
Alex melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi karena emosi telah menguasai. Dia menghentikan mobilnya tepat di depan sebuah rumah bergaya minimalis modern.
Penghuni rumah itu keluar karena mendengar suara mobil berhenti tepat di depan rumah. Seorang laki-laki dengan badan kekar dan berwajah seram menghampiri Alex.
"Siang, Bos. Suatu kehormatan bagi saya, Bos mau mendatangi gubug reyot ini," ucap laki-laki itu begitu berada tepat di depan Alex.
"Apa yang harus saya kerjakan?" tanya laki-laki itu setelah tidak mendapat tanggapan dari tuannya.
"Bunuh saja bocah ingusan itu!" titah Alex dengan wajah penuh amarah. Seperti orang kehilangan akal.
"Maaf, Bos. Saya memang tukang pukul, tapi kalau untuk membunuh saya angkat tangan. Silakan bayar orang lain!"
"Kenapa, takut? Dasar mental tempe! Bunuh bocah ingusan saja tidak berani," tanya Alex merendahkan laki-laki di depannya.
"Bukan karena takut, Bos. Kalau hanya masalah memisahkan dua orang yang dimabuk asmara, sebaiknya hadirkan masa lalu di antara mereka. Biarkan orang itu yang bekerja, kita jadi pemandu sorak," jelas laki-laki itu sangat yakin.
Alex mengangguk mendengar saran orang bayarannya.
"Ide yang bagus! Saya suka," ucap Alex sumringah.
"Terima kasih, Tuan."
"Cari tahu siapa saja mereka, kemudian cari yang paling berkesan bagi keduanya!" perintah Alex.
"Siap, Bos. Segera laksanakan," jawab laki-laki itu.
Siang telah berganti malam, Raka dan Shofie memutuskan menginap di penginapan pinggir pantai. Raka sengaja memesan satu kamar untuk mereka karena tidak ingin terjadi apa-apa pada istrinya.
"Kenapa sih harus satu kamar?" tanya Shofie protes.
"Ya, bagaimana lagi? Tinggal kamar ini yang kosong."
"Aku bayar sendiri kalau kamu tidak punya uang." Shofie tetap ngotot ingin kamar terpisah.
Raka langsung mengeluarkan dompetnya dan memberikan pada Shofie.
__ADS_1
"Kalau ingin pamer uang, jangan di sini! Penginapan ini kecil, hanya ada sekitar sepuluh kamar. Wajar kalau penuh. Hargai orang lain!" Raka langsung berjalan meninggalkan Shofie karena kesal.
"Kenapa orang kaya selalu mengandalkan uang untuk memecahkan masalah? Tak tahukah dia, tidak semua bisa dibeli dengan uang?"
Akhirnya, mau tidak mau Shofie mengikuti Raka memasuki kamar.
"Kamu mandi dulu, aku belakangan aja," ujar Raka penuh perhatian
Shofie pun langsung masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Kamar mandi itu kecil tanpa menggunakan heater. Hanya terdapat sebuah handuk dan sabun, juga shampo.
Shofie keluar kamar menggigil kedinginan. Angin di pinggir pantai yang berhembus kencang ditambah dinginnya air di malam hari. Membuat siapa pun akan kedinginan.
Shofie langsung membalut tubuhnya dengan selimut ketika Raka masuk ke kamar mandi.
Tak lama kemudian Raka keluar dari kamar mandi sambil memeluk tubuh sendiri. Dia tak kalah kedinginan dengan sang istri. Pemuda itu pun ikut masuk ke dalam selimut yang sama dengan Shofie.
"Raka minggir, aku nggak kebagian selimut. Dingin tahu!" Shofie mendorong Raka agar keluar dari selimut yang dipakainya.
"Aku juga dingin."
"Aku duluan yang pakai selimutnya."
Grep!
Raka langsung memeluk Shofie karena tidak mau tidur tanpa selimut.
"Kalau seperti ini kita tidak akan kedinginan lagi. Kita bisa berbagi kehangatan dalam selimut ini," bisik Raka tepat di belakang Shofie, membuat tubuh Shofie meremang seketika. Ditambah lagi, Raka sengaja meniup leher jenjang Shofie.
