
Alex mendengkus kesal mendengar permintaan sang anak. Menurut dia anaknya memang benar-benar keras kepala, susah menuruti keinginan orang tua.
"Berikan saja, Al. Lagian mereka sudah menikah dua bulan, bahkan hampir saja memberi kita cucu. Tinggal memberi restu, apa susahnya?" ucap Ary menahan kekesalannya karena tingkah sang suami yang terlalu arogan.
"Kalau kamu berpikir Raka tidak bisa mencukupi semua kebutuhan Shofie kau salah besar. Lihatlah berapa kafe sudah dimilikinya? Hanya dalam waktu dua bulan dia bisa mengembangkan bisnis kulinernya. Sudah pasti dapat diketahui seberapa besar penghasilannya, bukan?"
Alex ingin menjawab ucapan Ary, tetapi istrinya itu kembali membuka suara.
"Kalau hanya harta yang kamu cari, berarti kamu menikahi aku karena hartaku, bukan karena pribadiku. Sungguh aku kecewa jika itu benar adanya." Wajah sendu penuh kekecewaan terlihat jelas setelah Ary berucap demikian.
Ary meninggalkan Alex bersama Shofie di ruang tamu. Wanita yang tetap cantik di usia senja itu duduk di teras belakang seorang diri.
Setelah beberapa saat termenung, Ary tampak mengusap-usap layar ponselnya. Setelah menemukan nama kontak yang dicari, dia segera menekan gambar telepon. Menunggu beberapa detik sampai panggilan tersambung.
"Tarik modal Rend Comp yang ada Wijaya Mall! Beri dia waktu empat puluh delapan jam. Setelah itu pindahkan semua barang Rend Comp dari seluruh Wijaya Mall ke outlet terdekat. Aku tidak mau alasan atau pertanyaan apapun. Cukup kerjakan dengan benar, jangan sampai ada yang tertinggal!" perintah Ary tanpa berbasa-basi terlebih dahulu.
Cukup sudah waktunya untuk bersabar, untuk apa bertahan dalam ketidaknyamanan ini. Cinta Alex tidak sekuat cinta Rendy. Dari sini dia bisa tahu, bisa belajar bahwa kedewasaan berpikir seseorang tidak melihat usia. Akan tetapi, berdasarkan didikan dan lingkungan yang membentuknya.
Rendy yang berusaha menunjukkan pada orangtuanya bahwa dia mampu melebihi orangtuanya karena selalu dianaktirikan. Padahal dia tidak dianaktirikan hanya saja sang ayah tidak ingin Rendy terlena dengan pergaulan yang salah. Akhirnya Rendy tumbuh menjadi lelaki yang lebih peduli terhadap sesama karena dia merasa butuh orang lain.
Berbeda jauh dengan Alex, dia sejak kecil sudah hidup bergelimang harta. Setiap keinginan terpenuhi dengan mudah sehingga membentuk pribadi yang egois.
Ary dulu hanya anak seorang pensiunan guru SD. Hidup sederhana dengan kasih sayang yang melimpah dari orang tua juga dari kedua kakaknya, menjadikan Ary sebagai wanita yang manja tetapi gigih. Hal ini dikarenakan, ekonomi yang hanya cukup untuk kebutuhan pokok saja.
Ary tersadar dari lamunannya saat Shofie mendatanginya dan ikut bergabung.
"Mommy mikirin apa?" tanya Shofie sambil mendaratkan bo*ongnya di atas kursi di samping sang ibu.
__ADS_1
"Mungkin sebaiknya Mommy pulang ke Kaliurang. Sudah lama Mommy tidak melihat keadaan rumah di sana. Sudah lama juga Mommy ziarah ke makam laki-laki yang menjadikan Mommy ratu tetapi Mommy mengkhianati..."
"Mommy tidak mengkhianati dia. Mommy menikah lagi dengan daddy itu karena ibadah. Janda yang menikah lagi itu baik karena mengindari fitnah. Selain ibadah tentunya. Mommy jangan selalu menyalahkan diri karena menikahi daddy."
"Apa Mommy menyesal menikah dengan daddy?" tanya Shofie akhirnya. Seringnya melihat wajah terluka sang ibu, membuat Shofie menyimpulkan sendiri dugaannya.
