
"Tidak! Kamu pasti bohong 'kan?" bantah Raka lirih seolah tak percaya dengan pendengarannya sendiri.
"Kami dulu pacaran beberapa bulan saja. Selama pacaran kami hanya berpegangan tangan. Kami tidak melakukan skinship seperti orang pacaran pada umumnya."
"Oleh karena itu, dia mencari pelampiasan pada sahabatku. Mereka tidak hanya berpegangan tangan. Mereka juga berciuman, bahkan lebih dari itu. Mereka berhubungan layaknya suami istri," cerita Shofie penuh luka.
Melihat hal itu, Raka langsung mendatangi sang pujaan hati dan memeluknya. Seakan-akan memberikan kekuatan pada sang kekasih.
"Aku di sini untuk mengobati lukamu. Tumpahkan semua beban kamu, kita akan menanggungnya bersama. Aku mencintaimu kepribadianmu bukan tubuhmu saja," ucap Raka menenangkan sang kekasih.
Raka melepaskan pelukan itu, lalu memegang dagu Shofie agar menghadap padanya. Kedua jempol tangannya mengusap bulir bening yang menetes di pipi Shofie.
"Wajah ini harus tersenyum, jangan nangis lagi! Jelek tahu," ucap Raka setelah air mata di pipi Shofie menghilang. "Aku tidak akan membiarkan air mata menetes lagi dari mata kamu. Aku akan selalu menghapus setiap tetesnya."
Raka menempelkan keningnya pada kening sang kekasih dengan mata terpejam.
"Menikahlah denganku, agar aku bisa lebih membahagiakanmu. Agar aku bisa dengan mudah menghapus lukamu," pinta Raka dengan tulus dan diangguki oleh Shofie tanpa kata.
Dia tidak bisa melihat sang pujaan hati larut dalam kesedihan, apalagi sampai meneteskan air mata. Bagi Raka, air mata Shofie terlalu berharga hanya untuk sekedar bersedih.
Satu Minggu telah berlalu, ujian semester ganjil telah usai. Hari ini, para siswa dan guru SMA Nuswantara mengadakan studi tour. Semua wajib, kecuali benar-benar mendesak. Raka pun ikut juga dalam acara yang diadakan oleh sekolah kali ini.
Pihak sekolah telah menyediakan empat bus sebagai sarana transportasi. Setiap bus akan ada dua guru pendamping. Kebetulan bus yang dinaiki oleh Raka, didampingi oleh Miss Shofie dan Bu Dhini.
Kebetulan yang sangat menguntungkan bagi Raka. Satu bus dengan pujaan hati membuat Raka memiliki ide untuk bisa duduk berdekatan dengan sang guru sekaligus kekasihnya.
Raka sengaja pindah ke bangku paling belakang yang kosong. Dia mulai memainkan gitar yang sengaja dibawa oleh temannya. Mengajak serta semua penumpang untuk bernyanyi bersama.
__ADS_1
Raka nekat menarik Shofie yang kebetulan membagikan minum kemasan gelas, pada murid yang membutuhkan. Shofie pun duduk di samping Raka yang sedang memetik gitar.
Kemesraan ini
janganlah cepat berlalu
Kemesraan ini
inginku kenang selalu
Hatiku damai
jiwaku tentram di sampingmu
Hatiku damai
Sambil bernyanyi dan memetik gitar, tatapan mata Raka tak pernah lepas dari wajah ayu Shofie. Tatapan dalam penuh cinta itu, terlihat begitu jelas di mata Raka. Sehingga siapapun yang melihatnya bisa menyimpulkan, betapa besar cinta Raka untuk gurunya itu.
Perjalanan studi tour itu memiliki tujuan pertama kota gudeg sekaligus kota pelajar, Jogjakarta. Kota selanjutnya Surakarta, setelah itu balik lagi ke Semarang. Butuh waktu sekitar empat jam untuk sampai ke kota tujuan pertama.
Berhubung mereka berangkat jam lima subuh, mereka langsung menuju ke perguruan tinggi swasta yang menjadi tujuan utama. Mereka bertanya tentang sistem pendidikan dan cara mudah masih ke perguruan tinggi tersebut.
Setelah dua jam berkeliling dan bertanya-tanya yang berkaitan dengan pendidikan. Kini rombongan menuju monumen Jogja kembali. Rombongan melakukan makan siang di area monumen tersebut.
Sekitar jam empat sore mereka melakukan check in di hotel sekitar jalan Marlboro. Setelah itu acara bebas, murid bebas berjalan-jalan dan belanja di jalan Marlboro. Dengan syarat harus berada di bawah pengawasan guru pendamping.
Dengan liciknya, Raka terus menempel pada Shofie dengan alasan Shofie-lah guru pendampingnya. Mau tidak mau, Shofie di monopoli oleh Raka tanpa sepengetahuan yang lain
__ADS_1
"Bagaimana tugas kamu yang harus dikumpulkan? Sudah dapat semua?" tanya Shofie.
Saat ini pasangan muda itu sedang berjalan-jalan menggunakan becak untuk berkeliling. Raka sengaja menyewa becak agar bisa bebas berduaan dengan pujaan hatinya.
"Sudah dong! Kalau didampingi kamu, aku pasti semangat," ujar Raka sambil tersenyum.
Kini keduanya sudah aku kamu dan tidak ada rasa canggung lagi seperti dulu. Akan tetapi, Raka tetap menghormati Shofie yang lebih tua dari usianya.
"Senja seperti ini, enaknya di alun-alun ngapain ya?" tanya Raka yang belum pernah pergi ke alun-alun.
"Duduk-duduk lihat anak-anak kecil bermain. Melihat langit juga bisa, walaupun tidak seperti di pantai, hehehe!" jawab Shofie sambil mengedikkan bahunya.
Tak lama kemudian, becak yang mereka tumpangi telah sampai di alun-alun. Mereka berdua sengaja tidak turun dari becak agar tidak bertemu dengan rombongan lainnya.
"Kalau lihat anak-anak kecil seperti itu, aku jadi tidak sabar pengen punya anak sendiri," celetuk Raka yang langsung mendapat tepukan di pundaknya dari Shofie.
"Kamu ngacau! Masih sekolah malah mikirin pengen punya anak," tegur Shofie kesal.
"Aku sudah kerja, kalau kamu lupa. Aku juga berencana membuat usaha baru di kota ini. Agar saat waktu yang ditentukan oleh orang tuamu nanti, usahaku sudah berhasil. Sehingga kita bisa menikah dan memiliki anak," jawab Raka dengan lugas.
"Semoga usaha kamu bisa berhasil dan meluluhkan hati daddy. Kalau mommy sih gampang orangnya."
"Aamiin."
Tiba-tiba saja keduanya saling menatap. Pandangan Raka terarah pada bibir sang kekasih yang berwarna merah alami. Wajah Shofie jarang menggunakan make up, sehingga menambah kesan cantik alami.
Entah siapa yang memulai sehingga bibir keduanya sudah saling menempel.
__ADS_1