"Raka ih, jauh sana! Jangan begini! A-aku ...."
"Aku kenapa, hmm?" tanya Raka semakin mengeratkan pelukannya. Kini, dagu Raka sudah mendarat di pundak Shofie.
Shofie terdiam seketika tidak berani protes. Semakin dia banyak bergerak, semakin Raka melakukan hal di luar dugaan. Shofie menahan napasnya saat tiba-tiba Raka mengecup pipinya.
Raka pun merubah posisi duduknya ketika tak ada protes maupun perlawanan dari sang istri. Pemuda itu semakin berani bertidak lebih jauh.
__ADS_1
Berawal dari sebuah kecupan di pipi kemudian beralih ke seluruh wajah dan bibir. Pindah ke leher. Semua kegiatan itu diakhiri dengan penyatuan yang membawa ke puncak surga dunia.
Pasangan muda itu melakukan untuk pertama kalinya berdasarkan insting. Mereka sama-sama belajar memuaskan pasangan. Tanpa ada guru yang mengajari apalagi membimbing. Bergerak untuk mencapai kepuasan berdasarkan keinginan memuaskan kebutuhan.
Raka dan Shofie tertidur setelah melakukan ritual suami istri. Keduanya kelelahan mendaki puncak nirwana. Tidur berpelukan, seolah takut berpisah.
Sementara itu, Ary tidak bisa tidur menunggu suami dan anaknya yang tidak kunjung pulang. Sudah berulang kali wanita yang tetap cantik di usia setengah abad itu menghubungi suami dan anaknya. Namun, tidak satu pun panggilannya yang terhubung. Semua panggilan berada di luar jangkauan.
"Mommy tidur saja, biar Nicho yang nunggu daddy dan Shofie pulang," ucap Nicho, tidak tega melihat wajah sembab wanita yang melahirkannya.
"Sebaiknya kita tidur saja, Nic! Ada Sumini nanti yang buka pintu," sahut Ary seraya berjalan menuju kamarnya.
Nicho pun berbaring di sofa yang ada di ruang keluarga, lalu memejamkan matanya. Berhenti memikirkan masalah yang terjadi di keluarganya adalah hal terbaik untuk malam ini.
Ternyata pada hari itu juga dia langsung pergi ke Jogja. Dia memilih pulang dari pada bertemu dengan orang yang memancing emosinya. Entah apa yang ada dalam pikiran Alex, semua yang dilakukan oleh istrinya selalu salah.
Pagi hari, Ary terbangun karena mendengar suara adzan subuh menggema. Dia mengecek semua ruangan untuk mencari suami dan anaknya yang pergi dalam keadaan marah.
"Daddy kamu tidak pulang ke sini tadi malam?" tanya Ary pada Nicho yang baru saja membuka matanya. "Shofie sepertinya juga tidak pulang 'kan?"
"Hmm, telepon aja mereka, Mom. Siapa tahu daddy pulang ke Jogja, terus Shofie pulang ke rumah suaminya," saran Nicho yang langsung disetujui oleh Ary.
Ary langsung menghubungi nomor sang suami. Berharap semua baik-baik saja.
Alex mengerjap perlahan menyesuaikan cahaya kamarnya yang masih temaram. Laki-laki paruh baya itu terbangun karena dering telepon seluler miliknya terus berbunyi.
Tadi malam handphonenya mati karena kehabisan daya, sehingga begitu sampai rumah dia langsung mengisi daya dan ditinggal tidur.
"Hmm."
"Kamu di mana sekarang?" tanya Ary panik.
"Khawatir juga kamu? Aku pikir yang ada di pikiran kamu hanya laki-laki miskin itu saja," tanya Alex dengan ketus.
"Kamu ngomong apa, Al? Tentu saja aku khawatir dengan kamu dan Shofie," balas Ary dengan pertanyaan.
__ADS_1
"Kemana laki-laki miskin itu membawa anakmu? Seharusnya kamu tidak menikahkan mereka jika masih mengkhawatirkan aku!" tanya Alex kembali emosi.
"Masih pagi, Al. Aku sedang tidak ingin berdebat denganmu. Jawab saja kamu dimana sekarang!"