Ary menggeleng dan tersenyum tipis mendengar pertanyaan dari anak bungsunya itu.
"Mommy tidak menyesal, hanya kecewa. Sekian tahun bertahan ternyata tidak dianggap sama sekali. Mungkin Mommy memang bukan orang penting bagi daddy kamu."
Ary menjeda sejenak perkataannya, mengirup udara sepenuh dada lalu menghembuskannya perlahan.
"Maaf, jika Mommy memilih sendiri. Mungkin ini yang terbaik. Si kembar sudah besar sebentar lagi sudah bisa menggantikan Mommy mengurus klinik dan Rend Comp." Ary melanjutkan ucapannya.
Alex yang sejak tadi berada di balik tembok merasa terkejut. Dia tidak menduga akan seperti ini nasib rumah tangganya. Apalagi saat sang istri mengatakan kecewa dan ingin pisah darinya.
Alex mulai mengingat bagaimana sikapnya beberapa tahun terakhir terhadap sang istri. Sang mantan istri yang mengajak rujuk dan bujukan anak pertamanya untuk kembali rujuk pada ibunya, membuat Alex hidup dalam kebimbangan.
Alex pun kembali dekat dengan sang mantan setelah usahanya kembali bersinar. Kebutuhan biologis yang sudah lama tidak didapatkan dari sang istri , membuatnya terlena dan kembali ke pelukan sang mantan yang lebih muda dari sang istri.
Walaupun hubungan mereka semakin dekat tetapi keduanya tidak bisa menikah karena status Alex. Hubungan di belakang Ary sudah terjalin bertahun-tahun. Sebenarnya Ary tahun, tetapi hanya diam.
Diam bukan karena lemah, diam mencari jalan keluar terbaik bagi pernikahan mereka. Sepertinya memang pernikahan itu harus diakhiri. Apalagi sejak Alex kembali pada keyakinannya, tidak ada nafkah lagi yang didapat oleh Ary.
Keesokan harinya, Ary pamit pada Shofie dan Raka. Ary berencana akan ziarah ke makam orang tuanya lalu pulang ke Kaliurang. Dia merindukan rumah peninggalan Rendy, suami pertamanya yang meninggal beberapa setelah mengucapkan ijab kabul.
"Kenapa Mommy pulang sih? Shofie masih pengen ditemani di sini. Padahal Mommy di Kaliurang sendirian nggak ada temen, mendingan di sini aja sama kami," tanya Shofie merengek dengan manja.
__ADS_1
"Mommy sudah lama tidak ziarah ke makam mereka, Sayang. Lagian Mommy sangat merindukan mereka, siapa tahu setelah ziarah kerinduan Mommy terobati," jawab Ary mengemukakan alasannya.
Shofie menekuk wajahnya cemberut. Niat hati ingin ditemani sang ibu, sang ayah malah membuat ulah. Kemarin sore sang ayah meninggalkan rumah itu tanpa pamitan sama sekali.
"Sudahlah, Yank. Mommy juga ingin menenangkan diri. Kalau di sini bukannya tenang malah kamu recokin terus," ucap Raka mencoba menghibur sang istri tetapi membela sang mertua.
"Masak recokin sih? Aku 'kan hanya ingin selalu di dekat Mommy. Memang salah?" tanya Shofie dengan wajah lugunya sehingga terlihat seperti anak kecil.
Ary tersenyum melihat bagaimana interaksi anak dan menantunya. Melihat hal itu, membuatnya teringat dengan masa lalunya. Sungguh dia bahagia melihat anaknya berada di tangan yang tepat.
Tiba-tiba saja Ary mengucap istighfar dan mengusap wajahnya dengan kasar. Hal itu membuat anak dan menantunya terkejut dan bertanya-tanya.
"Mommy kenapa?" tanya Shofie dan Raka bersamaan.
Ary tergeragap lalu menggelengkan kepalanya. Tidak mungkin dia mengatakan teringat mantan suami yang sudah menghadap Tuhan.
"Mommy harus segera berangkat, takut ketinggalan bus," sahut Ary cepat.
Shofie dan Raka hanya bisa pasrah melihat kepergian Ary tanpa bisa mencegahnya.
"Yank, ke kantor polisi yuk!" ajak Raka setelah Ary meninggalkan rumah itu.
*
*
*
__ADS_1
Mampir yuk ke sini!