Kamu lagi!" bentak Alex kesal. "Harus dengan cara apa agar kamu mengerti, jika saya tidak suka kamu mendekati anak saya!"
Raka tidak gentar, dia tetap mengambil tangan kanan Alex lalu mencium punggung tangannya.
"Kamu juga! Sudah tahu dia murid kamu, kenapa kamu malah menjalin hubungan dengannya?" Kini Shofie yang kena sembur sang ayah karena tidak patuh.
"Alex, dengarkan dulu mereka bicara! Beri mereka kesempatan berbicara!" ucap Ary lemah lembut.
"Hhhh... bela terus anakmu!"
Ary berjalan mendekati Raka, lalu mengajak mereka duduk di ruang keluarga.
"Hei, suami kamu itu aku, bukan dia!" teriak Alex cemburu.
"Shof, Mommy pantas 'kan bersanding sama ...." Ary melihat ke arah Raka untuk menanyakan namanya.
"Raka, Mom. Namanya Raka!" kata Shofie ketika Ary menggantung kalimatnya.
"Masih pantas 'kan?" tanya Ary lagi, sengaja memanas-manasi sang suami.
__ADS_1
"Aryiiii!"
"Huaahahaha... ternyata semakin tua semakin cemburu-an Daddy kamu, Shof!"
Dada Alex naik turun dengan napas memburu. Dia selalu saja cemburu jika wanitanya berdekatan dengan lelaki. Bahkan, dengan almarhum saja masih cemburu.
Rasa cemburu pada mantan suami dari sang istri, membuat Alex sulit memberikan restunya pada Shofie dan Raka. Hal itu akan selalu mengingatkan padanya, bahwa yang usianya lebih muda lebih baik.
Raka merasa tersentuh dengan keakraban keluarga calon mertuanya. Rumah besar itu tampak hidup walau hanya ada tiga orang anggota keluarga. Raka belum tahu jika wanita yang dicintainya itu memiliki tiga saudara laki-laki yang tidak kalah seramnya dari sang ayah.
Setelah beberapa menit dalam mode bercanda, kini mereka sudah duduk tenang. Suasana tampak canggung karena Alex memasang wajah dingin dan datar, seolah tak tersentuh.
"Sebelumnya saya, minta maaf karena datang secara mendadak dan sendiri. Berdua bersama Miss Shofie ke sini. Memang terkesan tidak sopan, tapi saya hanya sebatang kara. Jadi, tidak bisa membawa serta keluarga," jujur Raka mengawali ucapannya.
"Kedatangan saya ke sini untuk meminta Miss Shofie menjadi istri saya. Kenapa saya berani ke sini? Itu karena saya sudah jatuh hati saat pertama kali melihat Miss Shofie."
Hhhh ....
"Jujur, sebelumnya saya tidak tahu jika Miss Shofie dari keluarga Sultan. Saya mencintai Miss Shofie bukan karena hartanya. Tetapi karena saya merasa ingin melindungi dan menjaga dia dengan sepenuh hati saya ...."
"Betulkah?" potong Alex seakan tak percaya dengan ucapan pemuda di depannya.
"Alex, dengarkan dia dulu! Setidaknya kita tahu alasan dia berani melamar anak kita, di usianya yang masih terlalu muda," perintah Ary dengan tatapan tajam.
"Saya memang tidak punya harta yang berlimpah, tetapi saya berjanji akan memenuhi semua kebutuhan Miss Shofie tanpa kekurangan suatu apapun," janji Raka setelah melihat tanggapan Alex yang acuh, seolah tak percaya dengan ucapannya.
"Okeh! Tunjukkan itu! Aku ingin melihat, apakah dalam waktu tiga bulan, kamu bisa menunjukkan usaha kamu agar bisa mencukupi semua kebutuhan anakku," jawab Alex seketika setelah mendengar janji Raka.
"Berarti lamaran saya diterima?"
"Enak saja! Kamu belum bisa membuktikan secara finansial bahwa, kamu mampu mencukupi semua kebutuhan anakku. Aku tidak ingin melihat anakku kesusahan setelah aku melepaskannya bersamamu. Jadi, seperti yang aku bilang tadi. Tunjukkan kamu bisa! Waktu kamu hanya tiga bulan, tidak lebih!" sanggah Alex, sebenarnya dia ingin menolak tetapi dia takut dimusuhi oleh para wanita yang telah mengisi hatinya selama ini.
"Mommy setuju dengan syarat Daddy," cetus Ary tiba-tiba.
Pundak Shofie turun seketika, lemas. Shofie tidak menyangka jika syarat yang diajukan oleh sang ayah seberat itu.
__ADS_1
"Kamu masih sekolah, sebaiknya kamu fokus dulu belajar! Biar Shofie tetap di sini. Kamu boleh menemui Shofie tiga bulan lagi, saat kamu sudah bisa membuktikan bahwa kamu mampu menjadi pemimpin Shofie."