
"Sayang, aku ke kamar mandi sebentar ya. Sudah sesak banget, nih," pamit Raka pada sang istri setelah selesai diwawancara oleh polisi.
Saat Raka masih di kamar mandi, tiba-tiba ada seseorang memeluk Shofie dari belakang. Kebetulan Raka yang selesai dengan hajatnya, sedang berjalan menuju ke arah dimana Shofie menunggu. Melihat sang istri yang meronta melepaskan diri dari belitan tangan seseorang.
Beberapa polisi tampak melepaskan belitan tangan itu, tetapi tidak bisa membujuk laki-laki itu. Entah pura-pura gila atau memang gila betulan, hanya saja tingkahnya benar-benar di luar nalar.
Raka langsung berlari mendekat dan menonjok wajah Ditto hingga belitan tangannya terlepas. Ya, laki-laki itu Ditto yang lari keluar dari ruangan jenguk begitu saja, saat pengacaranya mengatakan melihat Shofie di luar.
Wajah Ditto tak berbentuk lagi karena pukulan Raka yang membabi buta. Polisi yang mencoba melerai pun ikut terkena pukulan. Raka menghentikan aksinya setelah dipeluk oleh Shofie dengan isak tangisnya.
"Sudah, Ka! Kamu jangan ikutan gila seperti dia! Kamu mau tidur di penjara, hmm?" teriak Sofie dengan air mata mengalir deras.
Napas Raka memburu karena emosi juga lelah menghajar Ditto secara membabi buta. Raka pun kena teguran dari pihak kepolisian karena bertindak main hakim sendiri.
Shofie keluar dari kantor polisi dengan wajah cemberut. Kesal dan marah menjadi satu, seandainya tadi tidak ke kantor polisi, kejadian tadi tidak akan terjadi.
"Sudah, jangan cemberut lagi. Ditto pasti tidak akan berani lagi deketin ka-"
"Kata siapa? Memang kamu berani jamin? Pokoknya aku tidak mau lagi berurusan dengan laki-laki itu, biar pengacara saja yang mengurus!" potong Shofie cepat dengan emosi yang meledak-ledak.
Raka menghela napas berat menghadapi sang istri. Dia mengakui jika salah karena meninggalkan istrinya begitu saja. Mungkin lebih baik menyerahkan semuanya pada pengacara agar sang istri lebih tenang, secara fisik dan mental.
Raka mengajak Shofie pulang ke kafe Restu, sudah lama dia tidak ke sana. Dia ingin mengecek kafe itu mumpung izin tidak sekolah. Awalnya Shofie menolak, tetapi setelah dipikirkan dengan masak akhirnya dia ikut.
Alex saat ini memilih menyendiri setelah mendengar ucapan Ary beberapa hari yang lalu. Merenungi dan berpikir dimana letak kesalahannya. Namun, yang dia dapati adalah masalah restu untuk Shofie tanpa menyadari jika kesalahan itu berawal dari dia menuruti permintaan sang mama.
__ADS_1
Alex sebenarnya sangat kesal karena tiba-tiba Ren Comp menarik semua dana yang ada di Wijaya Mall. Mau tidak mau, dia harus menjual beberapa mall miliknya untuk mengembalikan dana itu. Tidak hanya mall yang dijual sebagian, rumah dan beberapa asetnya juga harus dijual.
"Apa sih hebatnya bocah itu? Kenapa aku yang dimusuhi istriku sendiri? Istri? Sudah lama aku hidup seperti tak memiliki istri."
Ingatan Alex kembali ke beberapa tahun yang lalu setelah sang ayah tiba-tiba meninggal karena serangan jantung. Dia tidak tahu apa yang menyebabkan sang ayah terkena serangan jantung, yang dia tahu saat berada di Surabaya ditelepon Ary jika sang ayah telah tiada.
Surat wasiat dari sang ayah ternyata dirobek oleh mamanya sebelum dibaca di hadapan pengacara. Dengan alasan menjaga perasaan sang mama, Alex diam saja. Sejak saat itu, dia selalu menuruti kemauan sang mama.
Setiap kali Alex menolak, sang mama mengancam lebih baik mati dari pada memiliki anak yang tidak berbakti. Mulai saat itu, Ary mengatakan jika dia tidak akan merebut Alex dari sang mama. Ary juga tidak ingin memisahkan anak dari orang tuanya karena sampai kapan pun anak laki-laki hanya milik ibunya.
Seorang istri tidak memiliki hak seperti hak seorang ibu pada anaknya. Walaupun begitu, memuliakan istri juga tugas seorang suami. Setiap rupiah nafkah yang diberikan oleh suami pada istrinya akan mendapatkan pahala yang berlipat. Namun, kadang manusia lalai mendahulukan kepentingan sang ibu, tetapi lupa menjalankan kewajiban yang lain.
Hidup itu haruslah seimbang agar berjalan normal. Jika tidak seimbang akan berjalan timpang. Terlalu lama berjalan timpang sehingga tidak sadar jika dia telah berbuat salah.
Itulah yang dialami oleh Alex selama ini. Terlalu lama mengikuti kemauan sang ibu dan abai terhadap anak istri, membuatnya lupa akan kesalahan yang telah dilakukan. Kesalahan itu bukan semata-mata milik Alex sebenarnya, Ary pun ikut bersalah karena tidak mengingatkan lagi.
"*Apakah menikah selama seperempat abad harus berakhir begitu saja? Kenapa pernikahanku selalu berujung dengan perpisahan? Tuhan, aku harus bagaimana?"
"Apa aku sanggup berpisah dengan wanita yang selalu memenuhi hati dan pikiranku, bahkan saat bersama wanita lain sekali pun*?"
Alex berjalan mondar-mandir di kamar hotel. Ya, dia memilih menyewa kamar di hotel dari pada pulang ke apartemennya. Hal ini dilakukan agar tidak ada yang mengetahuinya.
"Apa Ary tahu kalau aku kembali berhubungan dengan Paula? Kalau dia tahu kenapa diam saja? Apakah dia menikahkan Shofie tanpa memberitahuku karena Paula?"
Berbagai pertanyaan muncul dalam benak Alex. Setelah lama berpikir, akhirnya dia mendapatkan sedikit petunjuk dari keadaan ekonominya saat ini.
__ADS_1
"Kenapa aku baru sadar jika perusahaan Ary tidak hanya memproduksi komputer dan segala kebutuhan yang berbau teknologi, dia juga menyediakan jasa pelindung data perusahaan. Pasti sangat mudah meretas data. Hahaha, bodoh! Pantas saja, Anton selalu mengataiku bodoh dan tidak bersyukur!"
Alex pun segera menghubungi Anton untuk meminta bantuan bagaimana menyelesaikan masalah rumah tangganya.
"Hahaha!" Anton tertawa lepas setelah Alex menceritakan semua masalah yang dialami.
"Kamu memang bodoh kalau berurusan dengan perempuan! Seharusnya kamu belajar dari masa lalu, dari pernikahan pertama kamu! Keledai saja tidak akan masuk ke lubang yang sama. Kenapa kamu bisa mengulang kesalahan yang sama?"
"Ingat tidak apa yang menyebabkan perceraianmu dengan Paula dulu? Terlalu sibuk dengan dunia kamu sediri. Sekarang? Sama 'kan?"
Alex hanya diam mendengarkan penghakiman dari saudara angkatnya itu. Setiap ucapan yang keluar dari mulut Anton, seolah-olah menampar dirinya. Selain itu, dia juga merasa ditelanjangi dengan semua kesalahan yang telah dilakukan.
"Ary bukan Paula yang mencari laki-laki lain untuk mengobati rasa sepinya. Ary memilih mendekatkan diri pada Tuhan. Itulah kenapa dia bisa menjadi sesabar itu. Apa kurangnya Ary sampai kamu berulang kali berpaling darinya?"
"Tidak ada! Dia terlalu sempurna untukku sehingga semua kekuranganku tertutup," jawab Alex cepat.
"Minta maaflah padanya sebelum terlambat!"
*
*
*
Mampir ke sini, yuk!
__ADS_1